
"Jangan salahkan aku. Aku tidak pernah membuat anakmu menjadi susah seperti itu. Aku sangat menyukai anakmu Dan akan mengangkatnya sebagai anak angkatku. Jika kamu protes terus-menerus seperti ini. Aku akan mengembalikan kamu ke negaramu," ucap Max yang setengah bercanda dan tidak main-main.
Entah kenapa Adrian kalah telak oleh Frank. Mungkinkah Frank akan membuktikan ucapannya? Sepertinya sih iya. Ia tidak akan mengingkarinya.
Bagaimana bisa Adrian kalah dari Frank? Karena Frank sendiri memiliki kekuasaan tiada batas. Di dalam dunia ini sudah digenggam oleh Frank. Jika sang adik macam-macam dengan dirinya. Frank bisa menendang dari hadapannya.
"Sepertinya Aska akan mengikuti jejakku. Cepat atau lambat Aska akan duduk di kursi tahta Blue Diamond. Ditambah lagi Dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Tanpa kuliah tinggi Aska mampu memimpin perusahaan Wicaksono dan meraih kejayaannya lagi," ucap Frank dengan serius.
"Aku harus kuliah paman. Meskipun tidak menyimak apa yang dikatakan sama dosen. Cepat atau lambat aku akan mendapatkan gelar S1, S2 maupun S3," jelas Aska.
"Iya, kamu harus kuliah tinggi. Dengan gelar itu mereka akan percaya dengan posisi yang akan kamu dapat sebentar lagi. Kakekmu sudah menuliskan surat wasiat atas namamu. Soal Jamaludin biar Ayah yang mengurusinya. Ayah akan menendangnya dari rumah mewahnya itu. Ayah juga tidak akan diam. Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat," Adrian akan menempati janjinya agar Aska bisa bahagia.
"Kamu jangan pakai pengacara Wicaksono ataupun pengacara luar. Aku akan menghubungi pengacara Agard Groups. Jika kamu memakai pengacara luar, kemungkinan besar Jamaludin akan mencarinya dan mempengaruhi pengacara itu. Kamu harus tahu kelicikan Jamaludin seperti apa? Jika kamu salah langkah sedikit saja. Kamu dalam bahaya besar. Cepat atau lambat Jamaludin memanggil seluruh ketua mafia yang berada di Eropa. Jamaludin memerintahkannya akan memburumu hingga menjadi mayat," jelas Frank yang mengetahui siapa itu Jamaludin.
Adrian setuju dengan pernyataan Frank. Ia paham situasi saat ini. Jika ada yang mengusiknya, bisa dipastikan Jamaludin akan mengejarnya hingga jauh hingga ke neraka.
"Masalah sudah selesai. Terserah Paman mau apakan itu orang," ucap Aska.
"Setelah ini biarkan para pengawal membawanya. Paman sudah meminta pengawal tersebut akan melemparkannya ke segitiga Bermuda. Aku tidak akan membiarkannya dia hidup," kesal Frank.
"Itu cara yang sangat mudah. Aku ingin meminta Paman memotong kepalanya. Lalu kirimkan ke Jamaludin. Cepat atau lambat kita akan berperang melawan Jamaludin," perintah Aska.
"Ide yang sangat bagus. Kita hanya menggertak saja itu percuma. Biarkanlah pamanmu yang akan mengeksekusinya dan mengirimkan kepalanya ke hadapan Jamaludin," Adrian mendukung apa keinginan Aska.
__ADS_1
"Kalian ini membuat aku kembali ke masa lalu saja," Frank berkata sambil terkekeh.
"Ya sudah deh aku mau pulang. Maria sudah ngomel-ngomel. Nanti kalau ngomel-ngomel aku Nggak dapat jatah," ucap Aska beranjak berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
Kedua pria paruh baya itu terdiam dan saling memandang. Mereka langsung meledakkan tawanya. Namanya juga jiwa muda dan stamina fit.
"Anakku sama persis sama Kamu. Kemungkinan besar ketika Christina mengandung. Aku sangat membencimu, memaki dan menghajarmu," ungkap Adrian dengan terharu.
