
“Ayo ikut saja,” ajak Aska.
Aska menggandeng tanngan Maria sambil membuka pintu. Saat membuka
pintu, Aska melihat ada Romeo yang sudh
berdiri tegak sambil melihat dirinya dan Aska.
“Apakah kamu enggak malu?” tanya Romeo sambil memandang wajah
Maria.
“Ada apa memangnya?” tanya Aska balik.
“Itu warna merah di leher Maria masih terlihat jelas,” jawab Romeo
yang meledek Aska.
“Apa?” pekik Maria sambil masuk ke dalam dan mencari slayer.
Jujur saja Maria malu sekali ada tanda merah membekas di lehernya.
Ia tidak menyangka kalau dirinya menjadi bahan ledekkan dari Romeo. Hingga
akhirnya ia memutuskan untuk menutupi tanda merah itu memakai bedak yang tebal.
“Ada apa?” tanya Aska.
“Tuan Frank ingin bertemu dengan kamu,” jawab Romeo.
“Baiklah. Tunggu Maria sebentar,” ucap Aska yang meminta Romeo
menunggunya.
Sekesai menyembunyikan tanda merah, akhirnya Maria keluar dan
mendekati mereka. Mereka akhirnya pergi meningglkan kamar itu lalu menuju ke
suatu tempat. Saat perrjalanan menuju ke sana Romeo berkata, “Jamaludin mulai
bergerak.”
“Baguslah.Aku ingin melihat pergerakan itu orang,” ujar Aska dengan
santai.
Maria bingung dengan pernyataan Aska. Bagaimana bisa Aska
mengatakan ini semuanya dengan santai? Sementara musuh mulai bergerak dengan
cepat. Maria akhirnya menjadi gelisah dan menatap wajah Aska sambil menggeram.
Saat Aska diperhatikan oleh Maria, Aska malah tersenyum konyol. Ia
tahu kalau Maria sangat khawatir dengan keadaanya. Namun Aska harus menghadapi
Jamaludin cepat atau lambat.
“Bagaimana dengan papa dan kakek?” tanya Aska yang masuk ke dalam
lift bersama Maria.
Lalu Romeo mengikuti Aska untuk masuk ke dalam dan menjelaskan apa
yang terjadi setelah ini, “Rencana Tuan Frank akan membuat pertemuan antara
Nyonya Stefanie, Nyonya Christina dan Tuan Damian.”
“Cepat sekali pertemuannya. Aku kira dilakukan di suatu tempat,”
celetuk Aska.
“Sudah engak ada waktu. Jamaludin akan merebut semuanya. Jika pihak
kami tidak melakukan pertemuan pada pagi ini. Cepat atau lambat Jamaludin akan
menyerang,” jelas Romeo.
“Baiklah,” ucap Aska yang
membuat Maria paham.
Ting.
Pintu lift terbuka.
__ADS_1
Mereka akhirnya menuju ke suatu ruangan khusus di hotel terseebut.
Sesamoainya di sana banyak sekali yang berjaga di depan pintu. Mereka adalah
anggota Blue Diamond. Mereka sudah tahu kalau yang adatang adalah Romeo dan
Aska bersamma Maria.
Mereka membukakan pintu dan mempersilakan masuk ke dalam. Metreka
melangkahkan kakinya sambil mendekati seorang pria yang berdiri tegak melihat
pemandangan di luar dari balik jendela.
“Tuan,” panggil Romeo.
“Keluarlah,” suruh Adrian yang ternyata duduk di sana.
Romeo segera membungkukkan badanya dan keluar dari sana. Mereka
terdiam dan tanpa banyak bicara. Setelah mendapat perintah untuk pergi dari
sana, Romeo bergegas menuju ke Frank. Karena dirinya akan mendapatkan sebuah
perintah penting yang harus dilaksanakan yaitu menjemput Damian.
Melihat kepergian Romeo, Aska langsung bertanya, “Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Ayah ingin memberitahukan, siaapa diri ayah
sebenarnya,” jawab Adrian.
“Ayahkan polisi. Lalu kenapa ayah ingin memberitahukan sesuatu.
Jangan aneh dech yah,” ucap Aska dengan santai.
“Ayah mggak aneh. Sudah saatnya kamu tahu siapa diri ayah
sebenarnya. Begitu juga dengan paman kamu Frank,” jelas Adrian.
“Maksud ayah apa? Apakah ayah sakit?” tanya Aska yang mulai curiga.
“Enak saja kamu!” geram
Adrian yang tidak terima dikatakan sakit.
“Sebentar lagi Agard Group akan menghancurkan Wicaksono Groups,”
jawab Adrian.
