Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Prediksi Maria.


__ADS_3

"Resikonya sangat besar sekali. Aku nggak mau kejadian masa laluku dan masa lalu Romeo terjadi sama kamu. Maka dari itu kamu harus memindahkan Maria ke rumah besar milik Wicaksono Group. Di sana memang banyak sekali kamar yang kosong. Kamu bisa memakainya dan tinggal di sana sebelum semuanya kondusif," jawab Frank yang sangat khawatir sekali dengan Maria.


Aska baru sadar kalau Maria juga terancam bahaya. Aska terpaksa harus mengikuti apa kata Frank. Saat itu juga Aska pulang ke apartemen untuk melihat keadaan Maria. Di dalam perjalanan akan merasakan hatinya berdetak kencang tidak karuan. Sebab dirinya tidak mau kejadian yang lalu terjadi pada dirinya.


Sesampainya di apartemen, Aska langsung berlari ke unit miliknya itu. Ia langsung membuka dan mencari keberadaan Maria. Ia merasakan keadaan tempat tinggalnya yang sepi.


Aska memang sengaja tidak memanggil pelayan di rumah besarnya itu. Jujur Aska ingin sekali hidup mandiri.


Pria muda itu berjalan menuju kamarnya. Di saat membuka pintu, Aska melihat Maria yang terbaring di atas ranjang. Aska mengerutkan keningnya sambil mendekati sang istri.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Aska.


"Aku nggak apa-apa," jawab Maria.


"Apakah kamu sudah makan tadi pagi?" Tanya Aska sambil menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.


"Aku nggak makan apa-apa. Bagaimana bisa makan kalau keluar semua kayak gini?" jawab Maria dengan jujur dan merasakan kepalanya agak pusing.


"Ya udah kamu duduk saja sana. Aku akan mengepak pakaianmu. Kita akan pindah ke rumah besar terlebih dahulu," ucap Aska yang berdiri dan mengambil koper.


"Kenapa kita tinggal di sana? Apakah kita akan mengganggu kehidupan mereka?" tanya Maria.


"Tidak akan ada yang mengganggu mereka. Kamu sakit begitu. Kamu juga nggak bisa ngapa-ngapain. Terpaksa Aku menyuruhmu tinggal di sana terlebih dahulu. Agar di sana ibu dan nenek bisa menjaga," jawab Aska.


"Sebenarnya aku sungkan tinggal bersama mereka. Selamat tinggal di sana aku sering dimanja. Makanya aku memutuskan untuk tinggal bersamamu di sini. Agar kita bisa belajar mandiri dan mengurus semuanya sendiri," jelas Maria.

__ADS_1


"Memang itu ide sangat bagus sekali. Seharusnya kalau sudah menikah kita harus pisah rumah. Aku ingin menjalani rumah tangga ini berdua dengan kamu dan merawat anak-anak kita. Tanpa campur tangan orang lain," sambung Aska. "Berhubung kamu lemah seperti itu? Lebih baik kita tinggal di rumah besar itu. Apalagi Jamaludin tidak melakukan pergerakan. Aku takutnya jika Jamaludin diam-diam menyerang kamu. Soalnya aku sudah mendengar cerita dari paman dan abang. Jadi aku sangat khawatir sekali dengan keadaanmu."


"Apakah Abang Aska mencintaiku?" tanya Maria dengan jujur.


"Apakah cinta harus diucapkan dengan kata-kata? Tapi kita tidak berbuat apapun untuk hubungan ini," tanya Aska balik sambil meraih beberapa pakaian di lemari.


"Aku belum pernah mendengar kalau abang mengucapkan kata-kata cinta. Maupun kata-kata romantis lainnya," jawab Maria.


"Apakah itu harus? Cinta itu tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta itu harus dibuktikan dengan sungguh-sungguh melalui perbuatan. Tidak juga. Sebab melalui perbuatan kata cinta sudah mewakili semuanya. Itulah mengapa aku tidak pernah mengatakan cinta kepadamu. Aku harap kamu mengerti dengan perbuatanku ini," ucap Aska yang diam-diam mencintai Maria tanpa harus mengatakan cinta.


