
"Jangankan Eneng. Abang aja sekarang baru sadar. Kenapa kita tidak liburan terlebih dahulu? Ya itu mampir ke Jakarta dan ke kebun selama beberapa hari. Setelah itu kita terbang ke Paris."
Jawab Aska yang dapat acungan jempol dari Maria.
"Kita berangkat sekarang?"
Tanya Maria yang membuat Aska tanda tanya.
"Ya nggaklah. Ngomong di sini kita harus berkoordinasi satu persatu. Lagian juga Romeo sudah menurunkan pengawalnya untuk mencari informasi tentang Ambar."
Jawab Aska yang membalikkan tubuhnya ke arah Maria.
Mendengar nama Ambar, Maria berubah menjadi drastis. Entah kenapa hatinya sangat sedih sekali. Tiba-tiba saja Maria menggelengkan kepalanya sambil membuang nafasnya sangat berat.
Melihat sang istri sepertinya menahan beban, lalu Aska mengerutkan dahinya sambil bertanya, "Ada apa neng?"
"Sebenarnya, neng takut sekali jika mendengar nama Ambar. Dia memang bibiku. Tapi ada sesuatu hal yang membuat aku sedih."
Jawab meriah sambil menundukkan wajahnya.
"Sepertinya kita harus meluruskan masalah ini. Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini. Aku sudah meminta untuk mengurus surat-surat rumahmu berganti menjadi namaku. Nanti sore kita akan ke sana melihat rumahmu."
Ucap Aska yang mengajak Maria.
"Tapi Bang?"
Tanya Maria yang menggantung.
"Tapi apa neng? Kamu takut menghadapi itu orang?"
Tanya Aska yang mulai curiga terhadap Maria.
Merasakan Aska yang curiga, Maria mengangkat wajahnya sambil menggelengkan kepalanya lagi. Entah kenapa kok tiba-tiba saja Maria tidak semangat sama sekali.
"Aku tidak takut Bang. Kok abang tahu kalau itu kelakuannya Ambar?"
Tanya Maria.
"Semalam aku bersama Romeo dan Max sedang membicarakan rumah tersebut. Sebenarnya Romeo tahu, masalah keluargamu dengan Ambar. Yang jadi pertanyaannya adalah untuk sekarang ini. Kenapa Ambar melakukan itu kepada kalian? Jika semuanya terbukti dan rumah itu sudah menjadi milikku. Aku tidak akan menyuruhnya untuk menempatinya. Sepertinya aku yang akan mencari informasi tersebut."
__ADS_1
Jelas Aska sambil tersenyum manis.
Mau tidak mau Maria menuruti apa kata Aska. Dengan senyumnya yang manis itu mengisyaratkan ada sebuah tanda. Yang di mana Maria tidak mengetahuinya.
Kalau sampai Aska mengetahuinya, Ambar melakukan semuanya. Bisa jadi Aska akan mengamuk dan menyuruhnya untuk mengakui kejahatannya. Kemungkinan besar Aska akan membuat perhitungan kepada Ambar. Jujur, hal ini sangat ditakuti oleh Maria. Meskipun dirinya lembut, namun Aska menunjukkan sisi kejamnya kepada orang yang tidak disukainya.
"Ya sudah. Kita makan di mana ya?"
Tanya Aska.
"Kita pesan lewat online saja. Kita tidak akan mungkin mengisi kulkas milik ibu. Suka-suka Abang tinggal di sini. Aku hanya menurut saja."
Jawab Maria sambil menatap wajah Aska.
"Apakah kamu tidak membeli daster?"
"Kenapa Abang mengingatkanku pada daster? Sepertinya jika aku memakai daster itu sangat bahaya sekali."
"Nggak bahaya sih neng buat kamu. Tapi Abang lah yang berbahaya. Lagian lebih muda untuk melakukannya."
"Abang!"
"Emangnya kenapa neng?"
"Nggak apa-apa Bang. Yang dulunya polos banget. Jadinya kayak saat ini."
Jawab Maria sambil mengerucutkan bibirnya sepanjang 5 cm.
"Kan bener neng. Kalau pakai daster itu lebih mudah untuk melakukan yang lebih intim. Dan survei itu sangat membuktikan sekali. Tanyakan saja pada emak-emak yang berada di warung-warung sana."
Ucap Aska yang semakin hari bertambah konyol.
"Memangnya dulu Abang suka berkumpul dengan emak-emak?"
