
Selesai mengobrol Sheila datang dengan membawa oleh-oleh. Sebelum berangkat Sheila sungkem dulu kepada kedua orang tua Maria.Setelah itu mereka berangkat ke pusat perbelanjaan yang sudah ditentukan oleh Christina.
Jarak rumah antara pusat perbelanjaan itu hanya membutuhkan waktu lima belas menit Jika tidak macet. Sesampainya di sana mereka langsung mencari keberadaan Christina.
Tidak sengaja Maria bertemu dengan seorang wanita yang usianya sama. Wanita itu menatap Maria dengan sinis. Lalu wanita itu mendekati Maria dan mengangkat tangannya langsung...
Plakkkk!
Alhasil Maria terkejut dan menatap wanita itu. Sedangkan Sheila juga terkejut dengan wanita itu. Kemudian Sheila maju dan bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu menampar nonaku?"
"Ada apa Ada apa! Nona kamu itu telah merebut Haryadi dari tanganku! Untung saja calon bayiku tidak apa-apa! Kalau sampai kehilangan dengan bayiku kalian yang aku tuntut!" geram wanita itu.
Maria tidak tahu apa maksudnya dengan perkataan wanita itu. Tanpa pikir panjang Sheila menarik tangan Maria dan meninggalkan wanita itu. Selama ini Maria tidak memiliki kasus dengan siapapun. Ini aneh sekali buat dirinya.
"Aku nggak tahu dia siapa? Kenapa dia menyerangku tiba-tiba seperti itu? Aku juga nggak merebut Haryadi dariku," tanya Maria kepada Sheila yang tidak tahu apa-apa.
"Nanti aku minta Tuan Adrian menyelidiki latar belakang wanita itu. Sepertinya ada konspirasi Haryadi di wanita itu. Jujur bukan kamu yang merebut Haryadi dari tangannya. Kamu memang sengaja tipu daya oleh Haryadi. Jujur ini sangat menyesakkan," hibur Sheila.
"Memang. Aku sendiri nggak tahu siapa Haryadi itu? Ditambah lagi dengan wanita itu mengaku-ngaku sebagai simpanan Haryadi," jelas Maria.
Para pengawal yang ditugaskan oleh Adrian, tidak sengaja melihat Maria ditampar. Pengawal itu sangat terkejut dan memoto wajahnya. Kemudian pengawal itu mengirimkan foto itu tersebut ke Romeo. Pengawal itu tidak melaporkan tindakan Sheila yang tidak melindungi Maria. Karena Wanita itu refleks menampar Maria dengan penuh emosi.
Di tempat yang sepi Romeo dan Adrian baru saja makan siang. Adrian memutuskan untuk duduk di depan sambil meminum kopi. Sedangkan Romeo meraih ponselnya lalu melihat beberapa pesan dari seseorang. Jujur Romeo sangat terkejut ketika mendapatkan pesan dari pengawalnya. Pesan itu berisikan tentang kejadian di pusat perbelanjaan tersebut. Mau tidak mau Romeo menyelidiki latar belakang wanita itu.
"Romi," panggil Adrian yang masuk ke dalam sambil menatap wajah Romeo.
"Ada apa tuan?'' tanya Romeo.
"Ada yang harus aku bicarakan kepadamu. Ini soal Benjamin yang kabur ke Amerika," jawab Adrian.
__ADS_1
"Silakan Tuan duduk saja. Saya akan mendengarkannya," ucap Romeo.
"Kamu lagi apa Kok serius banget?" tanya Adrian.
"Aku sedang memeriksa latar belakang wanita yang menampar Maria," jawab Romeo dengan jujur.
Adrian sangat terkejut sambil menatap Romeo. Lalu Romeo melihat Adrian sambil berkata, "ternyata dia adalah wanita malam yang berada di klub malam cukup terkenal."
"Apakah Sheila tidak melindunginya?" tanya Adrian.
"Sepertinya tidak. Menurutku wanita itu refleks dan menampar Maria. Jujur kita tidak bisa menyalahkan Stella. Karena posisi di sana Sheila tidak bisa menilai orang baik dan orang buruk di sekitarnya," jawab Romeo yang mengerti keadaan di sana.
"Kamu benar. Kita tidak bisa menuduh orang-orang yang sedang berbelanja di sana. Tapi kenapa wanita itu menampar calon menantuku itu?" tanya Adrian.
"Lebih baik kita tanyakan saja secara langsung pada Sheila. Kita nggak bisa menebak-nebak apa yang terjadi? Sementara yang mengirim foto ini keadaannya sangat jauh dari lokasi kejadian," jawab Romeo.
"Kalau begitu kita susul saja ke sana. Siapa tahu kita bisa menemukan duduk perkaranya," ajak Adrian.
Tak sengaja Aska dan Christina memandangi wajah Maria. Mereka menatap pipi Maria ada bekas tangan seseorang. Aska mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kenapa dengan pipimu itu?"
"Enggak apa-apa," jawab Maria.
"Enggak apa-apa kok ada stempel tangan di pipi. Ini aneh sekali. Mana mungkin kamu berhias wajahmu terus ditambahkan gambar itu," kesal Aska.
Saat Aska berkata seperti itu, Sheila memilih diam dan tidak menjawab apa-apa. Sebab Sheila tidak mau mencampuri urusan kedua belah pihak. Lalu Christina merasa curiga ada yang tidak beres dengan Maria.
