
Aska segera meninggalkan mereka dan menuju ke depan. Ia membuka pintu dan melihat Romeo dan Maria sedang mengobrol. Lalu Aska segera mendekati mereka dan menyapanya, "Abang."
Sontak saja Romeo terkejut mendengar ada yang memanggil Abang. Ia menoleh ke arah Aska sambil membungkukkan badannya dan memberi hormat.
"Selamat siang Tuan," sapa Romeo yang ketakutan.
"Abang... janganlah kamu seperti itu? Aku bertambah bingung dengan Abang," celetuk Aska.
Mata Maria membulat sempurna ketika Romeo dipanggil Abang. Lalu Romeo mengangkat kepalanya sambil berkata, "Tidak bisa begitu tuan. Kalau anda adalah tuan saya."
"Aku tidak peduli itu. Yang pastinya kamu adalah teman saya. Ayolah masuk ke dalam. Ajaklah teteh Maria masuk ke dalam juga!" ajak Aska yang melihat Maria.
"Tuan muda memanggil saya teteh?" tanya Maria.
"Iya. Teteh itu adalah kakak perempuan. Aku sengaja memanggil kamu dengan sebutan teteh," jawab Aska sambil menyunggingkan senyumnya.
Maria ingin tidak sengaja melihat senyumnya Aska segera membalasnya. Wanita cantik itu berterima kasih kepada tuan mudanya. Karena telah menghormatinya. Tanpa pikir panjang Maria ikut masuk ke dalam serta diikuti Romeo.
Beberapa saat kemudian para pelayan datang sambil menghidangkan makanan. Kemudian ada bersama dua asisten sang ibu, langsung duduk di tempat yang sudah disediakan.
Siang ini adalah misi yang sukses bagi Maria. Entah kenapa hari ini adalah hari keberuntungannya. Namun di dalam hatinya Maria masih ketakutan jika Benjamin mengetahuinya. Dengan terpaksa siang ini Maria tidak mengatakan apapun ke Pak Broto dan Bu Siti.
Di tempat tersembunyi Minah bersama kedua pengawal Benjamin sudah tiba. Salah satu pengawal tersebut mendorong Minah hingga jatuh tersungkur ke lantai. Setelah jatuh Minah tidak sengaja melihat sepatu mewah kinclong berada di depannya.
Matanya membulat sempurna sambil menahan detak jantungnya tidak beraturan. Bahkan ia merasakan sesak nafas dan tubuhnya mulai bergetar.
"Minah," panggil pria yang memakai baju santai itu.
Mendengar namanya dipanggil, Minah langsung menunduk. Jujur saja hari ini Minah ketakutan. Bahkan ia tidak berani menatap pria tersebut.
__ADS_1
"Aku kecewa sama kamu!" tegas Benjamin.
"Maafkan saya Tuan," ucap Minah.
"Maaf," ucap Benjamin dengan wajah datar.
"Iya tuan. Bisa saya tidak berhasil dengan sempurna. Seharusnya tadi pagi saya sudah membunuhnya. Tapi saya bodoh," ujar Minah yang membuat Benjamin tertawa mengejek.
"Sedari dulu kami itu memang bodoh. Ngurus anak sialan itu tidak becus. Aku sudah bilang di saat usianya tujuh belas tahun, kamu bisa membunuhnya. Kenapa kamu tidak menghiraukan pesanku?" Kesal Benjamin.
"Maaf tuan. Setiap ingin membunuhnya banyak orang kampung yang melindunginya," jawab Minah.
"Kamu memang tidak memiliki aksl sama sekali. Percuma aku membayarmu dengan mahal. Jadi aku memecatmu hari ini! Jangan harap kamu bekerja lagi denganku!" perintah Benjamin.
"Tolong, Jangan percaya tuan," pinta Minah.
"Jika sampai anak sialan itu bertemu dengan Christina, maka kamu yang akan aku bunuh! Kamu tidak becus sama sekali. Membunuh satu orang tidak bisa. Selama ini kerjamu apa aja? Seharusnya kamu sudah membunuhnya!" tegas Benjamin.
"Bukan itu Tuan. Anak sialan itu banyak sekali yang melindunginya. Terutama warga desa. Jika aku membunuhnya maka mereka akan marah dan berbuat anarki. Mereka sangat menakutkan sekali ketimbang para algojo yang anda punya. Dan saya lagi menyusun rencana agar anak sialan itu mati tanpa diketahui oleh warga," ujar Minah.
