
Mereka pun turun dan Frank mengajaknya ke jalur private. Di sana mereka dikawal beberapa orang yang dikepalai oleh Max dan Romeo. Frank memang sengaja membawa mereka untuk berjaga-jaga ketika terjadi penyerangan ke Jamaludin. Mereka langsung menuju ke ruang tunggu.
Ketika menuju ke ruang tunggu, mereka melihat beberapa orang yang sedang berjaga di pintu masuk. Frank bisa memastikan kalau orang yang berada di sana adalah Aska dan Adrian.
“Di mana Aska?” tanya Christina.
“Berada di dalam. Soalnya aku mendapatkan pesan kalau Aska menunggu di ruang privat. Mereka sengaja menunggu di sana,” jawab Frank yang berhenti menatap para pengawal yang berdiri di ruangan itu.
Seluruh para pengawal membungkukkan badannya sambil mengucapkan salam. Namun sebelum salam, Frank membubarkan agar tidak memberikan salam. Tujuannya adalah Frank takut dikenali banyak orang. Setelah itu mereka masuk ke dalam dan melihat kedua pria berbeda generasi itu langsung menegurnya, “Apakah kalian tidak melihatku?”
“Ngapain lagi melihat kamu?” tanya Adrian yang cuek dengan kedatangan Frank.
Adrian dan Aska langsung berdiri dan mendekati pasangan masing-masing. Mereka menatap wajah pasangannya masing-masing sambil tersenyum lembut. Beberapa saat kemudian Aska memeluk Maria dan mengelus punggungnya berkali-kali. Ada rasa nyaman di hati Maria.
“Apakah kamu rindu kepadaku?” tanya Aska sambil berbisik.
“Aku sangat merindukan Abang. Kalau hanya video call-an itu tidak bisa menghapus semua rindu ini,” jawab Maria yang mencium aroma tubuh Aska maskulin.
“Kalau begitu nanti malam kita tidur bersama yuk,” ajak Aska.
“Bukankah kalau kita sudah menikah akan selalu tidur bersama?” tanya Maria.
“Iya itu benar,” jawab Aska. “Aku harap kamu tidak kedatangan bulan lagi.”
“Sudah selesai. Aku ke sini memang agak telat. Kalau mau melakukan malam pertama ayo,” ajak Maria.
Aska tersenyum manis lalu memandang wajah Maria. Maria sudah tidak malu lagi untuk mengatakan seperti itu. Sudah sewajarnya seorang istri harus menghibur sang suami. Maria terpesona pada ketampanan Aska. Tidak bertemu sebulan dan melakukan video call-an, wajah Aska semakin tampan.
“Abang semakin tampan saja. Apakah Abang memakai pembersih wajah yang khusus buat pria? Karena wajah abang semakin glowing saja,” tanya Maria yang membuat Aska terkekeh.
“Ya nggaklah... Abang hanya memakai sabun saja jika mencuci muka,” jawab Aska. “Memangnya Abang hari ini tampan ya?”
Maria tidak menjawab tapi hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Adrian mendekati Aska sambil berkata, “Curhatnya nanti dilanjutkan saja ya.”
“Memangnya mau ke mana?” tanya Aska yang tidak sadar dirinya Sudah dari tadi berada di bandara.
__ADS_1
“Pulang. Waktunya sudah habis. Tempat ini akan disewa oleh orang lain,” jawab Adrian.
“Memangnya kita berada di mana?” tanya Aska yang merupakan sesuatu.
“Kita berada di bandara sekarang,” jawab Adrian yang melihat Aska yang tidak beres itu.
“Apa?” pekik Aska.
“Ya kita berada di bandara,” jawab Adrian lagi.
“Aku baru sadar kalau anak dan bapak sama-sama bucinnya,” keluh Romeo yang membuat Max terkekeh.
“Makanya kalian cepetan menikah! Jangan Adi jombloh terus,” saran Frank.
“Ah... aku ingin menikahi Mala,” seru Romeo.
Mendengar nama Mala yang disebut oleh Romeo, Aska mendekati Romeo Ia menatap wajah Romeo sambil bertanya, “Apakah kamu sangat mencintai Mala?”
“Ya... aku sangat mencintainya,” jawab Romeo.
Romeo menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Ia tidak menyangka kalau Aska sangat memperdulikan dirinya. Ia sangat bersyukur sekali mendapatkan seorang bos yang benar-benar menuntunnya ke jalan yang benar.
