
"Terbalik. Seharusnya aku yang berbicara seperti itu. Aku sangat senang sekali bisa bertemu denganmu," jawab Helen. "Kalau boleh tahu siapa nama kamu?"
"Namaku Maria Salsabila. Panggil saja Maria. Aku sudah menikah dengan Aska. Aku bisa ke sini karena Paman Frank," jawab Maria.
"Ya Aku sudah mendengar cerita kalian dari Tuan Frank. Sangat miris sekali kisah kalian itu. Hanya demi harta dan kekuasaan kalian mendapatkan suatu bencana besar di kehidupan maupun keluarga," jelas Helen yang sangat kesal terhadap Jamaludin.
"Aku juga nggak habis pikir soal itu. Aku hanya mendengar cerita ini dari Ibu Christina," ujar Maria.
"Yang penting kamu bersabar saja dan mendoakan tuan muda Aska. Agar semuanya lancar dan bisa menyelesaikan pekerjaannya itu. Itu saranku buat kamu," saran Helen yang membuat Maria tenang.
"Terima kasih. Aku hanya bisa berbuat itu. Oh iya... Apakah di sini tidak ada pengawal perempuan?" tanya Maria.
"Tidak ada. Tuan Frank sengaja tidak mengambil pengawal perempuan. Karena tuan Frank sendiri takut jika mereka membuat skandal dengan pengawal pria lainnya. Aku di sini menunggu kalian dan menjaga selama Tuan Adrian dan Tuan Aska pergi," jawab Helen sambil menjelaskan tugas sesungguhnya di sini. "Kamu bisa menganggapku sebagai teman. Bisa menganggapku sebagai kakak. Dan kamu bisa mengobrol dengan topik yang sedang happening sekarang. Atau juga topik tentang politik dan lainnya. Itu terserah kamu."
"Baiklah. Aku sangat berterima kasih bisa berkenalan denganmu. Akhirnya aku memiliki teman," jelas Maria.
Setelah berkenalan dengan Helen, Maria masih canggung dengan apa yang dibicarakan. Memang Maria orangnya jarang sekali berbicara jika tidak ada hal yang penting sekali.
Paris Prancis.
Setelah tiba di Prancis, Aska dan Adrian langsung disambut oleh para pengawal milik Adrian sendiri. jujur Aska terkejut sekali dengan sang ayah memiliki kekuasaan tertinggi di negara Prancis.
Beberapa saat kemudian datang seorang pria yang berusia hampir menyamai Adrian. Pria itu mendekatinya dan membungkukkan badannya sambil memberi hormat, "Selamat datang di kota Paris."
"Bagaimana kabarmu Luke?" tanya Adrian yang mendekatinya sambil meninggalkan Aska.
__ADS_1
"Kabarku baik Tuan. Selama anda tinggal ke Indonesia. Jamaludin sudah membuat onar bertubi-tubi," jawab Luke.
"Ya baguslah. Kumpulkanlah seluruh aksi kejahatannya mulai aku bertugas hingga sekarang. Aku akan menyerahkan bukti itu ke atasan. Jika atasan tidak merespon, aku bersama putraku yang akan berjalan sendiri!" perintah Adrian.
"Baik Tuan. Satu jam lagi saya akan menyerahkannya kepada tuan," sahut Luke.
Ketika masuk ke dalam, Adrian melupakan keberadaan Aska. Ia lalu menghadap ke belakang dan melihat Aska masih diam di tempat. Lalu Adrian menyusul Aska dan menepuk bahu sang putra.
"Kenapa kamu diam saja seperti itu? Harusnya kamu menyusul aku ke sana," tanya Adrian.
Aska cengengesan sambil menatap bangunan megah itu. Tidak sengaja Aska melihat wajah Adrian. Kemudian Aska menjawab, "Aku sedang mengagumi bangunan milik ayah itu. Bagaimana bisa ayah memiliki gedung sebagus ini?"
Memang jawaban Aska itu konyol. Tapi menurut Adrian, Aska suka mengeksplor hal-hal yang baru. Dengan cepat Adrian menariknya sambil berkata, "Apakah kamu ingin memindahkan Wicaksono Group ke bangunan ini?"
"Jika kamu ingin memindahkan Wicaksono Group ke sini tidak apa. Ayah sengaja akan memberikan bangunan tua itu ke pemerintah. Karena bangunan tua itu adalah bangunan yang di mana memiliki sejarah penting untuk negara," jawab Adrian.
