Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Berhadapan Dengan Julia.


__ADS_3

“Hehehe... dari dulu aku memang begini


pak,” jawab Aska. “Ini kamar berantakan sekali ya?”


“Ya... begitu dech... Kami memang jarang


sekali atau tidak pernah masuk ke kamar ini. Jika ada ketahuan yang masuk ke


dalam... bisa dipastikan mendapatkan perlakuan yang tidak enak. Bahkan mulut


pedasnya membuat telinga sakit,” jawab Pak Rendy.


“Ya sudah pak... dibersihkan saja kamar


ini. Jadikan kamar tamu. Kelak suatu hari nanti mertuaku akan kesini. Tidak


mungkin aku tempatkan di hotel secara terus-terusan,” ucap Aska yang membuka


semua lemari.


“Baik tuan,” sahut Pak Rendy. “Oh...


iya... apakah orangnya akan kembali kesini?”


“Sudah tidak lagi. Julia sudah mendekam di


penjara,” jawab Aska yang melihat banyaknya dokumen. “Banyak kejahatan yang


sudah dilakukan termasuk mengusir nyonya rumah disini.”


Pak Rendy langsung menundukkan wajahnya.


Ia menitikkan air matanya. Ia adalah sejarah dimana sang nyonya rumah terusir


dari rumah ini. Betapa kejamnya Julia palsu terhadap sang nyonya rumah. Ia


tidak bisa menyelamatkan sang nyonya rumah dari Julia palsu.


“Banyak sekali dokumen-dokumen yang


tertumpuk disini. Huh... ini sangat aneh sekali. Kamar berantakan... sudah kaya


kapal pecah,” keluh Aska yang menaruh dokumen tersebut dengan cara


dilemparkannya.


Pak Rendy akhirnya membersihkan barang-barang


yang berantakan sedikit demi sedikit. Jujur dadanya sangat sesak sekali. Sebab


ia sendiri pernah mendapatkan perlakuan yang tidak enak dan keluarganya


dimaki-maki. Setelah mendengar pernyataan dari Aska, hatinya sangat lega. Ia


bisa bernafas dengan bebas di rumah ini. Tanpa harus mendapatkan


umpatan-umpatan kasar dari Julia palsu.


“Oh... iya... barang-barang yang disini


milik Julia dibuang saja. Aku sudah tidak ingin lagi melihat barang-barang


seperti ini di rumah!” tegas Aska yang memberikan perintah kepada Pak Rendy.


“Baik tuan,” balas Pak Rendy yang


tersenyum lebar.


Setelah mengeluarkan dokumen yang berada


di lemari, Aska mengerutkan keningnya. Ia segera membuka beberapa dokumen dan


membacanya.


Beberapa dokumen memang tidak ada yang


curiga sama sekali. Ia masih nyaman sekali membacanya. Beberapa saat kemudian


Aska melihat satu dokumen yang kertasnya sudah lusuh. Mungkin saja dokumen ini


sudah berusia tua. Bahkan tulisannya menjadi sedikit kabur.


Aska mulai membacanya dan mengerutkan

__ADS_1


keningnya. Cdi dokumen itu berisi tentang rencana pembunuhan. Yang dimana


korbannya adalah seorang pengusaha terkenal. Ia menatap Pak Rendy dan


menyuruhnya duduk di tepi ranjang.


“Pak,” panggil Aska.


“Iya, ada apa tuan?” tanya Pak Rendy.


“Duduklah disini!” perintah Aska.


Pak Rendy akhirnya menuruti keinginan


Aska. Ia menatap Aska yang berada di hadapannya itu. Lalu Aska menatap balik ke


arah Pak Rendy balik.


“Apakah bapak kenal sama pasangan yang


bernama Frank Agard dan Helena Agard?” tanya Aska yang tidak sadar kalau mereka


adalah kakek neneknya dari pihak ayahnya.


