
"Bukan begitu Tuan besar. Aku rasa ada seseorang yang sengaja membuat tuan besar mati secara perlahan. Tapi aku tidak tahu siapa yang membuat tua besar seperti ini," Pak Broto menjelaskan apa maksudnya sebenarnya.
Pak Broto pun terdiam dan menatap wajah Damian. Jujur dirinya sangat ketakutan sekali ketika berbicara seperti itu. Tak lama Damian berkata, "Yang kamu katakan itu benar. Setelah sampai dari Indonesia. Aku memang sengaja pergi ke rumah sakit. Lalu aku memeriksakan kesehatanku. Ternyata dokter memvonis memiliki kanker hati. Yang di mana kanker hati itu. Menurut pemeriksaan aku telah mengkonsumsi zat adiktif racun yang membunuh manusia dengan pelan. Sekarang aku ingin berada di sini. Dekat dengan anak-anakku dan cucuku."
Perkataan Damian sangat menyayat hati bagi Pak Broto. Hatinya seakan tidak rela jika Pak Broto menderita penyakit parah seperti itu. Entah kenapa Pak Broto mulai mencurigai sesuatu. Namun dirinya tidak berani berkata apa-apa. Karena takut menyinggung perasaan sang Tuan besarnya itu.
"Cepat atau lambat Aska Food International harus bergabung dengan Wicaksono Group. Tetapi banyak halangan ketika ingin menggabungkan kedua perusahaan itu," jelas Damian.
"Saya mengerti itu Tuan. Saya tahu jika mereka ingin menghancurkan Wicaksono Group. Sekarang kita harus membentuk kekuatan agar bisa mendorong tuan muda maju ke dalam perusahaan Wicaksono. Sementara Jamaludin dan kroni-kroninya masih hidup. Sesungguhnya saya takut nyawa tuan muda sedang terancam," ucap pak Broto.
"Tenanglah. Aku sudah meminta Frank untuk menolongku. Sebelum ke sini aku sudah menghubungi Frank meminta untuk melindungi Aska," imbuh Damian.
Pak Broto pun tersenyum lega. Jujur Damian sudah memiliki keputusan yang tepat. Bahwa keputusan ini akan membawa Aska masuk ke dalam perusahaan Wicaksono.
"Keputusan Tuan besar itu benar. Tuan Frank memang sangat kompeten untuk menjaga seseorang," puji Pak Broto.
"Bukan itu maksudku. Bukan untuk menjaga. Frank adalah musuh bebuyutan Jamaludin. Frank juga kakaknya menantuku. Setelah ditelusuri aku memang sengaja ingin mengajaknya kerjasama dengan imbalan saham Wicaksono sebanyak dua puluh lima persen," tambah Damian.
"Apakah Tuan Frank menolaknya?" tanya Pak Broto.
"Itu benar. Frank itu sangat aneh sekali dan menolak saham sebanyak itu. Padahal setiap tahun Frank bisa menghasilkan pendapatan dari saham itu sebesar dua puluh juta euro. Ini memang sangat gila sekali," kesal Damian kepada Frank.
"Saya tahu maksud Tuan Frank sebenarnya. Tuan Frank memang sengaja menolak saham itu. Karena beliau ingin menghabisi Jamaludin melalui keponakannya itu. Maka dari itu tuan besar sudah sangat tepat sekali. Bahkan Tuan Friends sendiri bilang kepada saya tidak akan pernah menerima apapun dari tuan. Yang penting pikirannya adalah balas dendam kepada Jamaludin," jelas Pak Broto. "Saya sempat berbincang masalah ini kepada tuan Frank pada malam hari kemarin. Jujur saya sangat senang sekali bisa bertemu dengan Tuan Frank secara langsung. Semenjak kecelakaan itu saya tidak pernah bertemu dengan Tuan Frank lagi. Maafkanlah saya. Jika saya terlalu jujur mengatakan ini semuanya kepada anda. Yang perlu Anda ingat Saya tidak akan ikut-ikutan dalam masalah ini. Saya sudah berjanji akan membuat perkebunan ini semakin besar. Itulah janji saya saat kehilangan ketua Blue Dragon."
"Itu tidak jadi masalah. Kamu harus merapat dalam barisanmu. Aku sangat terima kasih sekali. Karena kamu sudah melindungi cucu saya," ucap Damian yang meminta Pak Broto bergabung lagi dengan Blue Dragon.
