Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Pergi Dahulu.


__ADS_3

“Ayo ikut saja,”  ajak Aska.


Aska menggandeng tanngan Maria sambil membuka pintu. Saat membuka


pintu, Aska  melihat ada Romeo yang sudh


berdiri tegak sambil melihat dirinya dan Aska.


“Apakah kamu enggak malu?” tanya Romeo sambil memandang wajah


Maria.


“Ada apa memangnya?” tanya Aska balik.


“Itu warna merah di leher Maria masih terlihat jelas,” jawab Romeo


yang meledek Aska.


“Apa?” pekik Maria sambil masuk ke dalam dan mencari slayer.


Jujur saja Maria malu sekali ada tanda merah membekas di lehernya.


Ia tidak menyangka kalau dirinya menjadi bahan ledekkan dari Romeo. Hingga


akhirnya ia memutuskan untuk menutupi tanda merah itu memakai bedak yang tebal.


“Ada apa?” tanya Aska.


“Tuan Frank ingin bertemu dengan kamu,” jawab Romeo.


“Baiklah. Tunggu Maria sebentar,” ucap Aska yang meminta Romeo


menunggunya.


Sekesai menyembunyikan tanda merah, akhirnya Maria keluar dan


mendekati mereka. Mereka akhirnya pergi meningglkan kamar itu lalu menuju ke


suatu tempat. Saat perrjalanan menuju ke sana Romeo berkata, “Jamaludin mulai


bergerak.”


“Baguslah.Aku ingin melihat pergerakan itu orang,” ujar Aska dengan


santai.


Maria bingung dengan pernyataan Aska. Bagaimana bisa Aska


mengatakan ini semuanya dengan santai? Sementara musuh mulai bergerak dengan


cepat. Maria akhirnya menjadi gelisah dan menatap wajah Aska sambil menggeram.


Saat Aska diperhatikan oleh Maria, Aska malah tersenyum konyol. Ia


tahu kalau Maria sangat khawatir dengan keadaanya. Namun Aska harus menghadapi


Jamaludin cepat atau lambat.


“Bagaimana dengan papa dan kakek?” tanya Aska yang masuk ke dalam


lift bersama Maria.


Lalu Romeo mengikuti Aska untuk masuk ke dalam dan menjelaskan apa


yang terjadi setelah ini, “Rencana Tuan Frank akan membuat pertemuan antara


Nyonya Stefanie, Nyonya Christina dan Tuan Damian.”


“Cepat sekali pertemuannya. Aku kira dilakukan di suatu tempat,”


celetuk Aska.


“Sudah engak ada waktu. Jamaludin akan merebut semuanya. Jika pihak


kami tidak melakukan pertemuan pada pagi ini. Cepat atau lambat Jamaludin akan


menyerang,” jelas Romeo.


“Baiklah,”  ucap Aska yang


membuat Maria paham.


Ting.


Pintu lift terbuka.

__ADS_1


Mereka akhirnya menuju ke suatu ruangan khusus di hotel terseebut.


Sesamoainya di sana banyak sekali yang berjaga di depan pintu. Mereka adalah


anggota Blue Diamond. Mereka sudah tahu kalau yang adatang adalah Romeo dan


Aska bersamma Maria.


Mereka membukakan pintu dan mempersilakan masuk ke dalam. Metreka


melangkahkan kakinya sambil mendekati seorang pria yang berdiri tegak melihat


pemandangan di luar dari balik jendela.


“Tuan,” panggil Romeo.


“Keluarlah,” suruh Adrian yang ternyata duduk di sana.


Romeo segera membungkukkan badanya dan keluar dari sana. Mereka


terdiam dan tanpa banyak bicara. Setelah mendapat perintah untuk pergi dari


sana, Romeo bergegas menuju ke Frank. Karena dirinya akan mendapatkan sebuah


perintah penting yang harus dilaksanakan yaitu menjemput Damian.


Melihat kepergian Romeo, Aska langsung bertanya, “Ada apa?”


“Tidak apa-apa. Ayah ingin memberitahukan, siaapa diri ayah


sebenarnya,”  jawab Adrian.


“Ayahkan polisi. Lalu kenapa ayah ingin memberitahukan sesuatu.


Jangan aneh dech yah,” ucap Aska dengan santai.


“Ayah mggak aneh. Sudah saatnya kamu tahu siapa diri ayah


sebenarnya. Begitu juga dengan paman kamu Frank,” jelas Adrian.


“Maksud ayah apa? Apakah ayah sakit?” tanya Aska yang mulai curiga.


“Enak saja kamu!”  geram


Adrian yang tidak terima dikatakan sakit.


