
Sesampainya di ruangan bawah tanah, Aska dan Max melihat seorang pria yang sudah berumur hanya bisa diam. Aska mengerutkan keningnya sambil menatap matanya lebih dalam.
"Pria ini yang mengacaukan hari pernikahanmu. Dia bernama Hansel pria berkebangsaan Spanyol. Dia memang ditugaskan untuk membunuh kamu. Jika tidak berhasil, dia membunuh Nyonya Christina," ucap Max yang memberikan informasi secara komplit.
"Ini sangat bagus sekali. Kenapa dia ingin membunuhku? Siapa bosnya?" tanya Aska yang mendekat pada pria itu.
"Jamaludin Wicaksono," jawab Max dengan tegas.
"Perintahkan Ayahku untuk membuang nama Wicaksono di belakangnya Jamaludin sekarang juga! Aku tidak mau lagi Jamaludin memakai nama Wicaksono! Ambil semua seluruh aset yang dimiliki Jamaludin! Berikan seluruh aset itu kepada orang yang membutuhkan!" perintah Azka dengan tegas.
Sontak saja Max sangat terkejut sekali. Ia tidak menyangka kalau Tuan mudanya itu benar-benar membalas dendam. Lalu Max melihat wajah Aska yang mulai menahan amarah. Jujur selama ini dirinya mengenal Aska adalah pria yang sangat baik sekali. Ternyata dalam waktu sekejap Aska berubah menjadi seorang iblis yang mengerikan.
"Cepat lakukan perintahku! Aku mau masalah ini cepat selesai!" perintah Aska sekali lagi.
Max akhirnya menuruti keinginan Aska. Dengan cepat ia meninggalkan Aska di ruangan bawah tanah.
Aska melihat pria itu dengan sinisnya. Ia langsung menanyakan apa tujuan utamanya.
"Apa tujuan merusak resepsi pernikahanku?'' tanya Aska dengan serius.
"Hahaha."
Pria itu malah tertawa terbahak-bahak. Mungkin sangking lucunya dengan pertanyaan itu. Pria itu berhenti sekejap dan melihat Aska.
__ADS_1
Aska lupa kalau dirinya memakai bahasa Indonesia. Akhirnya ia pun memakai bahasa Perancis. Pria itu memandang wajah Aska dengan sinis. Sebelum mengeluarkan suaranya, pria itu membuang ludahnya ke arah samping.
"Kamu nggak pantas menjadi ahli waris di Wicaksono Group," ucap pria itu dengan memakai bahasa Perancis.
"Why? Kenapa aku nggak pantas? Apakah pendidikanku sangat rendah?" tanya Aska sambil mengintimidasi sang lawan.
"Memang kamu nggak pantas karena pendidikanmu hanya SMA saja. Apa jadinya perusahaan yang kamu pegang itu jika pendidikanmu rendah seperti itu? Benar kata Jamaludin memang kamu tidak pantas mendapatkan itu semua. Ditambah lagi belum paham mengelola perusahaan itu. Jadi serahkan saja semuanya ke Jamaludin!" jawab pria itu sambil merendahkan Aska.
"Jangan pernah merendahkan orang. Jamaludin adalah pria tamak yang ingin menguasai Wicaksono. Kamu pasti kaki tangannya? Kamu pasti sangat patuh pada tuanmu itu? Tapi kamu adalah pria bodoh yang pernah aku temui. Aku bilangin sama kamu. Jika Jamaludin mendapatkan semuanya. Jamaludin akan menendangmu dari sisinya itu. Itulah Jamaludin yang diam-diam memiliki otak licik. Hanya demi memuluskan rencana, Jamaludin akan memakai seribu cara untuk mendapatkan keinginannya. Setelah berhasil, Jamaludin akan menendang orang-orang memiliki jasa untuknya dan melakukan apapun. Agar Jamaludin menjadi orang sukses. Setelah sukses Jamaludin menyingkirkan mereka satu persatu. Aku tidak mengenalnya secara dekat. Tidak pernah bertegur sapa paham atas kelicikannya mengerti sifat asli tuanmu itu," jelas Aska dengan tegas.
"Jangan pernah memfitnah Jamaludin. Aku tidak percaya atas omongan bocah ingusan sepertimu," kesal pria itu.
