
"Ya tahulah. Memang ada udang dibalik peyek. Kita tidak bisa menyelidikinya. Karena itu bukan ranah Kita sebenarnya," jawab Romeo.
"Kamu benar. Biarkanlah mereka yang mengurusnya," ucap Roni. "Aku harap mereka sudah tidak mengganggu lagi tuan muda dan nyonya Christina."
"Selagi mereka belum mendapatkan seluruh aset yang dimintanya. Mereka tidak akan pernah berhenti," ujar Roni.
"Jujur mereka sangat mengerikan sekali. Ingin rasanya aku langsung menghajar mereka. tapi Tuan besar menghalangiku untuk tidak melakukannya," kata Romeo yang bersedih.
"Jangan terlalu gegabah. Nanti kamu yang akan mendapat masalah. Kamu tahu kan kalau mereka bekerja sama dengan dunia bawah? Dengan memberikan kode, mereka langsung memburumu dan menghabisimu secara brutal," tambah Roni.
"Itulah yang aku takuti sebenarnya. Lalu bagaimana dengan tuan Aska?" tanya Romeo.
"Mau tidak mau Tuan Aska harus digembleng mati-matian. Jika tidak Tuan Aska akan diburu mereka lalu dihabisinya. Karena sumpah mereka itu adalah menghabisi seluruh keturunan tuan besar," jawab Roni.
"Satu kata buat mereka sadis!" geram Romeo.
"Setelah ini kamu akan menjadi asistennya tuan Aska. Aku yakin kamu pasti bisa membantunya untuk mengenali dunia bisnis," ucap Roni dengan sungguh-sungguh.
"Apakah Tuan Aska kejam?" tanya Romeo yang ingin tahu tentang Aska.
"Tidak. Tuan Aska jarang sekali marah. Bahkan Tuan Aska orangnya sangat baik sekali. Lemah lembut dan perhatian sesamanya. Ditambah Tuan Aska itu orangnya sangat lucu sekali. Pandai menghibur sesamanya dengan pembicaraan konyol yang tidak masuk di akal," jawab Roni.
"Untunglah. Semoga aku tidak tegang bersamanya," sahut Romeo yang membuat Roni terkekeh.
"Memangnya Tuan Aska listrik apa?" tanya Roni kesal.
"jujur aku takut sekali Jika berdekatan dengan ahli waris sesungguhnya. Karena yang aku tahu ahli waris sesungguhnya itu orangnya kejam dan tidak berperikemanusiaan," jawab Romeo sambil menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Ya enggaklah. Kamu salah menilai orang. Dia memang sangat baik sekali dan ringan tangan. Setiap warga di kampung meminta tolong, Tuan Aska selalu bergerak duluan. Itu lagi membuat aku salut padanya," puji Roni.
__ADS_1
Tak lama ada sepasang suami istri mendekatinya. Mereka melihat kedua orang itu sedang mengobrol. Lalu pria paruh baya itu pun menyapanya, "Romeo... Roni."
Kedua pria itu terkejut melihat pohon besar dan nyonya besarnya sudah tiba. Sejam sebelumnya mereka mendapat informasi kalau pesawat pribadinya belum bisa mendarat. Pihak informasi telah memberitahukan, kalau pesawatnya itu akan mendarat dua jam sesudahnya. Mereka memutuskan untuk menunggunya di sini.
"Tuan besar," sapa Romeo dan Roni secara serempak dan berdiri lalu membungkukkan badannya sambil memberi hormat. "Maafkanlah kami yang tidak tahu anda datang."
"Tak apa. Kami tidak marah. Di mana Christina dan Aska?" tanya Damian.
"Mereka berada di apartemen tuan. Rencananya beberapa hari kedepan Nyonya tidak pergi ke kantor," jawab Romeo dengan sopan.
"Cih... Pakai ambil cuti segala! Ketika Papa membutuhkannya, selalu saja tidak pernah pulang ke Prancis. Apakah Nyonyamu itu termasuk anak yang berbakti!" geram Damian.
Kita terdiam dan tidak bisa menjawabnya. Apa yang dikatakan oleh Tuhan besarnya itu adalah benar? Namun kata-kata itu hanya gertakan saja. Damian juga merasakan hal yang sama, apa yang dirasakan oleh Christina.
"Menurutku tidak tuan," ujar Roni yang membela Christina.