“Hmmp... bukannya itu adalah orang tua


Tuan Adrian sama Tuan Frank?” tanya Pak Rendy balik.


“Benarkah? Jadi mereka adalah kakek


nenekku?” tanya Aska yang merasakan jantungnya berdetak kencang.


“Iya itu benar. Mereka adalah nenek kakek


tuan,” jawab Pak Rendy yang membuat Aska tiba-tiba saja menjadi sedih.


Aska mulai menghitung berapa usia pamannya


dan juga sang ayah. Ia baru mengetahui kalau sang ayah kehilangan mereka


berusia sekitar tiga tahunan. Yang dimana usia seperti itu adalah usia tumbuh


kembangnya.


“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku


membunuh kakek neneknya.


Terpukul!


Sudah pasti.


Meskipun dirinya tidak mengenal siapa


mereka? Namun Aska memiliki ikatan batin yang kuat. Ia tidak akan membiarkan


Julia palsu hidup. Ia akan meminta sang ayah untuk dihukum mati.


“Sepertinya aku harus menyerahkan dokumen-dokumen


ini kepada ayah,” batin Aska yang menghela nafasnya dengan kasar.


“Pak... lebih baik kita keluar dari sini. Aku


sudah mendapatkan dokumen ini,” pinta Aska yang meminta Pak Rendy keluar dari


ruangan ini.


“ Baik Tuan,” balas Pak Rendy.


Aska akhirnya keluar dari kamar itu. Aska


segera berpamitan dan menuju ke taman belakang. Sementara Pak Rendy tersenyum


lega dan hatinya bahagia. Ia beruntung mendapatkan tuan muda yang tampan dan


baik sekali.


“Semoga umurnya dipanjangkan dan


mendapatkan berkah yang banyak dari Tuhan,” ucap Pak Rendy yang mendoakan Aska


dengan tulus.

__ADS_1


Sesampainya disana Aska melihat Adrian


masih duduk di bangku panjang. Ia mendekati Adrian sambil menyapanya, “Ayah.”


“Sudah selesai?” tanya Adrian.


“Sudah yah,” jawab Aska yang menghempaskan


bokongnya di sebelah Adrian. “Sebenarnya beberapa hari ini ada yang menuntunku


untuk masuk ke dalam kamar Julia. Aku disuruh mencari sebuah dokumen. Yang


dimana dokumen itu ternyata rencana pembunuhan Frank Agard dan Helena Agard.


Lalu aku menemukannya.


Deg.


Jantung Adrian berdetak kencang. Adrian


tidak menyangka, kalau Aska menemukan sebuah dokumen tentang pembunuhan kedua


orang tuanya. Akhirnya ia menatap wajah Aska sambil bertanya, “Apakah itu


benar?”


“Ya.. itu benar. Aku mendapatkannya. Caranya


membunuh sama seperti Paman Frank,” jawab Aska.


“Apa motif yang dilakukan oleh Julia?


Sehingga dia membunuh kedua orang tuaku seperti kakakku,” tanya Adrian yang


tidak terima.


“Aku sendiri tidak tahu ayah,” jawab Aska


yang benar-benar tidak tahu. “Apakah ayah ingin ke penjara malam ini?”


“Ayah akan kesana. Ayah akan meminta


jawaban dari Julia,” jawab Adrian dengan emosi.


“Biarkan aku yang tanya kepada Julia. Kita


ayah bertanya nanti semuanya menjadi runyam,” pinta Aska yang membuat Adrian


menganggukan kepalanya tanda setuju.


“Kamu benar. Seharusnya kamu yang


menanyakan apa yang terjadi? Ayah sudah terlalu emosi. Bisa-bisa ayah


membunuhnya,” kesal Adrian yang memberikan ruang untuk Aska.


Adrian beranjak berdiri lalu mengajak Aska


pergi meninggalkan rumah. Mereka langsung meluncur ke kantor polisi. Adrian akan membuat Julia mengakui semuanya. Namun Adrian memakai Aska agar suasana menjadi tegang.


