
“Hehehe... dari dulu aku memang begini
pak,” jawab Aska. “Ini kamar berantakan sekali ya?”
“Ya... begitu dech... Kami memang jarang
sekali atau tidak pernah masuk ke kamar ini. Jika ada ketahuan yang masuk ke
dalam... bisa dipastikan mendapatkan perlakuan yang tidak enak. Bahkan mulut
pedasnya membuat telinga sakit,” jawab Pak Rendy.
“Ya sudah pak... dibersihkan saja kamar
ini. Jadikan kamar tamu. Kelak suatu hari nanti mertuaku akan kesini. Tidak
mungkin aku tempatkan di hotel secara terus-terusan,” ucap Aska yang membuka
semua lemari.
“Baik tuan,” sahut Pak Rendy. “Oh...
iya... apakah orangnya akan kembali kesini?”
“Sudah tidak lagi. Julia sudah mendekam di
penjara,” jawab Aska yang melihat banyaknya dokumen. “Banyak kejahatan yang
sudah dilakukan termasuk mengusir nyonya rumah disini.”
Pak Rendy langsung menundukkan wajahnya.
Ia menitikkan air matanya. Ia adalah sejarah dimana sang nyonya rumah terusir
dari rumah ini. Betapa kejamnya Julia palsu terhadap sang nyonya rumah. Ia
tidak bisa menyelamatkan sang nyonya rumah dari Julia palsu.
“Banyak sekali dokumen-dokumen yang
tertumpuk disini. Huh... ini sangat aneh sekali. Kamar berantakan... sudah kaya
kapal pecah,” keluh Aska yang menaruh dokumen tersebut dengan cara
dilemparkannya.
Pak Rendy akhirnya membersihkan barang-barang
yang berantakan sedikit demi sedikit. Jujur dadanya sangat sesak sekali. Sebab
ia sendiri pernah mendapatkan perlakuan yang tidak enak dan keluarganya
dimaki-maki. Setelah mendengar pernyataan dari Aska, hatinya sangat lega. Ia
bisa bernafas dengan bebas di rumah ini. Tanpa harus mendapatkan
umpatan-umpatan kasar dari Julia palsu.
“Oh... iya... barang-barang yang disini
milik Julia dibuang saja. Aku sudah tidak ingin lagi melihat barang-barang
seperti ini di rumah!” tegas Aska yang memberikan perintah kepada Pak Rendy.
“Baik tuan,” balas Pak Rendy yang
tersenyum lebar.
Setelah mengeluarkan dokumen yang berada
di lemari, Aska mengerutkan keningnya. Ia segera membuka beberapa dokumen dan
membacanya.
Beberapa dokumen memang tidak ada yang
curiga sama sekali. Ia masih nyaman sekali membacanya. Beberapa saat kemudian
Aska melihat satu dokumen yang kertasnya sudah lusuh. Mungkin saja dokumen ini
sudah berusia tua. Bahkan tulisannya menjadi sedikit kabur.
Aska mulai membacanya dan mengerutkan
__ADS_1
keningnya. Cdi dokumen itu berisi tentang rencana pembunuhan. Yang dimana
korbannya adalah seorang pengusaha terkenal. Ia menatap Pak Rendy dan
menyuruhnya duduk di tepi ranjang.
“Pak,” panggil Aska.
“Iya, ada apa tuan?” tanya Pak Rendy.
“Duduklah disini!” perintah Aska.
Pak Rendy akhirnya menuruti keinginan
Aska. Ia menatap Aska yang berada di hadapannya itu. Lalu Aska menatap balik ke
arah Pak Rendy balik.
“Apakah bapak kenal sama pasangan yang
bernama Frank Agard dan Helena Agard?” tanya Aska yang tidak sadar kalau mereka
adalah kakek neneknya dari pihak ayahnya.
“Hmmp... bukannya itu adalah orang tua
Tuan Adrian sama Tuan Frank?” tanya Pak Rendy balik.
“Benarkah? Jadi mereka adalah kakek
nenekku?” tanya Aska yang merasakan jantungnya berdetak kencang.
“Iya itu benar. Mereka adalah nenek kakek
tuan,” jawab Pak Rendy yang membuat Aska tiba-tiba saja menjadi sedih.
Aska mulai menghitung berapa usia pamannya
dan juga sang ayah. Ia baru mengetahui kalau sang ayah kehilangan mereka
berusia sekitar tiga tahunan. Yang dimana usia seperti itu adalah usia tumbuh
kembangnya.
“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku
membunuh kakek neneknya.
Terpukul!
Sudah pasti.
Meskipun dirinya tidak mengenal siapa
mereka? Namun Aska memiliki ikatan batin yang kuat. Ia tidak akan membiarkan
Julia palsu hidup. Ia akan meminta sang ayah untuk dihukum mati.
“Sepertinya aku harus menyerahkan dokumen-dokumen
ini kepada ayah,” batin Aska yang menghela nafasnya dengan kasar.
“Pak... lebih baik kita keluar dari sini. Aku
sudah mendapatkan dokumen ini,” pinta Aska yang meminta Pak Rendy keluar dari
ruangan ini.
“ Baik Tuan,” balas Pak Rendy.
Aska akhirnya keluar dari kamar itu. Aska
segera berpamitan dan menuju ke taman belakang. Sementara Pak Rendy tersenyum
lega dan hatinya bahagia. Ia beruntung mendapatkan tuan muda yang tampan dan
baik sekali.
“Semoga umurnya dipanjangkan dan
mendapatkan berkah yang banyak dari Tuhan,” ucap Pak Rendy yang mendoakan Aska
dengan tulus.
__ADS_1
Sesampainya disana Aska melihat Adrian
masih duduk di bangku panjang. Ia mendekati Adrian sambil menyapanya, “Ayah.”
