
"itu benar. Adrian sengaja dilindungi oleh dua puluh delapan jenderal. Yang di mana jenderal itu telah membuat kesepakatan untuk memburuku. Kamu tahu kan kalau aku sering membikin onar di negara ini. Bahkan di luar negeri pun aku juga melakukannya. Bisa dikatakan nyawaku terancam sekarang. Seluruh kejahatanku sudah berada di tangan para jenderal itu," jelas Jamaludin yang semakin frustasi dengan keadaannya.
"Kenapa kamu nggak memakai Jono aja? Dia juga untuk mendapatkan haknya di Wicaksono Group. Bukankah kamu pernah membuat surat perjanjian itu tanpa diketahui oleh Damian? Kamu legalkan aja sekarang. Kalau kamu nggak melegalkan surat itu. Kamu sendiri yang susah," ucap Benjamin yang membuat Jamaludin tersenyum.
"Ah rasanya itu ide yang bagus. Meskipun ayahku tidak mengatakannya. Bahwa sang cucu berhak mendapatkannya. Aku harus merebut semuanya buat Jono. Ditambah lagi aku memiliki saham sebesar enam puluh lima persen. ini potensi yang sangat besar untuk meraih semuanya," tambah Jamaludin yang tiba-tiba saja wajahnya ceria dan tertawa licik.
Itulah sepenggal kisah Jamaludin yang akan merebut Wicaksono Group. Namun rencana itu sudah terbaca oleh Aska. Aska sudah siap-siap untuk menghancurkan Jamaluddin beberapa bulan lagi.
Setelah mengadakan pertemuan rahasia di rooftop hotel, Aska diambil alih oleh Frank. Ia mendapatkan sebuah jabatan penting di perusahaannya Agard Group di perusahaan itu.
Jabatan itu tidak main-main. Aska sendiri dipilih oleh para pemegang saham untuk menjadi wakil CEO. Yang di mana pekerjaan itu hampir setara dengan Frank. Namun saat ini Frank tidak menyuruhnya untuk bekerja terlebih dahulu. Sebab Frank membiarkan Aska bersantai di perusahaannya tersebut.
Bagi Aska, agar tidak akan melewatkan hal penting seperti ini. Mumpung di perusahaan besar, Aska memilih untuk belajar. Banyak sekali pelajaran yang ingin dipelajarinya. Dengan senang hati Frank mempelajarinya satu persatu.
Di sinilah Aska benar-benar mengasah ilmunya tentang ilmu bisnis dan manajemen. Meskipun tanpa harus kuliah tinggi, Aska sudah mampu mencapai ilmu tingkat tinggi.
"Aska," panggil Frank.
"Kenapa sih kalau kita bertemu di jalanan perusahaan ini Kamu memanggilku tuan? Nggak bisakah kamu memanggil aku paman?" tanya Frank sambil mengangkat wajahnya dan menatap wajah Aska.
"Bukankah kita di perusahaan harus totalitas? Bukankah kita di perusahaan harus profesional? Aku bisa saja memanggil paman di sini. Tapi mereka menanggapinya seperti apa nantinya? Aku nggak ingin paman menjadi jelek namanya," jawab Aska yang ingin menunjukkan sikap profesionalnya itu di setiap bidang pekerjaannya.
__ADS_1
"Nggak ada masalah sama sekali dengan aku. Biarkanlah semua orang mengetahuinya. Kalau aku memiliki seorang keponakan. Sebenarnya status itu tidak ada yang salah. Biarkanlah orang-orang mencibirmu memanggilku paman. Kamu memiliki hidup dan keluarga. Akulah keluargamu bukan musuhmu. Aku lebih suka kamu memanggilku paman. Ditambah lagi Kamu bisa memanggilku ayah atau papa. Karena aku sudah menganggapmu sebagai anak kandungku sendiri," jelas Frank.
Yang dikatakan oleh Frank benar. Hampir sebulan Aska menjadi wakil CEO. Yang di mana Aska dituntut sebagai orang sangat profesional. Namun Aska sendiri memang sengaja memanggil tuan. Akan tetapi Frank tidak menyukainya. Ia lebih memilih dipanggil Paman saja. Ketimbang Aska menyebutnya sebagai tuan.
Hari berganti waktu berlalu dan bulan kedua Aska menjadi wakil CEO. Ia sudah melihat pergerakan Jamaludin dan Benjamin. Dengan permintaan Adrian, Aska harus benar-benar keluar dari perusahaannya itu dengan banyak ilmu. Kesempatan ini tidak disia-siakan untuk kesekian kalinya.
