Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Mengambil Keputusan.


__ADS_3

Sesampainya di kantor Aska Food International, mereka masuk ke dalam kantor. Banyak para karyawati sedang mengobrol. Lalu beberapa di antara mereka melihat Aska yang sedang berjalan.


Mereka terdiam dan melihat Aska yang sangat tampan. Jujur mereka terpanah melihat ketampanan Aska. Ada yang bilang kalau Aska adalah pangeran dari kerajaan modern. Ada yang bilang Aska sangat cocok sekali sebagai model majalah dewasa. Karena mereka menilai postur tubuh Aska sangat kekar sekali.


Saat masuk ke dalam lift Aska melihat Romeo yang sedang mengecek email. Lalu Aska memegang pundak Romeo sambil merangkulnya, "Ikut aku ke ruangan sang pembuat surat perjanjian itu."


"Sekarang?" tanya Romeo.


"Enggak tahun depan saja," bisik Aska yang membuat Romeo tersenyum. "Sekarang!"


Saat bisik-bisik Christina sangat penasaran. Lalu Christina mendekati mereka sambil bertanya, "Ada apa? Apa yang kamu rahasiakan pada ibu?"


"Kami akan pergi ke tempat sang pembuat surat itu," jawab Aska yang melepaskan Romeo.


"Kalau begitu baiklah. Sekarang kamu memiliki hak veto. Yang di mana hal itu bisa memecat orang yang kamu anggap merugikan perusahaan," ucap Christina yang memberikan hak veto penuh kepada Aska.


"Baiklah Bu," balas Aska.


"Tapi sebelumnya kamu harus membicarakan ini semuanya kepada ibu dan Maria. Karena kami berhak tahu. Asal muasal masalah ini,'' pinta Christina.


"Siap," sahut Aska yang melihat Christina dengan tersenyum. manis.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Mereka melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Christina. Namun sebelum masuk, Christina mengajak Aska menuju ke sebuah ruangan tertutup. Yang di mana ruangan itu adalah ruangan milik Aska.


"Masuklah," pinta Christina yang membuka pintu kaca itu.


Mata Aska membelalak sempurna. Ia tidak menyangka ruangan itu sangat mewah. Ia akhirnya masuk ke dalam sambil membuang nafasnya secara kasar.


"Berapakah ibu harus mengeluarkan uang untuk membuat ruangan ini?" tanya Aska.


"Maaf... ibu tidak akan memberitahukan kamu," jawab Christina tersenyum manis. "Ibu tahu kamu pasti keberatan."


"Ya... ibu. Ruangan ini terlalu mewah buat aku," ucap Aska jujur.


Baru kali ini Christina menemukan sang pemuda menolak kemewahan. Menurut dirinya ini sangat aneh sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Aska sering hidup dalam kesusahan.


"Ibu tahu kamu berat menerimanya,'' ujar Christina yang memegang tangan Aska. "Yang perlu kamu ingat! Kamu adalah ahli waris sesungguhnya Wicaksono Groups. Sebentar lagi perusahaan ini akan masuk ke dalam grup, Setelah itu kamu bisa mengolahnya," ucap Christina.


Terpaksa Aska menganggukan kepalanya dan menerima apa yang berikan oleh Christina.


"Ibu sudah menyiapkan semuanya. Jadi kamu bisa menuangkan ide-ide baru untuk memperbesar perusahaan ini. Oh... iya.. jika kamu ingin meminta apa-apa, kamu boleh memintanya ke Romeo," ujar Christina.


"Kalau begitu baiklah Bu," jawab Aska. "Lalu bagaimana dengan Abang? Di mana Abang bekerja?"


"Ruangan Romeo berada di sebelah ini. Kamu tidak perlu ke sana. Di sini ada telepon di meja kamu," tunjuk Christina ke arah telepon.


"Baiklah Bu," balas Bu.


