
"Apakah kamu ingin mengatakannya?' tanya Romeo dengan serius.
"Ya… aku ingin mengatakannya," jawab pria itu.
"Kalau begitu katakanlah sejujurnya ke orangnya. Mumpung orangnya masih disini," ucap Romeo.
"Siapakah dia? Apakah kamu membuat aku teka-teki?" tanya pria itu lagi dengan serius.
"Aku tidak memakai teka-teki," jawab Romeo. "Pria itu adalah dia."
Romeo menunjuk Aska sambil tersenyum manis. Romeo sangat bangga pada tuan mudanya. Jujur Aska termasuk pria bijaksana dan baik saat awal pertemuan itu. Lalu, pria itu menoleh dan melihat Aska sedang duduk dengan santai. Tiba-tiba saja pria itu terkejut dan menatap wajah Aska.
"Sepertinya aku mengenal pria muda ini?" tanya pria itu.
"Apakah kamu Fabian Trisno Sumardjo?" tanya Aska yang menebak nama pria itu.
Sedari tadi Aska melihat wajah pria yang memakai baju serba hitam itu. Aska sangat mengenali wajah pria itu. Dari segi usia Aska dan pria itu memang sama. Setelah itu Aska berdiri dan mendekati Fabian sambil mengulurkan tangannya sambil berkata, "Lu… enggak kenal gue? Bukannya dulu lu suka ngerjain gue?"
Fabian nama pria itu tercekat pada tenggorokannya. Ia baru sadar kalau orang yang berada di hadapannya adalah orang dikenalnya. Lalu, bagaimana dengan Aska? Aska hanya tertawa melihat Fabian yang menurutnya aneh itu.
"Sepertinya kamu mengenalnya?" tanya Romeo.
"Iyalah… dia adalah teman baikku sewaktu sekolah SMP. Lalu SMA kami pisah dan kehilangan kontak. Dia memiliki otak di atas rata-rata. Tapi yang aku ragukan saat itu adalah bisakah dirinya menjadi dokter ahli gizi? Karena setiap bertemu mesti komentar dari A sampai Z demi mengomentari makanan yang kami konsumsi," jawab Aska yang tersenyum iblis sambil memandang wajah Fabian.
"Kapok gue," kesal Fabian yang membalas uluran tangannya sambil menjabat Aska dengan senyuman yang manis.
"Ternyata bumi ini ternyata sempit seperti daun kelor ya?" tanya Aska yang menatap wajah Fabian sambil tersenyum manis.
Fabian menarik tangannya sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu dirinya menanggapi ucapan Aska sambil berkata, "Lu benar. Jujur gue enggak nyangka bisa bertemu dengan lu lagi. Gue sangka enggak ketemu lagi?"
"Itu namanya kalian jodoh," celetuk Romeo dengan jujur.
"Cih… pakai jodoh segala. Apes iya," kesal Aska yang berwajah kocak.
Fabian dan Romeo langsung tertawa terbahak-bahak mendengar Aska yang sedang kesal. Aska tidak menyangka kalau di perusahaannya bisa bertemu dengan Fabian teman baiknya ketika sekolah dulu.
__ADS_1
"Hmmmp…. kenapa bisa bertemu?" tanya Fabian yang membingungkan.
"Kamu tahu yang memiliki perusahaan ini adalah Aska sendiri," sahut Romeo yang membuat Fabian tersenyum manis.
"Sedari dulu gue sudah menebak kalau Aska ini anaknya orang kaya. Dari segi wajahnya gue bisa menebak kalau Aska bukan anaknya Bu Minah. Tapi," ucap Fabian yang menggantung.
"Tapi apa?' tanya Aska.
"Perlakuan terhadap Bu Minah terhadap lu miris sekali. Bisa-bisanya lu diinjak-injak kaya keset. Apalagi Bu Minah memperlakukan lu kaya hewan," jawab Fabian yang menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Nanti gue cerita siapa Minah sebenarnya. Gue harap lu mengerti akan kejadian di masa lalu," timpal Aska yang membuat Aska paham dengan keadaan Fabian.
"Sekarang ini?" tanya Fabian.
"Lu bisa mengecek semua barang-barang yang dibawa ini?' tanya Aska balik.
"Kalau lu mintanya besok… otomatis gue angkat tangan. Paling lama seminggu," jawab Fabian serius.
"Kalau begitu baiklah. Gue minta laporannya seminggu ke depan," pinta Aska.
