
Romeo hanya bisa menghelai nafasnya secara kasar. Entah kenapa Tuan mudanya itu sangat trauma dengan namanya panci terbang. Entah apa yang dilakukan oleh orang di dalam rumah Maria? Yang pastinya dirinya menebak bukan ulah orang tua Maria.
"Masuklah ke dalam. Apakah kamu tidak mau melihat bapakmu itu?" tanya Aska.
Maria menggigit jarinya karena panik. Pandangan matanya tertuju pada mobil SUV hitam yang sudah terparkir di samping mobil Romeo. Diam-diam Maria merasakan ada sesuatu berada di dalam rumahnya.
Lalu Maria memutuskan untuk masuk ke dalam. Sementara itu Aska memandang Romeo untuk meminta bantuan.
"Bisakah kamu memanggil polisi?" tanya Aska sambil memohon.
"Tenanglah, beberapa pengawal sedang menuju ke sini. Pengawal itu memang ditugaskan oleh kakek untuk melindungi kamu," jawab Romeo.
"Kalau begitu ayo kita masuk. Aku ingin melihat Apa yang terjadi?" ajak Aska sembari masuk ke dalam dan melihat beberapa preman sedang menghancurkan rumah.
Aska yang tidak terima melihat rumah Maria dihancurkan oleh preman sangat geram. Dirinya mulai mengambil ancang-ancang dan menghajar mereka. Namun Romeo menariknya agar tidak bertarung. Romeo menjalankan kepalanya sambil berbisik, "Jangan dilakukan. Mereka sangat brutal. Aku tidak mau kalau kamu terluka."
"Mereka sedang menghancurkan rumah Maria," ucap Aska.
Tanpa banyak bicara Aska melipat lengan bajunya hingga ke siku. Dirinya tidak akan membiarkan orang-orang brutal itu menghancurkan rumah Maria.
Saat ingin menghajar preman itu, Aska terkejut dengan sang preman. Dirinya menyuruh sang preman itu berhenti terlebih dahulu. Tak sengaja sang preman itu menoleh dan melihat Aska. Preman itu terdiam lalu menunduk malu.
"Bang Tigor," panggil Aska yang mengenal nama preman itu
Preman itu terdiam dan tidak menjawab panggilan Aska. Kenangan demi kenangan bersama Aska membuat preman itu tidak berani memanggilnya.
"Bang Tigor," panggil Aska sambil mendekati preman itu.
"Maaf," ucap preman itu.
"Suruh siapa kamu menghancurkan rumah ini?" tanya Aska.
__ADS_1
Belum sempat menjawab, beberapa pengawal yang diutus oleh Romeo tiba. mereka langsung mendekati Romeo sambil membungkukkan badannya, "Selamat pagi tuan."
"Pagi... Bawa orang ini ke kantor polisi!" perintah Romeo.
"Jangan tuan... Jangan bawa aku ke kantor polisi.... Saya janji tidak akan mengganggu lagi," pinta preman itu dengan wajah ketakutan.
Aska memberi kode agar Romeo tidak membawanya ke kantor polisi. Lalu Romeo mengganggukan kepalanya. Aska menyuruhnya membawa ke suatu tempat. Dirinya yang akan memutuskan Bagaimana nasib preman itu.
"Singkirkan dia terlebih dahulu! Aku nggak mau berurusan dengan preman itu terlebih dahulu!" perintah Aska.
Romeo menuruti apa permintaan Aska. Beberapa dari pengawal itu membawa sang preman ke suatu tempat. Sisanya mereka Berdagang di dalam rumah.
Beberapa saat kemudian Maria berteriak dengan kencang. Sang ayah mulai merasakan jantungnya semakin sakit. Sedangkan Haryadi dari tadi memaki-maki Maria. Pria itu mengeluarkan bahasa yang tidak enak didengar. Yang lebih parahnya lagi Haryadi melakukan playing victim.
Di depan orang tuanya Haryadi memberitahukan kalau Maria bukan perempuan baik-baik. Malahan Haryadi menuduh Maria suka menjual dirinya ke pria hidung belang. Di situlah bapaknya Maria terkena serangan jantung. Haryadi malah membiarkannya dan tidak memanggil ambulans. Pria itu malah tertawa melihat calon mertuanya sedang menderita.
Aska segera masuk ke dalam dan menghajar Haryadi. Ia menyuruh Romeo untuk memanggil ambulans ke sini. Sedangkan Maria tidak bisa memisahkan mereka. Jujur Maria masih cepat berada di depan Sang bapak.
Dengan kesalnya Aska memukul Haryadi berkali-kali. Ia segera mengunci Hariadi agar tidak pergi kemana-mana. Sedangkan Maria dan ibunya sangat panik melihat Sang bapak kesakitan. Lalu bagaimana dengan Romeo? Romeo sengaja tidak memisahkan mereka. Romeo tahu yang salah siapa. Iya sedang menunggu ambulans ke sini sambil melihat pertengkaran mereka.
Sementara para pengawal melihat Aska sedang memukuli Hariadi. Namun Romeo melarangnya untuk tidak ikut campur. Mereka terpaksa menuruti keinginan Romeo.
"Sudah aku bilangin! Jika kamu nggak menyukainya jangan menyakitinya! Apakah kamu paham! Yang kamu lakukan itu adalah wanita! Bukan laki-laki seperti kamu! Kamu wanita adalah kaum yang lemah yang pantas dilindungi! Di mana perasaanmu! Apakah ibumu tidak pernah mengajarkan soal itu! Jika iya Kamu adalah pria kurang ajar yang pernah aku temui! Sebentar lagi aku akan membuat kamu hancur berkeping-keping! Karena kamu tidak pernah menghormati seorang wanita! Aku yakin kamu tidak pernah menghormati ibumu! Menyayanginya dan mencintainya!" Geram Aska yang menambah pukulan satu kali lagi di wajah Haryadi.
