Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
HARIYADI MEMBUAT ULAH.


__ADS_3

Maria tertawa terbahak-bahak karena ulah Aska. Bagaimana tidak orang sekelas Romeo ternyata Aska yang berani meledeknya. Jujur saja Romeo adalah pria dingin.


"Sudah pagi seperti ini. Bisakah aku tidur sebentar?'' tanya Aska.


"Silakan saja tuan muda. Kami tidak akan mengganggumu. kami juga akan tidur terpisah di ruangan masing-masing," jawab Maria.


Lalu mereka berpisah dan masuk ke ruangan masing-masing. Masalah ini sudah clear. Kemungkinan besok pagi Aska harus menjelaskan semuanya ke Christina. Cepat atau lambat sang Ibu harus tahu semuanya.


Tak lama Aska mulai terlelap tidur. Hawa dingin mulai menyelimuti dari AC ruangannya itu membuatnya harus membungkus tubuhnya dengan selimut.


Aska sudah sering seperti ini. Ketika diusir dari rumahnya, Aska sering tidur di kebun. Ditemani banyak nyamuk dan tidur beralaskan tikar. Untung saja Aska tidak menemukan hal-hal aneh di kebun itu. Kalaupun bertemu Aska bisa memastikan dirinya tidak takut apa-apa.


Pagi yang cerah suasana di Kota Jakarta sangat ramai sekali. Banyak orang-orang sudah melakukan aktivitasnya.


Pria muda itu yaitu Aska masih terlelap tidur. Tubuhnya merasakan pegal-pegal dan ototnya kesakitan. Aska sangat membenci rasa sakit ini. Jujur kalau boleh memilih Aska lebih baik bekerja di perkebunan.


Christina yang sudah terbangun dari tadi melihat Sang putra masih tertidur lelap. Wanita paruh baya itu membangunkan Sang putra untuk pergi mandi. Sebelum pergi mandi Aska menatap wajah sang ibu. Ia sangat bingung dengan keputusannya semalam.


Bukan bingung karena menikahi Maria. Aska ingin meyakinkan hati Christina untuk menerima Maria. Karena dirinya takut jika Christina tidak menerimanya. Aska takut jika mendapatkan predikat anak yang durhaka.


"Kenapa kamu memandang Ibu seperti itu?" tanya Christina.


"Maafkan aku Bu. Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Aska balik.


"Tidak apa-apa. Bicaralah," jawab Christina.


"Ini mengenai tentang pernikahan Maria Bu. Aku tidak ingin Ibu bermusuhan sama Maria. Karena aku menjadi pengantin pengganti. Aku ingin menyelamatkan harga diri keluarganya itu Bu. Di sisi lain aku juga ingin melindunginya dari mantannya itu. Jujur aku sudah sering mendapatkan kejadian seperti ini."


"Ibu paham soal itu nak. Jangankan kamu yang mengetahui berita tersebut. Di dalam dunia politik perusahaan mereka sering melakukan itu. Jika kamu serius membangun rumah tangga bersama Maria Ibu tak apa. Meskipun usiamu masih cukup muda untuk mengenal apa yang namanya rumah tangga itu? Tapi Ibu mohon jangan sekali-sekali kamu mempermainkan pernikahan itu. Cepat atau lambat kamu pasti memiliki keturunan untuk kedepannya. Ibu tidak mau anak-anakmu merasakan hal yang sama denganmu. Ibu ingin kamu awet bersama Maria."


"Apakah Maria adalah wanita baik bu?"

__ADS_1


"Sangat baik sekali. Sangat berbakti kepada orang tuanya. Cerdas dan penolong. Itulah kenapa ibu mengangkatnya sebagai asisten. Jiwa energiknya itu telah membuat Ibu menjadi semangat kembali untuk menemukanmu. Ditambah lagi dengan Romeo, meskipun abangmu itu memiliki sifat dingin. Namun Romeo adalah pria yang sangat baik sekali. Dia yang akan menjagamu."


"Sekarang aku tidak ragu lagi Bu. Lebih baik aku menikah muda ketimbang melakukan hal yang konyol di luar batasku. Cepat atau lambat aku akan mengenal para kolega perusahaan ini. Aku sudah mempelajari banyak karakter orang yang aneh-aneh. Ada yang baik, buruk, licik, aneh dan sebagainya."


"Iya kamu benar. Apalagi dunia bisnis penuh dengan orang-orang licik yang saling menghancurkan. Makanya itu kamu harus memahami sifat-sifat mereka. Jika kamu paham soal itu. Kemungkinan besar bisa selamat dari cengkraman mereka. Ibu hanya berpesan itu saja."


"Bagaimana dengan ayah Bu? Apakah Ibu masih sangat mencintainya?"


"Cinta ibu tidak pernah luntur kepada ayahmu. Ibu masih berharap banyak untuk bersatu sama ayahmu itu. Tapi Jika Tuhan berkehendak lain. Ibu tidak akan memaksanya."


"Kalau begitu ya sudahlah. Pagi ini Ibu harus mengeksekusi sekretaris yang kurang ajar itu. Bisa-bisanya membuat surat perjanjian konyol. Oh ya... Abang sudah mendapatkan informasi lengkap tentang Erna. Jika Ibu ragu Aska akan mengirimkannya untuk ibu."


"Ok."


