Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Meragukan Aska.


__ADS_3

Para peserta di ruangan itu hanya bisa menatap ke arah Adrian. Mereka menilai kalau Adrian adalah bukan pria sembarangan. Namun ada beberapa orang yang seakan merasa tidak nyaman atas kehadiran Adrian. Mereka seakan mengancam Adrian dan ingin mengusirnya dari ruangan itu.


"Apakah kalian takut jika hasil tes DNA itu menunjukkan kesalahan?" tanya Romeo. 


"Berikan surat itu kepada orang-orang yang tidak percaya!" perintah tegas dari Adrian. 


Romeo mengambil surat itu yang masih berada di atas meja. Lalu Romeo melangkahkan kakinya menuju ke Pak Gilang. Di sana Romeo memberikan surat itu dan membiarkan berjalan mengelilingi para peserta rapat tersebut. 


Saat mereka melihat surat tes DNA itu. Mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Surat tes DNA itu tidak bisa dimanipulasi. Untung saja beberapa hari yang lalu Adrian sudah mengambil sampel darah milik Aska ketika tertidur. Memang Adrian memiliki sejuta cara agar mendapatkan hasil terbaiknya. 


Hampir lima belas menit mereka membaca hasil tes DNA itu. Mereka sudah tidak bisa berkelit lagi. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Cepat atau lambat Aska yang akan menduduki kursi CEO tersebut. 


Setelah itu surat tes DNA tersebut kembali lagi ke tangan Romeo. Romeo mengaku puas atas pekerjaan Adrian. Ia mengakui kalau Adrian orangnya sangat jeli sekali membaca keadaan. Lalu Romeo kembali ke atas mimbar dan menatap mereka semua. 


"Apakah kalian masih berkelit soal tes DNA itu?" tanya Romeo sambil melihat mereka terdiam.


"Aku memang putra dari Nyonya Christina. Aku memang tidak pernah hadir di perusahaan ini. Dikarenakan Aku memiliki tugas penting di kebun buah yang berada di Karawang. Yang di mana kebun itu memasok kebutuhan buah-buahan untuk perusahaan ini," jelas Aska. "Di kesempatan hari ini hingga selamanya saya akan berada di sini untuk membangun perusahaan ini menjadi besar. Bagi kalian yang tidak nyaman denganku silakan pergi dari sini. Saya tidak akan mengusir kalian."


Mereka langsung melotot sempurna menatap Aska. Jujur mereka seakan tidak rela kalau kursi CEO itu dipegang oleh Aska. Lalu Aska melihat dengan jelas kalau mereka sudah terdesak dengan posisinya masing-masing. Dengan senyum kemenangannya Aska menatap tajam ke arah Pak Gilang.

__ADS_1


Mulai hari ini Aska akan mengibarkan bendera peperangan. Pria itu tidak akan pernah mundur sekalipun. Jiwa mudanya seakan menantang orang-orang yang ingin menguasai perusahaannya itu. Ia sangat jengah melihat orang-orang yang berebut kursi CEO.


"Cepat atau lambat saya akan merombak para anggota dewan direksi. Karena para peserta di sini sudah tidak sehat lagi. Kalian tidak pernah bekerja sama dengan sang pemilik. Selalu saja kalian menyalahkan Nyonya Christina hingga mengenai mentalnya. Seharusnya kalian mencerna apa yang terjadi di perusahaan ini? Bukankah kalian adalah orang-orang yang mumpuni di bidang masing-masing? Aku sebagai sang pemilik sangat malu sekali kepada kalian," jelas Aska yang berbicara blak-blakan.


Para peserta tidak terima jika posisinya diganti. Mereka akan mencari cara untuk menyerang Aska. Namun di atas mimbar Aska tersenyum meledek mereka. Mereka belum tahu kekuatan Aska bagaimana? Meskipun Aska hidup di kampung. Tapi Aska memiliki pengetahuan bisnis yang mumpuni. Di samping itu juga Aska sering berdebat dengan Pak Broto tentang perkembangan ekonomi dan bisnis di negara ini maupun di dunia.