Tiba-tiba Aska tertawa terbahak-bahak. Aska tidak menyangka kalau pria itu menyebutnya bocah ingusan.
Mendengar nama Blue Dragon, pria itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya kalau Blue Dragon bangkit kembali. Cepat atau lambat Blue Dragon akan memperlihatkan dirinya di dunia bawah tanah.
"Jika Blue Dragon sudah bangun dari tidurnya. Maka kedudukan Black Crossover akan menjadi terusik. Kamu pikir aja sendiri apa maksudku itu? Selamat bersenang-senang dengan sang ketua Blue Dragon," ejek Aska ke pria itu.
Selesai berbicara panjang lebar, Aska memutuskan untuk kembali ke atas. Aska melihat Adrian dan Frank sambil tersenyum sumringah. Dibalik senyumnya yang sumringahnya itu, Aska tiba-tiba saja memiliki rencana yang sangat hebat. Dirinya tidak akan mengatakan kepada siapapun terlebih dahulu. Sebab Aska sendiri akan menyusun rencana itu dengan sangat rapi.
"Apa kabar Ayah Adrian dan Paman Frank?" tanya Aska yang menyapa kedua pria paruh baya itu.
Mereka serempak menatap Aska dengan mata tajamnya. Aku hanya bisa menahan tawanya lalu menghempaskan bokongnya di sofa single.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba menjadi horor begini ya?" tanya Aska yang membuat mereka ingin menghajarnya.
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Adrian dengan tegas.
"Memangnya Max tidak mengatakan apa yang aku suruh?" Sebaliknya Aska malah bertanya.
"Apa kamu sudah gila? Mencabut seluruh fasilitas yang dimiliki oleh Jamaludin dan keluarganya itu," tanya Frank dengan serius.
"Aku belum gila. Aku kan menyuruh Ayah untuk mencabut semuanya. Ayah tahu kalau aku memiliki dendam kepada Jamaludin? Dia telah memisahkan aku dan ibu. Menghancurkan keluarga Wicaksono secara berkeping-keping. Menggantinya nenek asliku dengan nenek palsu yang berada di samping kakek. Aku tidak akan membiarkan semua itu bergulir dengan sangat indah buat Jamaludin. Cepat atau lambat aku yang akan menangani ini semuanya," jelas Aska. "Kalau sekali lagi dia merusak Rumah tanggaku atau memprovokasi orang-orang di sekitarku. Maka akulah orangnya yang akan menuntut balas dendam yang lebih menyakitkan."
Kedua pria paruh baya itu hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana tidak, Aska sudah mengibarkan bendera peperangan. Memang yang dikatakan Aska benar adanya. Lalu Adrian menatap Frank untuk mengambil keputusan.
"Kalau aku setuju saja. Malah lebih bagus dari rencanaku. Kamu langsung mengeksekusi dan melemparkannya ke jalanan. Mau tidak mau kamu harus melakukannya," ucap Frank dengan jujur.
"Bagaimana dengan ayah? Jangan sampai Ayah tidak menyetujuinya. Aku akan mencari skandal untuk dijadikan sebagai senjata," tanya Aska sambil tersenyum kemenangan.
Adrian hanya bisa menghirup oksigen di ruangan ini banyak-banyak. Bagaimana bisa Sang putra mulai mengancamnya. Seorang anggota pasukan khusus yang diterjunkan untuk menghancurkan mafia, malah terkena ancaman Sang putra sendiri. Untung saja dirinya tidak pernah berbuat macam-macam. Mengenal seorang perempuan pun Adrian hanya tersenyum saja tanpa memperdulikannya.
"Kamu itu! Sifatmu sama dengan Frank. Selalu saja mencari skandal orang yang tidak mau diajak kerjasama," ucap Adrian yang membuat kedua pria berbeda generasi itu pun menahan tawanya.
"Kan aku sudah bilang sama kamu. Jika kamu memiliki anak. Maka anakmu akan mewariskan beberapa sifat dariku. Kelak putramu itu Menjadi pemimpin yang cerdas dan wibawa," ejek Frank.
Adrian memutar bola matanya dengan malas. Ia hampir saja melupakan perkataan Frank sebelum meninggal. Adrian memegang rambutnya dan mengacak-acak nya.
__ADS_1
"Bagaimana ini bisa terjadi pada Putraku?" tanya Adrian yang frustasi atas kelakuan Sang kakak.