
"Nggak ada tapi-tapian bu. Ini adalah masalah yang genting sekali. Aku nggak bisa tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu. Aku akan berdiskusi dengan Maria sekali lagi," jawab Aska yang membuat Christina terharu.
Jujur saja Christina sangat terharu sekali dengan Aska. Dirinya tidak menyangka kalau Sang putra sangat perhatian sekali.
"Lebih baik siang ini kita pergi ke rumah ibu Tanti. Kita akan membicarakan soal ini kepada Maria. Jujur saja keputusanmu itu membuat Ibu keberatan. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau kamu bersikeras ibu akan mengalah," balas Christina.
"Maafkan aku Bu. Aku tidak ingin mengecewakan ibu. Apalagi mengecewakan orang-orang yang berada di sisiku," jelas Aska.
"Sama saja kamu mengecewakan Maria," ucap Christina.
"Tapi aku terpaksa Bu melakukannya. Ini demi kebaikan semua orang. Aku juga tidak mau jika orang itu mengganggu keluargaku," ujar Aska.
"Yang dikatakan Aska benar nyonya. Aska tidak mau jika anak-anaknya menderita seperti dirinya," tambah Romeo.
"Sudah cukup bu. Biar aku yang merasakan masa kecilku kelam. Biarkanlah anak-anakku menjadi ceria dan bermain dengan hidup normal seperti anak-anak lainnya. Pokoknya intinya aku tidak akan membiarkan orang itu hidup," imbuh Aska.
Christina sadar akan perkataan Romeo dan Aska. Sudah cukup Christina melihat keluarganya hancur. Ia tidak mau lagi melihat keluarga putranya hancur seperti itu. Mau tidak mau Christina membuang egonya terlebih dahulu.
"Bersiaplah. Nanti Ibu dan kamu pergi ke rumah Maria. Ada satu hal yang Ibu ingin bahas dengan Maria," pinta Christina.
Aska mengangguk lalu meninggalkan Christina sambil tersenyum. Sambil berjalan Aska memikirkan banyak hal untuk masa depannya. Ditambah lagi Aska akan menyerang sang musuh seperti angin.
Sesampainya di kamar, Aska melihat ponselnya berdering tanpa suara. Ia mendekat lalu menatap layar ponsel itu. Sungguh ia sangat terkejut. Bagaimana tidak nomor yang tertera di ponsel itu adalah nomor asing. Kemudian Aska terdiam sejenak dan memiliki dua kemungkinan. Yang satu kemungkinannya adalah musuh terbesar berani menghubunginya. Yang kedua adalah sang nenek Stefani.
"Antara nenek dan musuh. Kalau musuh aku sangat bersyukur sekali bisa mendengar suaranya. Kalau nenek aku bisa berteriak kegirangan karena sangat merindukannya," ucap Aska dalam hati sambil meraih ponsel itu dan mengangkatnya.
Di gedung ini seorang pria berusia paruh baya sangat bahagia. Pria itu sengaja menghubungi Aska dengan memakai nomor asing. Lalu pria itu menyapa Aska terlebih dahulu.
"Hello boy," sapa pria itu.
__ADS_1
Sontak saja Aska terkejut. Diam-diam ada seseorang pria memanggil dirinya boy. Bukankah boy itu adalah anak laki-laki? Tapi Aska bertanya-tanya dalam hati. Siapa pria tersebut yang menghubunginya dengan memanggilnya nama boy?
"Ini siapa ya?" tanya Aska.
"Perkenalkan namaku Frank Agard," jawab Frank nama pria itu.
"Bukankah kita tidak saling mengenal? Tapi kenapa Tuhan memanggilku memakai dengan sebutan boy?" tanya Aska balik.
"Apakah kamu memiliki waktu untukku?" tanya Frank.
"Beberapa hari kedepan, aku tidak memiliki acara apapun. Aku rasa kita bisa bertemu," jawab Aska dengan mantap.
"Di mana aku bisa bertemu denganmu?" tanya Frank lagi.
"Bisakah kita bertemu di daerah apartemenku ini? Nanti aku share saja lokasinya. Apakah ini nomor tuan?" tanya Aska.
"Ya Ini nomorku. Aku harap kamu menyimpannya dan kita bisa membagikan kabar, antara Aku dan Kamu," jawab Frank. "Kalau begitu aku tunggu lokasi di mana kita bertemu."
Sambungan terputus.
Aska mengerutkan keningnya dan bingung sama orang itu. Dirinya tidak bisa menebak, siapa orang itu sebenarnya? Ditambah lagi orang itu memanggilnya memakai kata-kata boy. Inilah yang membuat Aska bingung. Dengan terpaksa Aska mengajak Romeo untuk menemui orang itu. Ia tidak mungkin bertemu dengan orang itu sendirian. Dikarenakan hidup Aska sekarang sudah tidak aman lagi.
