Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Kedatangan Cici.


__ADS_3

Adrian teringat pada Aska. Kemudian Adrian melihat Aska yang masih berdiri di pelaminan. Lalu Adrian meminta Christina agar tidak panik.


Seketika Christina melihat Aska yang masih berdiri di pelaminan. Dengan cepat Christina menuju ke pelaminan itu. Wanita paruh baya itu pun naik ke atas. Ia segera memeriksa Sang putra dan memegangnya. Ia ingin memastikan kalau Sang putra baik-baik saja.


"Ada apa Bu?" tanya Aska pura-pura tidak tahu atas kejadian itu.


"Syukurlah kamu nggak apa-apa," jawab Christina yang mengulas senyum lembutnya lalu berganti pada Maria.


Christina pun melakukan hal yang sama. Ia tidak ingin sang menantunya itu terkena tembakan. Namun pas kejadian suara letusan itu, Aska langsung melindunginya. Sampai saat ini Maria bertanya-tanya dalam hati. Apa yang terjadi di acara resepsi pernikahan ini?


Setelah memastikan mereka, Christina mengaku lega. Untung saja kejadian itu tidak merenggut nyawa. Hal ini sangat disayangkan, mengingat kejadian ini sangat menyeramkan. Untung saja pas kejadian itu, belum banyak tamu undangan yang datang. Aska dan Maria pun mengaku lega dan menghembuskan nafasnya secara pelan.


"Syukurlah kalian tidak apa-apa," ucap Christina sambil bersyukur.


"Terima kasih Bu atas perhatiannya," sahut Maria.


"Waktu masih panjang. Kalian jangan panik seperti itu. Kemungkinan besar ayahmu sudah memberikan banyaknya pengawal untuk melindungi acara pesta ini hingga selesai," balas Christina yang membuat Mereka mengganggu tanda setuju.


Selesai mengecek putra dan menantunya itu, Christina pergi meninggalkan mereka. Iya segera mencari keberadaan Adrian. Namun tidak disangka, Christina melihat sosok pria yang memakai baju serba hitam dan masker. Ditambah lagi Christina semakin curiga dengan keberadaan pria itu.


Sebelum menegur pria itu, Sheila menarik tangan Christina dari sana. Sheila mengatakan kalau pesta resepsinya ditunda hingga satu jam kemudian. Penundaan ini adalah permintaan dari Adrian. Lalu Adrian pergi meninggalkan ruangan pesta itu sambil mengajak Romeo.


Setelah keluar dari sana, Adrian meminta tambahan pengawal untuk memperketat persenjataan. Dengan cepat Romeo menolaknya. Karena Romeo menceritakan kalau Max sudah mengirimkan lima puluh orang.


Sungguh Adrian terkejut. Dari mana Max tahu kalau Aska menikah? Padahal pernikahan ini adalah pernikahan dadakan. Bisa dikatakan ada adalah pengantin pengganti untuk Maria.


Lalu Adrian menganalisis tentang kejadian itu. Adrian menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Firasatku mengatakan nggak mungkin kalau Max melakukannya."

__ADS_1


"Jangan mengada-ngada tuan. Max tidak pernah berbuat kesalahan. Max ke sini diutus oleh Tuan Frank. Kalau anda perlu bukti, saya akan memberitahukan satu pesan dari tuan Frank," ucap Romeo sambil memberikan ponselnya ke arah Adrian. "Anda bisa baca semua pesan dari Tuan Frank."


Adrian meraih ponsel itu sambil melihat isi pesan tersebut. Meskipun memakai kode rahasia, Adrian paham betul dengan kode itu. Ia menganggukkan kepalanya sambil memberikan ponsel tersebut.


"Syukurlah. Tragedi penembakan itu bukan mereka yang melakukannya. Aku sangat bersyukur sekali kalau kakakku masih hidup dan mengikuti acara pernikahan Aska. Buatkan janji pertemuanku bersama Frank!" perintah Adrian.


"Kemungkinan besar Tuan Frank sangat sibuk sekali," ujar Romeo yang menebak kegiatan Frank.


"Kalau anda tidak perlu apa-apa dari saya. Saya akan masuk ke dalam dan membaur bersama mereka. Saya akan mencari gadis yang memegang buket mawar saya dari Maria," pamit Romeo dengan serius.


