Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Rencana Serangan Dewan Direksi.


__ADS_3

Aska hanya tertawa mendengar perdebatan antara ayah dan ibunya. Sang ayah mengingatkan masa lalu sang Ibu ketika sedang mengandung dirinya. Namun sang Ibu lupa kapan dirinya pernah mengatakan itu? Yang jelas Aska tidak tahu pasti.


"Sepertinya saat itu aku tidak ada. Makanya aku tidak tahu pasti kapan kalian berbicara seperti itu," ucap Aska.


Adrian segera mematikan tabnya dan memandang wajah sang putra. Dirinya sangat bingung ketika Aska mengatakan seperti itu.


"Kamu itu ada-ada saja. Kalau ayah masih mengingat soal itu. Tapi entah ibumu masih ingat atau tidak?" ujar Adrian yang membuat Christina malas menanggapinya.


Beberapa saat kemudian datang Romeo dengan wajah pucatnya. Ia langsung berbicara tanpa harus memakai basa-basi.


"Maaf tuan. Aku ada perlu dengan Aska," ucap Romeo yang membuat Aska terkejut.


"Ada apa memangnya?" tanya Aska yang curiga kepada Romeo.


"Ikutlah denganku sebentar," ajak Romeo.


Mau tidak mau Aska meminta izin kepada kedua orang tuanya. Lalu Aska mendekati Romeo sambil bertanya dengan berbisik, "Ada apa memangnya?"


"Udah ikut aja. Aku nggak bisa bahas ini di sini. Terutama ada Tuan Damian," jawab Romeo sambil berbisik.


Akhirnya Romeo mengajak Aska keluar dari apartemen. Dirinya mengajak Romeo pergi ke suatu tempat.


Setelah keluar dari apartemen Romeo menuju ke sebuah lift yang berada di ujung jalan dengan diikuti oleh Aska.


Saat mengikuti Romeo, Aska menjadi bertanya-tanya. Ia bingung dengan Romeo lalu menyimpulkan sebuah pertanyaan di dalam otaknya itu. Tanpa banyak bicara Aska masuk ke dalam lift dan meraih ponselnya.


"Buka email kamu," suruh Romeo.


"Memangnya ada apa bang?" tanya Aska.


"Baca semua email yang aku kirimkan kepadamu. Nanti kamu akan paham apa yang akan terjadi saat meeting dewan direksi," jawab Romeo dengan santai.


Aska mengerutkan keningnya sambil mencerna apa yang dikatakan oleh Romeo. Pria bertubuh kurus itu Bun mengingat obrolan tadi bersama kedua orang tuanya. Lalu Aska membuka email tersebut dan membacanya.


Setelah sampai di atas gedung ini, Romeo masih membaca isi email itu. Jujur ia terkejut melihat isi email itu dan tatapannya beralih ke Romeo.


"Memangnya ada apa sih bang?" tanya Aska.

__ADS_1


"Coba kamu perhatikan baik-baik Apa isinya itu?" jawab Romeo.


"Ternyata ada beberapa orang yang ingin menyerang ibu. Aku harus bagaimana ini?Apakah aku harus mencari bukti-buktinya terlebih dahulu untuk kembali menyerang orang-orang itu?" tanya Aska yang mendapatkan sebuah ide.


"Sepertinya kamu harus melakukannya. Itu Sudah kukasih orang-orang yang siapa saja yang ingin menyerang ibumu. Sepertinya akan menarik jika kita beradu argumen sama orang-orang itu dan membuka aibnya di depan umum," jawab Romeo yang menyetujui idenya Aska.


"Jam berapa kita akan ke kantor?" tanya Aska.


"Seperti biasanya. Tapi pas rapat direksi dimulai jam sepuluh," jawab Romeo.


"Gila... Ada 10 orang yang menyerang ibu. Kalau begitu kita bagi dua saja untuk mencari skandal yang telah dibuat oleh mereka. Aku ingin beradu argumen sama mereka!" perintah Aska.


"Kita berangkat jam sembilan saja," sahut Romeo.


Di tempat lain seorang pria paruh baya sedang menikmati teh hijau di halaman belakang rumahnya. Pria itu tersenyum iblis sambil menunggu kedatangan beberapa orang. Beberapa saat kemudian ada seorang wanita paruh baya mendekatinya dengan membawa sarapan paginya.


"Mas," panggil wanita itu.


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya pria itu.


