Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Menjemput Maria.


__ADS_3

“Kamu ingin meledek Jamaludin ya?” tanya Adrian.


“Seharusnya dia juga ikut ayah,” jawab Aska yang ingin mempermalukan Jamaludin di depan umum.


“Ternyata, kamu itu sama saja dengan Frank. Kalau begini ya sudahlah. Aku tidak akan membunuhnya. Aku akan membiarkan dia hidup,” ucap Adrian yang kesal terhadap Jamaludin. 


“Bukan masalahnya begitu ayah. Aku sudah membaca riwayat perusahaan ini. Dahulu Wicaksono Group ini ingin bangkrut. Ketika kakek buyutku menjadi manajer keuangan bersama ayahnya Jamaludin bahu membahu membangun perusahaan ini menjadi besar. Tapi ayahnya Jamaludin sudah mendapatkan bagiannya sendiri. Terus Jamaludin sendiri sudah mendapatkan bagiannya juga. Entah kenapa Jamaludin ingin menguasai perusahaan Wicaksono Gorup sendiri. Padahal yang diberikan oleh kakek untuk Jamaludin itu banyak. Bisa saja Jamaludin membuat perusahaan baru bekerja di sektor pertanian atau apapun itu,” jelas Aska.


“Orangnya kayak gitu. Mau diapain lagi? Padahal Jamaludin itu bisa membuat bengkel. Karena biasanya berada di otomotif. Coba deh bangun bengkel seperti itu. Minta Wicaksono Group untuk mempromosikan. Siapa tahu nanti bengkelnya didatangi oleh orang-orang terkenal dalam maupun luar. Tapi ayah udah nggak ini lagi sih. Ayah sudah nggak peduli lagi dengan Jamaludin,” beber Adrian.


“Ya sudah deh yah. Semuanya terserah hukum yang berada di sini. Aku juga lepas tangan. Tapi... Bagaimana kabarnya Jono? Cepat atau lambat Jono akan menjadi perisai utamanya. Kemungkinan besar Jamaludin akan bermain dengan kotor. Alias memutar balikan fakta. Kita lihat saja nanti hasilnya bagaimana?” ucap Aska yang siap berperang untuk melawan Jamaludin. 


“Apakah kamu nggak ikut ayah menjemput ibu dan istrimu itu?” tanya Adrian. 


“Memangnya pesawat Paman Frank kapan mendarat?” tanya Aska mata berbinar.


“Sekarang,” jawab Adrian yang beranjak berdiri dan membereskan seluruh dokumen tersebut. “Kita berangkat sekarang saja.”


“Apakah ayah merindukan ibu?” tanya Aska yang beranjak berdiri.


“Sebulan seperti setahun tahu. Rasanya ayah sudah tidak kuat lagi menahan rindu di dalam di dada,” jawab Adrian yang membuat Aska matanya membulat sempurna.


“Sepertinya... Ayah benar-benar bucin sama ibu,” ledek Aska.


“Terserah apa katamu. Ayah mah nurut saja,” ucap Adrian yang hatinya benar-benar bahagia.


“Ayah,” panggil Aska.


“Ada apa memangnya?” tanya Adrian.


“Bagaimana kalau aku memancing Benjamin keluar dari kandang?” tanya Aska yang tiba-tiba saja memiliki ide.


“Maksud kamu?” tanya Adrian.


“Kita memberitahukan dimana Minah berada. Dengan kata lain kita bisa menjebak Benjamin masuk ke dalam sarang mafia tersebut,” jawab Aska yang membuat Adrian menelan salivanya dengan susah payah. 


Plakk!


Sebuah tangan kekar mendarat di pundak Aska. Sang punya tangan itu mengakui kehebatan Aska. Diam-diam Aska memiliki otak yang sangat licik sekali. Lalu Aska hanya bisa memandang wajah sang punya tangan.

