Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Mengatur Pertemuan Dengan Luke.


__ADS_3

"Ya.. aku tahu itu. Bahkan wajahnya sangat familiar sekali," jawab Aska yang memberitahukan clue-nya.


"Memangnya siapa dia?" tanya Fabian sangat penasaran sekali.


"Dia adalah asisten pribadinya ayah. Beliau adalah pria dingin tanpa banyak bicara sama sekali," jawab Aska yang membuat Maria menganggukan kepalanya.


"Apakah itu benar?" tanya Fabian semakin penasaran dengan jawaban Aska.


"Tapi kok kamu mirip sekali dengan Bu Minah jika sedang bicara?" tanya Maria yang sedari tadi memperhatikan gaya bicaranya Fabian.


Deg.


Jantung Fabian berdetak kencang. Ia terdiam dan menatap wajah Aska dan Maria. ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Itu tidak benar."


"Benar. Aku sedari tadi memperhatikan gaya bicaramu. Aku berpikir kalau kamu itu memiliki kemiripan seratus persen,' ucap Maria dengan jujur.


"Yang dikatakan Maria itu benar. Kamu jangan salah sangka terlebih dahulu. Aku merasa kalau kamu sangat mirip sekali dengan kedua orang itu," tambah Aska yang membuat Fabian bingung.


"Apakah aku anak mereka?" tanya Fabian.


"Aku tidak bisa memastikan kebenarannya," jawab Aska. "Lebih baik aku akan membantumu bertemu dengan mereka."


"Apakah itu benar?" tanya Fabian yang tiba-tiba saja bersemangat.


"Jam berapa ini?" tanya Aska kepada Maria.


"Masih jam sembilan," jawab Maria. "Biasanya Ibu Minah dan Paman Luke belum tidur sama sekali."


"Kamu benar," ucap Aska. yang memberikan ponselnya ke Maria.


"Buat apa?" tanya Maria yang memegang ponsel itu.


"Coba kamu hubungi Paman Luke. Tanyakan dimana keberadaannya," jawab Aska yang membuat Maria paham.


Maria menganggukan kepalanya. Ia segera menghubungi Luke dan menanyakan keberadaannya. Setelah menanyakan keberadaan Luke, ia segera mematikan ponselnya. Kemudian Maria menatap wajah Aska sambil memberikan ponsel itu.


"Dimana Paman?" tanya Aska.


"Paman Luke berada di rumah utama Wicaksono," jawab Maria. "Beliau sedang membicarakan tentang kasus Jamaludin bersama Paman Andrew."


"Baguslah kalau begitu," puji Aska yang mulai berdiri.


Fabian yang tidak mengerti dengan pasangan suami istri itu pun memilih untuk diam. Akan tetapi dirinya hatinya belum lega dengan jawaban Aska. Fabian merasa kalau ada yang disembunyikan dari dirinya.

__ADS_1


"Ayo kita ke rumah utama," ajak Aska kepada Fabian dan Maria.


"Kenapa kita kesana?' tanya Maria.


"Mumpung ada Paman Luke. Kita kesana akan mempertemukan Paman Luke dengan Fabian," jawab Aska.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Maria yang membuat Fabian terkejut.


Sontak saja Fabian terkejut. Rencananya tadi ia makan malam bersama Aska sambil meminta untuk menemukan kedua orang tuanya. Namun Aska malah mengajaknya pergi.


Sebelum pergi Maria memberikan uang sebanyak tiga ratus euro untuk diselipkan ke meja. Hingga akhirnya ia menyusul Fabian dan Aska.


Rumah Utama Wicaksono.


"Kasus ini sangat rumit sekali. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan," ucap Andrew.


"Kamu benar. Diam-diam Jamaludin telah membuat kehebohan publik. Banyak sekali kejahatan yang terlah diperbuatnya," sahut Adrian.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Luke.


"Kita bisa menyerahkan kasus ini ke para jenderal. Biarlah mereka memutuskan nasib Jamaludin," jawab Adrian yang terpaksa memberikan kasus ini ke para jenderal.


Terpaksa Adrian memberikan kasus ini ke para jenderal. Begitu juga dengan Luke. Ia sendiri tidak sanggup mengatasi kasus tersebut. Mereka akhirnya melepaskan tangannya dan membiarkan mereka yang mengadilinya.


Tidak lama terdengar deru mesin mobil yang baru saja datang. Adrian dan Luke saling menatap sambil memberikan pertanyaan kenapa Aska cepat sekali pulangnya?