"Aku akan memberikanmu kesempatan satu kali lagi. Jika tidak berhasil maka nyawamu yang menjadi penggantinya. Apakah kamu setuju dengan permintaanku ini? Jika kamu tidak setuju aku yang akan mengganti dirimu dengan orang lain. Cepat atau lambat anak sialan itu harus mati di tanganku! Jika tidak anak siaran itu bisa menghalangi jalanku untuk merebut kerajaan bijaksana yang telah dibangun oleh Damian sialan itu!" geram Benjamin.
"Baiklah tuan. Saya akan mencarinya dan menyiksanya. Saya tidak bisa membunuhnya secara langsung. Saya harus memberikannya obat untuk melumpuhkan urat dan sarafnya. Jika itu berhasil maka anak sialan itu akan menjadi mayat hidup selamanya. Dia tidak akan bisa melakukan apapun lagi. Setelah itu aku akan meminta dokter untuk membunuhnya dengan cara disuntik mati," jelas Minah.
"Lakukanlah segera. Aku tidak mau anakku sialan itu berkumpul. Pergilah dari sini! Cari segera anak sialan itu!" perintah Benjamin.
Wanita bertubuh tambun itu langsung pergi meninggalkan Benjamin. Dirinya tidak menyangka kalau Tuhannya itu memberikannya satu kali kesempatan untuk hidup. Wanita itu sangat bersyukur sekali dan bisa menghirup udara segar.
Sambil berjalan keluar otaknya mulai traveling untuk menyusun acara. Setelah dari sini wanita paruh baya itu akan berkeliling kampung untuk mencari Aska. Dirinya akan menyikap Aska selama beberapa bulan kedepan. Namun, Apakah Minah tahu kalau Aska sudah bertemu dengan ibunya?
__ADS_1
Jika Aska sudah bertemu dengan ibunya, maka Aska tidak akan pernah kembali ke rumah itu. Kemungkinan besar pria muda itu akan mendapatkan banyak rahasia sekali di dalam hidupnya. Terutama dengan sang pengasuh itu. Ditambah lagi seluruh pengawal akan mengikutinya kemanapun dia pergi. Maka kemungkinan kecil Minah tidak akan bisa membunuhnya.
Sedangkan Benjamin baru saja mendapatkan informasi, kalau Aska sudah bertemu dengan tubuhnya mulai menegang dan matanya melotot ingin keluar. Dirinya tidak menyangka kalau peristiwa ini sangat cepat sekali. Lalu bagaimana caranya ia akan menghabisi Aska? Dengan hati kesalnya Benjamin memakai Minah secara terus-menerus.
Aska yang selesai makan ragu dengan hatinya. Apakah dirinya ikut dengan Pak Broto atau ibunya? Akan tetapi akan melihat wajah sang ibu berharap untuk ikut. Lalu pandangannya mulai ke arah Pak Broto untuk meminta pendapat.
"Begini tuan muda Aska. Kalau saya boleh saran Tuan harus bersama dengan Nyonya Christina. Jika Tuan kembali ke kampung kemungkinan besar Tuhan menjamin akan meminta Minah untuk membunuhnya," jelas Bu Siti yang membuat Aska mengangguk.
Akhirnya Aska mengambil keputusan yaitu tinggal bersama ibunya. Jujur akan melihat sang ibu tidak dalam keadaan baik. Ia harus melakukan sesuatu agar ibunya baik-baik saja. Tapi dirinya belum mampu melakukannya. Oleh karena itu Aska harus mencari informasi sebanyak-banyaknya.
"Baiklah, Aska sudah mengambil keputusan," celetuk Aska.
"Apa itu?" tanya Christina yang ketar-ketir.
"Aku akan tinggal bersama ibu," jawab Aska yang membuat mereka mengulas senyum. "Tapi Bu?"
"Tapi apa? Apakah kamu memiliki permintaan?" tanya Christina.
"Bolehkah aku bertemu dengan ayah?" tanya Aska lagi.
"Tuan Adrian akan sangat senang sekali jika Aska menemuinya. Sekarang tuan Adrian sedang menunggu kamu untuk datang ke Prancis," jawab Pak Broto.
"Apakah ibu menyetujuinya?" tanya Aska.
"Kenapa kamu harus menemuinya?" tanya Christina yang penuh dengan kecemasan.
"Sepertinya keluarga Ibu tidak baik-baik saja. Begitu juga dengan ibu sendiri. Aska melihat ibu memiliki banyak masalah. Maka izinkanlah Aska untuk membantu ibu memecahkan masalah tersebut," jawab Aska.
"Bagaimana kamu tahu kalau Ibu memiliki banyak masalah?" tanya Christina.
__ADS_1