"Di bawah kaca ada catatan kode yang bisa menyambungkan ke semua divisi. Jadi kamu tidak perlu ke sana kemari. Cukup duduk dan plus pada pekerjaanmu," jelas Christina yang membuat Aska menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Tak lama datang Romeo sambil membawa surat perjanjian itu. Ia mendekati Aska sambil memberi hormat. Sebelum membungkukkan badannya, Aska langsung menolaknya.


"Jangan terlalu formal jika begini. Aku enggak mau kamu terus-terusan seperti itu. Di sisi lain aku sudah menganggap kamu sebagai saudara," pinta Aska yang membuat Romeo tersenyum manis.


"Yang dikatakan oleh Aska benar. Menurutlah pada Aska, buatlah dirinya nyaman," tambah Christina.


"Baiklah nyonya," balas Romeo.


"Di mana Kak Maria?" tanya Aska yang membuat Romeo terkejut.


"Ada di ruangannya," jawab Romeo.


"Lebih baik kita adakan meeting di sini. Setelah itu aku akan membuat keputusan untuk selanjutnya," pinta Aska yang melihat kode saluran Maria.


Selang beberapa menit Maria datang dengan membawa barang belanjaan. Ia menaruh barang itu dan menatap wajah Aska. Kemudian Aska membuang wajahnya karena tidak mau ditatap seperti itu.


"Kenapa Tuan membuang wajah?" tanya Maria yang aneh.


"Aku sengaja membuang wajahku. Nanti kalau kamu jatuh cinta bagaimana?" tanya Aska yang membuat wajah Maria memerah malu.


"Aish... tuan muda... Aku sebentar lagi akan menikah. Makanya sebelum menikah aku akan memandang wajah tuan muda secara terus menerus hingga bosan," cebik Maria.


"Dengan siapa kamu menikah? Apakah pria itu baik sama kamu? Pekerjaan apa yang dimilikinya? Apa pria itu sangat menyayangi dan mencintai kamu dengan tulus? Apakah pria itu sangat mencintai keluargaku?" tanya Aska bertubi-tubi.


Maria tercekat dan terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Aska. Lalu Christina mendekati Maria sambil berkata, "Betulkan... apa yang dikatakan oleh saya. Calon suami kamu tidak baik?'


"Dari mana tuan muda tahu?" tanya Maria.


"Itu tidak usah dibahas. Karena masalah itu adalah masalah pribadi. Kalau begitu kita meeting membahas surat perjanjian yang isinya membuat perusahaan ini bisa bangkrut!" kesal Aska yang membuat mata Maria membulat sempurna.


"Siapa yang membuat surat perjanjian itu?" tanya Aska.


"Erna Sari," jawab Maria.


"Erna Sari Wisudawati maksud kamu?' tanya Aska yang mengerutkan keningnya.


"Iya... sepertinya Tuan muda mengenalnya?" tanya Romeo.


"Apa pekerjaannya?" tanya Aska.


"Sekretarisnya nyonya," jawab Maria.


"Bolehkah aku meminta berkas-berkasnya?" tanya Aska.


"Baiklah. Aku akan mengirimkan berkas-berkas itu ke email," jawab Maria yang mengambil ponselnya dan mencari berkas-berkas tentang Erna.


Tak butuh waktu lama berkas-berkas yang diminta oleh Aska sudah terkirim ke email Aska. Aska membuka ponsel itu sambil berkata, "Cepat sekali kamu mengirimkan berkas-berkas itu."


"Iya tuan muda. Teknologi jaman sekarang sudah mumpuni. Kami memiliki dua sistem penyimpanan yaitu manual dan elektrik. Yang manual kami sering menyimpannya di lantai dua puluh delapan. Kami sengaja membuat lantai itu menjadi perpustakaan. Di sana ada beberapa karyawan yang menjaganya," jawab Maria. "Kalau elektrik kami menyimpannya di suatu wadah dan lebih mudah mencarinya. Misalkan tuan muda memintanya. Kami pihak asisten akan mencarinya lalu mengirimkan ke email. Ini lebih praktis dan cepat."


