Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Permintaan Maria.


__ADS_3

"Ternyata Abang sadar. Kalau kamu adalah seorang gadis yang sangat menggemaskan. Rasanya aku ingin melahapmu sekarang juga," jawab Aska sambil menggoda Maria.


"Tinggal enam hari lagi. Abang harus menahannya. Bang... Besok aku pulang ke rumah ya. Aku rindu sama ibu," Maria meminta izin untuk pulang ke rumah sebentar.


"Boleh. Kita akan ke sana. Oh iya... Sorenya kita pergi ke kebunnya Pak Broto. Abang Romeo sudah memesan banyak makanan. Makanan itu akan dibagi-bagikan oleh warga sebagai rasa syukur karena aku sudah menikah," jelas Aska.


"Sore atau pagi?" tanya Maria.


"Malam. Aku sengaja ingin mengundang mereka untuk datang ke kebunnya Pak Broto. Ya hitung-hitung aku ingin melakukan syukuran. Apa yang telah aku capai," jawab Aska.


"Maksudnya syukuran pernikahan? Ya sudah kalau begitu. Aku harap Abang memesan makanan lebih. Aku ingin mengundang teman-temanku yang tidak bisa datang ke Jakarta. Maksudku teman-teman sekolahku. Aku ingin berbagi juga kebahagiaan ini kepada mereka," ucap Maria yang mendapatkan anggukan dari Aska.


"Tidak apa-apa. Panggil mereka semua untuk berkumpul di kebunnya Pak Broto. Di sana ada tempat yang luas dan terang untuk membuat syukuran. Biasanya tempat itu sering aku buat kumpul-kumpul sama petani lainnya," Aska memberikan izin untuk Maria memanggil teman-temannya itu.


"Maafkan aku. Jika aku meminta lebih," ujar Maria.


"Kamu nggak perlu minta maaf seperti itu. Kamu berhak memintanya lebih. Karena aku sendiri sudah menyelidiki siapa-siapa teman kamu di sekolah. Apa susahnya aku membuat acara itu dengan menambah orang. Sudah malam waktunya kita tidur," sahut Aska.


"Tapi aku belum mengantuk. Ketika kamu pergi ke kebun Pak Broto. Aku memilih tidur. Begitu juga dengan ibu. Kami tidur di kamar masingmasing," jelas Maria.


"Ternyata kamu sama Ibu sangat kompak sekali," puji Aska.


"Terima kasih," ucap Maria.


"Sama-sama," balas Aska. "Setelah ini akan ada peperangan yang hebat Antara aku dengan musuh.


"Aku bersedih jika kalian harus bertempur seperti itu. Tapi apa daya, gara-gara mereka keluarga kamu hancur berantakan. Jadi aku memilih berada di pihakmu. Memang aku bisa membayangkan dulu kamu sangat menderita sekali," tutur Maria yang mengingat menderitanya Aska pada waktu itu.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Keluarga kita tidak akan hancur berantakan seperti ini. Aku akan mencari celah untuk mengobrol bersama paman Frank. Jika kamu bertemu dengannya. Aku yakin kamu tidak akan pernah bisa diam. Beliau sering membuat lawan bicaranya tertawa," jelas Aska.


Beberapa saat kemudian Aska melihat ponselnya berkedip. Lalu ia segera mengambil ponselnya dan melihat satu pesan dari Frank. Betapa terkejutnya Aska saat ini. Julia palsu mengalami kecelakaan parah. Ditambah lagi berita itu menguatkan kalau Julia kedua kakinya di amputasi. Bisa dikatakan Julia cacat secara permanen.


"Apakah ini berita hoax?" tanya Aska sambil menatap wajah Maria.


"Maksud kamu apa?" tanya Maria balik.


"Julia palsu mengalami kecelakaan parah. Kakinya diamputasi dan mengalami cacat permanen. Aku harus mencari kebenarannya itu. Soalnya yang kita tahu Julia tidak pernah mengekspos berita tentang dirinya. Banyak media mengatakan kalau Julia itu adalah wanita yang sombong," jawab Aska.


"Mungkin saja identitasnya takut kebongkar. Jika sampai identitas itu terbongkar. Cepat atau lambat dirinya akan menanggung malu dan terkena mental. Itu hanya analisisku saja," tambah Maria yang menganalisis keadaan Julia.