“Apa?” pekik Aska dan Maria secara bersamaan.
“Iya. Dan kamu akan menjadi kendalinya saat menghancurkan Wicaksono
Group,” tambah Adrian yang tidak paham apa yang dimalsud oleh Adrian.
Beberapa saat kemudian datang Christina bersama Helen, Mereka
berdua duduk dan sambil melihat Maria. Kemudian mereka tersenyum dan
mengacungkan jempolnya ke arah Aska.
Aska semakin bingung apa yang dilihatnya itu. Ia memndang wajah
sang ibu sambil bertanya, “Ada apa sih? Kok jadi aneh ini?”
“Jangan dengarkan ibumu terlebih dahulu. Kaamu harus mendengarkan
papa sebenarnya,” pinta Adrian.”
“Ada apa?” tanya Aska yang semakin bingung.
“Apakah kamu tahu perusahaan Agard Group Internatiaol?” tanya
Adrian yang membuat Aska bertanya-tanya.
“Setahuku Agard Groups adalah sebuah perusahaan raksasa di dunia.
Yang aku tahu adalah perusahaan itu memiliki pusat perbelanjaan di negara
Indonesia di beberapa kota besar,” jawab Aska.
“Jika kamu tahu siapa pemilik pusat perbelanjaan itu?” tanya Adrian
yang membuat pertanyaan.
__ADS_1
“Jujur aku tidak tertarik mmencari informasi siapa pemilik pusat
perbelanjaan itu. Yang aku tahu di sana orang-orangnya banyak berbelanja,”
jelas Aska yang membuat mereka menggelengkan kepalanya.
“Aish... Semua pusat perbelanjaan itu yang sengaja berdiri di sana
adalah milik kamu,” tambah Adrian.
Bingunglah Aska saat ini. Aska dan Maria langsung terdiam dan
meninggalkan sejumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.
“Ayah... aku hanya ini ahli waris sesungguhnya di Wicaksono Group,”
rajuk Aska yang selalu mendapatkan pernyataan dari Adrian.
“Terus, apa salahnya buat kamu?” tanya Adrian yang menggelengkan
kepalanya karena paham dengan sikap Aska.
“Yang dikatakan oleh ayahnu benar,” sahut Frank bersama Stefanie.
“Aku taambaah bingung apa yang dikatakan oleh kalian,” ucap Aska
yang membuat Frank tersenyum manis.
“Ya... kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,” celetuk Frank
yang membuat Aska menghembuskan nafasnya secara kasar. “Habis gini kamu
bergabung dengan Agard terlebih dahulu.”
“Terserah paman dan ayah.Aku sekarang pasrah melihat keadaaanku
sekarang,” ucap Aska dengan pasrah.
“Cucuku... kamu enggak boleh pasrah dengan kenyataan. Kamu harus
melakukannya demi kesejahteraaan seluruh karyawan yang menggantungkan pada
Wicaksono Group,” ujar Stefanie.
“Baiklah,” balas Aska yang memilih diam.
Tidak sengaja tangan Stefanie memegang pundak Christina. Aska yang
tidak ingin menangis melihat pertemuan itu, akhirnya menyurruh Adrian unutk
menemaninya keluar.
“Ayah, temani aku,” ajak Aska.
Adrian yang mengerti apa yang akan terjadi setelah ini akhirnya mau
menemani Aska keluar. Adrian sengaja mengajak Aska pergi meninggalkan ruangan
itu demi menuju ke roftoop hotel ini. Sedangkan Christina meelihat putra dan
anaknya pergi bertanya, “Ada apa?”
“Kami ingin mencari angin demi meenyegarkaan tubuh ini. Karena kami
sedang kegerahan,” balas Aska.
Mereka akhirnmya pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara
Christina menganggukan kepalanya sambil mengegerutu, “Anak dan ayah sama saja.”
Frank tersenyum melihat adik iparnya menggerutu. Lalu menghembuskan
nafassnya dengan kasar. Ia sebenarnya ingin pergi dari sini karena tidak ingin
melihat drama sang ibu dan anak menangis. Jujur mereka sudah tidak bertemu
sejak lama.
“Nak,” panggil Stefanie.
Sebuah panggilan nak yang membuat Christina sadar. Ia lalu menoleh
melihat Stefanie dan terdiam. Air matanya Christina mulai mengalir deras. Ia
seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Apakah ia bermimpi saat melihat sang
__ADS_1
mamanya masih berdiri tegak dan merentangkan kedua tangannya. Christina
langsung mendekati Stefanie sambil berkata, “Mama.”