Maria tersadar atas perkataannya itu. Hatinya merasa bahagia jika mendapat perlakuan seperti itu. Memang tidak semuanya pria mengatakan cinta terhadap pasangannya. Bahkan seumur hidupnya menikah, pria itu tidak mengatakannya sama sekali.


"Maafkan aku bang," ucap Maria.


"Aku sangka Abang tidak mencintaiku," jawab Maria yang mulai bangun sambil memegangi kepalanya.


"Memangnya kamu nggak tahu? Kalau aku orangnya sangat khawatir sama kamu. Aku memang bukan pria yang romantis. Aku juga bukan pria yang selalu mengumbar kata-kata mesra di hadapan setiap wanita. Jangan samakan aku dengan yang lainnya. Aku berusaha menjadi diriku sendiri. Aku tidak mau memakai topeng di hadapanmu," jelas Aska yang membuat Maria tersenyum.


"Syukurlah Abang nggak marah sama aku," ucap Maria lagi.


"Aku nggak pernah marah-marah ke orang tanpa ada alasan yang tepat. Aku juga belajar bersabar untuk menjadi orang baik. aku juga nggak akan pernah menutup-nutupi siapa diriku sebenarnya di hadapanmu. Jika kamu memiliki kesalahan maka aku berhak menegurnya. Jika kamu menyakiti aku maka aku berhak untuk menegurnya juga. Itulah tugas suami kepada sang istri," tambah Aska yang selesai memasukkan beberapa baju untuk Maria.


"Kalau aku tinggal di rumah besar. Abang nanti tinggal di sini?" tanya Maria.


"Abang tetap akan tinggal di rumah besar. Di sana memang tempat yang paling nyaman buat aku. Berharap kamu betah untuk tinggal di sana. Lagian ada satu faktor yang mengharuskan kamu tinggal di sana," jawab Aska yang menutup kopernya.

__ADS_1


"Apa itu Bang?" tanya Maria.


"Nenek dan ibu memintamu tinggal di sana. Mereka juga sangat khawatir dengan keadaanmu. Ya sudah kalau begitu bangunlah. Kita pulang sekarang saja," jawab Aska.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah besar. Yang di mana rumah besar itu adalah rumah turun temurun milik keluarga Wicaksono. Bahkan rumah itu memiliki kenangan tersendiri. Meskipun pernah ditempati Julia, rumah itu akan tetap menjadi milik Wicaksono.


Di dalam perjalanan Maria sudah tidak sanggup menahan mual. Entah kenapa Maria saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Biasanya di perjalanan ia selalu mengoceh dan membuat suasana menjadi ramai. Namun kali ini tidak, Maria sudah tidak sanggup melakukan apapun.


Meskipun sedang membawa mobil, Aska hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana tidak sang istri yang biasanya berbicara hanya diam saja? Kemudian Aska teringat dengan perkataan Frank.yang di mana saat itu Frank sedang menyinggung reproduksi manusia.


"Apa jangan-jangan Maria sedang hamil?" tanya Aska dalam hati.


Teringat akan hal itu, akan membelokkan mobilnya ke rumah sakit. Untung saja rumah sakit dan rumahnya searah. Akhirnya ia memasuki kawasan rumah sakit.


Melihat Aska masuk rumah sakit, Maria mengerutkan keningnya. Ia menatap wajah Aska sambil bertanya, "Apakah Abang sakit?"


"Bukannya situ yang sakit?" tanya Azka balik.


"Paling aku cuman mual saja dan muntah. Kamu tahu kalau aku merasakan seperti itu. Tandanya kamu akan menjadi seorang ayah," jawab Maria sambil tersenyum manis.


Aska menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Maria. Memang ketika dirinya sudah mengalami mual dan muntah, Maria sudah mengetahui gejala trisemester pertama saat kehamilan. Aska hanya mengucapkan wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa Maria menyembunyikan hal itu darinya? Namun dirinya sangat bahagia sekali mendengar kabar berita itu.


"Memangnya kamu sudah periksa ke dokter?" tanya Aska.


"Bagaimana aku mau periksa? Jika keadaanku masih sama seperti beberapa hari yang lalu," tanya Maria balik.

__ADS_1


__ADS_2