Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Ide Max.


__ADS_3

"Ya itu benar! Jejak rekamnya sudah ketahuan. Bahkan berita itu sangat viral sekali."


Jawab Romeo dengan jujur.


Ketika mendengar berita tersebut, Ambar memilih untuk mundur pelan-pelan. Jujur saat ini Ambar ketakutan. Ditambah lagi Ambar sudah tidak mau masuk ke dalam jeruji besi.


Sebelum pergi, Aska berteriak agar Ambar memasukkan barang-barang itu ke tempat semula. Aska tidak mau kalau barang-barang itu diubah tempatnya. Mau tidak mau Ambar bekerja sendirian dan mengembalikan barang-barang itu ke tempatnya.


Takut.


Memang, Ambar saat ini sangat takut. Apalagi Ambar melihat tampang Aska sebagai orang besar. Dan perkataannya itu tidak main-main. Aska yang melihatnya hanya bisa tersenyum.


"Bang."


Panggil Aska ke Romeo.


"Ada apa?"


Tanya Romeo.


"Kita akan ke Jakarta kurang lebih sebulan. Abang bisa nggak mengurus dokumen rumah ini menjadi namaku?"


Tanya Aska balik.


"Semuanya bisa. Apakah kamu mau mengurusnya sekarang?"


Tanya Romeo.


"Waktu sudah menunjukkan jam masuk sore hari. Jujur masalah ini akan aku tutup tanpa ada meminta bantuan dengan aparat. Jika dia melakukannya lagi. Maka aku bisa memenjarakannya hingga membuatnya kapok berulang kali."


Ucap Aska sambil tersenyum licik.


Romeo membenarkan apa yang dikatakan oleh Aska. Kemudian Aska melepaskan Maria sambil berkata, "Neng... Sudah tidak ada lagi. Rumah itu adalah milikku untuk saat ini."


Maria mengangkat kepalanya sambil berkaca-kaca. Ia tidak menyangka kalau rumah itu dibeli oleh suaminya sendiri. Alhasil hati Maria menjadi lebih tenang. Ditambah lagi Maria bisa mengunjungi rumah ini ketika di Jakarta.


"Terima kasih ya bang. Sudah membeli rumah ini."


Ucap Maria dengan senyum terbitnya itu.

__ADS_1


"Ya neng. Kamu jangan bilang sama ibu ya. Kalau rumah ini aku beli. Nanti Ibu marah sama aku. Kalau marah bisa-bisa aku dimusuhi olehnya."


Pinta Aska yang tidak ingin Maria mengatakan kepada orang tuanya.


Maria menganggukkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Ambar yang mengetahuinya, masih sangat membenci Maria. Namun dirinya tidak akan menyerang Maria untuk saat ini. Karena di belakang Maria, ada Aska yang mengikutinya.


"Masuklah ke dalam. Nggak perlu takut. Ada Aku di belakangmu."


Ucap Aska yang sengaja memberikan kenyamanan buat Maria.


Maria pun menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar sang ibunda. Di sana banyak sekali kenangannya. Mulai dari dirinya masih kecil hingga sekolah SD.


Lalu bagaimana dengan Aska? Aska tersenyum manis dan tidak sengaja melihat foto anak perempuan. Ia mengambil foto itu secara diam-diam. Lalu menyimpannya di dalam kantong jasnya itu.


Sedangkan Max dan Romeo, memutuskan untuk berkeliling. Mereka menilai kalau rumah milik Maria sangat strategis. Max memandang wajah Romeo sambil bertanya, "Kalau dibuat promosi untuk produk Aska Food. Kemungkinan besar akan laku kali ya?"


"Pasti laku lah. Tapi kita harus meminta izin dulu kepada Aska. Kita nggak bisa memakainya."


Ucap Max yang membuat Romeo setuju.


"Nah itu benar. Aku sendiri sedang memikirkannya. Bagaimana caranya Aska memberikan sebagian tempatnya untuk wadah promosi. Apalagi di jam sore itu sangat macet sekali."


Memang benar apa yang dikatakan oleh Max. Max sendiri sudah membaca situasi di rumah ini. Ia berharap kalau Aska bisa memberikan sebagian tanahnya untuk dijadikan kedai. Tapi dirinya sangat ragu. Apakah Aska mau memberikannya?"


Seharian mereka berada di rumah milik Maria. Maria tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya. Maria sangat bahagia dan melihat foto masa kecilnya itu.


