
Malam telah habis berganti pagi. Ayam jago sudah sahut-sahutan berkutik untuk membangunkan orang yang masih terlelap di dalam tidurnya. Begitu juga dengan Aska masih berada di dalam mimpi. Terpaksa Aska bangun dari terpaan semilir angin sejuk. Aska berusaha melawan kantuknya dan pelan-pelan membuka mata.
Aska tersenyum manis melihat kamar yang telah ditempatinya sangat bersih. Aska bangun dan merentangkan tangannya di atas. Sungguh luar biasa pagi ini bagi Aska. Dirinya tidak harus terkena omelan dari ibu Minah. Jujur saja Aska menginginkan kedamaian seperti ini.
Aska mulai beranjak dari ranjang lalu membereskannya. Meskipun tidak berantakan namun Aska selalu membersihkannya. Tak lama terdengar ada orang yang mengetuk pintu. Aska tersenyum lalu menghentikan pekerjaannya sementara. Aska segera membuka pintu dan melihat Roni.
"Mas,'' sapa Aska dengan sopan.
"Mandilah. Setelah itu sarapan!" ajak Roni.
"Baiklah,'' balas Aska.
"Oh... ya... di lemari sana,'' tunjuk Roni yang tangannya mengarah ke arah lemari. "Di sana ada beberapa baju yang bisa kamu pakai. Kamu enggak usah pergi ke rumahmu."
Mendengar kata rumah, tenggorokan Aska tercekat. Aska menjadi sedih dan mengingat peristiwa semalam. Peristiwa yang menyakitkan itu terputar kembali di dalam otaknya. Roni paham apa yang dirasakan oleh Aska. Sebelum pergi Roni menepuk bahu Aska dan memberinya sebuah pesan, "Tidak perlu dipikirkan.''
"Aku lagi berusaha untuk melupakan kejadian semalam mas,'' ucap Aska dengan lirih.
"Lupakanlah,'' ujar Roni yang tersenyum lalu memberinya semangat.
"Aku pergi dulu!" pamit Roni.
Setelah itu Aska melanjutkan pekerjaannya lalu membersihkan tubuhnya. Sedangkan Roni mendekati Winda sambil menatap sang istri sedang menata sarapan, "Kamu pulang jam berapa?''
"Aku pulang jam dua pagi,'' jawab Winda. "Kak Christina sangat merindukan Aska.''
"Kita harus menggiringnya ke Kak Christina. Aku enggak mau kalau si Minah tahu misi kita. Jika tahu Minah akan lapor ke Shane dan Callista. Jika ini terjadi nyawa Aska terancam bahaya,'' ucap Roni yang membayangkan nasib Aska.
__ADS_1
"Semoga saja Aska tahu siapa dirinya kelak. Tuan besar sudah memberikan wasiat ke Aska,'' ujar Roni.
Aska yang selesai membersihkan tubuhnya langsung membuka lemari. Aska memegang sebuah t-shirt berwarna biru dan mengambilnya. Tak sengaja Aska melihat t-shirt itu dan merasakan kelembutan kain yang dipakainya. Matanya membelalak sempurna kemudian mulutnya menganga. Jujur saja baju yang diambilnya adalah baju mahal. Lantas Aska bingung dengan t-shirt tersebut.
"Kenapa mas Roni memiliki kaos dengan harga mahal? Sementara itu aku tidak bisa membelinya. Apakah mas Roni adalah anaknya orang kaya?" gumam Aska.
Ketimbang bingung dengan pertanyaan yang tidak jelas, Aska sengaja memakainya. Kelak jika dirinya memiliki uang akan menggantinya. Sebenarnya seluruh baju yang berada di sana tidak perlu diganti. Uangnya tentu saja dari sang mama. Roni juga tidak mempermasalahkannya. Bahkan Roni ingin melihat Aska menikmati pemberian dari mama kandungnya.
Di sebelah rumah Roni terjadi keributan antara Bu Minah dengan Pak Wiyoto. Rencana pagi ini Pak Wiyoto meminta Aska untuk membetulkan genteng rumah. Namun Bu Minah menghardik dan menjelek-jelekkan Aska. Bu Minah mengatakan kalau Aska tidak pulang ke rumah melainkan bermain perempuan. Namun Pak Wiyoto tidak terima dengan apa yang didengarnya itu. Bisa-bisanya Bu Minah memfitnah Aska yang memiliki perilaku baik dan sopan itu. Semua orang kampung tahu kalau Aska adalah anak yang baik.
