
"Aku sangka sudah pagi," sahut Aska.
"Memangnya Abang tidur jam berapa?" tanya Maria.
"Aku tidur selepas ngobrol sama ibu dan bapak. Jujur saja saat itu aku mengantuk sekali. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Terutama pada pengumpulan berkas-berkas kejahatan Jamaludin dan juga Jono," jawab Aska.
"Apakah Jono melakukan kesalahan?" tanya Maria yang masih penasaran dengan Jono.
"Memang. Kejahatannya sangat banyak sekali. Terutama dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Aku mulai curiga ketika Paman Frank menemukan mayat di markas Black Crossover. Kemungkinan besar mereka menjadi korban Jono. Selebihnya nanti pihak kepolisian akan memutuskan bagaimana sebenarnya," jawab Aska yang membuat Maria menganggukkan kepalanya.
"Untung saja Jamaludin bukan saudara kamu ya?" tanya Maria.
"Aku nggak punya saudara seperti dia. Aku nggak tahu banyak yang mengatakan kalau keluarga Wicaksono memiliki saudara Jamaludin. Aku merasa aneh kepada mereka yang membuat statement seperti itu," jawab Aska dengan jujur.
Sebelum menginjakkan kakinya di kota Paris, Aska sudah mendengar kalau Jamaludin adalah keluarganya Wicaksono. Namun mereka tidak tahu kalau Jamaludin dan keluarga Wicaksono adalah orang yang berbeda. Sebelum penobatan ahli waris, orang-orang masih berpikiran kalau Mereka bersaudara dengan Damian.
Sebelum penobatannya, disana semuanya terbuka. Mereka terkejut dan hanya berbicara, kasihan ya keluarga Wicaksono. Hanya kalimat itulah yang keluar dari mereka. Sebab mereka mengatakan kalau Jamaludin adalah seorang pembunuh berdarah dingin sekaligus mafia.
Untung saja Damian maupun Aska ditambah yang lainnya tidak keberatan sama sekali. Mereka sudah kebal dengan hujatan demi hujatan maupun pujian demi pujian dari tamu undangan dan para kolega. Mereka sudah memiliki ilmu yang cukup banyak. Yang di mana ilmu itu bisa membuat mental mereka semakin kuat. Jujur aku melihat wajah kakekku sangat malu sekali. Ketika membeberkan sejumlah fakta tentang Jamaludin.
Dulu Damian sudah berjanji kepada mendiang ayah Jamaludin. Demian sengaja mengangkat Jamaludin sebagai anak angkatnya. Namun apa yang diterima oleh Damian sendiri. Damian sendiri membuat malu keluarga Wicaksono. Bahkan Jamaludin sudah merusak keluarganya dan keluarga putrinya itu.
"Ya sudah Bang. Nggak usah dipikirin lagi kalau soal Jamaludin. Jamaludin sudah berakhir kisahnya buat kita. Semoga saja Tuhan mengampuni semua dosa-dosanya," ucap Maria.
"Amin," ujar Aska. "Semuanya sudah diserahkan kepada Tuhan. Aku ingin kakek ceria terus dan bahagia. Soalnya kami sudah berkumpul menjadi satu."
"Abang benar. Aku juga begitu kok. Aku juga bahagia menjadi bagian dari keluarga Wicaksono. Sekarang kita membuka lembaran baru dan menyusun rencana untuk masa depan," sahut Maria.
Azka tersenyum sambil memandang wajah Maria, "Masa depan sudah ada di genggaman tanganku. Aku akan bekerja dan berkarya dalam dunia perbisnisan."
Meria menganggukkan kepalanya dan memeluk Aska. Diam-diam Aska memeluk Maria lalu menciumnya bertubi-tubi. Jujur saja Aska ingin menjadi pria romantis. Namun dirinya tidak bisa melakukannya. Sepertinya ia akan belajar, bagaimana caranya membuat dirinya sebagai pria romantis.
"Abang," panggil Maria dengan suara manjanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Aska yang melepaskan Maria.
Maria menatap wajah Aska sambil bertanya, "Apakah aku boleh ikut ke Jakarta?"
"Berikan aku satu alasan, kenapa kamu ingin sekali ikut ke Jakarta?" tanya Aska yang tiba-tiba saja mengetahui kalau lagi tadi membahas masalah ini bersama ayahnya.
