Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Penetapan Calon CEO Baru.


__ADS_3

"Jika lo dipecat carilah pekerjaan lain yang banyak di mana-mana," jawab Cici dengan enteng.


"Lu tahu, kerja di sini sudah termasuk memiliki nama besar di kampung. Kalau sampai dipecat gue malu. Nanti gue titipin habis-habisan sama orang kampung sana," kesal Lia yang tidak ingin namanya tercoreng karena Cici.


"Lu mau jadi seorang yang disuruh-suruh sama orang tersebut? Kalau gue mah ogah. Gue di sini sedang mencari batu loncatan untuk mendapatkan cowok kaya. Setelah mendapatkannya gue pasti keluar dari sini dan nikah sama itu cowok. Dan juragan jengkol hanya menjadi ban serep gue saja. Yang artinya gue mengambil keuntungan dalam hubungan ini," ucap Cici dengan jujur.


Di saat Lia mendengar Cici berkata dengan jujur langsung mengelus dada. Ternyata selama ini partnernya bekerja itu ternyata materialistis sekali. Lia sangat ngeri membayangkan jika juragan jengkol mengetahui aksi Cici. Bisa-bisa juragan jengkol itu murka dan memasukkannya ke dalam penjara. Selain itu juga juragan jengkol itu tidak akan pernah mau melepaskan sang penipu hingga membusuk di dalam penjara.


"Perbuatan lu itu salah! Lu telah menipu juragan jengkol! Bisa-bisanya lu ngomong seperti itu dengan jujur! Kalau juragan jengkol itu dengar lu sama keluarga nggak akan pernah tenang hidup di dunia ini! Lu akan mendapatkan teror berkepanjangan! Ditambah lagi juragan jengkol itu memiliki kekuasaan yang besar di pulau Jawa maupun Sumatera. Sebentar lagi juragan jengkol itu memegang kawasan Kalimantan, Sulawesi dan Papua! Gue saranin cepet sadar deh dari ulah lu itu! Lo paham soal itu?" tegas Lia dengan suara lirih.


"Juragan jengkol nggak akan pernah meneror gue seperti apa yang dirasakan sama Lilis. Gue yakin kalau juragan jengkol itu mencintai gue. Tapi sayang gue nggak cinta sama sekali. Karena lima istri juragan jengkol itu memiliki wajah tidak secantik gue. Apa lu paham dengan gue omongin? Guenya ngambil uangnya saja bukan cinta orangnya. Lu jangan khawatir soal itu. Gue nggak akan kenapa-napa," ujar Cici dengan sombong.


Jujur setelah Cici mengatakan itu, hati Lia sangat cemas. Bagaimana bisa temannya itu mengatakan dengan sombongnya tidak mencintai juragan jengkol itu? Ditambah lagi dengan hanya mengambil uangnya saja demi kepentingan dirinya. Menurut Lia ini sangat mengerikan sekali. Banyak yang dekat dengan juragan jengkol dan memanfaatkannya hidupnya tidak akan selamat. Juragan jengkol sering membunuh orang tanpa tangannya. Jika itu sampai terjadi maka nasib Cici di ambang kematian.


Lia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil beristighfar. Dirinya tidak mungkin ikut campur dalam masalah Cici. Ditambah lagi dengan kekuasaan juragan jengkol itu, Lia mundur alon-alon agar bisa memberikan rasa aman kepada keluarganya itu.


Sesampainya di atas Aska, Romeo dan Sheila menghadap Adrian. Sheila membungkukkan badannya sambil menyapanya, "Selamat pagi Tuan."


"Pagi Sheila," sahut Adrian sambil menaruh beberapa berkas di meja. Lalu Adrian menatap wajah Sheila sambil menyuruhnya duduk di sofa. "Duduklah di sofa!"


"Baik Tuan," balas Sheila sambil menuju ke sofa dan menghempaskan bokongnya di sofa single.


"Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu," pamit Aska.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu ke mana-mana Aska! Kamu harus di sini. Sebentar lagi Maria akan datang ke sini! Kita akan membicarakan rapat penting tentang keamanan diri kita dan perusahaan! Jika kita tidak memiliki keamanan berlapis-lapis bisa dipastikan musuh menyerang dengan mudah!" tegas Adrian.


