Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Bertemu Frank.


__ADS_3

"Nanti kamu tahu sendiri tugasku apa," jawab Max.


"Ayolah Max. Beritahukan aku tugasmu apa sekarang? Kamu menghilang tanpa jejak setelah aku lulus sekolah. Aku tanya ke Pak Broto kamu tidak ada," kesal Aska kepada Max. 


"Kamu mau ke mana memangnya?" tanya Max.


"Aku ingin bertemu dengan Frank. Aku nggak tahu kenapa orang itu memaksaku untuk menemuinya," jawab Aska yang kesal kepada Frank. "Kamu kok tahu kalau aku ada di sini?"


"Aku kemarin pergi ke desa untuk mencarimu. Tapi kata Pak Broto kamu berada di Jakarta dan memberikan alamat penthouse ini ke aku. Makanya aku langsung mencarimu ke sini," jawab Max.


"Apakah kamu mau menemaniku bertemu dengan Frank sialan itu?" tanya Aska yang membuat mata Max membulat sempurna dan tubuhnya menggigil kedinginan.


Dengan cepat Aska meninggalkan Max yang masih terdiam. Pria itu hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar sambil mengusap wajahnya yang frustasi. Bisa-bisanya Aska menyebut sang ketua mafia dengan kata sialan. Max sebagai asistennya tidak berani menyebut kata-kata itu di hadapan Frank.


Lalu Max akhirnya menyusul Aska untuk menemui Frank. Hubungan Aska dan Max adalah sahabat baik. Dahulu Max adalah bagian pemasaran buah di kebun Pak Broto. Mereka sering bertemu dan memutuskan untuk berteman. Semakin hari mereka semakin akrab. kemudian mereka memutuskan untuk menjadi sahabat.


Sesampainya di restoran itu, Mereka melihat seorang pria paruh baya sedang serius dengan tabnya. Lalu Aska menatap di sekelilingnya ternyata restoran itu masih sepi. Kemudian Aska mengerutkan keningnya sambil memaki Frank, "Sialan itu orang.bisa-bisanya mengajak ketemuan tapi tidak memberikan fotonya. Ingin rasanya aku melemparkan orang itu ke sumur tujuh turunan."


Max segera mendekat dan memukul pundak Aska. Kemudian Max berbisik kepada Aska agar tidak berkata yang aneh-aneh. Akan tetapi Aska tetap saja memakai orang itu. Diam-diam Max menatap pria paruh baya itu sambil terkejut.


"Waduh… matilah aku. Ternyata orang itu adalah Frank.Jika orang itu mendengar kalau Aska sedang memakinya. Bisa-bisa Aska dalam bahaya," ucap Max dalam hati.

__ADS_1


Pria paruh baya itu pun langsung mengangkat wajahnya. Ia tersenyum sambil melihat Aska yang sangat tampan sekali. Ia tidak peduli kalau dirinya dimaki-maki oleh keponakannya sendiri. Lalu pria paruh baya itu pun berdiri dan mendekatinya, "Ternyata kamu adalah keponakanku yang sangat tampan itu."


Di saat mendapat pujian itu, Aska bingung terhadap pria tersebut. Matanya menyipit dan mengingat wajah pria itu. Entah kenapa dirinya melihat sosok Adrian di di wajah pria itu.


"Sepertinya anda adalah seorang yang mirip sekali dengan ayahku," ucap Aska. 


"Perkenalkan namaku Frank. Aku adalah kakak dari ayahmu yang bernama Adrian. Sampai saat ini aku tidak pernah bertemu dengan Adrian setelah kejadian itu," ujar Frank.


"Kejadian apa?" tanya Aska.


"Kejadian yang di mana aku berpisah dengan ayahmu. Kapan-kapan aku akan menceritakan kepadamu. Kalau gitu mari kita duduk dan mengobrol ringan saja," jawab prank sambil mengajak Aska duduk.


Dengan terpaksa Aska mengikuti kemauan Frank. Lalu Aska menatap wajah Frank. Ia langsung bertanya pada intinya, Kenapa ingin bertemu dengannya, "Kenapa kamu ingin bertemu denganku? Apakah kamu suruhan Julia untuk menghabisiku?"


