Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Jadwal Kerja hari Ini.


__ADS_3

Pagi yang cerah di kota Jakarta. Aska mulai terbangun dari tidurnya. Ia meraba sampingnya untuk memegang tangan Maria. Akan tetapi dirinya tidak menemukan sama sekali.


"Lha, kemana Maria?"


Tanya Aska yang beranjak dari tidurnya.


Aska segera memakai bajunya lalu keluar dari kamar. Ia segera mencari keberadaan Maria namun tidak menemukannya.


"Kamu lagi nyari siapa?"


Tanya Max yang memakai baju olahraga.


"Nyari Maria."


Jawab Aska yang kebingungan mencari keberadaan sang istri.


"Ke pasar bersama beberapa pengawal."


Jawab Max yang tersenyum manis.


"Hmmmp... Kok ke pasar sih?"


Tanya Aska yang memegang dagunya.


"Lha... Mau pergi ke pusat perbelanjaan jam segini sepi banget."


Jawab Max yang memasukkan kedua tangannya di kantong celananya.


"Bukan itu maksudku. Dia pergi sendiri."


Ucap Aska yang membuat Max membulatkan matanya.


"Lama-lama kamu menjadi bucin ya?"


Tanya Max yang meledek Aska.


"Aku enggak bucin. Aku kasihan saja pada Maria. Karena dia sedang hamil."


Jawab Aska yang memberitahukan kabar berita ini ke Max.


"Benar juga sih."


Ujar Max.


"Kita sudah lama tidak latihan fisik. Mumpung matahari belum datang. Lebih baik kita latihan fisik."


Sahut Max yang membuat Aska yang menganggukan kepalanya.


"Benar juga. Mumpung di depan tidak ada orang lewat."


Balas Aska yang masuk ke dalam ke kamar. Saat itu juga Aska langsung mengganti pakaiannya menjadi pakaian olahraga. Selesai mengganti pakaian, Aska bersama Max pergi ke halaman depan. Mereka melihat sudah mulai ramai orang dan berlalu lalang.


Mereka saling berhadapan lalu membungkukkan badannya. Namun sebelum melakukan latihan, Max memberikan perintah untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Mereka mengelilingi rumah sebanyak dua puluh kali. Pertama kali saat berlari, tiba-tiba saja Maria datang. Wanita berparas cantik itu membawa bubur ayam. Ia berteriak sambil mendekati Aska yang berlari.


"Bang."


"Apa neng?"


Tanya Aska.


"Hmmp... Tadi aku membeli bubur ayam. Rasanya adik bayinya ingin makan bareng Abang."


Jawab Maria sambil membuat Aska matanya berbinar.


Jujur saja, Aska yang niatnya latihan akhirnya menarik tangan Maria. Ia mengajak sang istri itu masuk.


Sementara Max yang melihat Aska berbelok ke dalam rumah, hanya bisa menghembuskan nafasnya. Bisa-bisanya Aska malah melupakan pemanasannya terlebih dahulu.


"Aish... ini anak?"


Kesal max terhadap Maria lalu berhenti berlari.


Dari berlawanan arah, Romeo yang membawa paper bag langsung mendekati Max. ia tidak sengaja melihat wajah Max yang kesal.


"Kamu kenapa?"


Tanya Romeo.

__ADS_1


"Pagi ini aku mengajak Aska latihan fisik. Aku memberikan sebuah perintah untuk pemanasan lari sebanyak dua puluh keliling. Baru putaran pertama, Maria sudah memanggilnya."


Jawab Max.


Romeo menggelengkan kepalanya sambil mengajaknya masuk. Namun Max menolaknya dan menunggu Aska selesai makan.


"Haduh Max... ketimbang kamu menunggu Aska makan bubur ayam. Aku akan memberikan kamu satu bungkus nasi uduk Pak Madun. Isinya komplit sekali."


Ucap Romeo yang merayu Max.


Mendengar nama nasi uduk Pak Madun, Max langsung bersemangat. Ia langsung menarik tangan Max untuk masuk ke dalam.


"Mau mengadakan latihan fiksi malah kesini."


Ucap Max sambil membuat Romeo terkekeh.


"Ya... sudah sekali-sekali kita makan nasi uduk dulu. Baru latihan fisik."


Sahut Romeo yang mengajak Max.


Terpaksa mereka sarapan terlebih dahulu. Sedangkan Aska sedang berada di dapur. Mereka sedang menikmati bubur ayam di pagi hari.


"Rasanya bubur ayam ini sangat enak sekali."


