Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Percakapan Antara Adrian dan Aska.


__ADS_3

“Aku sudah diangkat


anak oleh Tuan Lione.” Jawab Minah.


“Ah... syukurlah,” ucap


Aaska.


“Semua masalah ini


akhirnya selesai,” ucap Adrian penuh rasa syukur.


“Iya ayah,” sahut Aska


yang bahagia melihat Minah.


Sebelum pulang Aska


menatap wajah Minah sambil tersenyum manis. Ia menahan air matanya sambil


berucap, “Maafkan aku selama ini telah berrrburuk sangka kepadamu. Setelah


bertemu kamu di Milan aku paham. Aku mulai mencerna apa yang telah terjadi


selama ini. Cara mendidikmu sangat berbeda sekali dari yang lain. Jika kau tahu


masalah sebenarnya, aku tidak akan marah sama kamu. Di sisi lain kamu selalu


melindungi aku dari Benjamin. Bisakah aku mengunjungimu? Apakah kamu akan


menaruh dendam terhadapku?”


Minah tersenyum bahagia


mendengar apa yang  baru saja didengarnya.


Ia memegang tangan Aska saambil menjawab, “Kamu masih tetap anakku. Kamu masih


menjadi pelita hidupku. Aku juga akan mengunjungimu jika ada kesempatan.”


“Dia akan selalu ikut


bersamaku. Aku masih bertugas di kepolisian. Tapi aku tidak akan bertugas di


jalan lagi. Aku akan bertugas di kantor,” ucap Luke. “Dan kamu bisa


mengunjungiku setiap hari.”


“Memangnya paman


tinggal dimana?” tanya Aska yang


mengerutkan keningnya.


“Aku membeli rumah di


samping rumah keluarga Wicaksono,” jawab Luke yang tersenyum bahagia.


“Itu benar. Rumah itu


memang sengaja dibeli oleh Luke. Agar kami bisa berkomunikasi,” sambung

__ADS_1


Adrian.


“Oh... ya... sebentar


lagi kamu akan memiliki cucu,” ucap Aska kepada Minah yang membagikan kabar bahagianya


itu.


“Apakah itu benar?”


tanya Minah dengan tersenyum manis.


“Ya.. itu benar. Maria


sedang mengandung satu bulan,” jawab Luke sambil tersenyum manis.


“Kalau begitu aku akan akan


mengirimkan hadiah untukmu,” ujar Minah.


“Tidak perlu


repot-repot untuk aku,” sahut Aska.


“Tidak perlu apa?”


tanyaMinah yang mengerti dengan bercandanya Aska.


“Tidak perlu sedikit.


Yang banyak sekalian,” celetuk Aska yang membuat Adrian memukul pundak Aska.


tertawa lepas. Mereka sangat bahagia sekali mendengar apa yang dikatakan oleh


Aska. Mereka akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Di dalam perjalanan


Adrian yang duduk di samping penegmudi melihat cara Aska menyetir. Ia tidak


menyagka kalau Aska menyetir bagaikan Han di film Fast and Forious 3: Tokyo


Drift. Adrian memuji kebolehan Aska.


“Hmmpp.. ternyata kamu


sekarang hebat sekali menyetir? Coba kalau dulu kamu bisa menyetir?” tanya


Adrian.


“Aku dulu tidak pernah


menyetir. Lihat mobil juga aku belum pernah,” celetuk Aska.


“Bukannya di kebun ada


mobil?” tanya Adrian yang mengerutkan keningnya.


“Ada sih yah. Tapi Pak


Broto saat itu belum mengizinkan aku belajar menyetir mobil,” jawab Aska yang

__ADS_1


masih berkonsentrasi membawa mobil.


Adrian akhirnya tahu


kenapa Pak Broto tidak mengizinkan membawa mobil. Ia mengetahui kalau saat itu


Aska dalam bahaya. Jujur saja saat itu bahayanya lebih parah. Sebab tidak ada


yang mengawalnya. Pak Broto tidak mungkin mengawalnya dengan terus-terusan.


“Ayah akhirnya


paham,” ucap Adrian.


“Paham bagaimana?”


tanya Aska yang menepikan mobilnya.


“Kamu belajar mobil


sebenarnya bisa di sana. Berhubung kamu di Indonesia tidak ada yang mengawal. Jadi


Pak Broto dan Pak Ahmad juga tidak mau. Karena mereka berdua ridak mau melihat


kamu dalam bahaya.” Jawab Adrian yang menganalis keadaan saat itu.


"Ayah benar. Pas aku bisa mengendarai mobil. Mungkin saja mereka membuat rencana untuk menghabisiku dengan cara menabrakkan mobilku. Jadi ujung-ujungnya nanti kecelakaanku mirip dengan paman Frank sama kakek dan nenekku," jelas Aska.


