
"Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah dia adalah anak miskin," ketus Cici yang tidak mau mematuhi perintah Romeo.
"Kamu mau tahu siapa Aska sebenarnya?" tanya Romeo dengan nada meninggi.
"Aku nggak perlu tahu siapa Aska! Karena dia adalah lahir dari keluarga yang tidak mampu! Bayangkan saja jika aku menikah dengannya! Aku tidak akan bahagia mendapatkan semua uang darinya! Makan juga nggak ada! Jangankan makan! Minum juga tidak punya! Jadi pacarnya dia adalah hal yang sangat memalukan di dalam kamusku!" ungkap Cici dengan nada tegas.
"Kamu menghina bosmu sendiri! Ha!" geram Romeo.
"Romeo," panggil Aska dengan tersenyum.
"Iya tuan," seru Romeo.
"Jangan panggil aku Tuan. Aku bukan tuanmu. Yang dikatakan Cici adalah benar. Tapi Minah bukan ibuku. Kamu nggak perlu tahu siapa diriku sebenarnya. Kalau pun tahu kamu mau minta aku balikan untuk dijadikan suami. Jika itu terjadi maka kesempatan untuk menjadi nyonya besar akan terjadi. Tapi janganlah kamu bermimpi setinggi langit itu cici. Di dalam otakmu hanya ada uang uang dan uang. Itulah prinsip hidupmu. Memang setiap orang membutuhkan uang. Alangkah baiknya jika kamu mencari seseorang yang tulus mencintaimu," ucap Aska.
"Memang yang aku butuhkan hanyalah uang. Aku tidak terlalu mencintai kamu dan juragan jengkol. Yang penting kebutuhan hidupku terpenuhi. Ditambah lagi Aku adalah orang yang suka belanja. Jika aku menikah denganmu. Hidupku semakin miskin dan tidak mendapatkan apa-apa," ujar Cici secara blak-blakan.
Tidak sengaja Maria mendengar apa yang dikatakan oleh Cici. Namun Maria tersenyum kemenangan di dalam hatinya itu. Dirinya mendapatkan keberuntungan berkali-kali lipat. Ketika membuang kerikil, bongkahan permata berada di genggamannya. Begitu juga dengan Aska. Aska juga sama mendapatkan permata yang sangat indah. Ditambah lagi dengan atitude Maria lemah lembut namun mematikan. Jujur Aska mengakui kalau dirinya menyukai Maria.
"Oke baiklah. Suatu hari nanti jangan terkejut siapa diriku sebenarnya. Oh iya... Datanglah ke pernikahanku beberapa hari lagi. Pernikahanku akan dilaksanakan di sebuah hotel mewah yang berada di kawasan Jakarta timur. Aku harap kamu bisa menikmati pestanya. Terima kasih banyak atas hinaan dan cacianmu," balas Aska dengan tenang dan santai.
"Apakah Cici dihukum?" tanya Romeo kepada Aska.
"Tidak perlu. Keadaan keluarganya semakin memprihatinkan. Ibunya sudah sakit-sakitan. Bapaknya sudah tiada. Jika kamu memecatnya kasihan sama ibunya. Biarkanlah saja dia bekerja," jawab Aska yang menyuruh Romeo agar tidak memecat Cici.
Mau tidak mau Romeo mematuhi perintah Aska. Cici pun tersenyum dan langsung keluar dari ruangan itu. Kemudian Maria masuk sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak bilang kepada Cici? Kalau kamu adalah seorang ahli waris dari perusahaan ini," tanya Romeo yang geram kepada Aska.
"Belum waktunya aku mengatakannya. Di hari pernikahanku akan aku bongkar siapa diriku sebenarnya. Begitu juga dengan Maria. Maria lebih berhak untuk mendapatkan gelar Nyonya besar dariku," jawab Aska yang sengaja menutup identitasnya.
"Oh aku paham soal itu.Kamu langsung mempermalukan Cici di depan umum?" tanya Romeo.
"Ya itu benar. Aku sengaja melakukannya. Jika aku membukanya sekarang. Kemungkinan besar Cici akan merapatkan barisan untuk mendekatiku," jawab Aska.
"Okelah... Beberapa hari kamu menikah. Terus jika aku bilang sekarang kemungkinan besar Cici memintamu untuk dijadikan kekasih. Tetapi kamu hanya dimanfaatkan saja. Sungguh luar biasa itu orang. Kalau begitu aku setuju dengan kemampuanmu itu," udah premium yang mendapat ancungan jempol dari Aska.
