
Kurang lebih 16 jam, pesawat Aska telah mendarat dengan selamat di bandara Soetta.
Saat mereka turun, pengawal Blue Dragon sudah menunggunya di jalur VVIP. Ketika keluar dari pesawat, mereka langsung dikawal oleh pengawal Blue Dragon. memang Ini pertama kalinya Aska mendapat pengawalan ketat. Jujur dirinya sangat risih melihat keadaannya sekarang.
Max sengaja berjalan di depan Aska. Namun dirinya tetap siaga agar tidak terjadi serangan. Begitu juga dengan Romeo, Romeo juga mengawal Aska dari belakang. Matanya tajam seperti elang seakan mencari mangsa. Namun itu belum seberapa.
Romeo dan Max bisa dikatakan sebagai kaki tangan Frank paling kejam. Namun mereka masih punya perasaan. Lalu Max mengarahkan ke tempat area parkir.Banyak sekali orang-orang yang memandangnya dan memuji ketampanan Aska maupun kecantikan Maria.
Setelah masuk mobil, Max dan Romeo membawa mereka menuju ke apartemen. Suasana kota Jakarta masih sama seperti yang dulu. Untung saja dirinya tidak terkena macet. Kalaupun terkena macet, bagi Aska itu sudah biasa.
Sementara Pak Broto sudah mendapatkan informasi kalau Aska berada di Jakarta. Pak Broto bersiap-siap untuk menyiapkan beberapa laporan. Memang sebelum pulang, Damian sengaja meminta laporan perkebunannya itu.
Akan tetapi Pak Broto ingin mengirimkannya melalui email. Damian pun menolaknya. Damian meminta Azka untuk mengambilnya sekalian mampir di kebunnya itu.
"Kita sudah sampai Jakarta yang," ucap Aska.
"Kamu benar. Aku rindu sekali pada kenangan masa lalu. Bang, kalau pulang kita ke Tanah Abang ya. Aku ingin sekali mencari baju-baju murah di sana. Khususnya daster Bang."
"Buat apa kamu memakai daster?"
"Lebih enak Bang."
Tiba-tiba saja otak asal mulai travelling yang tidak-tidak. Aska menganggukkan kepalanya sambil berbisik, "Kamu sengaja ya memakai daster di hadapanku?"
"Maksudnya Abang gimana?"
"Iya kan kamu pakai daster di hadapanku. Nanti kalau ada sesuatu hal Aku tidak mau tanggung jawab."
"Idih Abang... Giliran udah nikah omes banget."
Aska menahan tawanya sambil menatap wajah Maria. Sepanjang perjalanan mereka memilih diam. Akan tetapi Aska menahan tawa karena istilah daster itu. Sedangkan Max dan Romeo, hanya membiarkan perdebatan kecil antara suami istri tersebut.namun di dalam hatinya mereka bersorak kegirangan.
Yang awalnya Aska orangnya pemalu sekarang blak-blakan. Ditambah lagi dengan kekonyolan Maria menjadi sangat lucu sekali. Itulah kenapa pasangan suami istri disebut pasangan paling konyol.
Ketika sampai di lobby, Aska dan Maria langsung menuju ke unit apartemennya. Untung saja saat itu apartemen masih ramai. Mereka melihat-lihat ternyata tidak ada perubahan. Aska merasakan kalau apartemennya itu sama saja seperti yang dahulu.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Max dan Romeo? Sesampainya di apartemen, mereka langsung pergi entah ke mana. Hingga keberadaan mereka langsung hilang bagai ditelan bumi. Tapi, Aska masih bisa melacak keberadaannya itu. Ditambah lagi Aska meminta nasi goreng buatan Abang kaki lima yang berada di ujung jalan sana.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Maria masuk ke dalam sambil melihat apartemen Christina. Benar saja, keadaan apartemen itu tidak pernah berubah sama sekali. Jadi mereka memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.
"Neng," panggil Aska yang melepaskan jaketnya.
"Ada apa Bang?" Tanya Maria.
"Kamu capek ya neng?"
"Semenjak hamil aku sering kecapean Bang. Kekuatanku sekarang sudah agak berkurang. Aku harus pandai-pandai menjaga calon anakmu itu."
"Ya udah neng. Lebih baik menangis istirahat saja terlebih dahulu. Abang mau membersihkan tubuh lalu tidur."
'Abang kan pesan apa ya tadi sama Romeo?" tanya Maria yang memperingatkan Aska.
