Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Ternyata Masih Sama.


__ADS_3

Suara bariton itu mengingatkan pada seseorang. Erna teringat akan seseorang yang di mana pernah disakitinya dan dibullynya secara habis-habisan. Ia teringat ada satu nama yang tersebar di dalam otaknya itu. Ya... nama itu adalah Aska. Sejenak Erna mengenyahkan nama itu dari dalam otaknya. Tidak mungkin suara Aska berada di sini.


Dia membeku adalah ciri khasnya ketika sudah ketahuan. Aska sudah tahu betul sifat Erna seperti itu. Ditambah lagi sifat mengelaknya itu tidak pernah hilang sama sekali. Itulah dua sifat yang mendominasi di dalam tubuh Erna.


"Dua sifat saling dibutuhkan di dalam diri kamu yaitu membeku dan mengelak. Dua sifat itu memang mendominasi dalam tubuhmu. Bahkan semua orang sudah tahu kalau kamu memiliki sifat seperti itu. Tak salah lagi kamu adalah ratu drama di sekolah SMP maupun SMA. Ditambah lagi kamu memiliki keburukan yaitu suka membully orang-orang yang lemah. Rasanya jika ingat masa lalu itu membuat aku jadi trauma dan sakit hati. Apakah kamu masih ingat aku? Apa kamu masih ingat pria kecil yang kamu bully ketika sekolah dahulu? Apa kamu ingat pria kecil yang tidak memiliki apa-apa saat sekolah dan memakai baju lusuh? Jika kamu tidak ingat, maka ingatanmu sangat buruk sekali. Biasanya kamu ingat soal keburukan seseorang dan membicarakannya. Lalu kamu ingin membully habis-habisan Jika bertemu. Jika kamu ingat, Kenapa kamu tidak membullyku?" tanya Aska yang membalikan badannya sambil melihat Erna yang seperti orang kehabisan bahan pembicaraan.


Erna terkejut dengan apa yang dilihatnya itu. Dirinya tidak menyangka pria yang berdiri di situ adalah teman sekolahnya di zaman SMP dan SMA. Ia kerap membully Aska habis-habisan ketika sedang lewat di bahkan seluruh sekolah sering menjulukinya ratu drama. Jika ada yang melawan Erna akan semakin menjadi. Tidak ada yang mau menghentikannya. Dikasih surat peringatan pun tidak mempan sama sekali. Karena Erna adalah pemilik yayasan yang menaungi dua sekolah itu.


"Kenapa kamu tidak berani membullyku sekarang? Lakukanlah hingga aku trauma lagi!" perintah Aska.


Satu kata buat Erna adalah diam. Erna masih bertanya-tanya Kenapa dirinya bertemu Aska di saat begini. Dan kenapa juga Aska terlalu ikut campur dalam masalah ini?


"Lu siapa? Kenapa lu ada di sini? Kenapa lu ikut campur dalam masalah gue?" tanya Erna tanpa takut melawan Aska.


"Pertanyaanmu tidak sopan kepada pemilik perusahaan ini. Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarkan berbicara dengan sopan? Di dalam perusahaan tidak boleh ada yang mengucapkan gue lo gue lo. Karena panggilan itu hanya ditujukan untuk teman-teman kamu. Ah iya... Perkenalkan dia adalah putra saya yaitu Aska Emanuel Adrian Wicaksono. Sepertinya kalian sudah saling mengenal ya?" tanya Christina sambil menjelaskan siapa Aska itu.


Mendengar penjelasan Christina, Erna sangat terkejut sekali. Pria dekil itu dan kotor telah menjelma sebagai seorang pangeran tampan. Memang Aska adalah pria tampan. Yang di mana ketampanan itu tidak pernah ditonjolkan dalam dirinya.

__ADS_1


Erna terpaku sesaat dan memuji ketampanan Aska. Akan tetapi Aska tidak memperdulikan soal itu. Bahkan Aska sudah berjanji akan menikahi Maria. Otomatis sekarang dirinya sudah menjadi calon suami Maria.


"Kamu kenapa terpaku dalam bangunanmu seperti itu? Apakah kamu terkejut sama aku? Pria dekil dan lusuh yang telah kamu sakiti secara verbal. Lalu kamu mencoba melirikku diam-diam. Ck... Jangan harap kamu mendekatiku dan meminta-minta menjadi seseorang yang penting dalam hidupmu," ejek Aska sambil membaca pikiran Erna.


"Kenapa dia tahu isi kepalaku ini? Sedangkan aku tidak akan mengutarakannya. Aku harap bisa menjadi suamiku di masa depan. Kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulutnya. Ya... Aku tersakiti. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan pria itu adalah pemilik perusahaan ini. Dilihat dari wajahnya memang sangat mirip sekali," ujar Erna dalam hati.


"Hei kau melamun! Kita tidak akan membahas soal itu! Karena di area ini adalah kantor. Aku ingin membahas tentang beberapa poin yang telah kamu buat," ucap Aska dengan nada datarnya.


Christina sang ibu sangat terkejut sekali pada perubahan Sang putra. Jujur Aska sangat tegas dan mengingatkan pada sang suami Adrian. Ia sangat rindu pada suaminya itu.