“Sudah selesai?” tanya Adrian.
“Sudah yah,” jawab Aska yang menghempaskan
bokongnya di sebelah Adrian. “Sebenarnya beberapa hari ini ada yang menuntunku
untuk masuk ke dalam kamar Julia. Aku disuruh mencari sebuah dokumen. Yang
dimana dokumen itu ternyata rencana pembunuhan Frank Agard dan Helena Agard.
Lalu aku menemukannya.
Deg.
Jantung Adrian berdetak kencang. Adrian
tidak menyangka, kalau Aska menemukan sebuah dokumen tentang pembunuhan kedua
orang tuanya. Akhirnya ia menatap wajah Aska sambil bertanya, “Apakah itu
benar?”
“Ya.. itu benar. Aku mendapatkannya. Caranya
membunuh sama seperti Paman Frank,” jawab Aska.
“Apa motif yang dilakukan oleh Julia?
Sehingga dia membunuh kedua orang tuaku seperti kakakku,” tanya Adrian yang
tidak terima.
“Aku sendiri tidak tahu ayah,” jawab Aska
yang benar-benar tidak tahu. “Apakah ayah ingin ke penjara malam ini?”
“Ayah akan kesana. Ayah akan meminta
jawaban dari Julia,” jawab Adrian dengan emosi.
“Biarkan aku yang tanya kepada Julia. Kita
ayah bertanya nanti semuanya menjadi runyam,” pinta Aska yang membuat Adrian
menganggukan kepalanya tanda setuju.
“Kamu benar. Seharusnya kamu yang
menanyakan apa yang terjadi? Ayah sudah terlalu emosi. Bisa-bisa ayah
membunuhnya,” kesal Adrian yang memberikan ruang untuk Aska.
Adrian beranjak berdiri lalu mengajak Aska
pergi meninggalkan rumah. Mereka langsung meluncur ke kantor polisi. Adrian akan membuat Julia mengakui semuanya. Namun Adrian memakai Aska agar suasana menjadi tegang.
Ketika sampai di kantor polisi, mereka langsung menemui kepala penjara. Adrian meminta bertemu Julia saat ini juga. Kepala penjara itu pun menuruti keinginan Adrian. Adrian dan Aska diberikan tempat khusus. Yang di mana tempat khusus itu bisa membuat mereka nyaman untuk menyelidikinya.
Julia pun didorong oleh polisi wanita. Di sana mereka ditemukan oleh Julia. Saat memasuki ruangan tersebut, Julia hanya bisa menunduk. Julia berharap ada yang menjenguknya dan mengeluarkan dari penjara. Namun sungguh sial nasibnya. Julia harus bertemu dengan Aska dan Adrian.
Adrian segera menghilang dari sana. Adrian tidak ingin membuat keadaan semakin runyam. Aska yang sudah duduk dari tadi menyuruh Julia nyatanya. Namun Julia tidak mau dan mengobarkan api dendam.
"Mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu nenek lagi! Kamu tahu hatiku sakit ketika Kamu membohongi seluruh keluargaku ini. Ditambah lagi Kamu adalah seorang pembunuh dari nenek kakek dari pihak ayahku sendiri!" tegas Aska yang membuat mata Julia membulat sempurna.
"Apa maksudmu anak muda? Kamu menuduhku yang tidak-tidak?" geram Julia yang tidak ingin dituduh membunuh kedua orang tua Adrian.
"Semuanya bukti Sudah aku dapatkan. Bukti-bukti itu mengarah kepadamu. Kamu sudah membunuh pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pengusaha. Mereka adalah Frank Agard dan Helena Agard. Mereka adalah nenek kakek dari pihak ayahku sendiri. Kamu sengaja membunuhnya dan membuat ayahku menderita sejak kecil. Sekarang aku tanya, Apa motif kamu membunuh mereka?" tanya Aska dengan nada dingin namun mematikan.
Akan tetapi Julia tetap berkilah. Ia membuktikan kalau dirinya tidak bersalah dalam hal itu. Dirinya tidak sadar jika semua dokumen rencana penggunaan itu berada di tangan Aska. Untung saja dokumen itu dibawanya. Malam ini Adrian akan membuat laporan baru lagi. Meskipun kasus pembunuhannya sudah lama. Adrian akan meminta hukum yang akan menghabisi Julia.
"Apa motif mu?" tanya Aska sekali lagi.
"Aku tidak memiliki motif apa-apa. Aku juga tidak mengenal siapa kedua orang tua ayahmu itu?" kilah Julia.
"Masih saja berkilah," ejek Aska yang menatap wajah dan mata Julia.
"Aku tidak pernah melakukan pembunuhan itu," Julia berusaha meyakinkan Aska agar tidak menuduhnya membunuh orang tua Aska.
"Percuma saja kamu berkilah seperti itu. Kamu sengaja membuat rencana pembunuhan itu rapi dan aman dan tidak akan pernah diketahui oleh orang manapun. Kamu juga memiliki muka dua. Yang di mana muka dua itu bisa mempengaruhi setiap orang yang kamu temui. Apa motif mu sehingga bisa membunuh mereka berdua?" tanya Aska sambil meledek Julia.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki motif apa-apa!" bentak Julia dengan nada meninggi.
"Santai saja kali. Jangan membentakku seperti itu. Aku memang bukan polisi. Aku juga bukan seorang pengusaha terkenal. Tapi aku sendiri bisa melakukan penyelidikan sendiri tanpa bantuan pihak kepolisian manapun," ucap Aska yang tidak main-main. "Sekarang aku tanya sekali lagi. Apa motif kamu membunuh nenek kakek dari pihak ayahku sendiri!" bentak Aska.