"Dulu abang suka kirim buah ke pasar. Sehabis dari pasar, Abang makan di warteg. Setelah itu banyak emak-emak yang sedang ngerumpi. Khususnya para pegawai serabutan. Dia menceritakan Bagaimana enaknya agar sang suami langsung menidurinya dengan cepat? Si ibu penjual itu berteriak. Pakai daster Bu biar cepet."
Mata Maria membulat sempurna. Sebentar... sebentar... Apakah Aska juga menyimaknya? Jujur ini sangat mengerikan sekali buat dirinya. Namun Aska tetap saja memaksa untuk membeli daster.
"Ya sudah neng lebih baik beli daster sana cepetan. Apalagi dasarnya yang memakai kain batik. Tambah cakep aja neng makainya."
__ADS_1
"Apakah otak Abang tidak ada masalah?"
"Nggak ada neng. Masalah apa sih? Sepertinya Eneng curiga sama Abang?"
"Secara Abang itu sudah terkontaminasi sama Romeo. Jadi ngomongnya aneh banget."
"Kan sudah dibilang. Orang nikah itu pasti merujuknya ke sana. Meskipun pria itu sangat polos sekali. kalau diperlihatkan sesuatu matanya akan berbinar bahagia. Hasratnya pun muncul seketika. Lalu apa salahnya? Lagian juga kamu tanyanya yang aneh. Eneng pakai daster itu mencegah agar leluasa bergerak. Lagian juga neng udah nikah. Dan dasar Itu adalah sebuah baju yang di mana membuat semua wanita akan nyaman memakainya. Apalagi di kota Paris? Kalau kamu nyari di kota Paris mana ada? Yang ada hanyalah pakaian-pakaian kurang bahan. Kalau neng pakai daster berarti tampil beda. Dan aku gampang mengenalimu ketika kamu dikerumuni banyak orang."
Jelas Aska yang membuat Maria tersenyum malu.
"Maaf Bang! Ada benarnya juga Abang katakan. Lagian juga aku pengen banget memiliki daster banyak. Ya siapa tahu aku bisa menjualnya kembali di toko online."
Ucap Maria yang membuat Azka menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah neng jual saja. Siapa tahu neng bisa menghasilkan apapun. Biar neng bahagia."
"Untungnya lebih banyak. Kalau di rupiahin."
"Nah itu neng. Semenjak menikah kamu minta kerja terus. Ya sudah kalau begitu. Aku kasih kerjaan saja. Ya Itu jualan daster di kota Paris. Siapa tahu para penghuni di kota Paris sangat menyukainya. Kalau neng serius, Abang akan membantu membelikan daster buat neng. Nanti biar pesawat Abang yang mengangkutnya."
"Nih Itu dia Bang. Jadi aku akan bekerja di rumah sambil mengurusi nenek dan kakek. Ditambah lagi mengurusi anak-anak dan tetap mendapatkan penghasilan. Siap deh bang."
Entah kenapa Maria merasakan semangat sekali. Maria mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aska. Kemungkinan besar jiwa marketing Maria langsung bekerja. Dengan semangatnya Maria memeluk sang suami sambil mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya Maria tidak bekerja pun, tidak jadi masalah buat Aska. Akan tetapi Maria ingin memiliki penghasilan sendiri. Yang di mana penghasilan itu bisa membuat Maria membeli barang-barang favoritnya. Tanpa harus mengganggu uang bulanan maupun uang belanja dari Aska.
"Kalau begitu kita keluar yuk dari sini. Kalau kamu mau pesan pesenin aja buat aku sekalian. Nanti aku makan."
Suruh Aska kepada Maria.
Mereka berdua keluar sambil melihat Romeo dan Max datang. Kedua pria itu membawa banyak makanan. Yang di mana mereka sengaja menyediakan makan siang untuk sepasang suami istri muda itu.
Romeo menaruh paper bag nya itu di atas meja. Kemudian Romeo menatap Maria sambil memberikan kode. Namun Aska memintanya Maria tetap di sini. Romeo pun menurutinya dan memberikan ponselnya ke arah Aska.
"Nih, semalam aku melepaskan mata-mataku satu. Dia sudah bekerja membuntuti Ambar mulai dari malam hingga detik ini."
Ucap Romeo yang membuat Aska menganggukkan kepalanya.
"Lalu?"
__ADS_1
Tanya Aska sambil meraih ponselnya Romeo tersebut.