Beberapa saat kemudian datang Maria sambil membawa berkas untuk ditandatangani oleh Christina. Maria menaruh berkas itu di meja Christina sambil menoleh dan menatap wajah Sheila.


"Eh... Ada Sheila," siapa Maria dengan senyum lembutnya kepada Sheila.


"Kamu sudah mengenalnya ya?" tanya Adrian kepada Maria.


"Iya aku sudah mendengarnya Tuan. Kami dulu adalah teman satu sekolah. Kami memiliki hubungan persahabatan yang cukup kuat. Sampai sekarang kami sering kontak-kontakan dan tidak pernah melupakan satu sama lain," jawab Maria dengan jujur.


"Oh... Jadi kalian? Makanya ketika kalian bertemu sangat akrab sekali. Bahkan saking akrabnya aku sempat bingung kalau kalian memiliki hubungan spesial," ucap Romeo.


"Ish... Kang Romeo aya-aya wae. Kami itu memang teman akrab dari SD sampai sekarang. Akhir-akhir ini kami nggak pernah bertemu secara langsung. Kami hanya kontak-kontakan lewat telepon dan pesan singkat," kesal Sheila.


"Karena aku adalah mata-matamu. Aku sering melakukan pengintaian kegiatanmu yang berada di kampung. Hampir setiap hari aku selalu membuat laporan kepada tuan Adrian," jawab Sheila.


"Jadi kamu sudah mengerti aku?" tanya Aska lagi.


"Ya... Apa memang sengaja melakukannya demi mendapatkan uang untuk mengobati kakakku yang sedang sakit," jawab Sheila dengan jujur.


"Ya sudah kalau begitu. Aku sangka kamu mengenalku dari Maria," ujar Aska.


"Selamat tuan muda Aska. Sebentar lagi Tuhan menikah dengan temanku yang satu itu. Tapi perlu diperhatikan, jika Maria mulai barbar jangan dihentikan. Biarkan saja kebarbarannya itu hilang sendiri," ucap Sheila dengan jujur.

__ADS_1


Seluruh penghuni yang berada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Memang benar Maria termasuk wanita barbar. Mereka mengakui hal itu dan membuat Maria menggelengkan kepalanya.


"Jangan berkata seperti itu. Aku ingin merubah sifatku barbar ini menjadi wanita lemah lembut seperti Nyonya Christina dan ibu," kesal Maria.


"Nggak apa-apa barbar juga. aku malah suka memiliki istri barbar sepertimu. Jadi hidupku bisa dikatakan berwarna," celetuk Aska.


"Kenapa dirimu ke sini?" tanya Maria.


"Oh iya... Sheila memang sengaja tak suruh ke sini. Aku ingin salah menjadi pengawal pribadi kamu. Selain itu juga Sheila akan merangkap sebagai asisten pribadimu. Jadi kamu akan memiliki jabatan penting di perusahaan ini yaitu wakil CEO. Yang menjadi ceo-nya adalah Aska. Untuk asistennya adalah," ucap Adrian menggantung.


"Yang pasti Romeo," sahut Christina yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Ide yang bagus," puji Adrian ke Christina.


Kemudian Christina membereskan pekerjaan itu dan berdiri menuju ke sofa. Di sana wanita cantik itu langsung mendekati Maria dan duduk bersama.


"Apa kabar Sheila? Maaf aku telat menyapa," tanya Christina yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya dan tidak menyapa Sheila sama sekali.


"Tidak apa-apa nyonya. Nyonya sangat sibuk sekali mengurusi perusahaan. Kabarku baik-baik saja dan masih sama seperti yang dulu," jawab Sheila dengan jujur.


"Begitulah ibuku. Jika ada orang dan masih memiliki pekerjaan, ibuku fokus dalam bekerja sampai selesai. Setelah itu ibuku bisa berkumpul dengan tenang," ucap Aska yang mengetahui sifat Christina bekerja keras.


"Tidak apa-apa tuan muda. Aku memang memakluminya. Aku sangat menyukai Nyonya Christina yang pantang menyerah. Bahkan aku sudah mengidolakannya," puji Sheila dengan tulus.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Formasi sudah aku tetapkan. Sekarang aku bertanya pada istriku ini. Bagaimana menurutmu jika kita mundur lalu Aska kita yang menjadi penerusnya?" tanya Adrian.


__ADS_2