Setelah meyakinkan Christina, Aska akhirnya maju untuk menikahi Maria. Dalam benaknya Aska akan mendapatkan keuntungan lebih. Yaitu dirinya tidak akan melakukan bergonta-ganti teman di ranjang. Yang kedua dirinya akan mendapatkan reward yaitu ada yang memperhatikan setiap harinya. Kemungkinan besar Aska sudah berbuat licik kepada dirinya.


"Licik sih licik. Inilah yang dinamakan hidup. Cepat atau lambat aku bertemu dengan orang-orang bermain licik di belakang maupun di depanku. Mau tidak mau Maria harus ikut denganku. Karena... Ah sudahlah... Namanya dunia bisnis Ya seperti ini. Banyak jebakan Batman yang akan dilakukan mereka kepadaku," ucap Aska dalam hati sambil menggosok-gosokkan tubuhnya dengan sabun.


Tanpa diketahui oleh Christina, diam-diam Sang putra memiliki otak licik. Kemungkinan besar Aska akan memakai otak tersebut untuk menjebak sang lawan. Contohnya saja sekarang sudah ketahuan. Betapa liciknya otaknya itu. Bahkan lebih listrik dari sang ayah.


"Halo sayang," panggil Haryadi dengan penuh dendam.


"Di mana bapakku?" tanya Maria.


"Tenang saja. Bapakmu sedang terkena serangan jantung. Aku sudah bilang sama kamu jangan macam-macam! Kamu akan tetap menikah denganku tapi aku tidak akan pernah membahagiakan kamu!" ancam Haryadi.


Mendengar sang bapak terkena penyakit jantung, Maria berteriak histeris. Maria langsung melemparkan ponselnya sambil menangis.


Tak sengaja Aska datang sambil membenarkan kemejanya itu. Belum masuk ke dalam Aska mendengar suara jerit tangisan Maria. Ia langsung membuka pintu dan melihat Maria menangis.


Kemudian Aska mendekatinya lalu bertanya, "Ada apa?"

__ADS_1


"Bapakku terkena serangan jantung. Di rumahku ada Haryadi yang sudah membuatnya sakit lagi," jawab Maria sambil terisak.


"Di mana rumahmu? Aku ingin ke sana dan menghajar mantan kamu itu! Dia tidak pantas hidup!" tegas Aska.


"Aku ingin pulang sendiri. Aku tidak mau kamu ikut-ikutan untuk masalah ini. Sekalinya Kamu kena masalah polisi akan memburumu," ucap Maria dengan suara parau.


"Itu tidak akan bisa Maria!" seru Romeo. "Kamu tahu kekuasaan Azka sama Hariadi bagaimana?"


Maria terkejut dan menatap wajah Romeo. Ia tidak menjawab karena masih ketakutan dalam hati.


"Kamu tahu kekuatan Haryadi dibandingkan dengan Tuan mudamu itu?" tanya Romeo lagi. "Jawabannya adalah tuan mudamu. Tuan mudamu tidak akan terpenjara dalam sel yang gelap itu. Melainkan Haryadi yang akan berada di dalam sel itu!"


"Abang," seru Aska.


"Iya, ada apa?" tanya Romeo.


"Bisakah kamu mengantarkan aku pergi ke rumah Maria? Aku ingin memastikan keadaan bapaknya baik-baik saja atau tidak. Atau hanya pancingan saja agar Maria keluar?" jawab Aska yang memberikan dua opsi dan Romeo seketika paham.


"Baiklah aku paham soal itu," ujar Romeo.


"Ayolah kita pulang terlebih dahulu! Aku ingin melihat keadaan bapakmu. Jika Haryadi macam-macam, kemungkinan besar dia bisa mendekam dalam penjara!" perintah Aska yang membuat Maria patuh.


Maria terpaksa mematuhinya. Karena dirinya juga ingin melihat Sang bapak. Akhir-akhir ini Maria sangat takut sekali Jika meninggalkan orang tuanya di rumah sendiri. Cepat atau lambat Haryadi akan berbuat masalah. Inilah yang ditakutkan Maria.


Pagi itu juga Maria mengajak mereka untuk pulang sebentar. Maria sudah tidak sanggup lagi menghadapi Haryadi. Tega-teganya Haryadi melakukan itu kepada dirinya. Ia salah menilai orang karena ketampanan parasnya itu. Ia sudah tidak mau lagi menilai orang dari wajahnya itu.


Di dalam perjalanan Maria yang duduk di samping Romeo merapalkan banyak doa. Maria tidak ingin mendapatkan berita buruk ketika sampai di rumah. Sedangkan Aska sedang mengotak-atik ponselnya. Di dalam lamunannya, Aska ingin memodifikasi ponsel tersebut yang lebih canggih lagi. Tapi Aska belum sempat melakukannya.


Kediaman keluarga Maria.


Terdengar suara drama panci hingga kedengaran dari luar. Beberapa orang sedang mengobrak-abrik rumah tersebut. Mereka sedang menyandera kedua orang tua Maria. Sang bapak benar-benar mengalami penyakit jantung. Namun Haryadi tidak menolongnya sama sekali.

__ADS_1


Bagaimana dengan sang ibu? Sang Ibu sangat ketakutan sekali dan menahan air matanya. Diam-diam hatinya juga merapalkan doa agar mereka selamat dari Hariadi.


Selang beberapa menit mobil Romeo sudah terparkir indah di halaman rumah itu. Baru saja keluar Aska disuguhi sama drama panci terbang lagi. Aska menatap Romeo sambil bertanya, "Kenapa ini terjadi lagi?"


__ADS_2