
"Kita tidak perlu teori. Tapi kita harus praktek. Buat apa teori? Tapi nyatanya gagal? Tunggulah kedatangan ayahmu. Aku juga nggak bisa ngapa-ngapain tanpa ayahmu," jawab Frank.
"Bukannya Paman memiliki koneksi?" tanya Aska.
"Tidak semudah itu. Kita bisa saja masuk ke sana. Tapi kita akan melanggar hukum. Kamu pilih mana bermain cantik atau bermain asal-asalan?" tanya Frank balik menatap wajah keponakannya itu.
"Kita akan melakukan melalui pendekatan. Kita nggak bisa menculiknya. Lebih baik kita rebut dulu Wicaksono. Dengan kata lain peresmian," usul Max yang baru saja datang.
"Nggak perlu pendekatan. Libas saja. Cepat atau lambat kita akan merebut Wicaksono. Oh... Iya... Apakah kamu sudah masuk ke dalam sistem pertahanan Wicaksono Groups?" tanya Frank.
"Sudah. Perintahkan Romeo untuk datang ke sini sambil membawa dokumen resmi pengalihan ahli waris sesungguhnya. Dokumen itu berada di tangan Tuan Damian. Kirim segera jet pribadiku agar bisa menyusul Romeo. Perintahkan juga pak Broto! Perketat penjagaan Tuan Damian! Aku nggak mau mereka menyentuh seujung rambut Tuan Damian! Kalau sampai menyentuhnya! Akulah orang pertama kali yang akan menghancurkan markas Black Crossover!" perintah Frank dengan serius.
"Jangan dihancurkan. Lebih baik kita berperang secara sehat saja," seru Aska yang sambil tersenyum manis tapi mengerikan.
"Maksud kamu apa? Apakah kamu akan bertindak?" tanya Frank bingung dengan keputusan Aska.
"Pastinya. Tenanglah... Jangan gegabah terlebih dahulu. Aku pastikan kalau Jamaludin akan tunduk kepadaku. Aku sedang memikirkan cara bagaimana Jamaludin bisa tunduk kepadaku? Atau aku akan berubah menjadi iblis?" tanya Aska.
"Posisi awal yaitu kamu bersama Romeo dan Max. Lalu Maria... Maria akan disampingmu selamanya. Cepat atau lambat akan ada banyak jebakan dari Jamaludin atau kolega bisnis lainnya.jebakan itu bisa menghancurkan reputasimu ketika sudah menjadi CEO Wicaksono Group. Untuk pengawalnya, Aku sudah memberikan kamu pengawal bayangan sebanyak lima belas orang. Yang di mana pengawal bayangan itu menyamar menjadi warga biasa. Aku tahu kamu tidak ingin memakai pengawal sungguhan. Maka dari itu kamu harus menuruti keinginanku," jelas Frank melihat jam di tangan. "Sudah malam. Waktunya makan malam. Panggil Maria untuk melakukan makan malam!"
Aska menganggukkan kepalanya sambil meninggalkan mereka. Melihat kepergian Aska, Frank mengusap wajahnya berkali-kali. Sungguh Frank sedang frustrasi saat ini. Apakah Aska bisa melakukannya? Mengingat Jamaludin adalah orang yang sangat licik sekali.
Sesampainya di kamar, Aska melihat Maria yang sedang duduk langsung mendekatinya. Aska memegang tangannya sambil mengajaknya, "Ayo kita makan malam."
__ADS_1
"Oh iya... Sudah malam ternyata. Aku nggak keluar dari sini," ucap Maria sambil berdiri menatap wajah sang suami. "Perasaanku kamu semakin tinggi saja."
Aska terkekeh Maria mengucapkan sesuatu. Memang tinggi badan Aska seperti tiang listrik. Sedangkan Maria tidak terlalu tinggi tetapi mungil. Sangking mungilnya Aska memanggilnya seorang adik.
"Aku memang tingginya segini. Memang dari sananya aku sudah tinggi," ucap Aska.
Hingga akhirnya mereka keluar dari kamar. Mereka berjalan beriringan dan saling memegang. Para pengawal Blue Dragon menelan salivanya dengan susah payah. Baru kali ini Aska sangat mesra sekali. Lalu mereka teringat pada Frank. Sang ketua di mana tidak pernah menunjukkan kedekatannya dengan perempuan. Mereka masih bertanya-tanya siapa yang akan menjadi calon istrinya Frank. Jujur mereka sangat peduli sekali kepada bosnya itu.