"Jangan pernah berpikiran seperti itu. Aku tidak akan menghabisi keturunan keluargaku ini. Aku tahu ayahmu belum siap bercerita tentang asal-usul keluargamu itu. Maka kamu bersabarlah untuk mengetahui rahasia sebenarnya," pinta Frank yang sabar menghadapi Aska.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, Frank memanggil pelayan untuk menyediakan makanan favorit Aska. Lalu pelayan itu segera membawakannya. Sementara Aska bingung terhadap Frank. Kenapa mengetahui seluruh seluk beluknya? 


Di meja lain Max sedang menatap keakraban Frank dengan Aska. Max melihat kalau ada adalah pria yang sangat humble dan menerima orang itu apa adanya. Pada awal bertemu dengan Aska, Max melihat kalau Aska adalah pria yang hangat. 


Jam bergulir hingga sore tiba. Aska berpamitan untuk pulang ke penthouse. Di sana Aska memutuskan untuk beristirahat. Entah kenapa Aska merasakan ada yang janggal terhadap Frank maupun sang ayah. Akankah dirinya mencari informasi itu sendiri? Atau Aska membiarkannya mengalir seperti air mengalir. Hingga masalah ini terpecahkan dengan sendirinya. Aska hanya memiliki dua pilihan tersebut. Sebelum memutuskan untuk memilih, Aska memejamkan matanya lalu tertidur. 

__ADS_1


Di tempat lain Frank yang sudah bertemu dengan Aska hatinya sangat bahagia. Ternyata Frank merasakan kalau Aska adalah anak yang sangat baik. Di balik kehangatan Aska, Frank melihat banyak kesedihan yang mendalam di matanya itu. Pria itu hanya bisa mengusap wajahnya berkali-kali.


Andai saja kejadian di masa lalu dirinya tidak terbunuh. Kemungkinan besar Frank masih bisa melindungi Aska. Terbesit kata penyesalan di dalam benaknya. Jujur Frank tidak bisa menjaga keutuhan keluarganya itu. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Ia tidak akan menutup-nutupi masalah ini di hadapan Aska. Justru Frank menginginkan Aska tahu yang sebenarnya. Kenapa keluarga ayahnya itu hancur berantakan?


Namun sebelum itu Frank ingin bertemu dengan Adrian. Pria paruh baya itu pun berharap bisa bergabung dengan Adrian. Semoga saja Adrian mau menerima Frank. 


"Aku harus memikirkan ke depannya. Aku nggak akan membiarkan Aska dalam bahaya. Aku harus menjadi perisai dan mencari pengawalku yang terbaik untuk melindunginya. Cepat atau lambat Jamaludin dan Julia akan membunuhnya," ucap Frank dalam hati.


Malam yang cerah. Aska dan Adrian sedang duduk di ruang kerja. Kedua pria berbeda generasi itu sedang berdiskusi. Mereka sedang membicarakan tentang nasib perusahaan Aska ke depannya. Mau tidak mau Aska mengambil keputusan yang sangat besar sekali. 


Ketika Aska bercerita akan merombak perusahaan itu. Adrian hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bagaimana bisa Aska memiliki keputusan yang cukup besar itu? Memang benar Adrian juga merasakan ada sesuatu di perusahaannya itu. Mau tidak mau Adrian menuruti keinginan Aska. Lalu Adrian memberikan beberapa saran agar Aska memilih anggota dewan direksi dan para petinggi perusahaan tersebut yang cukup mumpuni di bidangnya masing-masing.


"Kalau boleh usul. Ayah meminta kamu mencari orang-orang yang sangat mumpuni di bidangnya. Ayah nggak mau berurusan dengan orang itu lagi," ucap Adrian dengan bijak.


"Siapakah mereka ayah? Jujur aku tidak memiliki kenalan di manapun. Bagaimana bisa aku meme chat mereka tapi belum ada penggantinya," tanya Aska yang mulai frustasi. 


"Jangan takut soal itu. Nanti ayah akan memanggil beberapa orang. Orang itu adalah kenalan ayah," jawab Adrian yang memberikan rekomendasi untuk Aska. 


"Jangan-jangan kenalan Ayah adalah orang asing?" tanya Aska. 


"Ya itu benar. Mereka sangat mumpuni sekali di bidangnya," jawab Adrian lagi.

__ADS_1


"Berikan aku siapa saja nama orangnya. Aku akan memilih mereka satu persatu untuk mengetesnya," pinta Aska. 


"Apakah kamu serius ingin mengetes mereka?" tanya Adrian yang semakin bingung dengan putranya itu. 


__ADS_2