Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Ternyata Julia Pernah...


__ADS_3

"Semuanya sudah selesai. Tinggal kita masuk saja ke dalam kamar hotel," jawab Christina sambil tersenyum dan tidak sengaja melihat wajah sang suami memerah. "Kamu kenapa seperti itu? Bukannya tadi kamu memiliki wajah ceria?"


"Apartemen diserang oleh orang tidak dikenal. Aku pastikan mereka adalah pengawal Jamaludin," jawab Adrian yang menarik koper itu.


Mendengar nama Jamaludin, Christina berubah menjadi geram. Ia tidak akan pernah memaafkan Jamaludin. Tiba-tiba saja Christina mengingat putranya itu, "Bagaimana dengan Aska? Kita meninggalkan Aska bersama Maria di apartemen."


"Aska sudah diselamatkan oleh Frank. Mereka sedang menuju ke Singapura. Kemungkinan besar mereka akan bersembunyi di sana untuk beberapa waktu saja," jawab Adrian yang masuk ke dalam lift bersama Christina.


Christina dapat bernafas dengan lega. Ia tidak akan pernah membayangkan jika Aska tertangkap. Mengingat Aska belum memiliki ilmu bela diri. Sedangkan Maria sudah memiliki ilmu bela diri. Namun belum mampu bertarung dengan baik.


Adrian terus memantau keadaan Aska. Meskipun Aska bersama Frank, Adrian tidak akan bisa melepaskannya begitu saja. Diam-diam Adrian menghubungi pengawalnya untuk Adrian memberikan tugas untuk menyelidiki mereka yang menyerang apartemennya.


Sesampainya di kamar Adrian menatap wajah Christina. Ia tahu kalau sang istri sangat panik. Kemudian Adrian berkata, "Kamu tenang saja. Putra kita baik-baik saja. Untung saja saat itu Aska bertemu dengan Frank. Jika tidak nasibnya, aku tidak bisa membayangkannya."


Kesal bergemuruh di dada Adrian. Sudah cukup Jamaludin merusak rumah tangganya. Adrian tidak membiarkan Jamaludin hidup dengan tenang. Keputusan Aska akan segera dijalankan. Setelah dari Kuala Lumpur, Adrian mengajak Christina pergi ke Singapura. Di sana Adrian akan bertemu dengan pengacara Agard Group.


"Setelah dari sini. Kita akan pergi ke Singapura. Aku akan menghubungi pengacara Agard Group untuk menemuiku di sana," ucap Adrian.

__ADS_1


Mendengar nama Agard Group, Christina terkejut. Ia teringat perusahaan itu. Perusahaan itu sering membantu Wicaksono Group ketika sedang kesusahan. Namun Christina tidak tahu siapa yang menjalankan perusahaan tersebut?


"Aku sering mendengar nama itu. Tapi aku nggak tahu siapa yang menjalankan perusahaan tersebut? Jujur aku ingin mengetahui perusahaan itu?" tanya Christina yang tidak tahu siapa yang memimpin perusahaan saat itu.


"Aku yang memimpin perusahaan itu. Meskipun kita jauh Aku mengetahui kesusahan perusahaan Wicaksono Group. Banyak para penjilat yang bersarang di sana. Mereka adalah kaki tangan Jamaludin. Aku masih belum melepaskan Wicaksono Group dan menggenggamnya dengan erat. Cepat atau lambat perusahaan itu akan aku lepaskan ke dalam tangan Aska," jawab Adrian sambil menjelaskan apa tujuan Adrian sebenarnya.


Air mata Christina pun menetes. Jujur perasaan saat ini sangat bahagia. Meskipun terpisah jauh Adrian tetap saja membantunya dalam kesusahan. Kenapa dirinya tidak mengetahui hal itu? Karena Christina tidak pernah memperhatikan siapa saja yang membantunya. Wanita paruh baya itu pun memeluk sang suami sambil mengucapkan terima kasih. Adrian pun tersenyum lega melihat sang istri sangat bahagia.


Paris Prancis.


Julia yang baru saja sadar dari pingsannya meraba kakinya. Jujur Julia sudah tidak memiliki kaki. Kakinya sudah diamputasi oleh dokter. Sebab kecelakaan itu membuatnya kehilangan kaki. Meskipun begitu Julia masih mengutuk keluarga Wicaksono.


