Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Ternyata Mantan Pacar Aska Berada...


__ADS_3

"Kamu bertanya kaya kereta api?" tanya wanita itu.


"Eh... apa salahnya apa?" tanya Lia balik. "Lu itu kalau curhat sama gue kaya kereta barang yang engga ada habisnya."


"Gue tiarap hari mendapat kiriman dari juragan jengkol," jawab wanita itu


"Tapi kenapa lu kesal kaya gitu Ci?" tanya Lia.


"Gue kagak kesel. Tadi ada seseorang yang datang mirip mantan gue di kampung," jawabnya.


"Oh... Yang tadi itu. Yang bersampingan dengan Pak Romeo?" tanya Lia.


"Iyalah. Gue panggil kok gak respon. Padahal anaknya cakep kayak orang Korea. Berhubung dia anaknya orang miskin gue putusin deh," jawab wanita itu.


"Apa lu gila? Lu putus gara-gara juragan jengkol ya? Lu tahu juragan jengkol itu udah punya bini tiga?" tanya Lia yang dibenarkan oleh temannya itu.


"Memang. Gue memang mutusin dia gara-gara miskin. Bajunya lusuh dan tidak terawat. Kan gue nggak salah. Gue nggak mau hidup miskin. Sekarang gue makmur. Soalnya tiap hari juragan jengkol itu ngasih nafkah ke gue sebesar lima ratus ribu," jawab wanita itu dengan tersenyum sumringah.


"Astaga Cici... Lu itu nyari pasangan hidup mesti dinilai dari segi materi. Gue bilangin hati-hati aja sama yang namanya tiga bini dari juragan jengkol itu," kesal Lia.


"Ya mau ke bagaimana lagi. Gue kan udah ngomong sama lu. Kalau gue nggak mau punya lagi yang miskin seperti itu. Meskipun sangat tampan tapi nggak punya duit ya sama saja. Jadi cewek kudu materialistis apa? Lu kira gue bisa hidup tanpa duit? Tiap malam gue sering kongkow di klub. Tiap minggu gue selalu pergi ke salon. Tiap bulan gue selalu belanja baju bermerek. Jujur gue nggak mau dikalahin sama orang-orang sini. Karena Cici adalah wanita modern," jelas Cici nama wanita itu.


"Ya udah deh. Terserah... Gue cuman mau ngingetin aja. Karena gue nggak mau lu memiliki masalah sama mereka. Meskipun gue bukan kampung sana. Gue tahu soalnya keponakan gue kerjanya di sana. Ketiga istrinya sangat ganas sekali. Sekalinya semprot muka lo itu hancur. Udah gue bilangin itu aja. Sekarang kerja jangan ngobrol aja. Bos sudah datang dari tadi. Kalau kita nggak kerja dapat teguran," jelas Lia yang membuat Cici kesal.


Aska bersama Romeo sedang berjalan mengelilingi lantai dua puluh tujuh. Ada rasa kagum di dalam hatinya desain interior terpampang jelas di matanya.


Tidak sengaja Aska menemukan sebuah ruangan yang masih kosong. Lalu Aska menarik Romeo dan menunjuk ruangan itu.


"Ruangan itu masih kosong ya?" tanya Aska.

__ADS_1


"Iya itu benar. Tempat itu belum ada yang menempati sama sekali. Kata nyonya tempat itu dikhususkan untuk kamu," jawab Romeo.


"Ternyata Ibu telah menyiapkannya semua untukku. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi," ucap Aska.


"Beliau sangat menyayangimu. Bahkan mencintaimu setulus hati. Meskipun kamu terpisah jauh, beliau tidak pernah melupakanmu," jawab Romeo.


"Aku harus bagaimana?" tanya Aska.


"Lebih Baik tuan muda belajar dengan serius. Karena Tuan besar sangat menginginkan tuan menjadi ahli waris. Namun tuan muda harus menjadi pria kuat," jawab Romeo.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Aska.


"Tanyalah. Kalau tahu pasti aku menjawabnya. Jika tidak tahu aku tidak akan menjawab apapun," jawab Romeo.


"Siapakah musuh kakek sebenarnya? Sampai detik ini aku masih bertanya-tanya dalam hati. Apakah kakek adalah seorang pria jahat?" tanya Aska yang masih ingin mengetahui sang kakek.