"Perasaan tadi Aska meminta izin untuk pergi ke suatu tempat. Rencananya ingin mengajak istrinya berduaan hingga beberapa hari ke depan. Tapi kenapa tiba-tiba saja Aska pulang ke sini?" tanya Adrian.


"Mungkin kangen sama kamu," celetuk Andrew.


"Mana mungkin dia rindu sama aku. Kalau ketemu ujung-ujungnya mesti berantem," kesel Adrian yang mengakui kalau dirinya sering berantem sama putranya itu.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Aska masuk ke dalam sambil melihat Luke. Ia memberhentikan wajah dingin oke dan mencocokkan dengan wajah Fabian. Ternyata memang benar. Menurut Aska mereka sangat mirip seratus persen. Lalu Aska menatap wajah Luke sambil bertanya, "Paman, bisakah kita bicara di taman belakang?"


"Memangnya ada apa?" tanya Adrian.


"Ada yang ingin bertemu dengan paman Luke," jawab Aska yang menatap wajah Adrian.


"Siapakah dia? Aku tahu kalau asistenku ini tidak memiliki siapa-siapa," tanya Adrian yang sangat penasaran sekali dengan tamunya Luke.

__ADS_1


"Nanti Ayah ikut denganku saja," jawab Aska yang meminta Adrian untuk bersabar.


Kemudian Luke meminta izin ke Adrian untuk keluar sebentar. Lalu iya segera meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Adrian dan Andrew masih bertanya-tanya. Jujur, mereka sangat takut sekali jika musuh datang lalu menjebak Luke.


"Siapa orangnya?" tanya Adrian.


"Tenang saja. Dia bukan seorang musuh. Melainkan seorang pria muda yang mirip sekali dengan paman Luke," jawab Aska.


"Maksud kamu apa?" tanya Adrian.


"Apakah Papa tahu dokter gizinya Aska Food?" tanya Aska balik.


"Tahu. Dia bernama Fabian kan."


"Itu benar. Dia adalah teman sekolahku. Apakah Ayah merasa kalau wajahnya itu sangat mirip sekali dengan paman Luke?"


Tiba-tiba saja Adrian mengingat wajah Fabian. Ketika berada di perusahaan Aska Food, saat melihat Fabian dirinya teringat akan Luke, "Kok aku merasa kalau Fabian mirip sekali dengan Luke ya?"


"Nah itu dia Ayah," jawab Aska.


"Berarti benar. Dahulu Luke memang pernah mengakui kalau dirinya sudah menanam saham di dalam perut Minah," ucap Adrian.


Mata Aska membulat sempurna. Bagaimana bisa ia mendengar ucapan Adrian tanpa disaring itu? Rasanya ia ingin sekali memukul sang ayah namun niat itu diurungkan begitu saja.


"Ayah tahu nggak? Kalau Ayah sedang berbicara dengan anak kecil sepertiku," tanya Aska.


Plakkkkkkkkk!


Tangan kekar Adrian memukul lengan Aska. Bisa-bisanya Aska mengatakan dirinya masih kecil. Lalu Andrew melihat Aska dan Adrian hanya tertawa. Memang benar, Adrian mengakui kalau dirinya sering berantem dengan Aska.


Mendengar suara Andrew tertawa, Aska langsung memandang wajah pria paruh baya itu. Kemudian Aska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu sambil menyapanya, "Ternyata di sini masih ada orang?"


"Dasar keponakan laknat!" kesal Andrew yang dibarengi oleh gelak tawa Adrian.


"Jangan sering kesel sama aku paman. Nanti jodoh Paman akan menjauh lagi," ejek Aska.


"Memangnya siapa pacarnya Andrew sekarang?" tanya Adrian Yang penasaran dengan jawaban Aska.


"Dia adalah guru yang mengajar pada anak-anak yang masih berusia lima tahun," jawab Aska. "Nama guru itu adalah Winny."


Adrian yang mengetahui siapa kekasih Andrew hanya bisa tertawa. Ternyata wini adalah seorang agen mata-mata miliknya.


"Apakah dia memiliki tinggi kurang lebih seratus enam puluh delapan? Terus wajahnya seperti boneka? Apakah wanita itu memakai kacamata tebal?" tanya Adrian.

__ADS_1


Waktu Adrian mengungkapkan ciri-cirinya, Andrew langsung melotot ke arah Aska. Andrew berharap kalau Aska tidak membocorkan kepada Adrian. Karena ciri-ciri yang disebutkan oleh Adrian itu memang benar.


"Bagaimana ya? Lebih baik ayah tanyakan sendiri kepada Paman Andrew," tanya Aska sambil menatap wajah Andrew.


__ADS_2