Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Kecurigaan Aska Terhadap Orang Dalam Perusahaan.


__ADS_3

Aska dan Romeo sejenak berhenti lalu menoleh ke belakang. Ia tidak sengaja melihat Cici sedang berdandan. Tanpa berkata apapun, Aska menyuruh Romeo berjalan.


"Jalan! Jangan pedulikan orang itu!" tegas Aska.


Romeo menuruti perintah Aska. Ia segera membukakan pintu mobil itu sambil mempersilahkan masuk. Dengan berat hati Aska masuk ke dalam.


Ketika masuk ke dalam Aska melihat Christina sedang membaca berkas-berkas tersebut. Kemudian Aska merasakan mood-nya hancur seketika.


"Ada apa?" tanya Christina yang mengerti Sang putra sedang kehilangan mood.


"Siapa yang memilih resepsionis itu?" tanya Aska balik.


"Pak Djarot yang memilihnya," jawab Christina. "Memangnya ada apa?"


"Apakah peraturan di perusahaan menyuruh karyawan dandan seenaknya seperti itu?" tanya Aska yang membuat Christina tersentil.


"Kamu kenapa sih? Tiba-tiba saja kamu ingin mengamuk seperti itu?" tanya Christina sambil membetulkan kacamatanya.


"Aku tidak mengamuk Bu. Aku hanya ingin menegur saja. Ibu tahu kan kalau perusahaan ini adalah tempat orang-orang mencari duit. Tapi pas jam kerja, kenapa sang resepsionis melakukan dandan? Bukankah itu tidak baik? Harusnya dia bekerja untuk membantu perusahaan ini menjadi besar," jawab Aska.


Romeo yang belum menyalakan mobil sangat terkejut. Pria itu menoleh ke belakang sambil melihat Aska. Ia paham apa yang telah terjadi sebelumnya.


"Tuan muda, ada apa?" tanya Romeo.


"Kirimkan aku peraturan perusahaan di atas meja ibu. Aku ingin melihat peraturan yang sudah dibuat.Kemungkinan besar ada beberapa poin yang aku tambahkan," jawab Aska yang membuat Christina mengangguk.


"Kamu boleh menambahkan beberapa poin tersebut termasuk dandan di jam kerja. Tapi Ibu mohon jangan pernah mengekang pada karyawan di sini. Karena mereka membutuhkan kebebasan dalam berekspresi," sahut Christina yang membuat Aska paham.


"Aku paham Bu. Aku hanya memberikan beberapa poin saja. Yang pasti tidak merugikan karyawan," jawab Aska.


Christina tersenyum manis sambil memandang wajah sang putra. Ia mengagumi sosok putranya itu. Tanpa perlu sekolah tinggi Aska sudah paham tentang bisnis dan manajemen perusahaan.


"Apakah Tuan Muda sangat kesal terhadap Cici resepsionis kita?" tanya Romeo yang menyalakan mobil.


"Siapa itu Cici?" tanya Aska.

__ADS_1


"Dia adalah resepsionis yang bekerja di sini baru enam bulan. Denger-denger sih Cici itu adalah simpanannya juragan jengkol berada di desanya sana," jawab Romeo yang membuat Aska biasa saja.


"Apakah itu benar?" tanya Christina yang penasaran dengan Cici.


"Sepertinya Nyonya sangat tertarik dengan Cici?" tanya Romeo.


"Oh... Ada yang curhat tentang kisah cintanya yang diputusin oleh Cici. Kalau nggak salah sih pengawal ibu," jawab Christina yang mengalihkan perhatian Romeo.


"Oh begitu... Baiklah kalau begitu," ujar Romeo yang menancapkan gasnya menuju ke tempat di mana mereka meeting.


Paris Prancis.


Adrian yang baru saja selesai olahraga terkejut akan kedatangan seseorang pria berbadan kekar. Ia meraih handuknya dan mulai mengelap keringat di wajahnya.


"Ada apa Luke?" tanya Adrian.


"Gawat tuan. Benjamin sudah mulai bergerak untuk menghancurkan istri anda," jawab Luke nama seseorang itu.


"Biarkan saja Benjamin bergerak," ucap Adrian dengan tenang.


"Putraku sudah kembali dan hidup bersama istriku. Aku yakin putraku bisa mengembalikan keadaan. Seminggu atau dua minggu lagi aku akan pergi ke Indonesia dan menetap di sana. Jika kamu ikut ikutlah. Jika tidak carilah pekerjaan lain di sini. Aku tidak melarangmu. Kemungkinan besar aku bersama Putraku akan berduet mengungkap kasus ini," jelas Adrian tanpa melihat Luke.


