
"Jadi kamu sudah setuju apa hadiah yang akan diberikan untuk sahabat kamu di acara pernikahan?" tanya Aska.
"Aku sudah menemukannya. Terima kasih," jawab Romeo sambil tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan balik ke kebun dulu. Pak Broto sudah menungguku," pamit Aska.
"Aku antarkan saja ke depan. Sekalian aku mau ke pasar membeli pakaian," ajak Romeo.
"Tidak perlu. Aku akan berjalan kaki menuju ke sana," tolak Aska.
"Enggak apa-apa. Ayolah ikut saja. Biar cepet kesannya. Apakah kamu tidak takut terlambat?" tanya Romeo lagi.
Mendengar kata terlambat Aska menunduk sedih. Akhirnya Aska memutuskan untuk ikut bersama Romeo.
Romeo tersenyum seakan mendapatkan reward untuk memberikan tumpangan. Romeo baru sadar kalau Aska adalah seorang pemuda yang tidak menyusahkan sama sekali. Bahkan Aska memiliki tutur kata yang membuat semua orang turut dalam kebajikan.
Pak Broto dan Pak Ahmad sedang menunggu Aska datang. Mereka takut akan terjadi apa-apa. Saat dikejar oleh Bu Minah, Aska berlari menuju ke timur. Mereka harap-harap cemas karena takut sang pemuda itu akan lompat ke dalam jurang. Namun tak lama datang suara motor butut mendekati mereka. Mereka langsung menoleh dan melihat Romeo dan Aska. Mata mereka membulat sempurna karena Romeo memakai motor butut.
"Aska," panggil Pak Broto.
"Iya pak," sahut Aska yang mengajak Romeo mendekati mereka.
"Hari ini kamu akan kirim barang ke Aska Food International," suruh Pak Broto.
Aska sungguh terkejut mendengar apa kata Pak Broto. Baru kali ini Aska mendapat tugas mengirimkan buah ke Asco Food International. Akan tetapi Aska bingung dan menatap wajah Pak Broto untuk menanyakan kembali tujuannya.
"Apa benar bapak menyuruh saya mengirimkan buah ke perusahaan ternama yang bernama Asco Food International?" tanya Aska.
"Ya... itu benar. Mereka sangat menginginkan buah strawberry untuk dicampurkan bahan makanan untuk produk baru,'' jawab Pak Broto.
"Dengan senang hati pak. Sekalian aku akan mencari lowongan di sana. Siapa tahu aku mendapatkan keberuntungan,'' ucap Aska yang tidak peduli dengan Bu Minah lagi.
"Tidak apa. Berkembanglah sesuai dengan kemampuan kamu,'' ujar Pak Broto yang mendukung cita-cita Aska.
"Apakah bapak tidak keberatan?" tanya Aska.
__ADS_1
"Tidak ada yang namanya keberatan Aska. Semua orang yang bekerja disini hanya untuk mengisi waktu luang. Jika mereka mendapatkan pekerjaan baru maka bapak akan melepaskannya begitu. Semua orang ingin berkembang menjadi besar. Makanya itu kerja disini dijadikan sebagai loncatan saja,'' jelas Pak Broto.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Broto. Pemuda di sini jarang sekali berminat untuk menjadi petani buah. Ketika menganggur mereka akan bekerja di sini. Jika sudah ada panggilan mereka pamit untuk meninggalkan kebun ini. Tapi beda sekali dengan Aska, Aska tidak peduli dengan pekerjaan baru sekalipun. Karena Aska sendiri tipe orang yang selalu berkomitmen. Meski pekerjaan berat ataupun sulit, jika dirinya merasa aman dan nyaman Aska tidak akan keluar dari perusahaan tersebut. Dengan kata lain Aska adalah tipe yang setia.
"Oh... iya... pas aku lari ke kebun belakang. Aku bertemu dengan mas Romi,'' ucap Aska.
"Mas Romi?" tanya Pak Ahmad yang pura-pura terkejut.
"Iya pak,'' jawab Aska.
Lalu Aska memperkenalkan Romeo ke mereka. Sebenarnya mereka sudah saling kenal. Bahkan sebelum Aska bertemu dengan Romeo, mereka sering berkumpul dan meminum kopi bersama. Bahkan mereka sering duduk dan bercanda. Namun mereka saat ini sedang berpura-pura. Agar Aska tidak tahu dengan rencana apa yang mereka susun.
