
"Nanti deh. Aku akan membangunkan Maria terlebih dahulu," jawab Aska yang ingin melihat reaksi Maria setelah mendapatkan keisengan darinya.
"Ya… jangan lama-lama. Kalian harus berkenalan dengan para pelayan," ucap Christina yang sedang mengambil air.
"Baik bu," balas Aska.
Aska segera meninggalkan dapur lalu menuju ke kamar. Sesampainya di kamar, Aska berhenti dulu di depan pintu, Ia tidak mendengar suara Maria berteriak. Aska mulai menghitung mundur pelan-pelan hingga terjadi,
"Asssssssskkkkkkkkkkaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!"
Suara Maria menggelegar hingga terdengar ke luar. Aska mendengar suara Maria lalu tertawa kecil. Ternyata dengan cara inilah Maria terbangun dari tidurnya. Ia segera membuka pintu dan melihat Maria yang kesal.
"Abang mah," kesal Maria yang sudah memakai baju dan mengerucutkan mulutnya hingga lima sentimeter.
"Ada apa neng?" tanya Aska yang menahan tawanya.
"Selalu saja membuka baju neng. Untung saja kita sudah menikah. Kalau enggak aku akan mengadukan kepada ibu," jawab Maria yang beranjak dari tidurnya.
"Hmmp… lagian kalau belum nikah juga. Nanti dinikahkan sama ibu," celetuk Aska tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Maunya Abang," kesal Maria yang menabrakkan dirinya ke Aska dan memeluknya.
"Kesal kok main peluk sih?" tanya Aska yang tertawa.
"Bukan aku yang ingin dipeluk seperti ini. Melainkan anakmu tahu!" kesal Maria yang membuat Aska tersenyum.
"Tapi anakku nggak ngomong kalau minta dipeluk?" tanya Aska yang mulai meledek Maria.
"Mana bisa ngomong. Lagian juga bayiku masih di dalam perut. Mereka punya perasaan yang peka. Tanpa berbicara sedikitpun ibunya juga tahu," ucap Maria.
"Oh… benar juga sih," ucap Aska yang membenarkan ucapan Maria. "Apakah anakku merindukan ayahnya yang tampan ini?"
"Hmmp… iya. Tapi ibunya tidak rindu sama sekali. Bahkan ibunya sangat membenci ayahnya," jawab Maria dengan jujur.
"Apakah kamu terkejut karena bajumu terbuka?" tanya Aska yang mendekap Maria dengan erat.
"Iyalah. Aku pikir ada orang yang masuk ke dalam. Nyatanya kamu yang malah membuat kekacauan seperti ini," jawab Maria.
"Lagian juga sudah jam delapan pagi. Kamu masih tidur," ucap Aska yang membuat Maria mengangkat wajahnya.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Maria yang memandang wajah Aska.
__ADS_1
"Aku pengen ke Menara Eiffel. Di sana aku ingin lari pagi bersamamu," jawab Aska yang ingin lari pagi di kawasan Menara Eiffel.
"kamu nggak tidur semalam?" tanya Maria yang membuat Aska melepaskan pelukannya.
"Aku tidur setelah makan malam bersama ayah," jawab Aska.
"Oh… aku sangka kamu enggak makan?" tanya Maria.
"Makanlah. Sebelum terjadi penyergapan Benjamin, aku makan terlebih dahulu," jawab Aska dengan lengkap memberikan jadwal makanannya.
"Aku kira Abang nggak makan?" tanya Maria.
"Nggak makan ya lapar neng," ucap Aska yang membuat Maria tersenyum manis.
"Ditunggu ibu di taman," ucap Aska yang membuka bajunya.
"Ngapain?" tanya Maria yang bingung.
"Ada acara keluarga yaitu berkumpul di taman," jawab Aska.
Maria terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Aska. ia benar-benar lupa kalau hari ini ada acara private keluarga. Yang dimana Keluarga Wicaksono berkum;pil.
"Memangnya sudah direncanakan sama ibu?" tanya Aska.
"Pas Abang belum datang, ibu berencana untuk membuat syukuran tentang selesainya masalah ini," jawab Maria. "Sorenya aku ibu, aku, Mala dan Bu Siti ikut."
"Memangnya Mala ikut?" tanya Aska yang tidak melihat Mala sama sekali.
"Ada," jawab Maria. "Mala ingin kuliah lagi mengambil jurusan Akuntansi."