"Ya aku tahu maksud kalian. Terima kasih karena sudah membantu putriku itu. Kalau begitu antarkan aku dan istriku pergi ke apartemennya," pinta Damian.
Kebun Bahagia Wicaksono.
Pagi yang cerah di kawasan kebun. Udara sangat dingin bersama angin sepoi-sepoi. Burung-burung pun bernyanyi dengan merdu. Air mengalir dengan beningnya di sungai.
Pak Ahmad dan Pak Broto segera menuju ke kebun. Mereka sedang melihat dan menghitung kerusakannya. Pak Broto memang sengaja membuat kebunnya menjadi hancur.
Rencana hari ini, Pak Broto ingin melaporkan kasus ini ke kepolisian. Pak Broto sengaja tidak menghentikan Minah yang sedang mengamuk.
"Lihatlah, kebun tuan muda hancur berantakan," ucap pak Broto dengan sendu.
"Bagaimana jika tuan besar tahu?" tanya Pak Ahmad.
__ADS_1
"Justru itu... Tuan besar menyuruh kami untuk diam saja. Ketika Minah menyerangnya secara membabi buta. tuan besar sengaja melakukannya demi menghukum Minah agar tidak semena-mena. Semoga saja dengan adanya kasus ini Minah sadar akan perbuatannya," jawab Pak Broto sambil mendoakan Minah segera sadar.
"Tapi aku tidak yakin kalau Minah sadar. Sepertinya Minah ada yang mengendalikan. Semakin lama dia semakin berbuat anarki," ucap Pak Ahmad dengan serius.
"Kita lihat saja nanti. Jika belum berubah maka tuan mudalah Yang membereskannya. Karena tuan muda memiliki luka yang dalam. Masih ingat tidak peristiwa yang di mana Minah mencium seorang brondong di tengah malam?" tanya Pak Broto yang membuat Pak Ahmad mengangguk paham.
"Aku masih ingat itu Pak. Minah saat kejam sekali kepada tuan muda. Wanita yang dihormatinya telah melecehkan pria seusianya. Semoga tuan muda kuat menghadapinya," jawab Pak Ahmad sambil mendoakan Aska.
"Kira-kira berapa ya ini kerusakannya?" tanya Pak Ahmad.
"Kurang lebih lima puluh jutaan ya. Apalagi kebun ini sengaja ditata oleh Tuan Muda sendiri. Bagaimana menurutmu?" tanya Pak Broto lagi.
"Kalau dihitung-hitung ya segitu Pak. Aku tidak habis pikir, seberapa kuatkah kekuatan Minah untuk menghancurkan semuanya?" tanya Pak Ahmad lagi.
"Kemungkinan besar, Minah mengerahkan seluruh preman yang berada di sini untuk menghancurkan kebun ini. Kalau Minah sendiri aku tidak yakin," jawab Pak Broto.
Apa yang dikatakan Pak Broto itu benar? Tidak mungkin Minah menghancurkan perkebunan itu sendirian. Kemungkinan besar Minah menggerakkan seluruh preman untuk menghancurkannya.
Untung saja Aska sudah pergi dari perkebunan itu. Jika tidak pergi, maka Aska yang menjadi korbannya. Mereka berdoa kepada sang pencipta, agar melindungi sang Tuan mudahnya di sisi lain hatinya sangat cemas sekali.
Jakarta Indonesia.
Selesai makan Aska membantu membereskan meja. Ia menaruh piring-piring itu di wastafel. Melihat Sang putra sedang beres-beres, hatinya sangat trenyuh sekali. Bahkan dirinya tidak menyangka kalau putrinya itu sangat rajin.
"Sebenarnya Ibu memiliki beberapa pelayan yang bekerja di sini. Berhubung besok hari Sabtu dan Minggu, ibu menyuruhnya ambil libur. Karena Ibu ingin menghabiskan waktu bersama kamu," ucap Christina yang membuat Aska menganggukkan kepala.
"Baiklah Bu. Biar nanti aku bantu ibu bersih-bersih penthouse ini," jawab Aska yang membuat sang Ibu tersenyum.
"Tidak perlu. Sebelum kamu ke sini, mereka sudah membersihkannya. Bagaimana makanannya? Apakah masakan Ibu tidak enak?" Tanya Christina yang membantu menumpuk piring.
__ADS_1
"Enak Bu. Rasanya pas dan tidak terlalu asin. Aku sangat menyukainya. Terima kasih Bu," jawab Aska.
"Apa makanan favoritmu?" tanya Christina.