
“Aku sudah diangkat
anak oleh Tuan Lione.” Jawab Minah.
“Ah... syukurlah,” ucap
Aaska.
“Semua masalah ini
akhirnya selesai,” ucap Adrian penuh rasa syukur.
“Iya ayah,” sahut Aska
yang bahagia melihat Minah.
Sebelum pulang Aska
menatap wajah Minah sambil tersenyum manis. Ia menahan air matanya sambil
berucap, “Maafkan aku selama ini telah berrrburuk sangka kepadamu. Setelah
bertemu kamu di Milan aku paham. Aku mulai mencerna apa yang telah terjadi
selama ini. Cara mendidikmu sangat berbeda sekali dari yang lain. Jika kau tahu
masalah sebenarnya, aku tidak akan marah sama kamu. Di sisi lain kamu selalu
melindungi aku dari Benjamin. Bisakah aku mengunjungimu? Apakah kamu akan
menaruh dendam terhadapku?”
Minah tersenyum bahagia
mendengar apa yang baru saja didengarnya.
Ia memegang tangan Aska saambil menjawab, “Kamu masih tetap anakku. Kamu masih
menjadi pelita hidupku. Aku juga akan mengunjungimu jika ada kesempatan.”
“Dia akan selalu ikut
bersamaku. Aku masih bertugas di kepolisian. Tapi aku tidak akan bertugas di
jalan lagi. Aku akan bertugas di kantor,” ucap Luke. “Dan kamu bisa
mengunjungiku setiap hari.”
“Memangnya paman
tinggal dimana?” tanya Aska yang
mengerutkan keningnya.
“Aku membeli rumah di
samping rumah keluarga Wicaksono,” jawab Luke yang tersenyum bahagia.
“Itu benar. Rumah itu
memang sengaja dibeli oleh Luke. Agar kami bisa berkomunikasi,” sambung
__ADS_1
Adrian.
“Oh... ya... sebentar
lagi kamu akan memiliki cucu,” ucap Aska kepada Minah yang membagikan kabar bahagianya
itu.
“Apakah itu benar?”
tanya Minah dengan tersenyum manis.
“Ya.. itu benar. Maria
sedang mengandung satu bulan,” jawab Luke sambil tersenyum manis.
“Kalau begitu aku akan akan
mengirimkan hadiah untukmu,” ujar Minah.
“Tidak perlu
repot-repot untuk aku,” sahut Aska.
“Tidak perlu apa?”
tanyaMinah yang mengerti dengan bercandanya Aska.
“Tidak perlu sedikit.
Yang banyak sekalian,” celetuk Aska yang membuat Adrian memukul pundak Aska.
tertawa lepas. Mereka sangat bahagia sekali mendengar apa yang dikatakan oleh
Aska. Mereka akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Di dalam perjalanan
Adrian yang duduk di samping penegmudi melihat cara Aska menyetir. Ia tidak
menyagka kalau Aska menyetir bagaikan Han di film Fast and Forious 3: Tokyo
Drift. Adrian memuji kebolehan Aska.
“Hmmpp.. ternyata kamu
sekarang hebat sekali menyetir? Coba kalau dulu kamu bisa menyetir?” tanya
Adrian.
“Aku dulu tidak pernah
menyetir. Lihat mobil juga aku belum pernah,” celetuk Aska.
“Bukannya di kebun ada
mobil?” tanya Adrian yang mengerutkan keningnya.
“Ada sih yah. Tapi Pak
Broto saat itu belum mengizinkan aku belajar menyetir mobil,” jawab Aska yang
__ADS_1
masih berkonsentrasi membawa mobil.
Adrian akhirnya tahu
kenapa Pak Broto tidak mengizinkan membawa mobil. Ia mengetahui kalau saat itu
Aska dalam bahaya. Jujur saja saat itu bahayanya lebih parah. Sebab tidak ada
yang mengawalnya. Pak Broto tidak mungkin mengawalnya dengan terus-terusan.
“Ayah akhirnya
paham,” ucap Adrian.
“Paham bagaimana?”
tanya Aska yang menepikan mobilnya.
“Kamu belajar mobil
sebenarnya bisa di sana. Berhubung kamu di Indonesia tidak ada yang mengawal. Jadi
Pak Broto dan Pak Ahmad juga tidak mau. Karena mereka berdua ridak mau melihat
kamu dalam bahaya.” Jawab Adrian yang menganalis keadaan saat itu.
"Ayah benar. Pas aku bisa mengendarai mobil. Mungkin saja mereka membuat rencana untuk menghabisiku dengan cara menabrakkan mobilku. Jadi ujung-ujungnya nanti kecelakaanku mirip dengan paman Frank sama kakek dan nenekku," jelas Aska.