“Ayo, kita kembali ke markas Blue Diamond!” ajak Frank sambil meninggalkan mereka.
Tanpa menjawab mereka langsung meninggalkan ruangan private itu. Mereka menuju ke area parkir.
Di tempat yang sama, Jamaludin menuju ke ruangan private. Tidak sengaja Jamaludin melihat Frank yang memiliki sifat tegas dan berwibawa. Ia langsung menelan salivanya dengan susah payah. Wajahnya yang normal berubah menjadi pucat.
Sambil berjalan Jamaludin merasakan dirasakan yang tidak enak. Tubuh Jamaludin bergetar dan mulai mengeluarkan keringat dingin. Selain itu juga Jamaludin tidak bisa berkata apa-apa.
“Apakah Frank masih hidup? Bukannya Frank saat itu mengalami kecelakaan parah?” tanya Jamaludin bertubi-tubi.
Dua kalimat itu sedang bertahta di hatinya. Sungguh ia sangat takut sekali jika Frank masih hidup. Ia tidak bisa lagi bergerak. Apalagi sekarang runang geraknya sangat terbatas.
Kenapa bisa begitu? Karena Adrian sudah membuat pasukan khusus penumpas mafia hidup lagi. Adrian menangguhkan pensiunnya. Tujuannya adalah Adrian ingin membekuk Jamaludin.
__ADS_1
Namun pasukan khusus itu dibagi menjadi tiga, Yaitu tim satu adalah milik Adrian sendiri. Tim dua dipegang oleh Frank. Tim tiga sengaja dipegang oleh Aska, Tim dua daun tim tiga sengaja tidak diresmikan oleh Adrian. Tim dua tadi hanya untuk membantu Adrian saja. Jika masalah ini sudah selesai, maka Adrian akan membubarkan dua tim tersebut.
Jujur saja Jamaludin saat ini sangat ketakutan. Ia bingung harus berbuat apa? Jamaludin harus mencari cara agar bisa lolos dari Frank.
Akan tetapi Jamaludin tidak sadar. Jamaludin tidak memperhatikan posisi sang anak di Wicaksono Group. Pihak Damian sudah meresmikan ahli waris sesungguhnya di Wicaksono Group. Cepat atau lambat mereka akan mengumumkan Aska sebagai ahli waris.
Di dalam perjalanan menuju ke markas Blue Dragon, Aska tadi merasakan ada sesuatu yang lewat. Aska mengerti kalau yang lewat itu adalah Jamaludin. Jujur saat itu Aska sangat geram dan menghajar Jamaludin. Namun niat itu ia diurungkan. Jika tidak ia akan mendapatkan masalah besar.
“Abang kenapa?” tanya Maria yang melihat Aska agak lain.
“Aku baik-baik saja,” jawab Aska dengan cepat.
“Kenapa Abang diam saja? Apakah aku ke sini mengganggu Abang?” tanya Maria lagi.
“Enggak,” jawab Aska yang menoleh ke belakang. Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Karena Abang langsung berubah wajahnya,” jawab Maria dengan jujur.
“Abang tidak berubah neng. Gini Abang cerita, pas waktu lewat Abang tidak sengaja melihat Jamaludin lewat. Dia lewat pas bertepatan dengan Paman Frank. Terus milik wajahnya berubah menjadi drastis. Dia sangat ketakutan sekali,” jawab Aska yang memberitahukan ada apa sebenarnya.
“Oh... tapi kan dia mafia Abang,” sahut Maria.
“Memang betul dia mafia. Sekarang ruang geraknya sedang dibatasi oleh ayah. Segala sesuatunya dipantau oleh ayah. Hingga aku mengetahui sepak terjangnya,” jawab Aska yang tersenyum manis sambil membelai pipi lembut Maria.
“Bagaimana ayah melakukannya?” tanya Maria.
“Ya... bisa. Ayah kan memiliki para pengawal pribadi. Selain itu juga ayah memang sengaja menyuruh anak buahnya berada di kepolisian sudah menyebar kemana-mana. Jadinya ya Jamaludin tidak bisa bergerak dengan bebas,” jawab Aska yang membuat Maria paham apa yang dilakukan sang suami ketika berada di Paris.
“Oh... aku paham. Abang ternyata hebat sekali,” puji Maria.
“Enggak. Abang belum hebat,” ucap Aska yang tidak ingin puji.
“Memang Abang hebat,” celetuk Maria.
“Hebat apanya neng?” tanya Aska.
__ADS_1