"Biarkanlah Aska seperti itu. Diam-diam Dia memiliki sifat ramah dan sifat iblisnya. Sifat ramah pasti ditujukan kepada orang-orang yang baik. Sifat iblisnya atau kejamnya akan ditujukan kepada para musuh yang ingin menghancurkannya. Sudah cukup Aska menderita. Sudah cukup dirinya dibuang dari keluarga Wicaksono. Sudah saatnya Aska harus merebut semuanya dari para kroninya Jamaludin," Frank menegaskan bagaimana Aska harus bersikap dan disetujui oleh Adrian.
"Kalau begitu aku pamit pulang ke Jakarta. Harusnya siang ini aku bersama Christina di dalam kamar," Adrian berdiri dan meninggalkan Frank.
Jujur Frank tertawa karena ulah adiknya dan juga keponakannya itu. Memang meskipun Adrian pendiam, Frank suka sekali menggodanya habis-habisan.
Sore menjelang Aska dan Adrian sudah sampai ke penthouse. Mereka masuk dan mencari keberadaan pasangannya masing-masing. Sebelum itu Aska menaruh paper bag yang berisi buah mangga di dapur.
"Perasaan hari ini kok nggak ada pelayan ya? Apakah ibu sedang memberikan libur buat mereka?" tanya Aska dalam hati.
Akhirnya Aska mencari keberadaan Maria. Namun sebelum masuk ke kamar, Adrian melihat Christina yang sedang melakukan adegan mesra. Atau langsung menutup matanya sambil berteriak, "Bisakah kalian tidak melakukan adegan seperti itu di depan anak kecil?"
Kedua orang tuanya itu pun tersenyum sambil menatap Aska. Bagaimana bisa Aska mengatakan seperti itu. Padahal dirinya sekarang sudah menjadi dewasa.
"Kata siapa kamu menjadi anak kecil lagi? Bukankah kamu bisa menikmatinya dengan Maria? Pergilah ke kamarmu untuk menjamah istrimu itu. Bukankah di hari pertama kalian harus bertarung di atas ranjang yang empuk itu?" tanya Adrian sambil meledek Aska.
__ADS_1
"Apa maksud Ayah sebenarnya? Ayah tidak tahu kalau malam pertamaku gagal total. Kami tidak melakukannya karena Maria sedang kedatangan tamu," jawab Aska yang mulai menunduk.
"Kasihan sekali anak ayah," sindir Adrian yang menahan tawanya.
Melihat sang ayah menahan tawanya, Aska hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah.Ada sedari tadi diam hanya untuk mencari solusi. Namun apa daya sang ayah malah tertawa.
Dengan malas Aska memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Di sana Aska menemukan Maria sedang membereskan baju-bajunya.
"Sedang apa kamu?" tanya Aska yang menghempaskan bokongnya di samping Maria.
"Sedang membereskan baju. Aku ke sini hanya membawa baju sedikit saja," jawab Maria sambil menatap wajah sang suami.
"Baguslah. Aku tidak mau kamu kesusahan membawa baju ke sini. Karena aku sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari lingeri warna merah menyala. Kamu bisa memakainya kapanpun," bisik Aska.
Mendengar nama lingerie, Maria bergidik ngeri. Dari mana sang suami mengenal lingerie itu? Padahal dirinya tahu kalau Aska sering berada di kebun.
"Dari mana Abang tahu soal lingerie itu? Bukankah Abang suka berkutat memilih kualitas buah yang bagus dari kebun," tanya Maria yang masih saja tangannya sibuk memilah-milah baju.
"Kamu tahu siapa yang mengajari aku soal itu? Dia adalah Romeo. Dia sengaja memberikan banyak jenisnya kepadaku," jawab Aska dengan jujur.
Sontak saja Maria terkejut mendengar pernyataan Aska. Ia bingung sendiri karena kelakuan Sang suaminya itu. Memang hubungan Romeo dan Aska sangat akrab sekali. Tapi bukan begitu caranya mempererat hubungan. Jujur bagi Maria, Romeo sudah kelewat batas.
"Ternyata Abang benar-benar tidak polos sama sekali. Usia muda tapi otaknya tua," decak Maria yang kesal terhadap Aska.
__ADS_1