"Iya sih. Sebelum tahu kalau aku adalah cucunya. Aku sering mengikuti beritanya. Bahkan sangat mengaguminya. Seluruh perusahaan yang berkolega dengannya sangat nyaman sekali. Setelah melakukan pertemuan kemarin, aku merasakan ada yang janggal dengan kakek. Tapi aku belum bisa mengutarakannya ke manapun. Aku harus mencari bukti-bukti terlebih dahulu. Kalau aku bilang musuh sesungguhnya sang kakek adalah orang terdekat kita. Aku tidak mau menuduh siapapun. Aku juga tidak akan menuduh ibuku sendiri. Karena ibuku sangat baik sekali. Melihat cara ibuku memperlakukan sang kakek membuat aku terenyuh," jelas Aska.


"Nah itu dia. Aku juga merasakan itu. Tapi aku tidak berhak untuk mencari jawabannya. Karena semuanya itu bukan ranahku," jawab Romeo.


"Kalian masih di sini?" tanya Maria yang mendekati mereka.


"Iya aku masih di sini," jawab Aska. "Memangnya kenapa? Apakah ibu mencariku?"


"Iya. Kamu ditunggu sama Nyonya Christina di dalam. Begitu juga dengan Romeo. Sekarang aku akan bekerja terlebih dahulu," jawab Maria yang meninggalkan mereka.


Melihat kepergian Maria, entah kenapa hati Aska merasakan ada sesuatu yang aneh. Jujur Aska mengagumi sosok Maria. Dalam benaknya Maria adalah gadis yang sangat cantik sekali. Rasanya Aska sudah menemukan wanita yang tepat untuk dirinya.


"Apakah Nona itu sudah memiliki pacar?" tanya Aska.

__ADS_1


Mata Romeo membulat sempurna. Ia sangat terkejut sekali dengan pengakuan Aska. Bagaimana bisa Aska langsung menanyakan status Maria. Mau tidak mau Romeo menjawabnya.


"Bagaimana punya pacar? Kalau Maria itu adalah wanita galak sekali. Setiap ada pria yang mendekatinya dalam jarak satu meter. Pria itu langsung kabur. Sampai sekarang Maria tidak memiliki kekasih gara-gara galaknya itu," jelas Romeo dengan jujur. "Ayo masuk ke dalam. Jangan bahas Maria terus-terusan."


Romeo akhirnya mengajak anda masuk ke dalam. Sebelum masuk ke dalam Romeo menyuruh Aska berhenti sebentar. Tidak sengaja Romeo mendengar Christina sedang marah-marah. Begitu juga dengan Aska, dirinya juga mendengar sang ibu sedang marah-marah.


"Ada apa bang?" tanya Aska.


"Sepertinya Nyonya sedang dalam masalah. Lebih baik kita tunggu di sini aja," jawab Romeo.


"Aku harus masuk dan memastikan kalau Ibu tidak terjadi apa-apa," ucap Aska tiba-tiba saja khawatir dengan keadaan Christina.


"Silakan tuan," sahut Romeo yang mempersilakan tuan mudanya masuk ke dalam.


Aska memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Christina. Ia menutup pintunya dan melihat Christina masih marah-marah ditelepon. Wajahnya mulai bingung kemudian mendekati Christina. Tak lama Azka menatap wajah Christina yang kecewa.


Dengan tegasnya Aska meminta ponsel tersebut. Namun Christina menggelengkan kepalanya. Christina tidak mau sang anak ikut-ikutan dalam masalah ini. Aska tetap memaksa Christina sambil menatapnya dengan tajam.


Terpaksa Kristina mengalah dan memberikan ponsel itu ke Aska. Kemudian Aska berbicara kepada orang berada di seberang sana.


"Halo," siapa Aska dengan nada dinginnya.


Christina sangat terkejut sekali mendengar Aska mengeluarkan nada dinginnya. Dirinya tidak menyangka kalau Sang putra benar-benar menjelma menjadi Sang penyelamat.


"Halo, siapa ini?" tanya Aska sekali lagi.


"Di mana Nyonya Christina?" tanya orang yang berada di seberang sana.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Aska.

__ADS_1


__ADS_2