“Sebentar lagi Agard Group akan menghancurkan Wicaksono Groups,”


jawab Adrian.


“Apa?” pekik Aska dan Maria secara bersamaan.


“Iya. Dan kamu akan menjadi kendalinya saat menghancurkan Wicaksono


Group,” tambah Adrian yang tidak paham apa yang dimalsud oleh Adrian.


Beberapa saat kemudian datang Christina bersama Helen, Mereka


berdua duduk dan sambil melihat Maria. Kemudian mereka tersenyum dan


mengacungkan jempolnya ke arah Aska.


Aska semakin bingung apa yang dilihatnya itu. Ia memndang wajah


sang ibu sambil bertanya, “Ada apa sih? Kok jadi aneh ini?”


“Jangan dengarkan ibumu terlebih dahulu. Kaamu harus mendengarkan


papa sebenarnya,” pinta Adrian.”


“Ada apa?” tanya Aska yang semakin bingung.


“Apakah kamu tahu perusahaan Agard Group Internatiaol?” tanya


Adrian yang membuat Aska bertanya-tanya.


“Setahuku Agard Groups adalah sebuah perusahaan raksasa di dunia.


Yang aku tahu adalah perusahaan itu memiliki pusat perbelanjaan di negara


Indonesia di beberapa kota besar,” jawab Aska.


“Jika kamu tahu siapa pemilik pusat perbelanjaan itu?” tanya Adrian


yang membuat pertanyaan.

__ADS_1


“Jujur aku tidak tertarik mmencari informasi siapa pemilik pusat


perbelanjaan itu. Yang aku tahu di sana orang-orangnya banyak berbelanja,”


jelas Aska yang membuat mereka menggelengkan kepalanya.


“Aish... Semua pusat perbelanjaan itu yang sengaja berdiri di sana


adalah milik kamu,” tambah Adrian.


Bingunglah Aska saat ini. Aska dan Maria langsung terdiam dan


meninggalkan sejumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.


“Ayah... aku hanya ini ahli waris sesungguhnya di Wicaksono Group,”


rajuk Aska yang selalu mendapatkan pernyataan dari Adrian.


“Terus, apa salahnya buat kamu?” tanya Adrian yang menggelengkan


kepalanya karena paham dengan sikap Aska.


“Yang dikatakan oleh ayahnu benar,” sahut Frank bersama Stefanie.


“Aku taambaah bingung apa yang dikatakan oleh kalian,” ucap Aska


yang membuat Frank tersenyum manis.


“Ya... kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,” celetuk Frank


yang membuat Aska menghembuskan nafasnya secara kasar. “Habis gini kamu


bergabung dengan Agard terlebih dahulu.”


“Terserah paman dan ayah.Aku sekarang pasrah melihat keadaaanku


sekarang,” ucap Aska dengan pasrah.


“Cucuku... kamu enggak boleh pasrah dengan kenyataan. Kamu harus


melakukannya demi kesejahteraaan seluruh karyawan yang menggantungkan pada


Wicaksono Group,” ujar Stefanie.


“Baiklah,” balas Aska yang memilih diam.


Tidak sengaja tangan Stefanie memegang pundak Christina. Aska yang


tidak ingin menangis melihat pertemuan itu, akhirnya menyurruh Adrian unutk


menemaninya keluar.


“Ayah, temani aku,” ajak Aska.


Adrian yang mengerti apa yang akan terjadi setelah ini akhirnya mau


menemani Aska keluar. Adrian sengaja mengajak Aska pergi meninggalkan ruangan


itu demi menuju ke roftoop hotel ini. Sedangkan Christina meelihat putra dan


anaknya pergi bertanya, “Ada apa?”


“Kami ingin mencari angin demi meenyegarkaan tubuh ini. Karena kami


sedang kegerahan,” balas Aska.


Mereka akhirnmya pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara


Christina menganggukan kepalanya sambil mengegerutu, “Anak dan ayah sama saja.”


Frank tersenyum melihat adik iparnya menggerutu. Lalu menghembuskan


nafassnya dengan kasar. Ia sebenarnya ingin pergi dari sini karena tidak ingin


melihat drama sang ibu dan anak menangis. Jujur mereka sudah tidak bertemu


sejak lama.


“Nak,” panggil Stefanie.


Sebuah panggilan nak yang membuat Christina sadar. Ia lalu menoleh


melihat Stefanie dan terdiam. Air matanya Christina mulai mengalir deras. Ia


seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Apakah ia bermimpi saat melihat sang

__ADS_1


mamanya masih berdiri tegak dan merentangkan kedua tangannya. Christina


langsung mendekati Stefanie sambil berkata, “Mama.”


__ADS_2