"Maksud ayah?" tanya Aska.
"Masa kamu nggak tahu sih maksud ayah bagaimana? Memang bangunan itu milik Wicaksono Group sedari awal berdiri ketika tahun 1800-an. Bangunan itu memang memiliki sejarah dan keunikan tersendiri buat kota Paris. Jika kita mengembalikan bangunan itu. Bisa dipastikan kita menambah sejarah tentang negara Perancis selanjutnya. Aku harap kamu paham soal itu," jelas Adrian.
"Apakah tempat ini sangat luas sekali?" tanya Aska.
"Sangat luas sekali. Memang kelihatan dari depannya kecil. Tapi di dalamnya sangat besar sekali. Bahkan gedung ini bisa memuat dua atau tiga perusahaan besar sekaligus," jawab Adrian.
"Nanti aku pikirkan yah. Aku akan melihat kantor milik Wicaksono Group. Kapan aku bisa ke sana? Sedangkan aku sendiri masih sibuk dengan Jamaludin," ucap Aska.
__ADS_1
"Ya udah. Sekarang kamu istirahat dan beberapa jam kemudian kita akan pergi ke tempat nenek kamu itu," ajak Adrian.
Setelah itu mereka masuk ke dalam dan menuju ke ruangannya. Aska sangat terkejut sekali dengan ornamen-ornamen yang berada di dinding. Jujur Aska sangat mengaguminya dan berencana memindahkan kantor Wicaksono Group ke sini.
"Ternyata ayah sangat unik sekali. Diam-diam ayah memiliki arsitektur yang sangat mumpuni sekali," puji Aska yang terdengar ke telinga Adrian.
"Itu benar. Ayah memang sengaja membangun gedung ini dengan konsep milik ayah sendiri. Apakah kamu berencana ingin memindahkan kantor Wicaksono group?" tanya Adrian lagi.
"Baiklah. Aku akan meminta izin kepada kakek untuk memindahkan kantor Wicaksono Group ke kantor ini," jawab Aska.
P O V 1.
Ketika perjalananku menuju ke Paris. Aku melihat pemandangan yang sangat indah sekali. Tiba-tiba saja otakku tidak bisa mencerna dengan baik. Ada apa sebenarnya yang terjadi ini? Kenapa akhir-akhir ini aku sudah bosan untuk bersembunyi.
Sesampainya di kota Paris, Aku dan ayah langsung menuju ke kantor. Aku tidak tahu jelas kantor apa itu?tapi aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Darahku mulai berdesir hebat. Jiwaku mulai meronta. Tanganku mengepal kuat. Sehingga otot-ototku yang berada di tangan terlihat memutih. Mataku mulai bersinar seperti kerasukan arwah. Entah kenapa aku sudah tidak tahan lagi hidup seperti ini.
Diam-diam aku sudah mendapatkan banyak kejahatan yang dilakukan oleh Jamaluddin. Aku tidak bilang ke ayah terlebih dahulu. Kemungkinan besar bukti-bukti itu akan tersimpan rapat di satu file.
Setelah sampai di depan gedung milik ayah. Aku sengaja menatap gedung itu dengan lama. Otakku mulai berpikir untuk menghajar Jamaludin. Aku harus mencari cara biar ayah mendukung keinginanku ini. Aku tidak akan diam-diam lagi seperti ini. Aku akan menunjukkan siapa diriku sebenarnya di hadapan Jamaludin.
Bayi yang sudah dibuang sekarang menjadi pria dewasa. Aku yang lemah ketika bayi sekarang berubah menjadi pria dewasa. Aku tidak akan tinggal diam untuk menghabisi Jamaludin. Aku harus memikirkan cara untuk tinggal di sini lebih lama lagi. Sehari dua hari rasanya tidak cukup. Aku harus merayu ayah biar tinggal di sini selama dua bulan ke depan. Bagaimana caranya ya agar ayah menuruti keinginanku ini? Lalu bagaimana dengan Maria yang di sana? Rasanya aku harus mencari cara agar Maria tidak bingung. Apakah aku harus menyuruh Paman Frank ke sini? Ya sepertinya aku harus melakukannya. Aku tidak akan membebaskan Jamaludin berkeliaran dengan seenaknya.
Jamaludin lihatlah nanti. Aku ke sini untuk membalas dendam!
__ADS_1