Ketika sampai di ruangan tengah, Frank dan Max mendekati mereka. Max menatap wajah Maria sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Oh iya... Aku hampir lupa. Kamu masih penasaran kan dengan namanya Max," ucap Aska yang membuat Maria menganggukkan kepalanya.
"Dia adalah Max. Pria berambut gondrong dan bertubuh kurus ini. Dulunya aku terjunkan untuk melindungi Aska di perkebunan. Meskipun jauh aku sama Aska memiliki kesamaan," sahut Frank.
"Aku sangka mafia seperti ini tidak menyeramkan," celetuk Maria yang terdengar ke telinga Frank.
"Aku tidak menyeramkan seperti itu. Aku memang mafia tapi bukan seorang pembunuh," ujar Frank sambil memasuki ruang makan.
Para pelayan yang sedang berjaga di sana mempersilakan mereka duduk. Frank yang melihat mereka langsung mengusirnya. Lalu ia menyuruh Max untuk memimpin doa. Selesai memimpin doa mereka pun makan.
Paris Prancis.
Jono yang baru saja datang melihat sebuah kardus di taman. Mata Jono beralih ke arah Jamaludin. Jono pun bertanya, "Apa isinya pa?"
__ADS_1
"Jangan kamu lihat! Pengawal! Buang kardus ini! Aku nggak mau kardus ini di sini!" perintah Jamaludin.
Saking penasarannya Jono melihatnya. Tapi tangan pengawal lebih cepat mengambilnya dan membawanya keluar. Jono hanya mendelik ke arah Jamaludin. Jujur dirinya sangat penasaran sekali dengan isi kardus itu.
"Ada apa ini? Apa isinya itu? Kok Papa tidak memberitahukan aku?" tanya Jono bersikeras ingin mengetahui isi kardus itu.
"Kamu nggak perlu tahu isi kardus itu. Bukankah kamu sebentar lagi ada latihan?" tanya Jamaludin.
"Memang sih. Tapi aku ingin tahu isi kardus itu. Aku berhak tahu semuanya yang ada di rumah ini," jawab Jono yang semakin penasaran dengan isi kardus itu.
Namun Jamaludin tidak memberitahukannya. Jamaludin memilih untuk bungkam. Tiba-tiba saja Jono mengamuk dan menghancurkan meja itu. Amarahnya sudah meledak karena ditahan untuk melihat isi kardus itu. Setelah menghancurkan meja Jono menghancurkan peralatan lainnya. Bagaimana dengan Jamaludin? Jamaludin menyaksikan sambil tersenyum manis. Jamaludin membiarkan anaknya menghancurkan seluruh barang-barang yang berada di taman. Tak sampai di situ, Jamaludin belum puas melihat Jono menghancurkan semuanya. Ia mendekatinya dan berusaha memprovokasi keadaan. Semakin lama Jono semakin menjadi. Dirinya bertepuk tangan melihat aksi Jono. Dalam hatinya Jono akan menjadi senjata untuk melawan keluarga Wicaksono.
Bagaimana para pengawal? Pengawalan hanya bergidik ngeri. Jujur Jika Black Crossover di tangan Jono, kemungkinan organisasi itu akan bubar dengan cepat. Saat ini Jono tidak pernah mendapatkan pendidikan. Selain itu juga Jono tidak mendapatkan kasih sayang dari Jamaludin maupun ibunya.
Semakin hari keadaannya semakin parah. Jamaludin tidak pernah mengajaknya psikiater. Hal itu disengaja Jamaludin agar Jono mengasah keterbelakangan mentalnya menjadi senjata. Sebentar lagi Jamaludin akan mengerahkan Jono untuk melancarkan aksinya.
"Sebentar lagi kalian tidak akan pernah sanggup melawan putraku. Karena akulah yang berhak berkuasa di Wicaksono Group. Cepat atau lambat kalian tidak akan mendapatkan apa-apa! Camkan itu bagi keluarga Wicaksono. Terutama pada Aska!" ancam Jamaludin.
Karawang Indonesia.
Ketika pak Broto dan Romeo duduk santai datanglah Roni. Hari ini Roni dan Winda akan terbang ke Perancis. Roni pun mendekati pak Broto sambil berbasa-basi.
"Pak Broto," panggil Roni.
__ADS_1
Merasa namanya terpanggil pak Broto pun menatap ke arah Roni. Lalu pak Broto bertanya, "Ada apa?"