Ketika sampai di kantor polisi, mereka langsung menemui kepala penjara. Adrian meminta bertemu Julia saat ini juga. Kepala penjara itu pun menuruti keinginan Adrian. Adrian dan Aska diberikan tempat khusus. Yang di mana tempat khusus itu bisa membuat mereka nyaman untuk menyelidikinya. 


Julia pun didorong oleh polisi wanita. Di sana mereka ditemukan oleh Julia. Saat memasuki ruangan tersebut, Julia hanya bisa menunduk. Julia berharap ada yang menjenguknya dan mengeluarkan dari penjara. Namun sungguh sial nasibnya. Julia harus bertemu dengan Aska dan Adrian. 


Adrian segera menghilang dari sana. Adrian tidak ingin membuat keadaan semakin runyam. Aska yang sudah duduk dari tadi menyuruh Julia nyatanya. Namun Julia tidak mau dan mengobarkan api dendam. 


"Mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu nenek lagi! Kamu tahu hatiku sakit ketika Kamu membohongi seluruh keluargaku ini. Ditambah lagi Kamu adalah seorang pembunuh dari nenek kakek dari pihak ayahku sendiri!" tegas Aska yang membuat mata Julia membulat sempurna. 


"Apa maksudmu anak muda? Kamu menuduhku yang tidak-tidak?" geram Julia yang tidak ingin dituduh membunuh kedua orang tua Adrian. 


"Semuanya bukti Sudah aku dapatkan. Bukti-bukti itu mengarah kepadamu. Kamu sudah membunuh pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pengusaha. Mereka adalah Frank Agard dan Helena Agard. Mereka adalah nenek kakek dari pihak ayahku sendiri. Kamu sengaja membunuhnya dan membuat ayahku menderita sejak kecil. Sekarang aku tanya, Apa motif kamu membunuh mereka?" tanya Aska dengan nada dingin namun mematikan. 


Akan tetapi Julia tetap berkilah. Ia membuktikan kalau dirinya tidak bersalah dalam hal itu. Dirinya tidak sadar jika semua dokumen rencana penggunaan itu berada di tangan Aska. Untung saja dokumen itu dibawanya. Malam ini Adrian akan membuat laporan baru lagi. Meskipun kasus pembunuhannya sudah lama. Adrian akan meminta hukum yang akan menghabisi Julia.


"Apa motif mu?" tanya Aska sekali lagi. 


"Aku tidak memiliki motif apa-apa. Aku juga tidak mengenal siapa kedua orang tua ayahmu itu?" kilah Julia.


"Masih saja berkilah," ejek Aska yang menatap wajah dan mata Julia. 


"Aku tidak pernah melakukan pembunuhan itu," Julia berusaha meyakinkan Aska agar tidak menuduhnya membunuh orang tua Aska. 


"Percuma saja kamu berkilah seperti itu. Kamu sengaja membuat rencana pembunuhan itu rapi dan aman dan tidak akan pernah diketahui oleh orang manapun. Kamu juga memiliki muka dua. Yang di mana muka dua itu bisa mempengaruhi setiap orang yang kamu temui. Apa motif mu sehingga bisa membunuh mereka berdua?" tanya Aska sambil meledek Julia. 

__ADS_1


"Aku tidak memiliki motif apa-apa!" bentak Julia dengan nada meninggi. 


"Santai saja kali. Jangan membentakku seperti itu. Aku memang bukan polisi. Aku juga bukan seorang pengusaha terkenal. Tapi aku sendiri bisa melakukan penyelidikan sendiri tanpa bantuan pihak kepolisian manapun," ucap Aska yang tidak main-main. "Sekarang aku tanya sekali lagi. Apa motif kamu membunuh nenek kakek dari pihak ayahku sendiri!" bentak Aska.


__ADS_2