"Oh iya neng abang lupa. Aku kira neng juga lupa," jawab apa sambil tersenyum manis dan tangannya mulai membuka kancing bajunya itu.
"Jangan mandi neng. Lebih baik cuci muka cuci tangan sama cuci kaki. Habis gitu tunggu Abang di kasur saja. Nanti pesanan neng abang bawain."
"Okelah bang. Aku pamit terlebih dahulu," pamit Maria sambil berdiri dan meninggalkan Aska.
"Ya sudah neng hati-hati ya."
Maria hanya tersenyum lalu meninggalkan Aska. Kemudian Maria masuk ke dalam kamar. Ada rasa bahagia di dalam hatinya. Bahagia itu tidak bisa dituliskan dalam kalimat.
Kesan pertama saat bertemu langsung dengan Aska, Maria sudah menyukainya. Namun saat itu Maria tidak mengatakan apapun. Ia sangat malu kepada Aska. Meskipun penampilan awalnya tidak setampan sekarang, akan tetapi Maria menjadikan Aska seorang pemimpin perusahaan yang sejati.
Maria memegang perutnya sambil menatap bintang lewat jendela. Ia sangat bersyukur sekali karena dirinya menginjakkan kakinya di kota Jakarta. Meskipun begitu tapi hatinya masih sangat ketakutan. Terutama jika Aska bertemu dengan Cici. Ia harus percaya dengan sang suami agar membuatnya nyaman di sampingnya.
Sambil menunggu pesanannya datang, Maria memutuskan untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu Aska datang dengan membawa pesanan Maria. Untung saja saat itu pesanannya cepat datang. Sebab Maria sendiri sangat kelaparan.
__ADS_1
"Neng," teriak Aska.
"Iya Bang," sahut Maria yang selesai membersihkan wajahnya lalu keluar dari toilet.
"Pesananmu sudah datang neng. Segera makan karena masih hangat. Aku mau keluar dulu ke apartemennya Romeo," jawab Aska.
"Ngapain abang ke sana? Bukankah pekerjaan akan dibicarakan besok pagi?" tanya Maria.
"Besok pagi sih besok pagi. Ini bukan masalah perusahaan. Ini masalah rumahmu. Aku akan menyuruh Romeo untuk mencarikan informasi. Aku ingin tahu Ada apa sebenarnya yang terjadi? Setelah itu Abang pulang lagi kok," jawab Aska.
"Kenapa nggak di sini saja? Abang kan bisa ngobrol dengan enak. Abang bisa keluar dan melihat bintang-bintang bertaburan di awan. Ngapain coba Abang harus ke sana?"
"Ya bukannya gitu neng. Abang takut nanti kamu terganggu."
"Terganggu apanya Bang? Ini kan apartemen milik ibu sangat luas sekali. Ada ruang karaoke, ruang televisi, ruang kerja, kamar juga ada delapan. Kalau Abang pakai salah satunya. Terus Eneng di sini. Nggak bakalan neng berisik. Bukankah kamar Abang sudah ada peredam suaranya?"
"Iya sih neng. Kok Abang baru sadar ya?"
"Pasti abang sadarnya gara-gara daster itu?"
"Yah si Eneng mulai lagi deh. Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau udah beres masalahnya. Kita bisa ke Tanah Abang. Di sana Eneng bisa mencari bermacam-macam bentuk daster."
"Tapi kalau neng sudah di sana, neng suka kalap bang. Neng bisa menghabiskan banyak uang."
"Ya sudah habiskan saja. Abang nanti ngasih dua ribu euro saja ya."
"Abang?"
"Iya neng."
"Bagaimana caranya aku menghabiskan uang sebanyak itu. Kalau dirupiahkan saja bisa membeli mobil bekas."
"Tak tahu neng. Pokoknya neng habiskan saja. Bila perlu barang-barang yang berada di sana beli semuanya. Lumayan buat bagi-bagi para pelayan. Meskipun kualitas lokal. Tapi barang-barangnya sangat bagus sekali."
"Bener juga ya. Kenapa nggak terpikirkan olehku untuk membeli barang-barang di sana Lalu dibagikan kepada para pelayan?"
__ADS_1
"Nah itu neng maksudnya Abang. Di sana kan banyak para pelayan. Mereka sudah bekerja dengan baik selama kita di sana. Sekali-sekali kan kita memberikan reward buat mereka."
"Oke bang. Neng setuju dengan pendapat Abang."