"Aku tidak mau kamu bertemu dengan Cici," jawab Maria yang entah dari mana ingat nama Cici.
"Ya… sudah. Besok periksa ke Dr. Gerald. Aku ingin memastikan calon anak kita bisa diajak kemana-mana," ucap Aska yang membuat Maria tersenyum manis. "Sepertinya kamu takut kalau aku bertemu dengan Cici ya?"
"Wanita yang mana kalau suaminya pergi sendirian ke tempat lain dan tanpa ada istri di sampingnya?" tanya Maria.
"Banyak kok. Mereka sering keluar tanpa seorang istri," celetuk Aska yang tersenyum manis karena Maria cemburu
"Maksud aku bukan itu Abang. Maksud aku adalah pria bersuami lebih rentan bertemu dengan mantan atau wanita lain di luar sana," jawab Maria dengan sendiri.
"Oh… kamu benar. Aku memang sangat rentan bertemu dengan mereka. Terkadang di perusahaan Paman Frank banyak sekali yang mengganggu aku. Bahkan mereka menginginkan aku sebagai kekasihnya," kata Aska dengan jujur.
"Nah itu bang yang aku maksud. Mereka juga berani menjadikan abang sebagai kekasih. Mereka tidak memperdulikan kalau Abang itu sudah menjadi pria beristri," celetuk Maria.
"Apakah aku salah ngomong?" tanya Maria.
"Tidak," jawab Maria. "Kamu memang tidak salah ngomong. Seharusnya kamu harus menjagamu dari para wanita yang menggodaku. Begitu juga sebaliknya, aku juga akan menjagamu dari serangan apapun."
"Serangan apa?" tanya Maria yang bingung dengan Aska.
"Serangan segala macam bahaya. Karena pria ditakdirkan sebagai penjaga hati seorang perempuan," jawab Aska. "Bahkan aku akan menjagamu dengan ekstra."
Maria menganggukan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau dirinya mendapat perlakuan yang manis sekali dari Aska. Bahkan ia sangat bersyukur sekali memiliki seorang suami yang sangat baik. Memang tangan Tuhan tidak pernah salah. Tuhan juga sudah menyiapkan jodoh buat manusia. Maka dari itu semua manusia harus bersabar.
"Abang," panggil Maria lagi.
"Ada apa?" tanya Aska lagi yang tersenyum manis.
__ADS_1
"Kita kan sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Kapan Abang akan mengajakku pergi bulan madu?" tanya Maria lagi.
"Hmmp… kamu mau kemana?" tanya Aska.
"Jogjakarta dan Solo," jawab Maria yang membuat Aska terkejut.
"Apa kamu serius?" tanya Aska yang membuat Maria tersenyum manis.
"Iya. Aku memang ingin kesana bersama suamiku," jawab Maria.
"Kamu ingin pergi ke Candi Borobudurnya?" tanya Aska.
"Ya, salah satunya. Tapi aku ingin berburu makanan Gudeg," jawab Maria dengan jujur.
"Hmmp, kamu nggak ingin pergi ke Maldives?" tanya Aska yang menawarkan pergi ke tempat lainnya.
"Enggak," jawab Maria.
"Padahal nenek memberikan kita tiket untuk pergi kesana," ucap Aska.
"Buat acara Baby moon saja," ungkap Maria yang membuat Aska tersenyum manis.
"Kamu ingin pergi kesana kapan?" tanya Aska lagi.
"Aku ingin pergi kesana setelah usia kandunganku menginjak tujuh bulan," jawab Maria dengan serius.
"Kenapa nggak sekalian mendekati persalinan saja?" tanya Aska yang tersenyum manis.
"Ngapain kita kesana mendekati persalinan? Kamu belum tahu sih, susahnya wanita yang akan mendekati persalinan," jawab Maria yang membuat Aska bertanya-tanya.
"Maksudnya?" tanya Aska yang mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Maria.
"Ya… tanyakan saja pada ibu sana," kesal Maria terhadap Aska yang tidak paham lalu membalikkan badannya.
__ADS_1
"Eneng lagi mode ngambek," ledek Aska.
"Biarin," kesal Maria yang memasang sengaja memasang ngambek.