__ADS_1
Aska mengangguk tanda setuju.Memang dirinya sengaja menutup identitasnya karena tidak mau Cici kembali lagi. Jika kembali dirinya akan dimanfaatkan untuk kesekian kalinya. Jujur saja hatinya sakit ketika kejujuran Cici. Dirinya akan mempermalukan Cici di depan umum.
"Siapakah dia Aska?" tanya Maria.
"Dia adalah mantan kekasihku," jawab Aska yang tidak mau berbohong lagi. "Apakah kamu tadi mendengar apa yang dikatakan oleh Cici?''
Maria mengangguk dan menatap wajah Aska, "Ya itu benar. Tapi kenapa kok hatiku sakit?"
"Ternyata kamu jatuh cinta," ledek Romeo sambil menahan tawanya.
"Bukan ketika Cici berbicara aku hanya membutuhkan uang. Dan juragan jengkol itu pun dimanfaatkannya," jawab Maria.
"Ya itulah Cici sebenarnya. Aku sudah mengetahui tabiat sebenarnya. Untung saja saat itu aku tidak memperdalam rasa cintaku. Putus ya putus aja Nggak merasakan sakit apa-apa. Karena aku sendiri menyadari kekuranganku pada waktu itu," jelas Aska.
"Syukurlah. Pokoknya kamu nggak boleh bersama Cici. Jika kamu bersamaku akan mendapatkan reward yang cukup banyak. Dan reward itu akan berlaku hingga menutup mata," ucap Maria dengan tulus.
"Reward apa?" tanya Romeo yang penasaran sekali dengan reward diberikan Maria untuk Aska.
"Kamu pasti tahulah soal reward itu. Jika kamu nggak tahu bertanyalah wanita yang sudah menikah," jawab Maria sambil tersenyum kemenangan.
"Kalau begitu tolong carikan aku seorang wanita untuk dijadikan istriku. Masa aku harus jomblo seumur hidup?" ucap Romeo yang meminta Aska mencarikan seorang perempuan untuk dijadikan istri.
"Hari ini jadwalku apa saja?" tanya Aska.
"Tidak ada," jawab Romeo.
"Beneran nggak ada?" tanya Aska lagi.
"Ya itu benar," jawab Romeo.
"Calon istriku," panggil Aska yang membuat Maria tersenyum.
"Ada apa?" tanya Maria.
"Dari tadi kamu hanya berdiri," jawab Aska. "Apakah kamu nggak capek berdiri seperti itu?"
__ADS_1
"Aku nggak capek," jawab Maria.
"Masih ada sisa surat undangan?" tanya Aska.
"Oh iya aku hampir lupa. Hari ini adalah pengambilan surat undangan. Besok waktunya membagikan surat undangan," jawab Maria.
"Kok waktunya sangat mepet sekali?" tanya Aska.
"Aku sengaja mereka menghentikan terlebih dahulu untuk konfirmasi darimu. Aku sudah membicarakan ini ke Nyonya Christina. Namamu sudah tersemat di undangan tersebut. Jadinya agak lama mencetak undangan itu soalnya banyak yang mengantri," jawab Romeo.
"Ya udah kalau begitu nggak apa-apa. Memangnya kamu mencetak berapa undangan? Aku ingin meminta sebagian untuk diberikan ke Pak Broto agar hadir di acara pernikahanku itu," pinta Aska.
"Baiklah tak apa. Kalau begitu aku akan mengambil cuti selama dua Minggu," ujar Maria sambil memberikan surat cuti itu kepada Romeo.
"Kamu juga harus segera cuti," sahut Romeo sambil menerima surat cuti itu.
"Kapan aku mulai cuti?" tanya Aska.
"Hari ini seharusnya kamu Sudah cuti. Lebih baik kamu pulang terlebih dahulu," jawab Romeo yang memberikan waktu untuk Aska.
"Aku izin terlebih dahulu kepada ibu," ujar Aska.
"Kamu nggak perlu minta cuti pun tak apa," sahut Christina yang berada di ambang pintu.
"Tapi Bu? Aku harus mengikuti prosedur dari perusahaan ini," ucap Aska.
"Ini perusahaanmu. Kenapa harus meminta izin kepada ibu?" tanya Christina.
"Karena aku harus memberikan contoh yang baik buat karyawan lainnya," jawab Aska yang membuat Christina tersenyum melebar.
"Baguslah. Ibu bangga terhadapmu," puji Christina.
"Maafkan aku nyonya. Hari ini aku harus mengambil surat undangan. Besok harus dibagikan ke teman-temanku dan keluarga lainnya," pinta Maria.
"Tidak apa-apa. Sudah kewajibannya kamu mengurus semua pernikahanmu. Kalau begitu ajaklah Romeo dan Aska agar mereka membantumu membagikan surat undangan itu," pinta Christina.
__ADS_1