
Kemudian Aska membuka lemari itu dan melihat tumpukan-tumpukan baju yang tertata rapi. Iya mengambil celana jeans panjang dan kaos hitam. Menurutnya pakaian yang dipilihnya itu membuatnya sangat nyaman sekali.
"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Baju dan celana ini sangat mahal sekali. Aku bingung memakainya," ringis Aska dalam hati.
Biar bagaimanapun juga Aska akhirnya memakai baju tersebut. Setelah memakai baju, Aska akhirnya turun ke bawah. Pria muda itu langsung mencari keberadaan Christina.
"Di mana ibu ya? Sepertinya Ibu pergi ke kantor," ucap Aska dalam hati.
"Hey... Aska," seru Christina sambil melambaikan tangannya.
"Ibu," panggil Aska yang berhenti di tengah-tengah anak tangga.
"Turunlah. Ayo kita sarapan!" ajak Christina.
"Baik bu," balas Aska yang segera menuruni tangga.
Setelah sampai bawah Aska langsung menuju ke arah Christina. Ia melihat wanita itu sangat cantik sekali. Lalu Aska memeluk sang ibu sambil berkata, "Terima kasih Bu."
"Terima kasih buat apa?" tanya Christina yang tiba-tiba saja mendapat ucapan terima kasih.
"Terima kasih sudah membuat pagi ini dengan damai. Saking damainya Aska jadi telat bangun," jawab Aska yang membuat Christina mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Christina balik.
"Selama ini tidurku tidak tenang Bu. Pagi-pagi selalu saja ada drama panci terbang," jawab Aska yang teringat akan peristiwa panci terbang setiap hari.
Tak lama Christina tertawa terbahak-bahak. Dirinya teringat akan laporan dari Winda dan Roni. Mereka mengatakan kalau Aska sering mendapati drama pagi hari yaitu panci terbang.
__ADS_1
"Kok ibu malah tertawa? Ibu ngerti nggak sama namanya panci terbang itu?" tanya Aska yang membuat Christina semakin tertawa keras.
"Lha... Ibu malah tertawa. Di sana para tetangga sudah muak dengan drama panci terbang Bu. Coba deh Ibu bayangkan... Seandainya Ibu hidup di sana. Terus pagi-pagi ibu masih tertidur lelap dan tiba-tiba saja ada suara prang... preng... prang... preng... Aska jamin Ibu tidak akan bisa tidur lagi," ujar Aska yang membuat Christina terdiam sejenak.
"Ah... Kamu itu ada-ada saja. Soal itu Ibu sudah tahu," jawab Christina yang membuat menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja Aska terkejut. Apa benar sang Ibu mengetahui tentang drama Panji perang itu? Bukankah ibunya berada di Jakarta. Mau tidak mau Aska bertanya lagi.
"Bolehkah aku bertanya Bu?" tanya Aska.
"Boleh saja. Kenapa tidak? Pasti kamu akan bertanya tentang panci terbang itu kan?" tanya Christina sambil menahan tawanya.
"Iya Bu," jawab Aska. "Bagaimana Ibu tahu tentang panci terbang itu?"
"Ya tahulah. Apakah kamu tahu tetangga sebelah rumahmu yang kanan itu?" tanya Christina yang membuat Aska menggelengkan kepalanya.
"Iyalah. Di rumahnya kan ada peredam suaranya. Mau ada panci segede apapun yang dilempar Minah tidak akan mempengaruhinya. Dan mereka lebih memilih untuk tidur bersama."
"Astaga... Berarti Ibu mengetahuinya ya?" tanya Aska yang bertanya-tanya dalam hati.
"Iyalah," jawab Christina yang membuat Aska melotot sempurna. "Mbak Winda dan Mas Roni itu adalah kaki tangan ibu. Jadi mereka adalah pengawal kamu."
"Jadi selama ini?" tanya Aska lagi.
"Mereka Ibu tugaskan untuk memantau keadaan kamu. Mereka jugalah yang sering membantu kamu untuk menghadapi Minah. Mereka juga yang sering membela kamu. Tapi Ibu sering mewanti-wanti agar tidak terlalu keras kepada Minah. Jika terlalu keras bisa dipastikan Minah akan curiga kepada mereka," jelas Christina yang membuat Aska mengerti.