"Maksud Ayah begitu. Ayah juga merasa khawatir kamu di sana. Untung saja Minah tidak membunuhmu. Bahkan Minah sengaja melindungimu dengan caranya sendiri. Aku salut sama Minah. Jujur dia memang sangat menyukai anak kecil. Dia tidak akan pernah mau membunuh anak kecil itu. Ayah sekarang sudah tenang. Tidak akan ada lagi permusuhan di antara kita semuanya. Biarkanlah mereka diurus sama kepolisian. Ayah akan pensiun dan membantu ibumu mengurus perusahaan," ucap Adrian.


"Bagaimana dengan Paman Luke?" tanya Aska.


"Luke masih tetap menjadi seorang kepolisian. Dia tidak akan turun lagi ke jalan. Melainkan dia duduk di kantor mengurusi humas.jadi kemungkinan besar pamanmu akan membuat suatu terobosan baru agar polisi dikenal di seluruh masyarakat," jawab Adrian yang tersenyum bahagia.


"Apa benar Paman Luke tinggal di sebelah rumah kita?" tanya Aska lagi.


"Iya benar. Sebenarnya rumah itu adalah rumah milik ayah. Dulu kami berencana untuk tinggal dekat dengan kakek nenekmu. Kami ingin hidup di sana berdampingan dengan mereka. Setelah kamu lahir, ayah dan ibu segera memindahkan kamu. Berhubung kamu sudah hilang duluan. Rumah itu tidak jadi ditempati. Ayah membiarkannya saja kosong begitu saja," jawab Adrian yang menjelaskan tentang kondisi rumah tersebut.


"Bagaimana kalau aku menempati rumah itu?" tanya Aska.


"Kamu nggak perlu menempati rumah itu. Kakekmu sudah merenovasi rumah itu menjadi besar. Kakekmu sedang menambah beberapa kamar untuk mertuamu tinggal sementara ketika berada di kota Paris," jawab Adrian yang memandangi lalu lintas yang rame lancar.


"Kalau begitu ya sudahlah. Aku tidak jadi pindah rumah dan tidak akan pernah meninggalkan rumah itu hingga aku memiliki banyak cucu," ucap Aska.


"Jangan-jangan kamu ingin membuat sulit Maria ya?" tanya Adrian yang mengejek Aska.


"Enggak. Masalahnya aku kapok menjadi anak satu-satunya. Aku ingin sekali memiliki banyak anak. Sebab aku ingin menciptakan suasana rumah menjadi sangat ramai sekali. Itulah kenapa Aku menginginkan mereka semuanya," jawab Aska yang dapat pukulan dari Adrian.


Aska hanya terkekeh melihat sang ayah bingung. Memang itulah ciri khas yang suka mengerjai orang. Namun Adrian tidak marah sama sekali. Bahkan Adrian sendiri sangat mengagumi sosok Aska yang begitu kuat menjadi seorang pria tangguh.


"Bagaimana perasaan ayah setelah mengetahui semuanya?" tanya Aska.


"Sangat lega. Ternyata musuh sebenarnya tidak berada di luaran rumah. Ayah sendiri sangat terkejut sekali mendengar jika Julia melakukan hal itu. Waktu itu Ayah pernah berkata sama kamu. Ayah nggak mau kamu mengobrak-abrik kediaman Wicaksono Group," jawab Adrian yang membuat Aska menganggukkan kepalanya.


"Semuanya itu benar ayah. Aku pernah membuka situs web soal Wicaksono Group. Aku nggak tahu kenapa web itu tidak memberikan informasi yang sangat jelas sekali. Lalu aku berpikir, kalau web Wicaksono Group ternyata dipegang oleh Julia. Aku pernah tanya sama kakek. Tapi kakek tidak mengetahuinya. Kakek sendiri baru mengetahuinya setelah Julia tertangkap. Banyak sekali peraturan tentang harga sewa apartemen maupun rumah yang dipegang oleh Wicaksono group berubah drastis. Inilah Wicaksono group mengalami kemunduran dengan cepat. Ternyata Julia selama ini memang ingin menghancurkan Wicaksono Group," jawab Azka yang menjelaskan tentang keadaan Wicaksono Group. 


"Kamu memang benar. Nggak ada yang namanya mereka curang melakukannya. Mereka memang sengaja ingin menghancurkan bijaksana Group. Mereka memang melakukannya demi kepentingan hawa nafsunya masing-masing," tambah Adrian yang paham dengan perkataan Aska.


"Sebaiknya kita harus mengadakan meeting secara dadakan. Aku ingin membuat peraturan baru lagi. Yang di mana kita, karyawan maupun klien mendapatkan keuntungan yang real. Nanti aku bicarakan pada Paman Frank," pinta Aska.


"Kapan itu?" tanya Adrian.

__ADS_1


__ADS_2