Aska langsung menghubungi Frank. Di sana Frank bercerita tentang keadaan Julia melalui mata-matanya itu. Memang Frank sedang bersembunyi. Namun mata-matanya itu selalu mencari berita dengan cepat dan tepat.


Selesai menghubungi Frank, Aska sangat lega. Menurut Aska musuh satu sudah berakhir riwayatnya. Namun Maria menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Abang dengerin Maria ya."


"Abang jangan lengah seperti itu. Cepat atau lambat Julia akan menyerang keluarga Wicaksono. Meskipun dia cacat. Namun hatinya belum puas untuk mendapatkan kakek Damian," jawab Maria sambil memperingatkan Aska.


"Kamu benar. Kita akan melihat Apa yang dilakukan oleh nenek sihir itu. Aku tidak akan lengah sedikitpun," sahut Aska.


Memang benar kenyataannya itu. Julia sudah mengutuk keluarga Wicaksono agar tidak bahagia. Namun Aska tidak pernah gentar untuk melawan orang-orang seperti itu. Di sisi lain Aska harus bersiap-siap menghadang seluruh musuh-musuhnya itu.


"Aku harap nenek tahu soal masalah ini," kata Aska sambil menatap langit-langit di kamar.


"Sepertinya kita harus membuat jadwal pertemuan antara ibu dan nenek. Aku harap mereka bisa bertemu dan hidup di sini," jelas Maria yang meminta Aska untuk tidak melupakan janjinya itu.


"Aku tidak akan melupakannya. Aku ingin mempertemukan Mereka dalam satu pertemuan. Tapi di mana ya biar aman agar mereka tidak mengetahuinya. Soalnya aku diberitahukan sama ayah. Kalau keluarga kita sedang diincar oleh Jamaludin. Inilah yang membuat aku ketakutan," ungkap Aska.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja. Kalau itu tanyakan saja pada ayahmu. Bagaimana enaknya agar ibu bisa bertemu dengan nenek," tambah Maria yang mulai menguap dan menutup mulutnya.


"Sudah malam. Waktunya kita tidur. Jangan kebanyakan pikiran. Nanti tidak bisa tidur," Aska memperingatkan Maria agar tidur jangan malam-malam.


Kebun Pak Broto.


Damian yang selesai meminum obatnya hanya bisa pasrah. Dirinya tidak menyangka kalau hidupnya tidak lama lagi. Namun ia meminta kepada Tuhan agar tidak mengambilnya dengan cepat. Ada beberapa tugas lagi yang harus dikerjakan.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Pak Broto masuk ke dalam sambil membawa snack. Lalu Pak Broto mendekati Damian dan menaruh snack itu di atas meja.


"Tuan besar," panggil Pak Broto.


"Ada apa?" tanya Damian sambil menatap wajah Pak Broto.


"Apakah Tuan besar baik-baik saja? Akhir-akhir ini tuan besar selalu diam dan tidak bicara. Apakah Jamaludin membuat ulah kepada Tuan?" tanya Pak Broto dengan sopan.


"Aku baik-baik saja. Namun hatiku tidak baik. Bukan karena dendam atau banyak masalah. Aku sedang mengidap kanker hati. Yang di mana kanker itu sudah mulai menggerogoti tubuhku ini," jawab Damian dengan sendu.


Sontak saja Pak Broto sangat terkejut sekali. Bagaimana bisa Tuan besarnya itu mengidap penyakit parah. Yang ia tahu, Pak Broto mengetahui kalau Damian menjaga pola makannya dengan baik. Pak Broto akhirnya duduk di hadapan Damian sambil berkata, "Maafkan aku Tuan besar. Jika aku mengatakan analisisku. Aku harap Tuan tidak marah," pinta Pak Broto.


"Apa yang ingin kamu katakan? Aku akan mendengarnya. Karena aku dan sekarang masih sama saja mendengarkan pendapat orang lain dengan tenang," Damian tersenyum sambil melihat Pak Broto merasa tidak enakan.


"Baiklah tuan. Selama ini anda tinggal di rumah. Saya tahu siapa-siapa orang yang ingin membuat Tuan mati dengan cepat," Pak Broto langsung memberikan kesimpulan.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Kamu ingin mendoakan aku mati," tanya Damian yang tidak marah sama sekali.


__ADS_2