
"Mulai besok saja. Hari ini sangat sibuk sekali. Aku akan ikut ibu meeting. Sepertinya aku merasakan sesuatu yang tidak enak," jawab Aska dengan jujur.
"Baik Tuan," balas Romeo.
"Untuk rencana selanjutnya, nanti aku kabari. Aku tidak bisa membuat rencana dengan waktu yang sangat singkat seperti ini," ucap Aska.
"Apakah Tuan Muda melibatkan saya?" tanya Maria dengan semangat.
"Iya, kamu juga boleh ikut. Karena aku ingin kamu memantau kegiatan si Jontor," jawab Aska yang memberikan perintah kepada Maria.
"Baiklah kalau itu mau tuan," balas Maria.
"Jam berapa meeting?" tanya Aska.
"Lima belas menit lagi dari sekarang. Tuan harus mempelajari surat perjanjian terlebih dahulu jika ingin terjun bersama nyonya. Tujuannya adalah agar sang pihak sana tidak berbuat curang sedikitpun," saran Romeo.
"Baiklah. Beberapa hari terakhir aku sudah membaca surat-surat seperti itu. Bahkan aku mengingatnya di luar kepala. Jika ada yang membangkang bagaimana?" tanya Aska.
"Lebih baik batalkan saja semuanya. Kita tidak perlu memiliki partner yang tidak mematuhi hukum perjanjian," jawab Christina yang membereskan semua berkasnya.
"Jika mereka tetap ingin bekerja sama?" tanya Aska.
"Kamu harus mengambil keputusan tegas. Jangan kamu beri celah masuk ke dalam perusahaan. Kamu tahu itu adalah bagian musuh yang ingin menghancurkan perusahaan ini. Apalagi ditambah dengan namanya Benjamin dan Minah yang masih berkeliaran di sini. Mereka bisa saja menghubungi orang-orangnya untuk menyamar menjadi investor. Lalu Benjamin akan memberikan perintah untuk menghancurkannya," tegas Christina.
__ADS_1
"Oh baiklah kalau begitu. Jujur baru pertama kali datang ke sini pekerjaanku sangat banyak sekali. Sebentar lagi aku ingin memeriksa satu-satu para inventor yang sudah menanamkan modalnya di sini," ucap Aska yang berubah menjadi seorang CEO dadakan.
"Baiklah. Ibu akan mengabulkan semua permintaanmu. Sepertinya darah ibu dan darah ayah menjadi satu di dalam tubuhmu. Ayahmu memiliki watak kejam," puji Christina.
"Jangan memujiku seperti itu Bu. Nanti kalau kepalaku besar bagaimana?" tanya Aska yang membuat Romeo dan Maria menahan tawa.
"Tuan muda sangat lucu sekali. Jujur darah kekocakan tuan muda berasal dari Nyonya Christina," sahut Romeo.
"Aku tidak peduli soal itu. Yang aku pedulikan adalah memahami seluk-beluk perusahaan ini. Bisakah kalian membantu saya?" tanya Aska.
"Dengan senang hati bro. Aku akan mencobanya," jawab Maria yang terkekeh melihat Aska.
"Dari mana Tuan Muda mengetahui soal seluk beluk perusahaan? Padahal tuan muda sendiri hobinya berada di kebun. Boleh beritahu saya kenapa terjadi seperti itu?" Tanya Romeo yang penasaran dengan kecerdasan Aska.
"Dulu memang aku tidak pernah sekolah tentang bisnis. Sekolahku hanya memegang jurusan otomotif. Bayangkan saja sekolah jurusan otomotif berubah menjadi tukang buah dan tahu seluk-beluk tentang perusahaan. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada Pak Broto dan Bu Siti. Merekalah yang menyekolahkan aku hingga sukses," jawab Aska dengan jujur.
"Sangat setuju. Kita belajar tidak hanya di buku saja. Bisa melalui praktek yang tidak terduga. Semakin hari kamu belajar dengan tekun, maka kamu akan mendapatkan hasilnya. Walau yang kamu pelajari bukan dari jurusan sekolahmu. Banyak orang seperti itu kuliah jurusan a masuknya kerja jurusan B. Aku harap kalian tidak bersedih soal itu," jawab Aska yang memberikan motivasi buat mereka.