Adrian menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyumnya ke arah Romeo. Kedua pria berbeda generasi itu pun masuk ke dalam dan mengecek semua sudut ruangan. Agar mereka memastikan tidak ada penyusup yang mengganggunya.


"Dek Maria," panggil Aska yang sedang duduk di samping Maria.


"Tumben saja Abang memanggilku adik," ledek Maria.


"Memang iya," sahut Maria.


"Nanti malam kamu tidak akan aku beri ampun sama sekali," ancam Aska.


"Maaf tuan Aska. Nanti malam kita tidak akan melakukannya terlebih dahulu. Jadi anda harus melakukannya setelah seminggu kemudian," bisik Maria hingga membuat Aska terdiam.


Aska pun langsung terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata rencana melakukan malam pertama pun gagal. Mau tidak mau Aska harus bersabar hingga seminggu kemudian.


"Baiklah. Aku akan menunggumu seminggu kemudian. Setelah itu aku merebut sesuatu yang indah yang telah kau jaga itu," bisik Aska sambil tersenyum kemenangan.


Maria pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap wajah Aska. Saat pembicaraan yang tidak berfaedah itu. Acara resepsi pernikahan dilanjutkan. Mereka akan berdiri sambil menunggu para tamu undangan mengucapkan salam.

__ADS_1


Di depan hotel Cici sedang menunggu kedatangan Lia. Selang beberapa menit Lia datang sambil membawa kado. Tak lama dia menghampiri Cici sambil berkata, "Sore yang cerah buat semuanya."


"Tumben telat. Memangnya di jalanan macet ya?" tanya Cici sambil menyindir Lia.


"Sepertinya tidak. Aku hanya telat beberapa menit saja. Kamu tahu kan urusan sama adikku itu. Masak ke acara pernikahan aku harus membawa adikku itu. Iya enggaklah," jawab Lia dengan kesal.


"Itu bukan adikmu. Itu anakmu sendiri," kesal Cici yang Lia tidak mengakui anaknya.


Lia hanya memutar bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya Cici mengingatkan putrinya itu. Kemudian kedua wanita itu masuk ke dalam hotel.


Kedua wanita itu menuju ke ruangan ballroom. Entah kenapa Cici bercerita tentang kenangannya bersama Aska. Sebenarnya dirinya masih menyayangi Aska. Namun ia terpaksa meninggalkannya karena penampilan Aska seperti orang kuno.


Sepanjang perjalanan menuju ballroom, Cici menyesali perbuatannya itu. Ia harus mendekati Aska lagi. Namun Lia hanya tertawa mengejek. Bagaimana bisa orang yang dibuangnya itu diambil kembali?


Sesampainya di ballroom, mereka mengisi buku tamu undangan. Selesai mengisi buku tamu tersebut, mereka masuk ke dalam ballroom itu. Suasana sangat ramai sekali dan meriah. Cici bersama Lia membaur dalam pesta tersebut. Mereka sangat menikmati acara pesta mewah itu.


Tak lama Christina lewat di depan mereka. Mereka juga tidak sengaja menangkap wanita paruh baya itu pun. Lalu Cici memuji kecantikan Christina. Memang diakui kalau Christina pernah masuk ke dalam majalah bisnis dengan kategori wanita tercantik di dunia. Sangking cantiknya tidak ada yang bisa mengalahkannya.


"Bener-bener deh tuh bos. Cantik banget. Padahal sehari-hari, Nyonya Christina tidak pernah memakai make up sedikitpun. Sekalinya memakai make up, semua orang terpana atas kecantikannya itu," puji Cici.


"Ngomong-ngomong siapa ya jadi suaminya?" tanya Lia.


"Yang menjadi suaminya sangat beruntung sekali. Kalau aku jadi suaminya pasti kukurung di kamar," jawab Cici yang berandai-andai menjadi pria.


"Katanya orang luar. Orangnya sangat tampan sekali dan rambutnya pirang. Hidungnya mancung memiliki badan kekar. Kalau suaminya seperti itu, benar-benar sangat sempurna sekali," puji Lia yang mengingatkan Cici pada Aska.


"Gara-gara kamu ngomongin suaminya nyonya Christina. Aku teringat pada Aska. Diam-diam Aska memiliki wajah bule dan ganteng. Tapi sayang dia dekil dan tidak terawat," ujar Cici secara blak-blakan.

__ADS_1


"Benarkah itu?" tanya Lia sambil menikmati pestanya.


__ADS_2