Jujur Aska sangat geram melihat Haryadi merendahkan seorang perempuan. Dari kemarin Hariyadi sudah menginjak-injak harga diri perempuan. Aska tidak pernah melakukan itu ke setiap wanita yang ditemuinya. Ia lebih memilih untuk menghormatinya.
Sepuluh menit kemudian setelah Aska memukul wajah Haryadi, ambulans datang bersama tim medis. Di sana ayahanda dari Maria segera diangkut oleh ambulans. Sementara ibunya Maria sangat syok dengan kejadian ini. Entah kenapa calon menantunya itu melakukan hinaan demi hinaan kepada Maria. Yang lebih parahnya lagi Haryadi membanding-bandingkan Maria dengan wanita teman ranjangnya itu. Jujur sang Ibu tidak akan rela jika Sang Putri menikah dengan pria seperti itu. Mau tidak mau sang ibu harus membatalkan pernikahan itu.
Setelah kejadian ini selesai, Aska meminta pengawalnya untuk menggiring Haryadi ke kantor polisi. Di sana Aska akan membuat laporan tentang pencemaran nama baik dan kasus pemukulan terhadap Maria. Memang pagi ini Maria tidak dipukul sama sekali. Akan tetapi bukti-bukti yang diberikan oleh Romeo, Maria sering kali terkena pemukulan di wajahnya itu. Namun Maria tidak pernah melaporkan kasus ini ke kepolisian.
Malahan Romeo dan Christina sering menyuruhnya untuk lapor ke sana. Maria mengurungkan niatnya dan mencari alasan pekerjaan di kantor banyak sekali. Jujur saat itu Maria sangat ketakutan jika Haryadi melakukan kekerasan terhadap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Masuk jam berapa hari ini?" tanya Aska.
"Sudah hampir jam setengah sembilan pagi. Kamu bisa masuk jam berapa saja. Nyonya sudah memberikan kamu wewenang untuk menyelesaikan masalah Maria," jawab Romeo yang sedang fokus membawa mobil.
"Aku tidak peduli itu. Tapi hari ini sudah siang sekali. Jujur pagi ini adalah pagi yang cukup melelahkan bagiku. Coba saja pagi-pagi sudah berantem seperti ini?" kesal Aska.
"Sepertinya kamu tidak perlu menghajar Hariadi seperti itu. Kenapa kamu tidak meminta para pengawal menghajarnya habis-habisan?"
"Jujur dari sore hari aku sangat kesal terhadap Haryadi. Dia sudah merendahkan martabat kaum wanita. Di matanya kaum wanita itu tidak benar. Selalu menjadi beban dalam hidupnya!" jawab Aska dengan geram.
"Itulah Hariadi. Sudah banyak kasus terjadi karena ulahnya. Namun semua korban tidak pernah lapor sama sekali," celetuk Romeo.
"Kenapa tidak ada yang lapor sama sekali? Kenapa mereka diam saja? Apakah mereka takut dengan Haryadi? Seharusnya dia lapor dan tidak mendiamkan begitu saja," tanya Aska secara bertubi-tubi.
"Masalahnya adalah kekuasaan. Di mana Haryadi memiliki kekuasaan yang membuat semua orang takut. Dia adalah pemilik tambang emas di daerah Kalimantan sana. Itulah kenapa banyak orang-orang takut jika melawannya," jawab Romeo.
"Oh begitu. Bagaimana dengan kekayaan milik ibuku?" tanya Aska.
"Jika aku cerita, apakah Tuan Muda akan pingsan?" tanya Romeo yang membuat Aska bingung.
"Kenapa kamu mendoakan Aku pingsan?" tanya Aska.
"Aku tidak akan mendoakan tuan muda pingsan. Jika anda mengetahui kekayaan bersih milik Nyonya Christina. Tuan muda akan kaget sekali. Itu hanya Nyonya Christina. Belum lagi milik sang kakek. Jika digabungkan akan menjadi banyak. Itu juga belum digabungkan lagi milik Tuan Adrian. Tuan Adrian juga memiliki kekayaan bersih yang menumpuk. Seluruh harta itu sudah menjadi milik anda hanya Tuan. Bisa dipastikan anda sekarang adalah sang pemegang kekuasaan terbesar di negara ini maupun luar negeri," jelas Romeo yang membuat Aska terkejut.
"Aku tidak bekerja membanting tulang siang dan malam. Aku bekerja hanya di kebun menjadi petani buah. Tiba-tiba saja aku memiliki aset banyak seperti itu. Lalu aku bingung mau ditaruh ke mana aset seperti itu?" tanya Aska yang mengeluh pada Romeo.
Citttttt!
Suara ban mobil bergesekan dengan aspal jalanan yang panas. Ban itu ternyata memercikan api sedikit ketika Romeo mengerem mendadak. Hampir saja kepala Aska membentur kaca mobil. Untung saja Aska memakai seat belt.
"Astaga Abang!" pekik Aska.
__ADS_1
"Maaf, tiba-tiba saja Anda membuat saya kaget," sahut Romeo sambil cengengesan.
"Bukannya gitu kali. Aku kan nanya mau aku taruh mana aset sebanyak itu? Lalu apa salahku sekarang?" tanya Aska.