Beberapa saat kemudian datang Jono dan Jamaludin. Kedua pria berbeda generasi itu mengunjungi Julia. Mereka melihat dunia yang sudah lumpuh. Jujur mereka tidak memiliki simpati sama sekali. Bahkan dalam hatinya mereka bersorak kegirangan. Bagaimanapun juga mereka menaruh dendam karena telah membunuh seseorang yang penting di dalam hatinya.


"Bagaimana kabarmu Julia?" tanya Jamaludin yang langsung pada intinya.


Seketika Julia berhenti menangis dan menatap Jamaludin. Lalu Julia menatap Jamaludin sambil menjawab, "Aku lumpuh. Aku sekarang sudah tidak bisa apa-apa. Untuk balas dendam pun aku sudah tidak sanggup lagi."

__ADS_1


Jamaludin langsung tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan Jono. Jono malah lebih keras lagi tertawanya. Melihat kedua pria berbeda generasi itu pun, Julia kebingungan dan memarahi mereka, "Kenapa kalian menertawakanku?"


"Kamu tahu nggak siapa yang membuatmu lumpuh?" tanya Jamaludin dengan tegas.


"Keluarga Wicaksono. Pasti Christina yang sudah menyuruh pengawalnya untuk membunuhku," jawab Julia yang ingin bergerak namun tidak bisa.


"Kamu bodoh sekali jadi orang. Christina tidak memiliki sifat jahat sepertimu. Yang membuatmu cacat adalah aku. Aku memang sengaja melakukannya. Sebab Jono telah mendapatkan informasi kalau kamu adalah pembunuh istriku. Maka dari itu kamu harus mendapatkan akibatnya. Sedari dulu kamu memiliki sifat serakah yang tidak bisa dibuang. Kamu diam-diam ingin merebut posisi istriku setelah mendapatkan Damian. Ternyata kamu licik dan memiliki akal bulus banyak. Dan sekarang kamu merasakan akibatnya. Oh ya satu lagi... Aku mengetahui kalau kamu ingin membunuh Damian secara pelan. Jika Damian mati kamu tidak akan bisa mendapatkan apapun. Barang bukti itu sudah aku pegang. Bisa saja barang bukti itu aku lemparkan ke kepolisian. Kamu akan membusuk di dalam penjara hingga akhir sisa hidupmu," ungkap Jamaludin yang memperingatkan Julia agar tidak serakah.


Jujur Julia terkejut mendengar pernyataan dari Jamaludin. Bisa-bisanya Jamaludin memiliki beberapa bukti untuk meracuni Damian. Ia bingung harus melakukan apa untuk saat ini? Hingga akhirnya Julia memutuskan untuk pasrah.


"Hubungan kerjasama ini sudah berakhir sampai di sini. Aku tidak akan pernah mau mempekerjakan orang cacat sepertimu. Kamu hanya bersenang-senang dan tidak memperdulikan aku. Kamu tidak memiliki akal sama sekali ketika terjadi penyerangan itu. Sekarang nikmatilah nasib kamu seperti itu!" geram Jamaludin yang mengingat tawa sang istri.


"Dan satu lagi. Kamu tidak akan masuk ke dalam markas Black Crossover. Markas itu sudah aku pegang. Jika ketahuan kamu masuk ke dalam sana. Maka akulah orang pertama yang akan membunuhmu," ancam Jono yang benar-benar tidak mengizinkan Julia masuk ke dalam markas.


Julia pun langsung shock mendengar perkataan Jono. Dengan terpaksa Julia tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya ke sana. Namun sebelum pergi, Julia mengutuk mereka. Akan tetapi mereka tersenyum kemenangan sambil melambaikan tangannya untuk memberikan kode perpisahan.


Ketika mengetahui siapa yang membuatnya cacat, Julia sangat geram dan ingin membunuh mereka. Ternyata selama ini rencana yang dia susun sudah ketahuan oleh Jamaludin. Diam-diam ternyata Julia ingin menguasai Wicaksono Group. Namun nyatanya Julia malah terkena sial terlebih dahulu.

__ADS_1


Jono dan Jamaludin memutuskan untuk pergi ke makam. Mereka di sana ingin mengunjungi makam Margareth. Mereka sangat kecewa dengan bukti-bukti itu. Hatinya tercabik-cabik setelah mengetahui siapa pembunuh istrinya. Untung saja saat Jono baru memegang markas itu langsung mendapatkan bukti tersebut. Sesampainya di makam mereka berdoa untuk orang tercintanya.


__ADS_2