
"Kamu enggak perlu khawatir soal makan," jawab Aska. "Kita bisa makan kok. Apakah kamu khawatir tinggal di sini?"
"Iya, aku sangat khawatir," jawab Maria. "Mengingat musuh kamu banyak."
"Tenanglah. Jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh. Sekarang kita melakukan banyak-banyak doa. Agar masalah kita selesai," ucap Aska yang memberikan saran kepada Maria untuk tenang.
"Kamu benar. Aku harus tetap tenang," sahut Maria.
"Maka dari itu kamu tenang dan menikmati setiap alur permainanku," celetuk Aska yang membuat mata indah Maria membelalak sempurna.
"Apa maksud kamu?" tanya Maria yang bingung. "Aku bingung dengan ucapan kamu."
"Enggak usah bingung. Maksudku permainan untuk menyerang musuh. aku akan membuat strategi terlebih dahulu ketika ayah ke sini. Kemungkinan besar kamu akan tinggal di sini bersama ibu," jawab Aska. "Aku harap kamu enggak akan kecewa."
Maria menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia mulai tersenyum manis dan memandang wajah Aska. Tiba-tiba saja Maria berjinjit lalu mencium mulut Aska.
Aska terkejut dan langsung diam membeku selama beberapa detik. Lalu Aska tersenyum manis sambil berkata, "Terima kasih."
Sungguh Maria bingung apa yang dilakukan baru saja. Ia sudah berani melakukan ciuman terhadap sang suami. Wajah cantiknya berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. Ia segera menyembunyikan kepalanya di dada Aska.
"Selalu saja begitu," gerutu Aska.
"Apanya yang selalu saja begitu?' tanya Maria yang masih menyembunyikan kepalanya.
"Kamu selalu saja begitu. Setiap habis mencium aku. Wajah kamu selalu disembunyikan. Aku kan menjadi bingung dan tidak bisa melihat wajah kamu yang memerah itu seperti kepiting rebus itu" jawab Aska yang semakin membuat Maria salah tingkah.
"Udah nggak usah ngomong seperti itu. Lama-lama aku menjadi malu. Bisakah kamu tidak mengerjai aku?" tanya Maria dengan kesal.
"Ah... rasanya mengerjai kamu sepertinya menjadi pekerjaanku. Malahan aku ingin menjadikan pekerjaan utama," bisik Aska yang menahan tawanya.
"Benar juga sih," sahut Maria yang mengangkat kepalanya sambil melihat Aska. "Ketimbang kamu menggoda istri orang."
"Itu tidak baik sayang. Aku tidak akan pernah menggoda istri orang. Aku ingin menjadi orang yang setia," jawab Aska.
"Janganlah kamu melakukannya. Jika tidak ingin kehilangan jatah dariku selama berbulan-bulan," ancam Maria yang tidak memberikan jatah.
Aska menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Ya... enggaklah sayang. Masa aku harus kehilangan jatah dariku?"
"Nah makanya itu. Aku tidak mau kamu berselingkuh," jawab Maria dengan jujur.
__ADS_1
"Istri satu saja enggak habis-habis. Apalagi istri dua. Aku bingung nanti melayaninya," ucap Aska.
"Aish... kamu itu," kesal Maria.
"Enggak perlu kesal seperti itu. Nikmatilah perjalanan kamu sebagai seorang istri yang baik," ucap Aska.
"Terus rencana kamu bagaimana?" tanya Maria.
"Menyusun rencana. Kemungkinan besar aku akan terbang ke Paris. Aku sudah tidak mau masalah ini berlarut-larut," jawab Aska. "Aku sudah muak. Aku akan menunjukkan jati diri yang sebenarnya."
"Aku mendukungmu. Doaku akan selalu mengiringi kamu setiap langkah," ucap Maria.
Aska tersenyum manis mendengar apa kata isterinya. Ia sangat bahagia sekali untuk saat ini. Ia tidak akan menyia-nyiakan momen indah seperti ini.
Paris Perancis.
Saat Jamaludin bersantai di taman belakang, ada seorang pengawal menghampirinya. Pengawal itu membungkukkan badannya sambil menyapanya dengan wajah pucat. Ia tidak mau menjadi sasaran dari sang bosnya itu. Ia memilih untuk berbicara pelan-pelan.
"Selamat pagi tuan," sapa pengawal itu.