__ADS_1


“Paman Luke,” pekik Aska yang terkejut karena pukulan Luke.


“Jangan terburu-buru. Minah sekarang sedang digembleng oleh kakakku di sana. beberapa minggu lagi Minah sudah berubah menjadi seperti biasa. Kalau sekarang itu tidak mengasyikan sekali. Aku ingin melihat perubahan Minah. Apakah dia menjadi wanita penakut sama Benjamin?” ucap Luke.


“Apa yang dikatakan Paman Luke itu benar. Kenapa juga kita terlalu terburu-buru untuk mengejar Benjamin? Kalau Minah baik-baik saja, kita bisa membawanya ke sini dan mengajaknya kerjasama. Aku ingin sekali mengorek banyak informasi darinya. Terutama Benjamin,” ucap Adrian yang lupa akan keputusan awalnya.


“Bener juga ya. Lalu bagaimana dengan hidupnya Benjamin? Yang sekarang ini tidak aman di berbagai negara?” tanya Aska.


“Kemungkinan besar Benjamin tertangkap oleh interpol atau mafia tersebut. Aku akan membuat sayembara untuk mereka. Istilahnya siapa cepat dia dapat. Biarkanlah mereka mengejar hingga ke ujung dunia,” jelas Adrian.


“Nggak asik! Lebih baik dipancing saja. Cepat atau lambat Benjamin harus mempertanggungjawabkan segala tindak lakunya itu,” potong Aska.


“Ya sudahlah. Semua keputusan ada di tangan kamu,” Adrian mengalah karena Aska ingin mengeksekusi Benjamin. 


“Bagaimana Tuan Adrian? Apakah kita berangkat sekarang?” tanya Luke. 


“Ayolah. Aku takut Frank akan mengomel. Kalau dia sudah mengomel seperti ibu-ibu komplek yang panjang dan lebarnya tidak bisa terhitung,” jawab Adrian hingga membuat Luke menahan tawa. 


Jujur selama menjadi asisten Adrian, baru kali ini Luke mendengarkan keluhan sang tuannya panjang kali lebar seperti itu. Dahulu Luke hanya mendengar ucapan sang bosnya itu dengan nada tegas dan berwibawa. Mungkinkah ini yang dinamakan perubahan? Atau dikarenakan ada Aska di sampingnya? Entahlah, hanya Luke yang tahu.


Di tempat lain, Benjamin yang sedang bersantai di samping kolam renang dikejutkan oleh beberapa pengawalnya. Mereka membungkukkan badannya sambil memberikan salam kepada Benjamin. 


“Siang,” balas Benjamin sambil menatap wajah mereka yang pucat. “Apakah ada kabar tentang Alena atau Minah?” 


“Maaf Tuan Benjamin. Alena maupun Minah sudah tidak ada lagi di tempatnya. Saya tanyakan kepada warga di sana. Kata mereka semenjak kejadian mengamuk di kebunnya Pak Broto sudah menghilang. Sampai saat ini kami tidak menemukannya,” jawab pengawal lainnya. 


Wajah ceria Benjamin berubah menjadi dingin. Matanya yang sayu terkena angin berubah menjadi geram. Amarahnya pun memuncak. Benjamin mulai meledakkan amarahnya. 


“Apakah dia meninggal?” tanya Benjamin dengan nada meninggi. 


“Menurut keterangan di sana, para warga mengatakan tidak ada pemberitahuan bahwa Alena atau Minah telah meninggal dunia,” jawab pengawal itu lagi. 


“Coba kalian cari sampai ketemu! Siapa tahu wanita brengsek itu kabur dari rumah! Aku tidak akan membiarkan dia hidup sedikitpun. Aku berikan kalian waktu selama seminggu kedepan. Mau tidak mau kalian harus lapor tentang keadaannya!” perintah Benjamin yang mulai menahan emosi.


“Siap Tuan!” balas mereka serempak. 