Puji Aska ke Maria.


"Ya... memang enak. Aku sengaja menginap kesini untuk membeli bubur ayam ini."


Ucap Maria dengan jujur.


"Berarti kamu kesini pasti ada maunya."


Ujar Aska yang menatap Maria dengan lembut.


"Yupz... aku memang ingin makan bubur ayam ini. "


Sahut Maria yang tidak sengaja melihat baju Aska sudah berganti dengan olahraga.


"Abang mau kemana? Apakah Abang ingin pergi ke Senayan?"


"Aku tidak kemana-mana. Aku ingin latihan fisik."


Jawab Aska.


"Oh... berarti aku ganggu ya?"


Tanya Maria yang bingung.


"Enggak neng. Kan Eneng sekarang menjadi prioritas abang."


Jawab Aska yang memang sengaja Maria menjadi nomor satu.


"Kenapa neng menjadi prioritas abang?"


"Kan Eneng sudah jadi istri Abang. Jadi wajar kalau neng sekarang menjadi nomor satu."


"Eh... si Abang... kalau ditanya seperti itu. Bilang saja Abang cinta sama Eneng?'


Aska menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis. Ia memang sengaja tidak mengatakan cinta kepada Maria. Namun kasih sayangnya sangat besar sekali kepada Maria.


Beberapa saat kemudian datang Romeo sambil membawa tabnya. Ia masuk ke dalam dapur sambil menatap Maria dan Aska. Ia lalu memandang mendekati Aska sambil berkata, "Nanti setelah jam istirahat akan ada rapat para pemegang saham Aska Food."


"Oh.. iya... aku melupakan akan hal itu."


Sahut Aska sambil meminum air.


"Apakah lama bang?"


Tanya Maria yang tidak mau ditinggal sendirian.


"Paling lama lima jam."


Jawab Aska.


"Kalau begitu aku pulang lagi ke apartemen ibu saja."


Ucap Maria yang sedikit kecewa.


"Ya... seharusnya kamu disana."

__ADS_1


"Apakah aku perlu panggil Sheila?"


Tanya Romeo.


"Boleh. Aku sangat merindukannya."


Jawab Maria dengan serius.


"Kemarin Sheila enggak ikut ya?"


Tanya Aska.


"Bapaknya lagi sakit. Jadi dia mengundurkan diri sejenak lalu masuk lagi."


Jawab Romeo dengan jujur.


"Memang benar. Bapaknya memang sakit. Dia menceritakan kronologinya sama aku. Pengennya sih ingin kesana. Tapi apa mau dikata?"


sambung Maria.


"Malamnya ada jadwal?"


Tanya Aska.


"Ada. Siang ini Paman Frank datang ke Indonesia. Beliau sedang diutus oleh Tuan Damian untuk membantu kamu membereskan beberapa tikus yang sedang asyik menikmati uang perusahaan."


Jawab Romeo.


"Aku ikut."


Seru Maria dengan semangat.


"Kenapa kamu ingin ikut?"


Tanya Aska sambil menatap wajah Maria.


"Aku masih memiliki data-data orang yang masih duduk manis di kursi. Mereka masih satu kelompok dengan Pak Gilang."


Jawab Maria yang tersenyum manis.


"Sepertinya kamu boleh ikut."


Ujar Aska dengan ragu.


"Lebih baik jangan. Kelak akan ada bahaya di depan."


Sahut Romeo.


"Tapi mereka?"


"Mereka apa?"


"Mereka ingin membuat perusahaan Aska Food hancur."


Aska menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis. Ia memegang tangan Maria menenangkannya sejenak.


"Tenang saja. Aku bersama Paman Frank dan kedua asistenku akan menemaniku untuk membuat perhitungan."


jelas Aska.


"Memang sangat mengerikan sekali."


Ucap Maria yang mmperingatkan Aska.


"Lebih mengerikan Paman Frank ketimbang mereka. Sekalinya ada yang tidak bagus. Tidak ada kata maaf lagi."


Imbuh Romeo yang membeberkan sebuah fakta dari Frank.


"Kalau begitu habislah mereka."


Geram Maria.


"Mereka belum habis. Mereka tidak akan mau memakannya."


Jelas Aska yang membuat Maria yang ketakutan.


"Siapa CEO yang menjabat di perusahaan Aska Food?"


Tanya Aska yang belum tahu siapa CEO Aska Food.

__ADS_1


"Memangnya kamu belum tahu?"


Tanya Romeo.


__ADS_2