"Baguslah. Aku akan mendukungnya untuk menjadi orang sukses," ucap Aska. "Aku harap kamu nggak cemburu. Aku sudah menganggap Mala sebagai adikku."
"Aku sudah nggak cemburu lagi. Aku sekarang sudah menerima Mala. Dia anak baik. Ibu berencana mengadopsinya untuk dijadikan teman di kantor. Selain itu juga ibu ingin sekali mengajarkan ilmu tentang bisnis. Bisa dikatakan Mala akan menetap disini untuk selamanya," jawab Maria.
"Aku setuju. Kamu sudah enggak bersama ibu lagi. Kamu akan mengurus anak-anakku di rumah. Makanya Ibu ingin mencari seseorang yang ingin dijadikan kaki tangannya," jelas Aska.
"Ya udah deh. Aku aku mandi dulu," pamit Maria.
Di bawah Romeo dan Pak Ahmad menatap wajah Mala yang sangat ceria sekali. Bola matanya bergerak kesana kemari mengikuti pergerakan Mala.
"Pak," panggil Romeo.
__ADS_1
"Iya," sahut Pak Ahmad.
"Sepertinya bapak suka dengan Mala?" tanya Romeo.
"Aku sudah terlalu tua menyukai daun muda seperti Mala," jawab pak Ahmad.
"Berapa sih usia bapak sebenarnya?" tanya Romeo.
"Usiaku baru saja menginjak tiga puluh tujuh tahun," jawab pak Ahmad.
"Masih muda pak," ucap Romeo. "Aku tahu bapak sangat menyukai Mala."
"Dibilangin aku tidak suka dengan daun muda," jelas Pak Ahmad.
"Aku melepaskan Mala Pak. Aku tidak bisa mendapatkannya. Bapak tahu kalau aku memiliki catatan hitam," ucap Romeo.
"Jika kamu menyukainya, kenapa kamu enggak mengejarnya?" tanya Pak Ahmad.
"Tuan muda pernah memperingatkanku. Jika aku ingin Mala maka lepaskan semua pekerjaanmu. Tuan muda memintaku untuk menjadi pria yang baik dan tidak menjadi anggota mafia seperti sekarang ini," jawab Romeo.
"Kamu sebenarnya bisa lepas. Tapi kamu memiliki beban di hati,' celetuk Pak Ahmad.
"Selamanya aku akan mengabdi kepada Tuan Frank dan Tuan Adrian. Yang dimana aku selalu berada di zona bahaya. Suatu saat nanti aku berperang bersama Tuan Frank untuk menumpas kejahatan di muka bumi ini," jawab Romeo yang membuat Pak Ahmad paham dengan keadaan bahaya mengintai.
"Itu terserah kamu. Kalau kamu mau lepas terserah. Lagian juga Tuan Frank melepaskan seluruh pengawalnya termasuk kamu dan Pak Broto memilih akan yang baik. Semuanya sudah baik dan enggan akan terulang lagi. Karena semua akar sudah berakhir semuanya," jelas Pak Ahmad.
"tapi aku masih mengabdi untuk menjadi kaki tangan Tuan Frank. AKu juga tidak ingin berkhianat kepada Tuan Frank," ucap Romeo.
"Apakah kamu masih mengingat masa kelammu itu?" tanya pak Ahmad.
"Ya…aku sangat mencintai kekasihku. Sungguh berat melupakannya. Wajah cerianya selalu terbayang hingga detik ini," jawab Romeo.
"Aku sarankan kamu harus melupakan semuanya. Kamu harus mencari seseorang untuk menyembuhkan luka hatimu itu," saran Pak Ahmad yang membuat Romeo menyetujuinya.
"Apakah aku bisa mencobanya?" tanya Romeo.
"Kamu bisa mencobanya. Kamu bisa membuat komitmen di dalam hatiku. kamu harus bisa berdamai dengan masa laluku," jawab Pak Ahmad. "Jujur memang sangat sulit sekali. Tapi kamu melakukannya.".
"Yang berlalu biarlah berlalu. Yang sekarang kamu harus bisa menjalaninya dengan ikhlas. Kelak suatu hari nanti akan ada seorang wanita yang mau menerima masa laluku dan kamu yang tidak sempurna itu," ucap Aska yang tiba-tiba saja menepuk bahu Romeo.
"Kalau itu memang sulit. Aku harus bagaimana dengan semuanya ini?" tanya Romeo sambil menatap Aska yang seakan meminta tolong kepada Romeo.
__ADS_1