__ADS_1
"Jika saya menolaknya bagaimana?" tanya Pak Broto dengan serius.
"Frank sangat membutuhkanmu. Jika kamu tidak mau. Maka Frank yang akan membawamu ke Blue Dragon," jawab Damian.
"Bagaimana dengan istri saya? Saya tidak mau melibatkan Siti masuk ke dalam kelompok tersebut. Ketika melamarnya saya tidak menceritakan siapa diriku sebenarnya. Jika istri saya tahu bagaimana rumah tangga kami?" tanya Pak Broto.
"Kamu ceritakan saja pelan-pelan dan tujuan masuk ke Blue Dragon. Ceritakan juga masa lalumu. Agar istrimu itu tahu," jawab Damian sambil meraih ponselnya.
Pak Broto pun menganggukkan kepalanya. Ada satu kata berada di dalam hatinya yaitu bimbang. Jujur dirinya ingin mengatakan sesungguhnya. Akan tetapi bibirnya tidak mau mengatakan.
Pagi yang cerah di kota Jakarta.
Sepasang suami istri yang sedang terlelap tidur memutuskan untuk bangun. Sinar matahari telah masuk ke dalam kamar melalui jendela. Lalu Aska menatap jendela itu yang sangat silau.
"Apakah kita masih cuti bekerja?" tanya Aska.
"Tak tahu," jawab Aska yang masih bingung dengan agenda pagi ini.
Entah kenapa otak Maria mulai nakal dan mendekati Aska. Maria merangkul Aska dari belakang sambil berkata, "Bukankah hari ini kita pergi ke kebun Pak Broto?"
Akhirnya Aska tersenyum sambil memegang tangan mungil Maria, "Kamu benar. Lebih baik kita bersiap-siap menuju ke sana. Sebelum itu kita akan main ke rumah ibu."
"Ternyata Abang ingat. Ayolah bang kita mandi," ajak Maria.
"Ya iyalah Abang ingat. Abang tidak akan melupakan sesuatu tentang janjimu itu. Tapi sebelum ke sana kita bawa oleh-oleh terlebih dahulu. Masa kita main ke sana tidak memberikan oleh-oleh sedikitpun," sahut Aska.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu," ujar Maria.
"Ayo kita mandi bersama," ajak Aska.
"Ha!" wajah Maria berubah menjadi merah dan bersembunyi di belakang tubuh Aska.
Diam-diam Aska menahan tawanya. Meskipun tidak melihat Aska tahu kalau sang istri sedang menahan malu.
"Jangan malu seperti itu. Kelak kita akan melakukan ritual malam pertama. Malam yang di mana memberikan benih yang bagus untuk keturunan Wicaksono selanjutnya," sahut Aska.
"Tidak kelak kali. Itu mah kelamaan. Paling tidak seminggu kemudian Abang akan melakukannya," ujar Maria.
"Bener juga. Udah siang nih. Lebih baik kita turun ke bawah nyari makanan," ajak Aska.
"Oh iya... Ibu melakukan perjalanan bisnis ke Kuala Lumpur bersama ayah," ucap Maria yang hampir melupakan jadwal Christina.
"Nah itu dia. Sebelum aku tidur. Ibu mengirimkan pesan kalau ada perjalanan bisnis ke sana. Makanya aku sengaja mengajakmu turun ke bawah," kata Aska.
"Sudah lama tidak masak."
"Masak apa? Memangnya kamu bisa masak ya?"
"Ya bisalah. Yang namanya perempuan harus bisa memasak. Jangan sampai kita terus-terusan membeli makanan di luar. Kita harus hemat ketika mendapatkan upah dari perusahaan. Kita juga harus menata masa depan."
"Masa depan nggak usah dicari. Buat planning saja. Kamu mau ngapain tulis di dalam kertas lalu tempel di dinding. Setiap melewati dinding itu pasti kamu membacanya. Lalu kamu ingat beberapa hari terakhir ngapain saja. Apakah beberapa hari terakhir itu adalah waktu yang baik atau tidak baik? Aku dulu sering begitu. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasi. Kamu tahu lah Bagaimana jadinya. Tapi Pak Broto selalu memintaku untuk maju," jelas Aska.
__ADS_1
"Ide kamu sangat bagus sekali. Rasanya aku akan menulis semuanya dan menempelkan di dinding termasuk kaca riasku. Supaya aku ingat apa yang telah terjadi selama ini," sahut Maria.
"Mulai kapan kamu akan melakukannya?" tanya Aska.