Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Cemburu.


__ADS_3

"itu benar. Semuanya itu terserah paman. Aku dan Ayah sudah angkat tangan untuk masalah Benjamin," jawab Aska yang sedang membantu Maria bersih-bersih.


"Tapi Bang," ucap Maria yang menggantung.


"Tapi kenapa? Memangnya ada yang salah?" tanya Aska yang memasukkan baju dalam koper.


"Aku takut Abang bertemu dengan Cici," jawab Maria yang tiba-tiba saja cemburu pada Cici.


Aska menghentikan sejenak lalu mendekati Maria. Ia langsung memeluk Maria dari belakang sambil berkata, "Aku adalah pria yang sudah beristri. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Aku tidak mungkin akan bertemu dengan Cici. AKu tahu kamu cemburu pada Cici," bisik Aska yang tersenyum manis sambil menghibur Maria.


"Tapi Bang... Cici adalah wanita pemberani. Yang aku dengar dia sangat berani memacari juragan jengkol beristri lima orang," ujar Maria yang gelisah.


"Kamu tidak perlu takut sama Cici. Kamu sudah mengklaim aku sebagai suamimu. Jangan pernah takut lagi jika aku harus bertemu dengannya. Lagian rasa cintaku ini hanya untukmu," sahut Aska sambil mencium pipi kanan Maria.


"Walaupun begitu wanita mana sih, yang tidak khawatir jika sang suami ketemu mantannya? Aku sih percaya sama Abang. Tapi aku nggak percaya sama Cici," jelas Maria sambil menatap wajah Aska dari samping.


"Kamu itu ya terlalu takut banget. Dari dulu Memang aku adalah pacarnya. Tapi saat itu aku belum pernah mengenal cinta sama sekali. Soalnya aku sendiri fokus dalam menjalankan sekolahku. Aku juga tidak memikirkan yang namanya pacaran," ucap Aska dengan blak-blakan.


"Tapi diding mengakunya sebagai kekasihmu," celetuk Maria.

__ADS_1


"Memang Kami adalah pasangan kekasih. Tapi aku tidak pernah tuh merasakan jatuh cinta kepadanya. Perasaanku biasa saja. Sebab saat itu aku sudah dihina habis-habisan. Sekarang aku sukses dia kembali? Ya nggaklah... Lebih baik aku mencari seorang istri yang tulus bisa mencintaiku apa adanya," imbuh Aska. "Ya sudah kalau begitu. Jika aku pergi ke mana-mana selama di Jakarta ataupun Karawang. Kamu boleh mengikutiku. Kamu boleh mengganggu aku ketika sedang santai."


''Ya nggak ganggu lagi Bang. Yang namanya mantan tetaplah mantan. Itu benar. Tapi di waktu susah maupun duka dia tidak pernah menemanimu. Dia memilih untuk memutuskan kamu. Setelah sukses dia akan meminta kembali untuk dijadikan calon istrinya. Itu banyak kasusnya seperti itu. Terus Apakah aku biarkan? Jika Cici nanti bertemu denganmu," tanya Maria.


"Ya nggak gitu kali neng. Aku sendiri sudah males ketemu sama itu orang. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia hanya memikirkan Bagaimana caranya mendapatkan uang dari kekasihnya itu? Tapi maaf... Aku sudah mendapatkan informasi dari Abang Romeo. Yang di mana Abang Romeo sudah merangkumnya semua tentang dia. Kamu bisa membacanya dan akan mengetahui bagaimana seorang Cici itu? Kamu akan mendapatkan beberapa fakta yang membuat kamu bertanya-tanya," jelas Aska yang tidak ingin Maria ngambek.


"Boleh Bang. Aku jadi penasaran sekali sama yang namanya Cici. Siapa tahu aku bisa menjadi perisai dalam Rumah tanggaku sendiri," balas Maria yang mendapat anggukan dari Aska.


Memang benar yang dilakukan oleh Aska. Dirinya memang tidak mau melakukan kesalahan. Kunci utama dalam pernikahan itu adalah terbuka dengan pasangan lainnya. Ada belajar dari Adrian dan juga kakek neneknya. Ia akan menerapkan kunci itu di dalam pernikahannya.