"Ada apa?" tanya Jamaludin yang memandang pengawal itu dengan angkuh.
"Maksud kamu?" tanya Jamaludin yang mengerutkan keningnya.
"Ada yang mengirimkan paket untuk anda tuan," jawab pengawal itu.
"Paket apa?" Jamaludin bertanya karena hatinya ingin segera mengetahui isi paket tersebut.
Pengawal itu menepuk tangannya sebanyak dua kali. Hal ini memberikan kode untuk pengawal lainnya. Lalu kedua pengawal itu datang dengan membawa sebuah kardus. Mereka langsung menaruhnya di atas meja dan berlangsung pergi.
Melihat kardus itu, Jamaludin memerintahkan pengawalnya untuk segera pergi. Pengawal itu akhirnya pergi meninggalkan Jamaludin sendirian.
"Tumben... hari ini ada kiriman barang. Apa aku pesan barang sebelumnya?" tanya Jamaludin sedang mengingat pesanan barang tersebut.
Saking penasarannya Jamaludin memutuskan untuk berdiri dan membuka kardus itu. Ia membuka perlahan lalu melihat sebuah kepala manusia. Yang di mana kepala itu adalah kepala mata-matanya.
Terkejutlah Jamaludin. Matanya melotot dan menemukan sebuah kertas yang berisikan sebuah pesan. Ia mengambil pesan itu lalu membacanya:
Isi pesan itu.
__ADS_1
Aku Aska Wicaksono. bayi yang kamu buang ketika masih bayi. Aku sudah menjadi pria dewasa. Yang di mana aku akan menuntut balas apa yang telah kamu perbuat. Cepat atau lambat aku akan bertemu dengan kamu. Aku akan membuat kamu menjadi menderita. Kamu tidak bisa merasakan apa yang sudah kamu rampas dari aku. Camkan itu Jamaludin!
Sontak saja Jamaludin terkejut untuk kedua kalinya. bayi yang sudah dibuangnya sedang menuntut balas. Lalu ia mengepalkan kedua tangannya.
Marah...
Sudah pasti. Amarahnya pun mulai memuncak. Bayi yang sudah dipisahkan olehnya menjelma sebagai pria pendendam. Bagaimana rasanya jika kalian merasakan hal yang sama? Sudah pasti amarah kalian akan meledak dengan cepat. Begitu juga dengan Aska.
dari yang tidak tahu apa-apa. Sekarang sang bayi memiliki kecerdasan dasi atas rata-rata. Bahkan kecerdasannya sering dibuat untuk membantu orang lain.
Apakah yang akan dilakukan oleh Jamaludin? Jamaludin mAsih terdiam terpaku. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Kemudian Jamaludin teringat akan keberadaan Benjamin. Pria yang di mana sering membantunya selama ini. Jamaludin langsung memerintahkan asistennya untuk menghubungi pilot. Ia akan pergi ke Amerika untuk menemui Benjamin.
Karawang Indonesia.
Mala yang sedang membawa kopi Hitam ini menuju ke arah Romeo. Ia menaruh kopi itu di hadapan pria bertubuh kekar itu. Lalu Mala tersenyum manis sambil melihat Romeo.
"Bang... kopinya," sapa Mala.
Romeo mengangkat wajahnya lalu melihat senyuman Mala dengan manis. Ia segera membenarkan posisi duduknya sambil menyapanya kembali, "Iya neng."
"Kenapa Abang melamun?' tanya Mala. "Memangnya Abang belum makan?"
"Abang sudah makan sedari tadi. Abang sedang menunggu telepon dari bos besar," jawab Romeo.
"Ya udah deh bang. Aku mau ke dalam dulu. Aku ingin melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk," pamit Mala.
"Apakah mau diantar terlebih dahulu?" tanya Romeo mulai merayu Mala.
"Tidak perlu bang. Aku masih bisa sendiri," jawab Mala segera meninggalkan Romeo masih duduk di sana.
"Ya sudah deh... hati-hati ya," teriak Romeo.
"Iya barang," balas Mala yang wajahnya memerah karena Romeo.
Sementara itu Romeo kedatangan sepasang suami istri. Mereka langsung duduk di hadapan Romeo dan menatap wajah temannya sedang bahagia.
"Ada apa siang-siang begini kok wajahnya merah? Jangan-jangan kamu habis menonton video hot itu ya?" tanya Roni.
__ADS_1