
Setelah bertemu dengan Damian, sepasang suami istri itu pun masuk ke dalam kamar. Aska yang mendengar kabar tidak enak dari sang kakek langsung terdiam.
Aska pernah mendengar kalau penyakit kanker hati biasanya terkena virus hepatitis. Namun Aska ragu akan hal itu. Sejauh ini Damian menjaga makanannya. Apalagi damean adalah orang yang berpengaruh di dunia. Itulah kenapa Aska sendiri menjadi tanda tanya.
Lalu Aska teringat pada Julia. Ia memiliki firasat yang kuat. Kalau penyakit kanker hati itu disebabkan oleh Julia. Sebelum lebih jauh lagi, Aska akan meminta bantuan kepada pamannya itu. Mau tidak mau Aska harus menemui Frank.
Melihat Maria yang masih memakai gaun pengantin, Aska segera mendekat. Tangan kekarnya itu mulai melingkar di pinggang Maria. Dagunya menempel di pundak Maria. Ia sengaja memeluk Maria agar mengurangi beban dalam otaknya.
"Aku tahu kamu memiliki masalah yang sangat berat sekali," ucap Maria.
"Kalau aku boleh memilih, Aku pengen hidup di desa lagi seperti dulu. Tapi aku nggak tahu bagaimana kamu? Di desa meskipun gajinya sangat terbatas. Tapi aku bisa hidup bahagia seperti dulu. Nggak ada beban sama sekali. Sekarang banyak masalah yang sedang menghadangku untuk diselesaikan. Aku butuh seseorang yang mampu menjadi partnerku seumur hidup. Di dalam suka maupun duka Aku ingin partnerku itu sangat tegar sekali menghadapi aku. Aku berharap kamu bisa menjadi partnerku sekaligus istriku. Kamu nggak perlu ngasih aku saran. Kamu nggak perlu ngasih aku komen. Cukup dengan melihat wajahmu itu. Aku bisa ceria kembali," jelas Aska.
"Apakah masalah ini kamu akan memberitahukannya pada ibu?" tanya Maria.
"Pesan kakek sepertinya jangan dulu. Jika aku bicara pada ibu. Ibu pasti akan bersedih," jawab Aska.
"Oh ya... Bukankah kanker hati disebabkan oleh virus hepatitis B ataupun c?"
"Aku nggak yakin itu."
"Kenapa kamu nggak yakin?"
"Karena aku sendiri pernah mengetahui kalau kakak makannya dijaga oleh dokter gizi yang berada di rumah."
"Lalu?"
"Kemungkinan besar ada yang sengaja memberikan obat-obatan yang bisa memicu kanker hati."
"Kamu jangan menuduh orang seperti itu. Kalau kamu menuduhnya seperti itu, kemungkinan besar kamu akan mendapatkan masalah."
"Aku tahu itu. Tapi hati kecilku berkata. Penyakit yang dimiliki kakek bukan berasal dari virus. Aku ingin bicara pada kakek esok hari. Aku ingin tahu apa penyebabnya?"
__ADS_1
"Apakah kamu ingin membersihkan tubuhmu?"
"Kamu dulu aja. Aku akan menghubungi seseorang untuk meminta laporan."
"Seseorang siapa?"
"Sepertinya kamu cemburu ya?"
"Aku nggak cemburu. Aneh saja. Malam-malam ingin menghubungi seseorang. Apalagi jam malam begini adalah malam pengantin kita."
"Aku nggak menghubungi perempuan kok. Aku hanya menghubungi temanku. Dia suka berhubungan dengan Romeo."
"Siapa namanya?"
"Sepertinya kamu takut banget sih."
"Jujur aku takut. Jika kamu menghubungi Cici."
Sontak saja Aska matanya membulat sempurna. Bagaimana bisa jika Maria berpikiran dirinya menghubungi Cici? Bukannya Cici itu masa lalunya?
"Iya bang," sahut Maria.
"Cici adalah masa laluku. Ngapain coba aku menghubungi Cici? Lagian juga aku nggak mau nyimpen nomor teleponnya. Kalau menyimpan nomor teleponnya juga percuma. Setiap orang ada yang menyakitiku dan merendahkanku, Aku tidak mau menjalin hubungan seperti itu," jelas Aska yang kegirangan Maria cemburu.
"Ya siapa tahu bang," kesal Maria.
