
"Apakah aku harus cerita siapa diriku sebenarnya? tanya Pak Broto.
"Iya… bapak harus menceritakan, siapa diri bapak sebenarnya?" tanya Pak Ahmad yang penasaran.
"Aku tidak akan menceritakan diriku sekarang. Karena disini banyak mata-mata yang sedang mengincar aku maupun Aska," jawab Pak Broto yang melihat banyak orang yang berkeliaran di sini.
"Maksud bapak?" tanya Pak Ahmad.
"Lain kali saja," jawab Pak Broto yang belum mau membuka identitas sebenarnya.
"Kalau begitu?' tanya Pak Ahmad yang semakin penasaran.
"Ya… dan kamu jangan sekali-sekali membuka identitas kamu sebenarnya. Jika itu terjadi maka aku tidak akan bisa menyelamatkan nyawa kamu. Karena musuh sudah menyelinap masuk ke dalam sini. Aku harap kamu paham apa yang akan terjadi setelah ini," jawab Pak Broto serius mulai meninggalkan Pak Ahmad sendirian.
Pak Ahmad sangat penasaran sekali dengan Pak Broto. Setiap ditanya siapa Pak Broto, pasti jawabannya selalu saja begitu. Entah apa yang dirahasiakan oleh Pak Broto sebenarnya?
"Aku ingin tahu siapa Pak Broto sebenarnya? Sepertinya Pak Broto adalah orang yang sangat berkharisma sekali. Lalu kenapa Pak Broto mengetahui diriku sebenarnya? Apakah penyamaranku sudah terbongkar? Jika sudah terbongkar maka habislah aku. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus mencari Tuan Adrian atau…. ah… sudahlah… misi belum selesai. Aku harus menemui Tuan Adrian," Pak Ahmad memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk menemui Adrian untuk membicarakan hal ini sebenarnya.
Entah kenapa dua orang ini sangat aneh sekali? Pak Ahmad yang orangnya low profile ternyata memiliki segudang rahasia. Sedangkan Pak Broto… Pak Broto sengaja menutupi rahasia sebenarnya. Bahkan lebih pandai ketimbang Pak Ahmad sendiri.
Sesampainya di Jakarta, Romeo membawa Aska ke lab khusus untuk pengecekan produk-produk yang akan dikeluarkan oleh Aska Food International. Mereka memiliki dokter gizi pribadi. Setiap produk yang akan dikeluarkan selalu di cek terlebih dahulu.
"Kita kemana bang?" tanya Aska yang diajak Romeo ke lantai atas.
"Aku akan membawa produk-produk ini ke Fabian bersama timnya. Aku ingin mereka mengecek satu persatu. Aku mulai curiga barang apa yang akan dipakai oleh mereka," jawab Romeo yang membawa satu kardus yang berisi barang palsu.
Aska menuruti apa kemauan Romeo. Ia akhirnya memilih diam tanpa banyak komentar. Sepanjang perjalanan Aska mulai gusar dengan barang yang berada di kardusnya. Bagaimana barang palsu itu mengandung bahan-bahan kimia? Atau juga bahan-bahan yang dipakainya bisa membahayakan organ tubuh manusia. Inilah yang ditakuti oleh Aska.
Di depan pintu Romeo menurunkan kardus itu dan mengambil dompetnya. Ia mengambil satu kartu yang dikhususkan untuk mengakses pintu itu. Memang Romeo sengaja memasang sistem keamanan berlapis-lapis hanya demi mencegah terjadinya orang-orang yang tidak bertanggung jawab masuk sana. Dokter bersama timnya juga harus mengakses kalau keluar masuk di sana.
__ADS_1
"Kenapa harus memakai kartu akses segala? Nggak masuk begitu saja tanpa memakai kartu akses?" tanya Aska.
Romeo membuka pintu itu sambil membawa kardus itu ke dalam dengan diikuti oleh Aska. Selesai masuk ke dalam Romeo membiarkan pintu itu tertutup secara otomatis tanpa ada suara apapun.
