
"Sejak kapan kamu memanggilku Mama Maria?" tanya Maria.
"Mulai hari ini. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua," jawab Aska.
"Aku nggak mau dipanggil mama. Aku ingin dipanggil ibu saja dan kamu Ayah," pinta Maria.
"Itu ide yang sangat bagus sekali. Okelah terserah kamu," ucap Aska. "Ibu sudah selesai membuat teh hijaunya?"
"Sebentar lagi," jawab Christina. "Memangnya kamu ngapain?"
"Sini Aku bawakan saja sampai ke taman belakang," jawab Aska yang meminta teh hijau itu untuk dibawanya.
"Nggak usah. Nanti suruh pelayan yang mengantarkannya ke sana," tolak Christina sambil menatap wajah sang putra.
"Baiklah. Aku pergi ke sana untuk menemui ayah dan juga nenek," pamit Aska segera meninggalkan dapur untuk menuju ke halaman belakang.
Pagi menjelang siang, mereka sedang duduk bersama di taman belakang. Mereka ingin mendiskusikan tentang nasib perusahaan Wicaksono. Aska memiliki terobosan baru untuk kemajuan perusahaan tersebut. Ia mengungkapkan dengan semangat di hadapan ayah dan kakeknya itu. Namun sang ayah bersama kakeknya itu menyimpannya terlebih dahulu. Dikarenakan mereka akan meminta Frank untuk mendiskusikan lebih lanjut lagi.
Begitu juga dengan Christina maupun Maria. Mereka menulisnya dalam satu buku. Mereka mengumpulkan satu persatu ide dari kedua wanita berbeda generasi itu.
"Sepertinya kita harus mendiskusikan ini dengan Frank. Aku yakin Frank bisa mengembangkan ide bisnis kalian," ucap Adrian.
"Kalau ide bisnis ini diambil sama Frank bagaimana?" tanya Christina.
"Semuanya nggak jadi masalah. Kemungkinan besar kalau kalian memiliki ide yang bagus. Kenapa tidak? Bisa jadi ide bisnis kalian menginspirasi ke setiap orang yang akan membangun usaha. Lagian juga Frank adalah keluarga kita. Dia juga telah membiayai hidup Mama Stefani. Kita harus berbaik hati kepada mereka. Kita tidak boleh pelit untuk berbagi ide bisnis tersebut," jelas Adrian yang membuat Christina tersenyum.
Sebenarnya Christina tidak ada masalah dengan idenya itu. Meskipun diambil oleh siapapun, Christina ingin setiap orang memiliki potensi untuk berhasil. Bahkan ia sangat bangga jika mereka menjadi sukses.
__ADS_1
Pagi itu mereka memang menciptakan suasana yang baru. Sedari dulu Damian dan Stefani memang menginginkan suasana seperti ini. Yang di mana mereka memiliki meja besar lalu anak dan cucu-cucunya menempati bangku kosong tersebut. Mereka bisa melakukan diskusi ataupun yang lainnya. Ditambah lagi mereka bisa menuangkan banyak ide agar bisa dikembangkan secara bersama.
Karawang Indonesia.
Cici yang selesai makan hanya bisa meratapi nasibnya. Ia bingung dan ingin melakukan sesuatu hal. Teringat pada wajah Aska di otaknya, Cici sangat takut sekali jika merusak rumah tangga Aska. Iya sadar betul kalau dirinya tidak berhak merusak kebahagiaan orang lain.
Memang ini sangat menyakitkan bagi hatinya. Akan tetapi Cici harus ikhlas menerimanya. Ia baru sadar kalau keluarga Wicaksono grup adalah penunjang kehidupan bagi karyawan Aska Food. Oleh karena itu dirinya memutuskan untuk mencari pria lain.
Sedangkan di tempat lain, Mala memilih untuk tidur. Ia bahagia bisa kembali ke negaranya ini. Memang, dirinya mendapatkan tawaran dari Christina. Jujur saja ia menolak tawaran itu. Untung pada waktu itu ia mendapatkan informasi dari Christina. Bahwa jam kerjanya sangat gila sekali. Dirinya tidak akan bisa sanggup untuk melakukannya.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Seorang wanita yang tidak bisa dikatakan usianya paruh baya. Sebab wanita itu tidak terlalu muda juga. Namun wanita itu memiliki pesona yang sangat cantik sekali. Dia adalah mantan agen milik Adrian.