"Aku tahu… sebagian dari kalian tidak mau diganti atau ditendang dari kursi dewan direksi. terutama ada 10 orang yang sudah melakukan kejahatan di perusahaan ini. Aku tahu siapa-siapa yang memiliki kejahatan itu. Dan aku sendiri memiliki banyak bukti yang sudah kalian lakukan untuk menjaga kekayaan Aska Food. Ditambah lagi kalian bekerja sama dengan seseorang. Cepat atau lambat aku akan mengetahui siapa orang itu sebenarnya," kata Aska dengan lantang lalu menatap tajam ke arah Pak Gilang dan sekitarnya. 


Sontak saja mereka terkejut. Mereka bertanya-tanya kepada Aska, dari mana tahu kejahatan mereka masing-masing. Namun Pak Gilang langsung berdiri dan berteriak. 


"Hey… anak muda! Jangan kamu menuduh kami!" teriak Pak Gilang yang mulai berkelit.


Lalu Pak Gilang memutuskan untuk duduk kembali. Pak Gilang merasakan posisinya sudah tidak aman. Mau tidak mau Pak Gilang diam terlebih dahulu.


"Jadi rapat selama ini ternyata tidak sehat sama sekali. Aku bisa menebaknya dari cara kalian yang memojokan Nyonya Christina. Jelas sudah orang-orang seperti kalian harus aku tendang dari kursi dewan direksi," jelas Aska yang tidak main-main dengan perkataannya itu.


Kemudian Aska melihat bu Imah yang masih berdiri tegak. Aska meminta Bu Imah untuk menghentikan rapat dewan direksi. Bu Imah pun menurut permintaan Aska. Akhirnya rapat dewan direksi bubar sebelum jam istirahat.


Melihat mereka bubar, Aska dan Romeo masih berada di tempat itu. Untung saja mereka tidak membocorkan kesalahan tersebut. Namun Aska akan mengumpulkan bukti-bukti yang konkret untuk menjerat mereka dan melemparkannya ke dalam penjara.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak membocorkan kesalahan mereka di muka umum?" tanya Romeo.


"Tenanglah bang. Jangan terburu-buru. Aku memang sengaja melakukannya. Demi memancing orang yang berada di belakangnya. Ada satu orang yang sangat kuat ingin menghancurkan perusahaan ini. Ditambah lagi, beberapa perusahaan yang ingin melihat Aska Food hancur," jawab Aska yang menjelaskan rencana selanjutnya. "Kalau aku beberkan semuanya di sini. Mereka akan tertangkap polisi. Lalu mereka dengan mudahnya keluar." jelas Aska yang membuat Romeo tersenyum.


"Ternyata kamu sangat cerdik juga. Kenapa juga kita menjebloskan mereka ke dalam penjara? Sementara di belakang mereka akan mengeluarkannya dan membuat rencana baru lagi. Memang otaknya Tuan Adrian berada di dalam kepalamu," jelas Romeo yang memuji kehebatan Aska.


"Abang," panggil Aska. 


"Ada apa?" tanya Romeo.


"Jangan sering-sering memujiku. Jika Abang terus-terusan memujiku. Kemungkinan besar kepalaku menjadi berubah," jawab Aska.


Mendengar pernyataan Aska, Romeo tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa Aska mengatakan seperti itu? Memang benar apa adanya. Sedari dulu Aska tidak mau dipuji oleh siapapun.


"Kamu itu ada-ada aja. Bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Romeo. 


"Rencana selanjutnya adalah belum ada. Biarkanlah rencana itu seperti air mengalir. Nanti juga akan ketemu sendiri," jawab Aska yang berdiri mengambil seluruh mapnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Sepertinya kita tidak perlu memakai pakaian formal seperti ini jika di kantor. Apakah kamu akan mengganti cara berpakaian para karyawan agar tidak terlalu formal?" tanya Romeo.

__ADS_1


__ADS_2