“Pergilah! Aku tidak mau melihat tampang kalian sebelum mendapatkan Minah!” titah Benjamin sambil mengusir mereka. 


Mereka akhirnya pergi meninggalkan Benjamin. Benjamin akhirnya melanjutkan waktu santainya di pinggir kolam. 

__ADS_1


Beberapa saat kemudian datanglah Jamaludin bersama Jono. Kedua pria berbeda generasi itu langsung duduk di hadapan Benjamin. 


“Apakah ada kabar tentang Minah?” tanya Jamaludin yang ingin mengetahui kabar tentang Minah.


“Belum ada. Para pengawalku masih mencari keberadaan Minah sekarang. Kemarin sudah ditanyakan katanya Minah sudah tidak ada,” jelas Benjamin Benjamin.


“Papa,” seru Jono.


“Ada apa sih? Kenapa kamu selalu berseru jika berada di samping papa?” tanya Jamaludin yang sering sekali jantungan karena ulah Jono yang suka berteriak-teriak tidak pasti.


“Bukan begitu papa. Aku pastikan Minah sudah meninggal. Kemungkinan besar dirinya tidak memiliki uang sebesar pun ketika berada di sana,” jawab Jono. 


“Itu tidak mungkin. Kalaupun meninggal pasti ada kuburannya. Aku masih menyuruh mereka mencarinya hingga ketemu,” jelas Benjamin. 


“Paman benar,” sahut Jono. 


“Persiapkanlah dirimu untuk menjadi ahli waris Wicaksono Group. Kamu harus bisa menguasai seluruh pelajaran bisnis dan manajemen dari Benjamin. Cepat atau lambat papa akan merebut Wicaksono Group dari Damian! Jika kamu tidak menguasainya, papa akan membunuhmu! Dan kamu akan menyusul mamamu ke neraka!” perintah Jamaludin yang tidak main-main. 


Jono pun menyunggingkan senyumnya. Ia sangat bahagia sekali bisa memiliki perusahaan besar. Yang di mana Jono akan menjadi sang CEO dari perusahaan ternama di dunia ini. 


Apakah Jono sanggup menyaingi Aska? Ataukah Jono bisa memimpin perusahaan itu dengan baik? Sedangkan Jono sendiri memiliki riwayat penyakit autis. 


Ketika sampai di bandara, Aska bersama Adrian dan Luke menunggu kedatangan jet pribadi milik Frank. Di sana mereka sangat asyik sekali bermain game. Ya ketiga pria itu sangat menyukai game online. Bahkan mereka sering bermain game online di waktu senggang. 


Di dalam pesawat, Maria merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Dirinya merindukan sang suami karena sudah sebulan tidak bertemu. Meskipun awalnya mereka tidak saling jatuh cinta. Namun ujung-ujungnya mereka saling merindukan satu sama lain. 


“Sebentar lagi pesawat akan mendarat. Duduklah di posisi masing-masing,” pinta Frank. 


Helen mengajak Maria dan Christina duduk di kursi penumpang. Mereka memasang sabuk pengaman terlebih dahulu. Kemudian pramugari memberikan aba-aba ketika pesawat ingin turun. 


Dalam hitungan detik, pesawat mulai perlahan turun. Maria dan Christina sedang berdoa untuk meminta keselamatan. 


Tepat pukul 05.00 sore mereka akhirnya mendarat dengan sempurna. Mereka bersiap-siap turun. Namun sebelum turun Christina tiba-tiba saja menjadi ketakutan. 


Jujur wanita paruh baya itu tidak bisa membayangkan, Apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Christina sangat takut sekali pulang ke rumah. 


Frank yang mengerti akan hal itu, memilih hanya diam saja. Kemudian Frank mengajak ketiga wanita tersebut turun ke bawah. 


“Ayo kita turun. Aska dan Adrian sudah menunggu kalian!” ajak Frank.

__ADS_1


__ADS_2