"Apakah disini ada pekerjaan buat aku?" tanya Romeo.
"Ada,'' jawab Pak Broto dengan cepat.
"Apa itu pak?" tanya Romeo lagi.
Pak Broto memang sengaja membuka lowongan hanya untuk Romeo. Demi melancarkan aksinya untuk mempersatukan Aska dengan sang ibu, maka Pak Broto langsung menerima Romeo. Sebenarnya Pak Broto dengan mudah menyerahkan Aska ke Christina, tapi Pak Broto harus menjalankan rencana yang sudah dirancang jauh-jauh hari. Karena mereka ingin menghindari amukan dari Bu MInah.
"Apakah kamu bisa menyetir?" tanya Pak Broto yang memasang wajah serius.
"Ya... aku memang bisa menyetir. Segala macam jenis mobil bisa,'' jawab Romeo.
"Apakah kamu mau bekerja sekarang?" tanya Pak Broto.
"Kalau bisa sih sekarang pak. Lagian juga saya lagi butuh uang untuk makan,'' jawab Romeo.
"Baiklah kalau begitu. Kamu diterima kerja sekarang,'' ucap Pak Broto. "Jika kamu kesulitan maka kamu bisa menanyakan kepada Aska atau Pak Ahmad.''
"Baik pak,'' balas Romeo.
Aska yang sedari tadi melihat percakapan Romeo dengan sedang bosnya tersenyum. Dugaan Aska benar, kalau Pak Broto orangnya sangat baik sekali. Bahkan Pak Broto tidak pernah memandang status orang tersebut.
"Apakah mas serius kerja disini?" tanya Aska.
__ADS_1
"Ya... aku serius kerja di sini. Aku sudah lama tidak bekerja. Uang tabungan sudah menipis," jawab Romeo.
"Kalau begitu baiklah," balas Aska dengan ramah. "Pak Ahmad?"
"Iya," jawab Pak Ahmad.
"Surat jalan sudah ada pak?" tanya Aska.
"Masih dibuatkan," jawab Pak Broto.
"Kalau begitu aku ambil dulu," seru Aska yang meninggalkan mereka
"Syukurlah," ucap Pak Ahmad dan Pak Broto secara bersamaan.
"Ada apa?" tanya Romeo.
"Kamu kok nemu motor butut gini?" tanya Pak Broto.
"Aku nemu di rumah Roni. Ya sudah... aku ambil," ucap Romeo.
"Terserah kamu. Yang penting kamu tidak menunjukkan indentitas sebenarnya," ujar Pak Broto.
"Woke," balas Romeo.
Sementara itu Aska yang sudah sampai ke kantornya Pak Broto segera masuk. Aska melihat ada seorang gadis berhijab sedang asyik di depan komputer. Lalu ia segera mendekatinya sambil berkata, "Teh Mala."
Mendengar ada suara bariton milik Aska, gadis yang bernama Mala terkejut. Gadis mungil itu mengangkat kepalanya sambil melihat pria yang memiliki tinggi seperti tiang listrik. Dengan mata berbinar Mala menyahutinya, "Iya.... ada apa?"
"Tidak apa-apa. Seperti biasa aku meminta surat jalan," jawab Aska.
"Boleh. Tapi mau jalan kemana?" tanya Mala yang membuat Aska tersenyum kegirangan.
"Aku mau jalan ke hatimu," jawab Aska yang menggoda Mala.
"Ah... Abang kok merayu Mala. Mala jadi pengen terbang ke awan," ucap Mala dengan wajah memerah.
__ADS_1
Aska tersenyum lucu melihat wajah gadis itu memerah. Aska menganggap wajah gadis itu sangat menggemaskan. Bahkan Aska sangat menyukai wajah gadis polos itu. Andaikan saja dirinya adalah orang kaya. Maka dirinya akan meminangnya. Ya... Aska sedari dulu sangat menyukai Mala. Namun dirinya pandai menyembunyikan perasaannya itu. Aska menatap wajah Mala sambil bertanya, "Apakah surat jalannya sudah siap?"