Akhirnya Maria memutuskan untuk tidur di rumah ini. Aska pun mengizinkannya dan tinggal di sini untuk sementara waktu. Lalu bagaimana dengan Max dan Romeo? Mereka memutuskan untuk tinggal di sini juga. Sebelum tidur mereka mengobrol terlebih dahulu.


"Bagaimana dengan Ambar nanti?"


Tanya Aska sambil meraih kopi yang berada di hadapannya.


"Ambar sudah beres. Aku sudah membuat surat pernyataan. Jika saja Ambar mengganggu rumah ini. Kita bisa melaporkannya ke pihak berwajib."


Jawab Romeo yang sudah membuat langkah selanjutnya.


"Baguslah. pokoknya aku tidak mau rumah ini di otak-atik oleh Ambar maupun yang lainnya."


Pinta Aska sambil menyeruput kopi tersebut.

__ADS_1


"Memang bagus sih. Tapi aku akan menyuruh beberapa orang untuk tinggal di sini. Mereka tugasnya adalah menjaga rumah ini dan juga membersihkannya."


Sahut Romeo yang membuat Aska setuju.


"Tidak apa-apa. Asalkan ada yang mengisi dan tidak kosong."


Ujar Aska sambil menaruh kopi tersebut di meja.


"Oh iya aku memiliki rencana. Bagaimana kalau kita membuat warung kecil-kecilan di depan rumah ini. Tapi warung itu menjual produk Aska Food. Yang di mana kita bisa menjualnya dengan harga murah. Produk ini sengaja kita jual buat para pengendara dan warga sekitar sini. Ya kalau kamu tidak keberatan akan aku bangun. Kalau kamu keberatan ya sudah nggak jadi."


Jelas Max yang sebenarnya tidak enak hati untuk mencurahkan masalah ini.


"Menurutku sih nggak apa-apa. Selama kita menjual produk dengan murah Kenapa tidak? Kamu kan ngambilnya langsung dari pabrik. Bukan dari distributor. Terus kamu tidak menyewa ke pusat perbelanjaan ataupun lainnya. Bisa jadi produk kita dikenal dari seluruh kalangan masyarakat. Kemungkinan besar Aku ingin membuat terobosan. Yang di mana terobosan itu bisa masuk ke semua pangsa pasar. Jika masuk... Kita bisa menjual dengan harga murah. Sekaligus kita tidak rugi banyak."


Kata Aska yang membeberkan keinginannya untuk memperbesar pangsa pasar Aska Food.


"Wah idemu sangat menarik sekali. Kalau begitu kita bisa kerjakan bersama. Dengan harga standar namun nilai gizinya tidak dikurangi sedikitpun. Oke aku setuju."


Romeo langsung memuji kecerdasan Aska.


"Nanti aku akan bicarakan semuanya kepada ibu. Aku ingin semuanya bisa merasakan produk kita."


Sambung Aska.


"Kalau menurutku, Nyonya Christina akan setuju. Sedari dulu beliau ingin membuat kedai kedai kecilan di tepi jalan. Tapi sampai saat ini beliau belum bisa membuatnya."


Ungkap Romeo dengan bahagia.


"Fix... Kita akan membuatnya. Semoga saja kita bisa mengenalkan semua produk untuk berbagai kalangan."


Tambah Aska yang semakin semangat untuk menawarkan banyak produk ke kalangan bahwa hingga ke atas.


"Aku ingin pergi ke Bali dua hari ke depan. Aku di sana hanya empat hari tiga malam. Kalau soal dokumen dikumpulkanlah saja dulu. Aku tidak akan membawanya ke Bali saat itu juga. Aku ingin lepas dari semua pekerjaan demi membuat Maria bahagia."


Ungkap Aska yang bahagia karena pernikahannya itu.


Setelah membicarakan semua hal, akhirnya Aska memutuskan untuk tidur. Max bersama Romeo tersenyum lucu. Jujur, ketika bertemu dengan Aska saat itu, mereka mengatakan kalau Aska adalah pria polos sekali. Sangking polosnya Romeo segan mengajaknya ke klub malam. Namun sekarang Aska berubah drastis semenjak menikah. Hal ini membuat Romeo bertanya-tanya. Kok bisa ya? Aska yang polos sekarang berubah menjadi bucin setengah mati? Bahkan Romeo bisa membaca dari wajah Aska. Kalau Aska adalah pria pintar di atas ranjang.


Duh Romeo ada-ada saja. Memang, Romeo adalah spesialis di atas ranjang. Tapi dirinya tidak pernah mengatakan kepada siapapun. kecuali Roni dan Winda. Mereka memang sudah memiliki kunci Romeo.

__ADS_1


__ADS_2