"Kasus pencucian data-data tentang kandungan bahan-bahan yang di dalam produk kita sering sekali dicuri. Sebelum kamu masuk, ada satu orang masuk kesini. Dia keluar bertepatan dengan kedatangan Fabian. Fabian nggak tahu kalau orang itu adalah pencuri. Fabian mengira orang itu dari tim sini. Ternyata dia adalah pencuri data yang sengaja menjualnya ke luar negeri. Inilah yang aku takutkan jika orang itu memberikannya ke musuh. Ini sangat mengerikan sekali," jelas Romeo secara rinci.
"Ternyata sangat licik sekali," kesal Aska.
"Iya… kamu tahukan bagaimana musuh bekerja? Mereka mengadaptasi gaya dari film-film action maupun mafia," jawab Romeo yang mengetahui sepak terjang bagaimana sifat musuh sebenarnya.
"Aku harus belajar dengan tentang pola mereka setelah menikah," ujar Aska yang mendapat persetujuan dari Romeo.
"Kamu juga harus belajar bela diri. Kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri. Suatu hari nanti jika bertemu musuh tanpa ada aku, kamu harus mengatasinya sendiri. Aku nggak mau kamu malah dari Maria," saran Romeo yang sudah sampai ke ruangan Fabian.
"Kenapa?" tanya Aska yang sudah pandai bela diri.
"Karena musuh bisa menyerang kapan saja… nggak tahu tempat dan waktu. Itulah pola pikir musuh sebenarnya," jawab Romeo mencari keberadaan Fabian.
Pintu terbuka.
Seorang pria tampan baru saja keluar dari toilet melihat Romeo dan Aska. Pria itu menuju ke tempat kebesarannya lalu duduk sambil menatap satu kardus yang berisi produk-produk Aska Food International.
"Apa ini?" tanya pria itu.
"Ini produk punya Aska," jawab Romeo.
"Oh… kenapa kamu memberikan kepadaku?'' tanya Fabian.
"Ah… rupanya kamu nggak tahu kalau barang-barang mengendap di dalam gudang?" tanya Romeo balik.
__ADS_1
"Bukannya barang yang di gudang sudah berangkat ke Belanda?" tanya Fabian.
"Memang… tapi barang inilah yang berangkat terlebih dahulu," jawab Romeo yang memberikan teka-teki agar Fabian mengerti apa yang dimaksud itu.
"Itu barang kan sudah berangkat. Lalu kenapa kamu memberikan kepadaku? Apa ada yang salah?" tanya pria itu yang mulai kesal kepada Romeo.
"Masa kamu nggak ngerti apa maksudmu?" tanya Romeo. "Barang ini palsu."
"Apakah itu benar?' tanya pria itu menatap wajah Aska seakan meminta penjelasan.
"Ya itu benar. Barang yang kami bawa itu palsu semuanya. Barang inilah berangkat kesama. Barang aslinya entah nggak tahu kemama?" jawab Aska yang membuat pria itu menganggukan kepalanya.
"Jadi selama ini?' tanya pria itu ati.
"Kamu peruma mengecek seluruh barang-barang yang akan keluar dari sini ke distributor maupun konsumen," jawab Aska dengan raut wajah serius.
Seketika pria itu menganga dan tidak percaya apa yang dikatakan oleh Aska. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Jika ini terjadi…."
"Para pelaku di gudang itu sudah tertangkap. Tinggal di atasnya, mereka adalah orang dalam dalam perusahaan ini," jelas Romeo.
"Ini sungguh gila!" geram pria itu. "Apakah orang itu di sekitar kita?"
"Itu benar," jawab Romeo yang menjauh dari pria itu dan menghempaskan bokongnya di sofa.
"Ini masalah gawat buat perusahaan," jawab pria itu.
"Tapi aku sudah mendapatkan siapa saja yang terlibat," ucap Aska.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Lama-lama perusahaan bisa bangkrut karena masalah ini," ujar pria itu yang sedari tadi memandang wajah Aska. "Kasihan Nyonya Christina yang susah sekali membangun perusahaan ini demi putranya yang hilang itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa kehilangan nyonya saat itu. Semoga sang putra bisa ditemukan dengan cepat."
__ADS_1
"Sang putra sudah ditemukan beberapa waktu lalu," celetuk Romeo yang membuat Aska bangga kepada sang ibu.
"Siapakah dia? Aku ingin menemuinya dan mengatakan sesuatu pada pria itu," tanya pria itu.