"Jangan sekali-sekali mengatakan kalau Aska adalah pria nakal. Aku tidak terima apa yang ibu katakan itu! Setahu aku Aska itu baik dan tidak sombong seperti kamu!" bentak Pak Wiyoto lalu pergi meninggalkan Bu Minah.
Pak Wiyoto sangat murka apa yang dikatakan oleh Bu Minah. Pak Wiyoto paham betul siapa itu Aaska. Sedari kecil Pak Wiyoto sudah mengenal dan mengetahui sifat baik Aska. Bahkan Pak Wiyoto sendiri sudah menganggap Aska sebagai putranya.
Tanpa disadari oleh Bu Minah, Roni sengaja menguping pembicaraan mereka. Roni juga geram kepada Bu Minah. Bisa-bisanya Bu Minah melontarkan sebuah fitnah. Apa yang dikatakan oleh Bu Minah salah besar. Ketika ingin meluruskan masalah ini, Winda melarangnya untuk tidak ikut campur. Winda membiarkan Bu Minah berceloteh sesuai keinginannya.
"Ide bagus,'' balas Roni.
Mereka masuk ke dalam dan melihat Aska keluar dari kamar. Sepasang suami istri itupun terpesona. Mereka baru menyadari kalau Aska sangat tampan dan mirip sekali sama Christina.
"Tuan muda benar-benar tampan. Aku tidak menyangka kalau tuan muda memiliki tubuh yang sangat sempurna, Bahkan wajah tuan muda sangat mirip sekali sama Nyonya Christina,'' celetuk Roni yang tidak sadar memuji ketampanan Aska.
"Aish... pujianmu salah. Aku tidak tampan bahkan kulitku sangat aneh. Aku juga memiliki tubuh terlalu besar tidak sesuai dengan orang sini. Kemungkinan aku orang dari planet lain,'' ucap Aska yang membuat Roni dan Winda tertawa terbahak-bahak.
Ternyata Aska sangat ramah sekali kepada orang-orang yang berada disekitarnya. Aska juga sering membuat orang-orang tertawa lepas. Winda membayangkan bagaimana jadinya kalau Aska bertemu dengan sang mama? Apakah sang mama akan tertawa lepas seperti ini? Kita lihat saja nanti.
"Ayo kita makan!" ajak Roni.
__ADS_1
Saat Roni mengajak dirinya makan, Aska terkejut dengan kata Tuan Muda. Lalu Aska menghentikan langkahnya sambil bertanya kepada Roni, "Mas, kenapa tadi memanggilku Tuan muda?"
Sontak saja Roni terkejut. Bagaimana bisa Roni keceplosan memanggil Aska tuan muda. Roni akhirnya mendekati Aska sambil berkata, "Ah... Aku sangat merindukan tuan mudaku ketika bekerja sebagai sopir."
"Oh... Sopir," kata Aska yang manggut-manggut saja.
Untung saja Aska tidak bertanya secara mendetail. Jika ia bertanya secara terus-menerus, Roni harus pandai-pandai mencari jawaban yang pas.
"Mas," panggil Aska.
"Iya," sahut Roni.
"Aku ingin pergi ke kebun. Tapi apakah Bu Minah ada di rumah?" tanya Aska yang menarik kursi itu.
"Hmmp.... Sepertinya sih masih di situ. Tadi kamu dicari sama Pak Wiyoto untuk membetulkan genteng rumahnya yang bocor," sahut Winda yang membawa kopi dua gelas dan menaruhnya di depan Aska yang baru saja duduk.
"Iya... Kemarin aku disuruh kesana. Mudah-mudahan hari ini tidak kirim buah-buahan ke pasar induk," jawab Aska. "Aku usahakan nanti siang kesana.''
"Oke," balas Winda.
"Kalau kamu sibuk biarkan aku yang mengerjakannya," ucap Roni.
"Enggak usah mas. Ini sudah menjadi tanggung jawabku. Aku memang rindu sama Pak Wiyoto. Rindu akan wejangan-wejangannya," terang Aska.
"Oh ya... Bolehkah aku bertanya tentang ayahmu?" tanya Roni.
"Tanya apa mas?" tanya Aska dengan hangat.
__ADS_1