Ditambah lagi Maria yang tidak pernah lepas dari sampingnya. Maria sekarang sangat mengagumi Aska. Bagaimana tidak? Sang suami sudah menunjukkan kecerdasannya di depan umum. Maria juga tidak lupa berdoa agar masalah ini selesai. Jujur ia juga sangat ketakutan sekali menghadapi masalah ini. Sebab yang dilawan adalah orang-orang yang tamak.
Beberapa hari berlalu wajah Maria sangat pucat sekali. Aska yang melihatnya sangat kasihan. Karena akhir-akhir ini Maria selalu menemani Aska untuk belajar. Di sisi lain Maria dan Aska memilih untuk tinggal sendiri. Akan tetapi Adrian tetap memberikan pengawalan ketat.
Bagaimana dengan Jamaludin? Jamaludin sudah tidak memiliki taring sama sekali. Pria itu sudah tidak berdaya. Ia memiliki kasus baru yaitu menipu satu perusahaan besar yang cukup terkenal. Perusahaan itu sendiri adalah milik Frank.
Diam-diam Jono bekerja di sana. Sebab dirinya telah memanipulasi keuangan. Saat memanipulasi keuangan, di belakang Jono ada Jamaludin. Aska yang memiliki kepekaan tinggi langsung curiga. Aska berdiskusi dengan Frank dan mengambil keputusan saat itu. Hasil keputusannya adalah Frank menyuruh Aska untuk membiarkannya.
"Paman," panggil Aska yang melihat sang Paman sedang sibuk.
"Ada apa?" tanya Frank.
"Aku pulang dulu ya. Keadaan Maria sangat mengkhawatirkan. Hampir setiap hari Maria tidak bisa makan karena mual-mual dan muntah-muntah terus-terusan," jawab Aska.
Mata Frank membulat sempurna. Frank mengangkat wajahnya dan menatap Aska. Detik itu juga Frank terdiam lalu mengambil keputusan. Yang di mana keputusan itu membuat Aska berat sekali.
__ADS_1
"Kamu tahu kenapa Maria seperti itu?" tanya Frank yang menaruh penanya di meja.
"Aku nggak tahu. Hampir seminggu ini Maria selalu begitu," jawab Aska.
"Karena ulah konyolmu itu yang setiap malam selalu membuat Maria kecapean," ledek Frank.
Di kepala Aska memiliki banyak tanda tanya. Aska tidak tahu kalau Maria mengalami gejala kehamilan anak pertamanya itu. Kemudian Frank berdiri dan mendekati Aska.
"Masa kamu nggak tahu sih? Pernah belajar biologi apa tidak. Jangan sampai kamu tidak mengatakan sama sekali," ujar Frank yang melihat pemandangan dari dalam jendela.
"Aku nggak tahu paman. Lagian juga pas waktunya belajar biologi. Aku sering memutuskan tidur di kelas," ungkap Aska dengan jujur yang membuat Frank tertawa.
"Makanya kamu nggak pernah belajar reproduksi manusia. Ya sudahlah berdebat denganmu itu tidak enak. Ujung-ujungnya aku kalah telak sama kamu," ucap Frank yang membuat Aska tertawa.
"Bukankah soal perdebatan itu Paman jagonya? Bahkan berdebat dengan klien yang tidak beres itu. Paman langsung membuat sang klient mati kutu," jelas Aska.
"Kenapa juga Kamu tidur di kelas pas waktu guru menjelaskan tentang reproduksi manusia? Bukankah kalau belajar biologi bisa mengantarkan kita menjadi dokter?" tanya Frank.
"Maaf, aku nggak tertarik belajar biologi. Bahkan aku sendiri tidak tertarik untuk belajar kedokteran. Aku lebih suka belajar bisnis dan manajemen. Oleh karena itu Aku tidak tahu tentang pelajaran reproduksi manusia itu," jawab Aska.
Frank hanya menggelengkan kepalanya. Sebab ia sendiri juga tidak menyukai pelajaran biologi. Namun Frank masih bisa menguasai ilmu kedokteran sedikit demi sedikit. Frank menepuk bahu Aska lalu berkata, "Kamu jangan tinggal sendirian di apartemen. Lebih baik pulanglah kamu ke rumah orang tuamu."
__ADS_1
"Memangnya ada apa paman?" tanya Aska.