"Sebenarnya saya berat tuan. Berat melepaskan anda. Saya sudah menganggap anda adalah sahabat dan kakak. Sedari dulu tuan sering membantu saya dalam masalah ringan maupun berat. Saya memutuskan untuk ikut tuan. Karena saya sudah bersumpah kepada orang tua tuan sebelum meninggal. Saya akan menjaga tuan hingga tak bernyawa," jelas Luke.


"Aku tidak jadi masalah dengan kamu. Mau ikut atau tidak Itu terserah kamu. Kamu bisa menunjukkan hidupmu tanpa susah payah mengingatkanku lagi. Kalau kamu mau ikut maka segera ke masih barangmu. Karena aku di sini hanya menunggu keputusan dari kepolisian. Ketika aku sudah selesai melaksanakan jabatanku," ujar Adrian.


"Kalau begitu baiklah. Saya akan tetap ikut tuan. Saya permisi pamit terlebih dahulu untuk membereskan semua keperluan saya di Jakarta," pamit Luke.


"Ada kabar apa lagi?" tanya Adrian.


"Nanti tunggu Romeo. Cepat atau lambat bocah ingusan itu akan mengabarkan berita tentang tuan muda dan istri anda," jawab Luke.


"Apa yang kamu lakukan dengan Romeo? Apakah kamu menyogoknya? Atau kamu mengancamnya? Atau kamu... Ah sudahlah... Kamu memang memiliki otak licik," kesal Adrian.


"Ya... Saya memang mengancamnya untuk bekerja sama. Jika tidak cepat atau lambat aku akan membunuhnya," sahut Luke.

__ADS_1


"Kamu gila ya. Dia itu asisten istriku. Yang di mana pria itu sering memata-matai putraku saat berada di kebun?" geram Adrian.


"Tapi tuan, Romeo adalah putra kandungku. Aku bisa melakukan apa saja jika Romeo tidak menurutiku," tambah Luke.


"Astaga! Aku benar-benar lupa akan hal itu. Kenapa aku tidak menyadarinya? Jujur putramu lebih tampan ketimbang kamu!" Kesal Adrian.


"Aku tidak peduli itu," ucap Luke yang membuat Adrian semakin malas.


"Ya sudah pergi sana!" usir Adrian.


Dengan kesalnya Adrian pergi meninggalkan sang asisten tersebut. Bagaimana tidak sang asisten itu memiliki jiwa meledeknya.


Meskipun terlihat konyol namun Luke memperhatikan dirinya. Di sisi lain Adrian sudah menganggap Luke sebagai adiknya sendiri.


Jakarta Indonesia.


Sesampainya di restoran Romeo mengajak Christina dan Aska masuk ke dalam ruangan VVIP. Di sana mereka langsung duduk.


Kemudian Romeo memberikan berkas-berkas yang akan dibuat meeting nanti ke Aska. Pria bertubuh kurus itu pun segera menghempaskan bokongnya di hadapan mereka.


Saat membaca berkas-berkas itu, Aska melihat beberapa poin yang harus diubah. Ia yakin kalau poin-poin tersebut akan merugikan perusahaannya sendiri.


"Siapa yang membuat poin-poin seperti ini? Ini bukan membuat perusahaan kita menjadi lebih maju. Bahkan menjadi mundur," ucap Aska yang membuat Romeo terkejut.


"Apa yang kamu katakan Aska?" tanya Christina.


"Apakah ibu tidak melihat ada beberapa poin yang bisa merugikan kita dalam jangka lama?" tanya Aska balik.


"Lalu?" tanya Christina.


"Bukankah Ibu seorang pembisnis? Masa gini nggak tahu sih Bu. Jujur aku menemukan tiga poin. Yang di mana poin-poin tersebut membuat kita rugi dan di sana untung. Coba ibu baca sekali lagi. Jika Ibu tidak paham juga aku yang akan membatalkan semuanya ini. Aku akan cari lagi orang yang tepat untuk memproduksi barang-barang kita," jawab Aska yang membuat Romeo penasaran.


Romeo segera meraih surat kerjasama itu. Ia mulai meneliti beberapa poin yang berada di sana. Alangkah terkejutnya pria berkacamata itu. Bisa-bisanya tiga poin itu sedang menjebak Christina.


"Yang dikatakan tuan muda benar nyonya. Surat perjanjian itu ternyata untuk menjebak nyonya. Satu poin pertama isinya tentang sistem kerjasama Kita yang sudah diganti oleh sang pembuat," ujar Romeo yang selesai mengecek surat perjanjian itu.

__ADS_1


"Jadi?" tanya Christina.


__ADS_2