"Akhir-akhir ini gue merasa ada yang aneh dengan beberapa orang termasuk Sony. Sering sekali Sony bertemu dengan pria bule berambut pirang. Entah gue enggak tahu apa yang dibicarakan olehnya," ucap Fabian yang membuat Aska dan Romeo terkejut.
"Postur pendek tapi gemuk. Terus di pelipis matanya terdapat bekas luka?" tanya Romeo yang mulai mengorek informasi sama Fabian.
"Ya… itu dia… Dari yang gue lihat mereka sangat akrab dan tertawa seperti teman lamanya," jawab Fabian yang menambahkan informasi selanjutnya.
"Kalau begitu," sahut Romeo yang menggantung.
"Siapa dia yang?' tanya Aska yang bertanya-tanya.
"Dia adalah Benjamin. Benjamin adalah pria yang dimana ingin menghancurkan ibumu. Sedari dulu Benjamin ingin membuat ibumu menderita. Tapi… aku masih samar tentang masalah ini," jawab Romeo.
Fabian sungguh terkejut dengan apa yang didengarnya. Jujur apa yang didengarnya membuat dirinya meringis. Di matanya Christina adalah wanita tangguh dan baik. Dirinya sangat mengagumi sosok Christina yang sangat baik sekali itu.
"Gue nggak akan membiarkan Nyonya Christina menderita. Sudah banyak karyawan di sini hidupnya ditunjang oleh beliau hingga bisa meraih impiannya," jelas Fabian.
__ADS_1
"Lu mau gabung sama gue mencari informasi semuanya?" tanya Aska dengan serius.
"Ya… gue ingin bergabung dengan lu. Gara-gara Nyonya Christina gue bisa sekolah dan meraih cita-cita sebagai dokter umum. Tepatnya gue mengambil gizi karena tertarik dengan nutrisi yang dikonsumsi oleh makhluk hidup di dunia ini," jawab Fabian yang kagum dengan Christina.
"Ya udah deh… bantu gue doa supaya cepat selesai," Aska meminta doa ke Fabian.
"Lu boleh meminta lebih sama gue. Dengan senang hati gue akan kerjakan semuanya," ujar Fabian yang mendapatkan acungan jempol dari Romeo.
"Tenang saja gue bakalan minta sesuatu sama lu. Yang penting gue minta laporan barang ini. Gue takut barang yang dipakainya adalah barang palsu atau terkandung zat bahaya bagi tubuh manusia," pinta Aska.
Fabian menganggukan kepalanya tanda setuju. Kemudian Fabian menghubungi timnya agar ke sini. Setelah itu Aska dan Romeo berpamitan untuk pulang ke apartemen. Kedua pria berbeda umur itupun berharap bahwa barang itu baik-baik saja.
Paris Perancis.
Julia yang berada di ruangan gelap sendirian dikejutkan oleh kedatangan pria yang berusia senja. Ia tersenyum manis sambil berkata, "Halo Tuan Jamal."
Brakkkkk!
Pria tua itu melemparkan gelas yang berada di depan Julia ke tembok. Dengan wajah bengisnya pria itu menatap tajam ke arah Julia seakan ingin melahap tubuh renta milik Julia.
"Apa kamu bodoh atau pintar sih?" geram pria itu.
"Tenang Jamal…. jangan terlalu emosi… enggak bagus dengan jantungmu," hibur Julia.
"Sampai kapan aku menunggu kematian Damian dan keturunannya!" bentak Jamal pria itu.
"Tenang saja. Aku masih berusaha meruntuhkan kerajaan bisnis Christina," jelas Julia.
"Sampai kapan aku menunggumu?" tanya Jamal geram.
"Sebentar lagi. Orang-orangku yang berada di perusahaan Aska sudah bekerja dengan baik. Mereka sengaja menukarkan barang palsu yang mengandung zat berbahaya. Lalu aku akan menghubungi seseorang agar mencekal barang-barang itu tidak beredar lagi. Kemungkinan besar Aska Food International akan mengalami kerugian besar dan menutup pabriknya. Setelah ini berhasil kemungkinan besar aku akan menggerogoti Wicaksono Groups," jawab Julia dengan jujur.
Beberapa saat kemudian datang seorang pria yang memakai baju serba hitam menghadap ke arah Julia. Pria itu membungkuk sambil memberi hormat. Kemudian pria itu menyapanya dengan penuh ketakutan.
"Nyonya Julia," sapa pria itu.
__ADS_1
"Ada apa? Apakah ada kabar dari Jakarta?" tanya Julia dengan serius.