Lalu Aska memeluk sang ibu dengan erat. Di sinilah Aska mulai menerima Christina. Bahkan rasa cintanya terhadap Christina mulai tumbuh. Inilah yang dinamakan ikatan batin yang kuat. Meskipun jauh Christina selalu membuat Aska aman.
__ADS_1
"Terima kasih Bu. Meskipun kita terpisah jauh ibu selalu memantauku. Mulai saat ini Aska akan melindungi Ibu dari mereka. Izinkanlah Aska belajar lebih giat lagi untuk mengenal perusahaan. Suatu hari nanti Aska akan mengembalikan semua keadaan. Aska berjanji akan menghempaskan mereka ke jalanan. Itulah janji Aska buat ibu," sumpah Aska buat Christina.
Christina menangis tersedu-sedu karena janji Aska. Wanita itu sangat beruntung sekali karena sang putra tidak memiliki dendam sama sekali. Suatu hari nanti Christina akan menceritakan asal muasalnya Kenapa ini bisa terjadi.
"Ibu," panggil Aska.
"Ibu bahagia hari ini," sahut Christina yang melepaskan Aska dan melihat putranya yang sudah besar.
"Ibu tidak boleh menangis," ucap Aska sambil menghapus air mata Christina.
"Ibu tidak menangis. Ibu sangat bahagia sekali," ujar Christina sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu ayo kita makan Bu!" ajak Aska.
Christina mengajak Aska untuk pergi ke dapur. Di sana Christina sudah menyiapkan beberapa macam menu makanan. Makanan itu sangat bergizi sekali buat sang putra. Di sisi lain Aska sangat bahagia sekali. Dirinya tidak pernah membayangkan bisa bertemu sang ibu. Lalu apakah Aska memikirkan keadaan Minah? Yang pasti jawaban itu hanya Aska yang tahu.
Di bandara Soetta, bersama Roni sedang menunggu seseorang. Mereka menikmati tiramisu dan cappucino di area bandara. Sambil menunggu mereka berbincang-bincang dengan leluasa.
"Salah satu sudah beres. Tinggal masalah lainnya belum dibereskan," celetuk Roni.
"Semoga saja hidup mereka tidak rumit. Jujur aku baru mengetahui kalau Benjamin dan Minah itu adalah seseorang yang sangat kejam sekali. Mereka sangat ambisi ingin menghancurkan Nyonya Christina dan Tuan Aska. Aku nggak habis pikir sama mereka dan tujuan mereka itu sebenarnya apa?itulah yang sampai sekarang masih jadi pertanyaan," ujar Romeo.
"Minah adalah orang gila. Hampir setiap hari selalu membuat Tuan Aska tidak betah di rumah. Bayangkan saja setiap pagi selalu ada drama panci terbang. Aku selaku tetangganya sangat muak sekali mendengarnya. Bahkan Tuan Aska sering mendapat luka di bagian pelipisnya hanya karena panci terbang. Tidak bisa dibayangkan kalau posisinya Tuan Aska berganti menjadi posisiku. Jujur saja aku tidak akan pernah sanggup menghadapi Minah. Untung saja ibuku tidak sekejam itu kepadaku. Meskipun ibuku itu adalah ibu tiri. Jadi kami memiliki hubungan yang sangat baik sekali," jelas Roni yang mengaku memiliki ibu tiri.
"Kamu hebat sekali memiliki ibu tiri. Untung saja Ibu tirimu sangat baik sekali. Lalu bagaimana dengan Minah? Apakah Minah bisa dikatakan seorang ibu tiri?" tanya Romeo yang membuat Roni bingung menjawabnya.
"Kalau Minah ibu tiri itu adalah hal yang wajar. Tapi aku baru dapat konfirmasi dari Pak Broto. Bapaknya Tuan Aska yang meninggal itu bukan bapak kandungnya. Yang meninggal adalah kaki tangan Tuan Benjamin. Tapi yang anehnya, kenapa Pak Darmin meninggal begitu saja? Isunya sih sakit. Tapi aku bilang tidak sakit. Kamu tahu kan artinya apa?" tanyak Roni yang memberikan Romeo teka-teki.
__ADS_1