"Banyak orang yang merendahkanku tapi nggak pernah bilang dengan kata-kata kasar seperti itu. Banyak orang-orang yang menghinaku tapi nggak pernah ada yang bilang memakai kata-kata kasar seperti itu. Tapi ini sangat parah sekali. Kata-katanya itu yang sangat merendahkan diriku. Bahasanya juga nggak bagus didengar. Ditambah lagi dengan Cici membanding-bandingkan ku dengan juragan jengkol. Makanya aku sangat membenci dia. Lihat aja teleponnya di kantor seperti itu. Apakah kamu nggak denger? Seluruh karyawan pernah direndahkan oleh Cici. Kalau kamu mau dengar. Tanya saja sama Pak satpam. Pasti Pak satpam tahu Cici seperti apa?" beber Aska.
"Iya sih. Aku sangka dirimu menghubunginya dan meminta maaf," ucap Maria.
"Nggak ada maaf baginya. Lagian juga aku mau menghubungi Max. Dia adalah teman kampungku. Yang tiba-tiba saja menjelma menjadi," ucap Aska yang menggantung dan tidak ingin memberitahukan siapa Max sebenarnya.
__ADS_1
"Jadi apa?" tanya Maria yang mulai curiga.
"Kalau aku teruskan, bisa-bisa Maria ilfil sama aku. Jujur aku sekarang mulai berhubungan dengan mafia. Hanya demi mengungkap kejahatan Julia dan Jamaludin," batin Aska.
"Dia adalah tukang buah juga. Dia sangat jago sekali pemilihan buah yang bagus dan tidak. Dari situ aku belajar dengan Max. Hingga aku bisa memilih buah yang memiliki kualitas bagus atau tidak," jelas Aska yang mengingat pekerjaan Max di kampung. "Ganti baju gih sana. Masa kamu tidur pakai gaun seperti itu?"
"Makanya kamu minggir dulu aku mau ganti baju. Kalau kamu kayak gini terus bagaimana aku ganti baju?" tanya Maria yang memegang tangan Aska.
Sebelum pergi meninggalkan Maria, Aska tidak sengaja menghembuskan nafasnya di dekat leher Maria. Tiba-tiba saja Maria menjadi merinding dan merasakan tubuhnya mulai bereaksi. Ia memilih untuk diam terlebih dahulu sampai Aska melepaskannya. Namun Aska tidak melepaskannya sama sekali. Aska sangat nyaman dengan posisi seperti itu.
Beberapa saat kemudian Aska melepaskan Maria. Ia menghempaskan bokongnya di tepi ranjang sambil membuka kancing bajunya.
Maria segera mendekat kepada Aska sambil membelakanginya. Saat membelakanginya Aska mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kamu Kenapa jalannya mundur seperti itu?"
"Tolong, buka resletingnya! Aku tidak bisa membukanya," jawab Maria sambil meminta bantuan kepada Aska.
Dengan senang hati Aska berdiri dan membuka resleting gaun itu. Pelan tapi pasti. Aska tidak sengaja melihat kulit Maria yang putih mulus. Dirinya seakan ingin melemparkan Maria dan menghajarnya malam ini. Jujur saja Aska merasakan hatinya ingin meminta lebih.
"Aku sudah selesai membukanya. Pergilah ke toilet!" Perintah Aska dengan nada rendah.
Dengan cepat Maria masuk ke dalam toilet. Dirinya tidak akan berganti baju di hadapan Aska. Sedangkan Aska mulai menetralisir keadaannya. Ia lebih memilih untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Max. Namun apa daya nomor ponselnya Max tidak bisa dihubungi sama sekali.
Setelah selesai acara penerimaan tamu, Adrian masih berada di ballroom. Adrian teringat akan satu orang yang berhasil mengacau pernikahan putranya itu. Namun ketika ingin keluar, ada seorang pria paruh baya sedang berdiri di hadapannya. Jujur saja Adrian terkejut dan langsung memeluk pria itu.
"Frank," panggil Adrian.
Nama pria itu adalah Frank. Frank sengaja menunggu Adrian dari tadi. Dirinya memang niat untuk bertemu Adrian. Jujur ia sangat merindukan adiknya itu.
"Apa kabar adikku?" Tanya Frank.
"Aku baik-baik saja. Dasar Kakak nggak punya akhlak sama sekali," jawab Adrian sambil melepaskan Frank dan menghajarnya.
__ADS_1
Frank pun tertawa karena ulah Adrian. Ia mengerti Kalau Adrian sedang kesal. Kemudian Adrian menghentikan aksinya dan memandang wajah Frank.
"Bukankah kamu berada di alam baka sana?" tanya Adrian yang membuat Frank tertawa.