"Maksud Ayah begitu. Ayah juga merasa khawatir kamu di sana. Untung saja Minah tidak membunuhmu. Bahkan Minah sengaja melindungimu dengan caranya sendiri. Aku salut sama Minah. Jujur dia memang sangat menyukai anak kecil. Dia tidak akan pernah mau membunuh anak kecil itu. Ayah sekarang sudah tenang. Tidak akan ada lagi permusuhan di antara kita semuanya. Biarkanlah mereka diurus sama kepolisian. Ayah akan pensiun dan membantu ibumu mengurus perusahaan," ucap Adrian.
"Bagaimana dengan Paman Luke?" tanya Aska.
"Luke masih tetap menjadi seorang kepolisian. Dia tidak akan turun lagi ke jalan. Melainkan dia duduk di kantor mengurusi humas.jadi kemungkinan besar pamanmu akan membuat suatu terobosan baru agar polisi dikenal di seluruh masyarakat," jawab Adrian yang tersenyum bahagia.
"Apa benar Paman Luke tinggal di sebelah rumah kita?" tanya Aska lagi.
"Iya benar. Sebenarnya rumah itu adalah rumah milik ayah. Dulu kami berencana untuk tinggal dekat dengan kakek nenekmu. Kami ingin hidup di sana berdampingan dengan mereka. Setelah kamu lahir, ayah dan ibu segera memindahkan kamu. Berhubung kamu sudah hilang duluan. Rumah itu tidak jadi ditempati. Ayah membiarkannya saja kosong begitu saja," jawab Adrian yang menjelaskan tentang kondisi rumah tersebut.
"Bagaimana kalau aku menempati rumah itu?" tanya Aska.
"Kamu nggak perlu menempati rumah itu. Kakekmu sudah merenovasi rumah itu menjadi besar. Kakekmu sedang menambah beberapa kamar untuk mertuamu tinggal sementara ketika berada di kota Paris," jawab Adrian yang memandangi lalu lintas yang rame lancar.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku tidak jadi pindah rumah dan tidak akan pernah meninggalkan rumah itu hingga aku memiliki banyak cucu," ucap Aska.
"Jangan-jangan kamu ingin membuat sulit Maria ya?" tanya Adrian yang mengejek Aska.
"Enggak. Masalahnya aku kapok menjadi anak satu-satunya. Aku ingin sekali memiliki banyak anak. Sebab aku ingin menciptakan suasana rumah menjadi sangat ramai sekali. Itulah kenapa Aku menginginkan mereka semuanya," jawab Aska yang dapat pukulan dari Adrian.
Aska hanya terkekeh melihat sang ayah bingung. Memang itulah ciri khas yang suka mengerjai orang. Namun Adrian tidak marah sama sekali. Bahkan Adrian sendiri sangat mengagumi sosok Aska yang begitu kuat menjadi seorang pria tangguh.
"Bagaimana perasaan ayah setelah mengetahui semuanya?" tanya Aska.
"Sangat lega. Ternyata musuh sebenarnya tidak berada di luaran rumah. Ayah sendiri sangat terkejut sekali mendengar jika Julia melakukan hal itu. Waktu itu Ayah pernah berkata sama kamu. Ayah nggak mau kamu mengobrak-abrik kediaman Wicaksono Group," jawab Adrian yang membuat Aska menganggukkan kepalanya.
"Semuanya itu benar ayah. Aku pernah membuka situs web soal Wicaksono Group. Aku nggak tahu kenapa web itu tidak memberikan informasi yang sangat jelas sekali. Lalu aku berpikir, kalau web Wicaksono Group ternyata dipegang oleh Julia. Aku pernah tanya sama kakek. Tapi kakek tidak mengetahuinya. Kakek sendiri baru mengetahuinya setelah Julia tertangkap. Banyak sekali peraturan tentang harga sewa apartemen maupun rumah yang dipegang oleh Wicaksono group berubah drastis. Inilah Wicaksono group mengalami kemunduran dengan cepat. Ternyata Julia selama ini memang ingin menghancurkan Wicaksono Group," jawab Azka yang menjelaskan tentang keadaan Wicaksono Group.
"Kamu memang benar. Nggak ada yang namanya mereka curang melakukannya. Mereka memang sengaja ingin menghancurkan bijaksana Group. Mereka memang melakukannya demi kepentingan hawa nafsunya masing-masing," tambah Adrian yang paham dengan perkataan Aska.
"Sebaiknya kita harus mengadakan meeting secara dadakan. Aku ingin membuat peraturan baru lagi. Yang di mana kita, karyawan maupun klien mendapatkan keuntungan yang real. Nanti aku bicarakan pada Paman Frank," pinta Aska.
"Kapan itu?" tanya Adrian.
__ADS_1