"Iya Bu," jawab Mala.
"Kenapa kamu belum tidur? Apakah kamu tidak capek melakukan perjalanan sejauh itu?" tanya Bu Siti nama wanita itu sambil mendekati Mala lalu duduk di sampingnya.
"Aku lagi memikirkan sesuatu Bu. Ini untuk masa depanku," jawab Mala untuk saat ini.
"Kalau untuk masa depan Jangan terlalu dipikirkan mendalam. Biarkan saja masa depan itu akan mengalir dengan sendirinya. Kamu pasti berat melepaskan permintaan dari Bu Christina?"
"Sebenarnya aku nggak berat Bu untuk melepaskannya. Aku sendiri sadar. Kalau aku memiliki otak pas-pasan. Lagian jam kerjanya sangat tinggi sekali. Apakah mungkin tubuhku ini bisa sanggup menerima pekerjaan itu? Sementara di kota Paris ada empat musim. Yang di mana tubuhku ini sangat lemah sekali? Di sini kalau sudah terkena dingin. Tubuhku tidak bisa menerimanya sama sekali. Hampir setiap pagi aku menggigil kedinginan. Makanya aku tidak ingin menghambat pekerjaan ibu Christina."
"Kamu benar. Kamu jangan kecewa dengan keputusanmu itu. Sebentar lagi kamu bisa memegang perkebunan ini."
__ADS_1
"Memangnya Ibu mau ke mana?"
"Kemungkinan besar Pak Broto dan Ibu tidak akan tinggal di sini lagi. Kami sudah membeli rumah di kota Paris. Kami sudah mendapatkan pekerjaan baru dari tuan Damian. Kami tidak akan menolaknya dan berusaha untuk belajar lagi."
"Aku di sini sama siapa Bu?"
"Sama Pak Ahmad. Tenang saja Pak Ahmad itu orangnya baik."
"Baik dari mana Bu? Jujur saja orangnya sangat menyeramkan sekali."
Bu Siti tersenyum simpul sambil menatap wajah Mala. Memang benar apa yang dikatakan oleh gadis itu. Kalau Pak Ahmad itu adalah orang yang sangat menyeramkan sekali. Ditambah lagi Pak Ahmad memiliki jenggot yang tebal dan kumis. Banyak sekali perempuan-perempuan di sana enggan untuk mendekatinya.
"Kamu Jangan menilai dari covernya. Belum tentu Pak Ahmad menjadi orang jahat. Siapa tahu nanti Pak Ahmad bisa menjadi pelindungmu hingga akhir hayat," jelas Bu Siti yang mengetahui sifat asli Pak Ahmad.
"Tapi Bu, jujur saja aku sangat takut dengannya. Orang gak ada manis-manisnya sama sekali. Nggak kayak aktor-aktor Korea," ungkap Mala dengan jujur.
"Lah, jangan disamakan dong sama mereka. Pak Ahmad itu kalau dicukur jenggot dan kumisnya kelihatannya sangat tampan sekali. Coba deh lihat mata elangnya itu. Yang di mana mata elangnya itu memiliki ketampanan yang sengaja disembunyikan. Meskipun begitu Pak Ahmad sering membagi ilmunya kepada para pegawai. Jadi seluruh panen yang didapatkannya sangatlah banyak.kamu bisa belajar dari Pak Ahmad untuk menjadi petani buah atau petani sawah. Soalnya Pak Ahmad sendiri Memang jago untuk menjadi petani."
"Ih Ibu Siti... Memangnya pak Broto tidak tampan ya?"
"Kamu itu ya? Pak Broto itu memang sangat tampan sekali. Sangking tampannya dia sering dikejar-kejar banyak wanita. Tapi Pak Broto orangnya tidak pernah melihat wanita tersebut. Yah bisa dikatakan Pak Broto itu orangnya tipe yang setia."
"Sepertinya Ibu sangat mengenal Pak Ahmad sebenarnya?"
"Memang benar. Ibu dulu kerja satu tim bersama Pak Ahmad. Tapi sekarang tim Ibu sudah bubar. Pak Ahmad dilemparkan ke sini bersama ibu. Eh ujung-ujungnya ibu nikah sama Pak Broto."
"Maaf ya nih Bu. Sepertinya Pak Broto memiliki wajah orang bule deh?"
__ADS_1