"Tuan muda ada benarnya juga. Kalau kita tidak belajar praktek maupun teori, kita akan rugi besar. Ditambah lagi kita tidak memiliki referensi untuk hidup," tambah Romeo.
"Kalian memang hebat sekali. Jika Ibu mundur dari kursi CEO, Apakah kalian mau menjadi kaki tangan Aska?" tanya Christina yang melihat kedua asistennya sudah sangat pintar.
"Mau tidak mau kami siap melakukannya. Karena perusahaan ini harus turun ke tangan tuan muda. Ditambah lagi perusahaan ini harus ada regenerasinya. Kami berharap bahwa yang naik menjadi CEO baru adalah tuan muda. Aku tidak mau jika yang memimpin perusahaan ini adalah orang lain. Yang aku takutkan adalah sang lawan mampu berusaha menyogok sang CEO diam-diam menghancurkannya," sahut Romeo yang menganalisis keadaan masa depan.
__ADS_1
"Kamu ada benarnya juga. Aku juga tidak mau dijabah memutuskan siapa yang duduk di sini. Semakin hari aku sudah semakin tua. Seharusnya aku beristirahat dengan tenang," ujar Christina.
"Tuan Aska hanya dipoles saja sedikit. Cepat atau lambat bakat tuan muda akan muncul dengan sendirinya. Aku yakin tuan muda mampu memegang perusahaan ini. Ditambah lagi dengan kecerdasan dan sifat dinginnya. Kedua sifat itu telah mendominasi tuan muda," jelas Romeo.
"Ayo kita berangkat dari sini. Ibu tidak mau terlambat sedikitpun. Karena ibu memegang teguh pada orang-orang Finlandia sana. Jika meleset sedikit Ibu bisa memakluminya. Jika meleset hingga dua jam. Ibu bisa meninggalkannya tanpa pesan satu kata. Kamu harus mencobanya Aska. Kamu harus bisa menjadi pria tegas," saran Christina yang mendapat anggukan dari Aska.
"Lalu kami?" tanya Romeo.
"Biarkan Maria yang berada di sini. Kamu aja yang ikut dengan kami. Kamu harus banyak-banyak belajar menjadi asisten selanjutnya!'" pinta Christina.
"Aku setuju," balas Aska sambil beranjak dari duduknya.
"Baiklah. Aku juga di sini banyak pekerjaan. Beberapa hari terakhir aku selalu membuat acara untuk menyatukan kalian. Ternyata Tuhan sangat adil sekali. Dalam kesibukanku tuan mudah bisa bertemu dengan Anda," Maria berkata jujur karena semangat untuk menyatukan sang Ibu dan putranya itu."
Christina hanya bisa memberikan kode. Yang artinya Maria bisa mendapatkan hadiah darinya. Maksud dari kode itu Maria langsung menolaknya. Karena Wanita cantik itu memang sengaja melakukannya dengan tulus.
Kemudian mereka berpamitan sama Maria. Mereka langsung turun ke bawah tanpa ada pengawalan ketat. Setelah sampai bawah Aska melihat-lihat setiap sudut ruangan sangat sepi. Bahkan sudut itu kosong melompong.
Tiba-tiba saja Aska mendapatkan ide untuk ditaruh tanaman hidup di setiap sudut. Dirinya memang memiliki keinginan agar bisa menanam pohon di mana saja. Sungguh luar biasa ide Aska seperti itu. Cepat atau lambat ide itu akan dibicarakan lebih lanjut dengan Christina.
Ketika melewati meja resepsionis, Cici yang sedang berdandan terkejut melihat Aska. Cici langsung menepuk pipinya karena tidak percaya Aska sangat tampan sekali.
Jujur Cici dahulu sering mengejek Aska karena penampilannya yang kuno. Setiap hari selalu memakai celana bahan yang sudah lusuh. Ditambah lagi bajunya juga tidak pernah ganti.
__ADS_1
Wanita itu memang tidak mengetahui sifat asli Aska. Yang dipikirannya hanyalah uang. Aska menjadi jengah karena sifat serakah Cici itu. Bahkan Aska sangat membenci Cici setelah putus.
"Aska!" seru Cici dengan suara lantang tanpa memperdulikan ada Christina dan Romeo.m