
"Aku tahu itu," jawab Maria.
"Aku harap kamu tidak menyesali dengan keputusanku ini. Aku tegaskan pernikahan ini bukan untuk main-main. Aku ingin hidup bersamamu selamanya. Jika kamu menghianatiku, Aku pastikan hidupmu akan menderita. Apakah kamu paham?" tanya Aska sambil melihat Maria agar paham arti pernikahan sebenarnya.
"Ya aku paham. Aku ingin menikah hanya untuk sekali seumur hidup. Tapi apakah Nyonya mau terima kami seperti ini? Aku dari keluarga miskin. Aku tidak memiliki apa-apa. Aku hanya Wanita biasa bukan wanita spesial Aku ingin tuan muda mengerti akan hal itu," ucap Maria sambil menatap wajah Aska.
"Aku tidak peduli akan itu semua. Jika banyak yang menentang pernikahan ini aku yang akan maju. Karena yang menjalani pernikahan ini adalah Aku bukan mereka. Kalau begitu aku harus pamit. Aku usahakan sebelum akad nikah Aku pastikan Aku sudah pulang. Doakan agar lancar semuanya," pamit Aska.
"Selalu untuk tuan muda," balas Maria.
"Kalau begitu makanlah. Aku tidak mau kamu jatuh sakit. Jika kamu jatuh sakit siapa yang akan merawat Bapak Budi?" pinta Aska dengan lembut.
Maria mengangguk tanda setuju. Jujur Baru kali ini Maria diberlakukan secara terhormat oleh seorang pria. Berpacaran sama Hariadi selama kurang lebih rnam tahun, Maria tidak pernah merasakan perhatian seperti ini. Selalu saja dirinya tersakiti secara fisik maupun verbal.
Selesai makan Aska mengantarkan Maria ke kamar Pak Budi. Pria bertubuh kurus itu masuk ke dalam dan menatap wajah kedua orang tua Maria. Sebelum pergi Aska berpamitan kepada mereka dengan penuh sopan.
"Pak... Bu... Aku pamit terlebih dahulu. Banyak tugas yang harus aku kerjakan satu persatu," pamit Aska.
"Sebentar nak," panggil Pak Budi.
"Iya Pak," sahut Aska. "Ada apa Pak?"
"Katanya kamu ada tugas dan dua minggu ke depan tidak ada di tempat. Bapak sebagai orang tuanya Maria sudah memberi restu kepada kamu untuk meminang Putri bapak," jawab Pak Budi yang mengambil keputusan saat mereka sedang makan.
"Apakah itu benar pak?" tanya Aska dengan serius.
"Iya itu benar. Bapak tidak mau menyia-nyiakan kamu sebagai calon suami Maria. Bapak yakin kamu adalah pria baik," jawab Pak Budi dengan penuh hangat.
"Syukurlah... Akhirnya pernikahan Maria tidak batal," ucap Romeo sambil memandang wajah partnernya itu.
"Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu. Jam makan siang udah mau habis," pamit Aska sambil mendekati Bu Tanti dan Pak Budi.
"Silakan nak. Berhati-hatilah selalu. Jaga kesehatan," pesan Bu Tanti yang menatap wajah tampan Aska.
"Terima kasih Bu," balas Aska sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Bu Tanti pun mengulurkan tangannya juga sambil berjabat tangan bersama Aska. Lalu Aska juga tidak lupa cium tangan Bu Tanti.
Setelah berpamitan Aska bersama Romeo dan Christina meninggalkan rumah sakit. Mereka pergi ke suatu tempat. Yang di mana tempat itu menjadi tempat rahasia ketika ada pertemuan mendadak.
Memang sengaja Romeo mengajak mereka ke rumah pribadinya. Sebelum Aska masuk, Romeo bersama timnya sering berdiskusi tentang perusahaan. Meskipun tempatnya agak jauh dari kantor, Christina tidak mempersalahkan tempat tersebut. Asal Tidak ada orang lain yang mengganggu diskusi tersebut.
Adrian yang masih berada di atas awan meraih ponselnya. Pria paruh baya itu pun menatap Luke. Diam-diam Adrian menatap wajah sang asistennya itu dengan pucat.
"Kamu kenapa? Sepertinya wajah kamu pucat seperti itu? Apakah kamu sakit?" tanya Adrian dengan serius.
"Maaf tuan. Baru saja aku mendapatkan berita dari Jakarta," jawab Luke dengan serius.
"Jangan panggil aku Tuan jika kita tidak bertugas sebagai polisi!" titah Adrian.
"Apa itu?" tanya Adrian.
"Putra anda memutuskan untuk menikah di usia muda," jawab Luke.
"Lalu apa masalahnya?"
"Menurutku itu tidak jadi masalah. Biarkanlah mereka menikah. Asal Putraku bisa hidup bahagia. Setelah Aska menikah aku yang menggemblengnya untuk menjadi bisnisman sukses!" perintah Adrian. "Bagaimana dengan perusahaannya istriku itu?"