"Kamu kenapa? Kamu ada masalah dengan seseorang?" tanya Christina dengan lembut.
Dengan terpaksa Maria menceritakan kejadian tadi. Mereka sangat terkejut sekali karena Maria mendapat serangan dari orang. Entah kenapa Aska menilai ada yang tidak beres. Lalu salah satu pelayan datang menghampirinya. Pelayan itu memberikan buku menu kepada mereka.
__ADS_1
"Ya udah nanti kita sambung membahas lagi kasus ini. Lebih baik kalian pesan terlebih dahulu," ucap Christina yang menghentikan sementara obrolan mereka.
Mereka pesan beberapa makanan lalu pelayan itu pergi. Kemudian Christina bertanya lagi soal wanita itu. Maria menjelaskan kalau wanita itu adalah simpanannya Haryadi. Christina terkejut ketika mendengar berita tersebut. Ditambah lagi Maria mengatakan kalau wanita itu sedang mengandung anak Haryadi.
"Untunglah kamu sudah lepas dari Haryadi," ucap Aska. "Bagaimana jika Kamu menikah dengannya? Banyak wanita-wanita yang datang ke rumahmu dan meminta pertanggungjawaban Haryadi. Kamu pasti stress menghadapi mereka."
Maria mengangguk paham apa yang dikatakan oleh Aska. Meskipun usianya terbilang jauh dari dirinya, Aska lebih tahu soal kasus seperti itu. Karena bahagia sendiri tidak ambil pusing dengan kasus-kasus sekarang yang sedang happening sekali.
"Maafkan aku tuan muda yang tidak bisa menjaga Nona Maria," ucap Sheila yang tiba-tiba saja meminta maaf karena tidak bisa melindungi Maria.
"Nggak apa-apa. Posisimu saat itu sangat sulit. Aku tahu kamu tidak bisa menebak orang jahat maupun orang baik. Lagian wanita itu refleks. Mau nggak mau kita harus mengalah terlebih dahulu," ujar Aska yang mengambil jalan tengahnya agar tidak ribut sama wanita itu.
Sheila menilai Aska adalah sosok pria yang sangat bijaksana. Jika ada seseorang yang mendapatkan pria seperti itu maka hidupnya beruntung. Ternyata Aska memiliki sifat tersebut dari sang ayah. Ia tidak bisa melihat dari sudut pandang satu orang saja. Dirinya harus mencari satu saksi atau beberapa saksi yang ada di area itu.
Bagaimana pendapat Christina? Christina tidak bisa menilai kasus ini. Christina memandang kasus ini dengan sudut pandang yang berbeda. Christina juga tidak bisa menyalakan wanita itu dan Maria. Jadi Christina mengambil kesimpulan kalau kasus ini yang bersalah adalah Haryadi.
"Aku tidak bisa menilai dari kamu dan wanita itu. Aku juga tidak bisa menyalahkan kamu dan wanita jujur dalam kasus ini Haryadi yang salah. Karena Haryadi sudah bermain api dengan banyaknya perempuan," jelas Christina.
"Yang Nyonya katakan benar. Wanita itu adalah korban dari Haryadi. Aku sedikit tahu tentang pria itu. Karena pria itu adalah tetanggaku. Haryadi sering sekali membawa banyak wanita ke rumahnya. Itulah kenapa aku selalu bilang kepada Maria agar tidak melanjutkan hubungannya," tambah Sheila.
"Apa itu benar?" tanya Aska yang benar-benar terkejut dengan pengakuan Sheila.
"Itu benar. Romeo saja sering datang ke rumahku hanya untuk membicarakan pekerjaan. Romeo juga menilai seperti itu. Setelah mendapati kenyataan kami sepakat mencegah Nona Maria agar tidak menjalin hubungan yang lebih dalam lagi. Tapi Nona Maria bersikeras melanjutkan hubungan itu. Maria mengucapkan kalau Haryadi akan sadar setelah menikah," jawab Sheila dengan jujur.
"Aku bilangin sama kalian. Yang namanya selingkuh tetap selingkuh. Meskipun menikah pun kalau namanya selingkuh enak akan dilakukannya. meskipun aku tidak pernah berpacaran dengan wanita manapun. Aku paham akan hal itu. Dikarenakan aku hidup di desa dan menyaksikan secara langsung perselingkuhan berada di depan mataku sendiri," jelas Aska yang mengingat Minah berselingkuh dengan orang lain.
"Apakah itu Minah tuan?" tanya Sheila dengan jujur.
"Ya kamu benar. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Jujur hatiku sangat sakit sekali ketika melihat wanita tua itu berselingkuh dengan pria yang seusia denganku. Untung saja saat itu aku mengetahui, kalau aku bukan anaknya. Tapi rasa sakit itu masih berada di dalam hati," jelas Aska.
__ADS_1
"Benar-benar deh orang itu. Bisa-bisanya melakukan hal yang tidak baik. Kalau begitu kita lupakan saja kasus Minah dan Haryadi. Kita juga tidak bisa melakukan apa-apa. Sebab kita tidak memiliki bukti yang cukup kuat," ucap Christina.
"Setelah makan kita mau ke mana?" tanya Aska.