"Bisakah aku mengakses web itu?" tanya Aska.


"Enggak kita saja yang mengakses web itu?" tanya Romeo.

__ADS_1


"Jika ada waktu senggang kemungkinan besar aku membaca seluruh dokumen-dokumen penting di dalam perusahaan ini. Hitung-hitung aku sambil belajar," jawab Aska yang mendapatkan ancungan jempol dari Christina.


"Berikan saja. Biarkan Aska mulai mengeksplor dirinya. Aska juga berhak tahu apa yang berada di sini. Siapa tahu Aska bisa memperbaiki semuanya jika ada kesalahan," pinta Christina.


"Siap nyonya," balas Maria.


Kemudian Aska membaca semua berkas-berkas itu sambil membuka jasnya. Ia sangat terkejut sekali sambil menatap wajah Christina.


"Ada apa?" tanya Christina.


"Sudah aku tebak. Erna adalah teman sekolahku Bu. Kok rata-rata di sini adalah teman sekolahku?" tanya Aska.


"Mungkin saja kebetulan. Kami tidak pernah melihat di mana mereka bersekolah," jawab Maria. "Yang penting orang itu sangat berkualitas sekali membangun perusahaan."


"Kalau begitu ayo kita meeting!" ajak Aska.


Mereka memutuskan duduk di sofa dan Romeo menaruh surat perjanjian tersebut di atas meja. Sebelum meeting berlangsung Romeo memutuskan untuk menjelaskan semuanya ke Maria. Akhirnya Maria mengangguk paham.


Jujur selama ini Maria tidak pernah memeriksa sama sekali isi perjanjian tersebut. Karena Maria tahu kalau kalau dirinya sangat percaya kepada Erna.


Maria membaca semua poin di dalam surat perjanjian itu. Matanya membelalak sempurna dan sangat terkejut. Bagaimana bisa dirinya menemukan beberapa poin yang isinya menyimpang?


"Jadi?' tanya maria


"Apakah kamu bisa membantuku lembur malam ini?" tanya Aska yang meminta Maria untuk lembur.


"Bisa," jawab Maria.


"Apakah kamu tidak mengajak ibu lembut?" tanya Christina.


"Ibu tidak perlu ikut lembut. Kami akan memeriksa surat-surat itu,'' jawab Aska. "Ibu lebih baik beristirahat saja."


"Ibu Idak bisa tidur jika kamu enggak berada di rumah," celetuk Christina.


"Apakah nyonya takut jika tuan muda kabur lagi?" tanya Maria yang paham dengan perasaan Christina.


"Ya... aku takut itu. Karena aku tidak mau kehilangan lagi putra satu-satunya itu," tunjuk Christina.


"Kalau begitu baiklah. Ibu boleh ikut lembur. Tapi ibu tidak boleh ikutan bekerja," pinta Aska yang sangat berbakti kepada sang ibu


"Terima kasih sayang," balas Christina dengan mata berbinar.


"Lalu, setelah tuan muda memeriksa surat perjanjian itu. Apa yang akan dilakukan?" tanya Maria.


"Kita harus mengambil keputusan. Jika Erna melakukan kesalahan berarti aku akan memecatnya," jawab Aska.


"Apakah tuan muda tidak merasakan ada sesuatu?" tanya Romeo.


"Maksudnya?" tanya Aska.


"Yang tadi tuan katakan ada udang dibalik batu," jawab Romeo.


"Ya... bisa. Kemungkinan besar Erna bekerja sama dengan pihak luar. Yang ternyata pihak itu sangat merugikan perusahaan," jawab Aska yang membuat Christina terkejut. "Sepertinya masalah ini sangat rumit sekali."

__ADS_1


"Bisa dikatakan iya. Apakah Tuan Muda ingin sesuatu?" tanya Maria.


"Hmmp... apa ya?" jawab Aska yang membaca berkas-berkas milik Erna. "Apakah kalian menyimpan dokumen-dokumen surat perjanjian itu di internet?"


__ADS_2