"Dia memang Putraku. Lalu, jawablah pertanyaan dari Putraku itu! Kenapa kamu malah memilih diam? Apakah kamu takut jika rahasiamu terbongkar?" Perintah Christina pada Erna.


"Enggak... Itu nggak bener sama sekali. Kamu bohong. Jangan lakukan itu padaku,'' jawab Erna yang menutup telinganya dan menggelengkan kepalanya sambil menjerit ketakutan.


Entah kenapa akan merasakan kalau Erna sedang berakting. Sepertinya pria bertubuh kurus itu kalau Erna sedang memerankan sebuah drama Wanita tersakiti. Namun asal langsung membacanya dan hanya melihatnya saja.


Tiba-tiba saja Romeo berdiri sambil membawa map tentang sepak terjang Erna di perusahaan ini. Pria itu memang tidak pernah peduli dengan sikap dan sifat karyawan di perusahaan ini.

__ADS_1


Mau main drama, bawang-bawangan, mengelak dan memasang wajah tanpa berdosa sama sekali. Cara itu tidak akan membantu wajah Romeo. Romeo Malang tertawa mengejek sambil berkata, "Janganlah kamu membuat drama seperti itu! Karena aku adalah orang yang kejam di sini! Syukurlah Tuan mudaku sudah memberitahukan siapa kamu sebenarnya? Jadi aku tidak mempercayaimu kali ini," ejek Romeo.


"Apakah kamu masih mengelak soal beberapa poin penting? Jika kamu masih mengelak berarti anda hebat bisa keluar dari kandang singa dengan selamat," tambah Aska hingga membuat Erna tidak berkutik sama sekali.


"Sekarang aku tanya, Kenapa kamu melakukan itu pada perusahaanku? Bukankah kamu ingin membantu perekonomian keluargamu yang bangkrut akibat ulahmu sendiri?" tanya Aska lagi.


"Semua jelas ada di map ini. Semua kejahatanmu terekam di sini. Meskipun kamu sobek aku tetap saja bisa menemukannya. Karena lebih mudah mencari jejak digital kamu. Masih mengelak lagi?" tanya Romeo sambil membuang map itu di hadapannya.


Romeo dan Aska melihat gerak-gerik Erna yang sudah tidak berkutik lagi. Kedua pria itu tersenyum mengejek. Lalu Christina memutuskan untuk berdiri sambil mendekati Erna. Jujur Wanita itu sangat geram karena kelakuan Erna.


Bukankah di sini sudah memiliki banyak fasilitas yang dinikmati? Akan tetapi Erna telah menyia-nyiakan fasilitas tersebut. Dengan senyum kecutnya Christina berkata, "Selama ini aku memiliki banyak sekretaris tidak seperti kamu. Mereka sangat patuh dengan peraturan-peraturan perusahaan. Mereka juga tidak pernah berkhianat seperti itu. Jika mereka sudah bosan bekerja di sini. Mereka akan berhenti sendiri dan mencoba bekerja di perusahaan lainnya. Rata-rata mereka tidak ingin keluar dari Karena perusahaan ini sudah menyediakan fasilitasKarena perusahaan ini sudah menyediakan fasilitas untuk seluruh karyawan. Dan kamu kenapa menghianati aku? Kenapa menyakiti aku secara terang-terangan dengan mengganti beberapa poin itu? Aku nggak mau memiliki karyawan penghianat sepertimu. Sepak terjang mu sudah aku baca semuanya. Ternyata selain membully Putraku, kamu masih membully para karyawan yang lemah di sini? Kamu tahu kan kalau di sini bekerja dengan sistem kekeluargaan. Saling membutuhkan satu sama lain dan saling tolong-menolong. Aku sangat menyayangkan itu."


"Kamu bekerja sama dengan siapa? Katakanlah padaku Kenapa kamu melakukannya? Aku tahu keluargamu memiliki masalah berat. Tapi kenapa kamu melakukan hal itu? Bukankah menjadi penghianat itu tidak dipercaya orang lagi? Sekarang jawablah pertanyaanku!" tegas Aska.


Dari tadi Erna memutuskan untuk tidak bicara sedikitpun. Ia tidak jujur dan membuang wajahnya. Terlihat jelas kalau wajah itu menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan. Dirinya tidak akan mengatakan kepada siapapun.


"Jika kamu masih diam saja, aku akan mencari pelakunya. Dalam waktu beberapa jam ke depan aku bisa membuka siapa orang itu sebenarnya. Hanya dengan melacak nomor telepon milikmu itu. Jangan kamu kira aku di desa hanya pria culun. Karena di desa mentalku dan ragaku semuanya digembleng menjadi pria yang tidak takut akan sesuatu hal. Sekarang aku tanya siapa pelaku utamanya? Atau jangan-jangan," tanya Aska sambil melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Jujur aku sangat bosan menghadapi masalah ini. Seharusnya orang itu jujur malah mengulur waktuku hingga habis. Sudah hampir satu jam dia tidak berkata apa-apa. Hanya tinggal Jujur saja dia pasti mendapatkan keringanan hukuman. Kalau begini aku bisa mengambil keputusan dengan cepat!" geram Romeo yang membuat Aska menggelengkan kepalanya.


"Cepat katakanlah! Jangan diam saja seperti patung!" Bentak Aska yang sudah bosan menghadapi situasi seperti ini.


__ADS_2