"Kalau kayak gini, hidupku udah nggak aman lagi. Mau nggak mau aku harus mencari cara agar bisa melindungi keluargaku. Bisa-bisa kedua orang tuaku atau istriku dan juga anak-anakku yang menjadi korban selanjutnya. Aku tidak akan bisa membiarkan hal itu terjadi lagi. Tunggu aku Alena atau Diana. Cepat atau lambat aku akan mencarimu dan menghabisimu!" geram Aska dalam hati.
Kemudian Aska melepaskan seluruh pakaiannya. Lalu ia memutuskan untuk masuk ke dalam toilet. Matanya tidak sengaja tertuju kepada bathtub. Akhirnya ia menyalakan air itu sampai penuh dan memandanginya.
Entah kenapa dirinya ingin tertawa saja. Tertawa karena memiliki hidup yang sangat aneh. Dahulu sebelum bertemu dengan sang ibu, Aska sempat bertanya pada angin. Kenapa dirinya sangat menderita sekali? Siapakah dirinya sebenarnya? Apa tujuannya ia hidup di muka bumi ini? Tiga pertanyaan ini yang sedang bercokol di dalam hatinya.
Satu persatu pertanyaan itu sudah mulai mendapatkan jawabannya. Ia sempat berpikir, apakah ini takdir hidupnya? Melindungi seluruh keluarganya yang sedang dalam bahaya. Lalu, siapa musuh utamanya itu? Kenapa wanita yang berada di samping kakek Damian sangat dingin ketika bertemu dengannya?
__ADS_1
Ketimbang memikirkan soal itu, Aska mematikan keran air. Ia mengambil aromaterapi dan menuangkannya ke dalam air di bathtub tersebut. Kemudian dirinya masuk ke dalam bathtub itu sambil merendam tubuhnya.
Tak lama Azka memadamkan matanya sambil merasakan keterangan jiwa. Tiba-tiba saja jiwanya di alam lain. Lalu Aska melihat pemandangan yang sangat indah sekali. Ia menikmati wewangian bunga yang berada di sekitarnya.
"Jujur saja. Aku sangat lega sekali hidup di sini. Di sini tidak ada peperangan maupun kebencian. Banyak sekali bunga-bunga yang berada di taman ini," ucap Aska sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar di taman itu.
Tak lama ada seorang kakek-kakek sedang memakai baju putih. Kakek itu mendekatinya dan menepuk bahu Aska dari belakang.
"Anak muda," panggil kakek itu.
Seketika Aska sangat terkejut sekali dan menoleh ke belakang. Lalu anda melihat Kakak itu secara jelas. Ia menatap wajah kakek itu yang sangat mirip sekali dengan seseorang.
"Maaf, Kakek ini siapa ya?" tanya Aska.
"Perkenalkan Aku adalah kakek buyut mu. Namaku adalah Guntoro," jawab Kakek itu sambil tersenyum dengan lembut.
"Apa benar aku memiliki buyut?" tanya Aska yang membuat kakek Guntoro terkejut.
"Hai... Anak muda. Aku adalah kakek buyutmu. Kamu pasti tahu asal usul keluargamu itu?" tanya kakek Guntoro yang membuat Aska menggelengkan kepalanya.
"Maaf kek, aku nggak tahu apa-apa. Aku hanyalah anak dari Nyonya Christina," jawab Aska dengan jujur.
"Baiklah. Kakek akan ceritakan silsilah keluargamu itu. Tapi kamu harus berjanji untuk diam dan tidak banyak bicara," pinta kakek Guntoro.
"Kenapa aku tidak boleh bicara kepada siapapun?" tanya Aska dengan penasaran.
"Pesan kakek kamu nggak boleh cerita sama siapapun. Kakek tahu keluarga Wicaksono sedang dalam prahara besar. Hanya kamulah yang bisa meredam dan memperbaiki semuanya," jawab kakek Guntoro sambil memberikan sebuah perintah agar Aska bisa memperbaiki semuanya.
"Bagaimana bisa aku memperbaiki semuanya? Sementara itu aku juga dalam kesusahan. Hidupku seperti anak yang hilang dari keluargaku sendiri," tanya Aska yang tidak yakin bisa memperbaiki semuanya.
__ADS_1
"Nanti akan kakek bantu dari sini. kakek juga tidak akan membiarkan keluarga Wicaksono hancur hanya karena keserakahan," jelas kakek Guntoro.
"Maksudnya apa kek?" tanya Aska.