"Tenanglah. Kami selaku dewan direksi akan membuat kejutan untuk Christina. Manajer keuangan sudah memanipulasi tentang algoritma keuangan pada per tiga bulan sekali. Kamu tahu kan nanti apa yang terjadi?" tanya pria itu.


"Aku ingin melihat kehancuran Christina. Begitu juga dengan Aska Food Internasional. Gara-gara Christina usaha ayahku menjadi bangkrut. Untung saja ayahku memiliki kesehatan yang bagus. Jadi ayahku masih bisa menerima kenyataan ini," jawab wanita itu.


"Lihat saja nanti. Hari ini adalah hari penentuan Aska Food akan hancur berkeping-keping. Ditambah lagi Christina tidak memiliki seorang putra. Jadi bisa dipastikan hari ini hari kehancuran Christina," jelas pria itu.


"Kalau begitu aku tunggu beritanya," balas wanita itu.


Siapakah pria itu yang ingin menghancurkan Aska Food? Ditambah lagi seorang wanita muda yang menantikan Christina hancur? Kita tunggu cerita selanjutnya ketika meeting dewan direksi pada siang ini.


Selesai berdiskusi Romeo dan Aska kembali ke penthouse. Mereka tidak menyangka kalau hari ini ada serangan yang tidak diketahui oleh Christina. Untung saja Romeo sudah meletakkan orang-orangnya yang berada di manapun. Meski begitu Romeo harus memberitahukan kepada Aska.


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Dari mana saja kalian? Keluar tidak bilang-bilang," tanya Christina dengan kesal.

__ADS_1


"Maaf Bu. Kami sedang mencari sesuatu untuk dibuat persentasi ketika dewan direksi sedang berkumpul," jawab Aska dengan asal.


Meskipun asal Aska sedang merencanakan sesuatu. Kemudian Aska masuk ke dalam kamar dan mengambil laptopnya.


Melihat Sang putra yang tiba-tiba saja aneh, Christina menatap wajah Romeo. Kemudian Christina mendekati Romeo sambil bertanya, "Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian tidak cerita?"


"Di mana Tuan Damian?" tanya Romeo balik.


"Kamu itu selalu saja mengalihkan perhatian. Memangnya ada apa? Apakah ada hal yang penting untuk saat ini?" tanya Christina dengan serius.


"Di mana Tuan Adrian?" tanya Romeo.


"Ada apa lagi sih? Kamu kenapa sih Romeo? Kok pakai tanya-tanya segala di mana Adrian segala," kesal Christina.


"Lebih Baik Ibu jawab saja," suruh Aska yang baru saja keluar dari kamar sambil membawa laptop.


"Ayahmu berada di kamar. Kakekmu sedang berada di luar sambil menikmati teh hijau," ucap Christina.


"Untunglah tidak ada orang sama sekali. Lebih baik kita panggil ayah saja. Aku ingin berdiskusi sesuatu yang berhubungan dengan meeting dewan direksi," ujar Aska.


"Ngapain kamu panggil-panggil aku Aska?" tanya Adrian yang baru saja datang.


"Lebih baik kita duduk saja. Aku ingin kita berdiskusi," pinta Aska.


Kemudian mereka memutuskan untuk duduk di sofa. Di sana Aska memandang wajah kedua orang tuanya terlebih dahulu. Lalu Aska menatap wajah Christina dengan penuh kesedihan.


"Izinkan Aku ikut meeting bersama ibu," pinta Aska sekali lagi.


"Sebenarnya Ibu ingin menyuruhmu beristirahat terlebih dahulu. Dua hari lagi kamu akan menjalani prosesi pernikahan dengan Maria," ucap Christina yang melarang Aska ikut.


"Tapi Bu, ini sangat genting sekali. Ada beberapa orang yang ingin menyerang ibu dan menghancurkan ibu saat ini juga," jelas Aska yang membuat Adrian terkejut.


"Apa maksudmu Aska? Kamu jangan main-main ngomong seperti itu," kesal Adrian.


"Yang dikatakan Aska benar Tuan Adrian. Nyonya Christina sedang dalam masalah besar. beberapa dewan direksi ingin menyerang Nyonya Christina secara bertubi-tubi. Kemungkinan besar jabatan Nyonya tidak aman sama sekali," jelas Romeo.


"Maksud kamu?" tanya Adrian.

__ADS_1


__ADS_2