"Semakin parah tuan. Mata-mata yang aku kirimkan ke dalam perusahaan, menemukan beberapa orang yang bekerja sama dengan Benjamin. Ditambah lagi dari beberapa pihak lawan. Kalau diteruskan perusahaan istri anda bisa gulung tikar untuk beberapa tahun ke depan," jawab Luke dengan serius.
Adrian terdiam sambil mengangkat wajahnya. Entah kenapa hatinya tidak rela jika sang istri menderita seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi selama ini? Kenapa selama hidup dirinya tidak pernah merasakan kebahagiaan? Hingga ia berpisah dari keluarga kecilnya.
Satu kata dalam hatinya yaitu sesak. Yang di mana satu kata itu membuatnya bersalah di dalam hati. Bagaimana dirinya menebus kesalahannya terhadap sang istri maupun Sang putra?
"Tuan tenang saja. Jangan terlalu memikirkan hal yang berat. Saya yakin nyonya dan Tuan Muda tidak akan marah. Kemungkinan juga tuan Demian sudah memberitahukan apa yang terjadi?" sambung Luke.
"Jujur... Akhir-akhir ini hatiku merasa resah. Ada satu kata di dalam hatiku ini yaitu sesak. Apakah mereka mau menerimaku atau tidak? Jika tidak kemungkinan besar aku memilih hidup sendiri saja," ungkap Adrian.
"Jangan begitu tuan. Saya yakin kalau tuan muda dan nyonya mau menerima anda kembali. Saya yakin kalau mereka sedang merindukan anda," imbuh Luke.
Adrian tidak menjawab apapun dan memilih untuk diam. Terkadang hidupnya Adrian sangat membingungkan. Kenapa hidupnya selalu berat dan banyak tantangan? Lalu Adrian berpikir ulang dan menanamkan satu kalimat di dalam hatinya. Yaitu inilah namanya hidup yang harus dijalankan dari Sang kuasa.
__ADS_1
Seorang pria paruh baya sedang duduk di ruangan tamu. Pria itu membaca sebuah pesan lalu wajahnya berubah menjadi pucat. Hatinya berdetak kencang sambil menatap ke atas langit.
"Ternyata sudah ketahuan ya?" ucap pria paruh baya itu.
Selang beberapa menit kemudian datang seorang wanita yang bernama Irma. Wanita itu membungkukkan badannya sambil memberi hormat, "Selamat siang tuan."
"Ya... Ada apa?" tanya pria paruh baya itu.
"Maaf tuan, ada yang perlu saya sampaikan. Erna sudah masuk dalam penjara. Semua tindak lagunya sudah ketahuan oleh Romeo dan Aska," jawab Irma yang membuat pria paruh baya itu pun mengepalkan tangannya.
"Kenapa ini bisa ketahuan? Apakah Erna lakukan kesalahan di dalam sana?" tanyanya.
"Entahlah Tuan. Tim kami masih menyelidikinya. Kenapa bisa ketahuan?" jawab Irma dengan jujur.
"Kamu harus melakukan langkah sunyi senyap. Jangan sampai ketahuan dengan Romeo maupun Maria. Jika ketahuan kamu yang akan menjadi gantinya. Aku tidak mau rugi soal masalah ini. Karena tuan Benjamin sudah menarget beberapa surat perjanjian harus sudah ditandatangani oleh Christina!" titah pria itu.
"Baik Tuan kami usahakan," balas Irma.
Irma yang selesai laporan akhirnya pergi meninggalkan sang tuannya tersebut. Ia harus bergerak cepat agar tidak ketahuan. Mau tidak mau Irma juga ikut turun tangan agar bisa mencari sang pelaku.
Di ruangan kerja milik Romeo, Christina dan Aska sudah berkumpul. Mereka sedang menyiapkan beberapa bahan untuk berdiskusi. Aska sengaja memilih masa depan perusahaannya itu.
"Ibu," panggil Aska.
"Ada apa nak?" tanya Christina sambil memandang wajah Aska.
"Sebelum Aku berbicara lebih lanjut, Ibu jangan larut dalam kesedihan ya. Soalnya masalah ini sungguh berat untuk kita semua," jawab Aska.
"Maksud kamu apa? Masalah apa yang kamu ingin bicarakan?" tanya Christina sambil membetulkan kacamatanya.
"Begini Bu... Apakah ibu tidak sadar kalau sebagian karyawan telah berkhianat kepada kita?" tanya Aska.
Saat Aska berbicara seperti itu, Romeo datang dengan membawa paper bag yang berisikan makan siang. Pria berkulit putih itu menaruhnya di atas meja kerjanya. Kemudian Romeo menghempaskan bokongnya dan duduk di hadapan kedua bosnya itu.
"Apa aku ketinggalan berita?" tanya Romeo.
__ADS_1