Selesai membantu Maria bersih-bersih, Aska meraih ponselnya. Ia memang sengaja mencari berita Cici untuk Maria. Setelah menemukannya, Aska memberikan ponselnya kepada Maria. Lalu Maria meraih ponsel itu dan menghebatkan bokongnya di tepi ranjang. Seketika matanya membulat sempurna. Iya baru sadar kalau Cici adalah wanita yang berbahaya. Makanya saat ini Aska malas sekali, jika dirinya berdebat tentang Cici bersama Maria.


"Tidak apa-apa. Aku kan sudah menyuruhmu untuk ikut bersamaku. Sebenarnya aku tidak risih Jika kamu ikut denganku. Biarkanlah orang berkata apa tentangmu. Lebih baik kamu nggak usah dengerin mereka. Yang penting kamu bisa melindungiku dari para pelakor," tambah Aska yang membuat Maria semakin semangat.


Yang namanya perempuan tetaplah perempuan. Yang di mana perempuan itu adalah makhluk sosial yang sangat unik. Bahkan kekuatan yang dimiliki perempuan jauh lebih besar. Contohnya saja pagi-pagi sudah bangun lalu membersihkan rumah. Tidak lupa membuat sarapan, tidak lupa juga memandikan anak-anak ketika masih kecil.


Jujur saat ini Maria sedang mengalami perubahan hormon. Terkadang dirinya marah-marah tidak jelas kepada Aska. Bahkan dirinya sering sekali tidak suka melihat wajah Aska. Namun Aska menyadari akan hal itu. Dirinya sudah mendapatkan informasi dari ibu dan neneknya. Aska mendapatkan nasehat dari kedua wanita yang dicintainya itu. Aska harus sabar menghadapi Maria. Maka dari itu ia memang sengaja mengajak Maria ke Jakarta. Agar Maria tidak terlalu memikirkan dirinya.


Selesai beres-beres Aska dan Maria memutuskan untuk beristirahat.namun sebelum Aska terlelap, Aska mengecek seluruh pekerjaan yang terlebih dahulu. Untung saja semua pekerjaannya bisa di-handle jauh-jauh hari. Ia sangat bersyukur sekali dan menyerahkan surat cuti kepada pamannya itu.

__ADS_1


Malam pun tiba. Maria dan Aska memutuskan untuk keluar dari kamar. Di sana Mereka melihat Stefani dan juga Christina. Kedua wanita berbeda generasi itu pun sedang duduk dan bercerita tentang masa lalunya. Tidak sengaja mereka berdua melihat Aska bersama Maria.


"Hai kalian! Kalian ke mana saja dari siang hingga malam begini?" tegur Stefani.


"Maria saat itu sedang tidur. Aku sendiri sedang memeriksa pekerjaanku. Tiba-tiba saja aku ikut terlelap dan menuju ke alam mimpi bersama Maria," jelas Aska.


"Kamu itu ada-ada saja. Aku sangka kalian keluar dan berjalan-jalan," ucap Stefani.


"Memangnya ada apa Nek? Sebelum berbenah aku sedang mencari nenek. Nenek sedang berduaan sama kakek. Jadi aku putuskan untuk tidak mengganggu kalian," sahut Maria yang berkata dengan jujur.


"Ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa. Lebih baik kalian beristirahat lagi. Bukannya besok kalian berangkat ke Jakarta?" tanya Stefani dengan lembut.


"Iya sih Nek. Tapi aku mengambilnya pada malam hari," jawab Aska.


"Apakah kamu tidak memakai pesawat pribadimu itu?" Tanya Christina.


"Besok aku pakai untuk menuju ke Jakarta. Kemungkinan besar aku di Jakarta agak lamaan sedikit," jawab Aska.


"Pergilah kalian bersenang-senang Ibu tahu kalau kalian ingin sekali pergi ke Bali setelah urusannya selesai," jelas Christina.

__ADS_1


"Ya Bu. Sebenarnya aku sendiri belum pernah ke Bali. Bisa dikatakan pada waktu itu aku tidak memiliki uang apapun. Jujur setelah aku sukses nanti, aku memutuskan untuk mengunjungi Bali dan berkeliling dari satu ke tempat lainnya," sahut Aska dengan jujur.


__ADS_2