
"Ambilah kartu ini. Pakailah untuk bersenang-senang!" perintah Christina.
Aska akhirnya mengambil kartu itu sambil menatap wajah Christina. Pria muda itu sangat sungkan ketika menerima kartu pemberian dari ibundanya. Tapi mau bagaimana lagi, Aska tidak mau mengecewakan hati Sang ibundanya.
"Ternyata aku sangat merepotkan ya?" tanya Aska.
"Kamu tidak merepotkan ibu sama sekali. Justru itu... Kamu berhak mendapatkannya. Selama ini kamu tidak pernah merasakan hasil kekayaan Wicaksono Group," jawab Christina.
"Bukan masalahnya itu Bu. Aku ini sudah mandiri sejak kecil. hingga saat ini aku ingin memiliki penghasilan sendiri tanpa harus mengganggu orang lain. Meskipun aku adalah anak dari seorang pengusaha yang tajir," jelas Aska.
"Ya Ibu tahu. Tapi saya sekali lah kamu pakai uangnya ibu. Ajaklah istrimu bersenang-senang. Jangan biarkan istrimu menderita. Kamu tahu istrimu itu memiliki aura energik. Yang di mana aura itu bisa membuat semua orang bahagia. Dia juga orangnya senang bekerja keras," ucap Christina.
Aska menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis, "Aku tahu Bu. Aku juga merasakan seperti itu. Tapi ini kehamilan anak pertamaku. Jadi aku harus protect lebih keras lagi. Agar Maria baik-baik saja hingga melahirkan."
"Sepertinya kamu senang memiliki seorang anak? Di usia kamu segitu banyak pria yang belum kepikiran memiliki seorang anak?" tanya Christina.
"Yang namanya dikasih rezeki sekarang ya diterima. Aku juga tidak ingin menunda-nundanya. Kasihan Maria. Lebih baik sekarang ketimbang nanti. Lagian juga Aku ingin seperti ayah. Jadi nanti kalau dewasa. Aku bisa menganggap putra putriku adalah adik-adikku," jelas Aska.
"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu dan Maria sehat-sehat selalu. Kapan berangkat?" Tanya Christina lagi.
"Aku berangkat besok malam. Aku tidak memakai pesawat komersil. Aku hanya memakai pesawat pribadiku. Sebab aku tidak mau transit hingga membuat Maria kelelahan," jawab Aska yang memberikan alasan kepada Christina.
"Tidak apa-apa. Sudah seharusnya kamu memakai pesawat pribadimu itu. Itu juga kado ulang tahun ketika berusia tujuh belas tahun yang lalu. Meski kita berpisah, Ibu masih selalu saja ingat Kapan kamu ulang tahun," ucap Christina yang membuat Aska terharu.
Aska segera memeluk tubuh mungil sang ibu. Entah kenapa malam ini dirinya merasakan kasih sayang tidak terduga. Memang benar apa yang dikatakan oleh Christina. Meskipun terpisah jauh, ikatan batin antara dirinya dan juga Aska sangatlah kuat. Mereka sangat bersyukur karena sudah berkumpul lagi. Sudah cukup masalah ini mereka merasakan. Aska berharap tidak akan adanya lagi masalah-masalah yang lalu terulang kembali.
Selesai memeluk Christina, Aska meminta izin kepada sang ibu. Asas gerak masuk ke kamar lalu melihat Maria yang sudah tertidur lelap. Dalam hatinya Aska menatap wajah sang istri sangat dekat sekali. entah kenapa wajah sang istri sangat mirip sekali dengannya. Tapi bedanya kalau Maria itu adalah versi perempuannya. Apakah ini yang dinamakan jodoh dadakan?
__ADS_1
Pagi yang cerah di kota Paris. Maria terbangun dari tidurnya. Maria menatap wajah Aska yang sedang tertidur pulas. Ia sangat bersyukur sekali pada pagi ini. Karena Maria masih diberikan kesempatan untuk hidup lagi.
Maria memutuskan untuk pergi ke dapur. Di sana dirinya akan membuat kopi favorit Aska yaitu Flat White. Yang di mana Aska benar-benar sangat menyukai kopi itu. Apalagi Aska lebih memilih racikan sang istri ketimbang lainnya.
"Kamu sedang apa?" tanya Christina yang tiba-tiba saja membuat Maria terkejut.
"Aku sedang membuat kopi buat abang," jawab Maria. "Apakah ibu mau?"
"Tidak. Ibu ke sini mau membuat teh hijau untuk ayahmu dan juga kakek nenekmu," jawab Christina yang sedang meraih beberapa gelasnya.
"Apakah aku bisa membantu ibu?" tanya Maria.
"Tidak perlu. Membuat teh hijau itu lebih mudah ketimbang membuat kopinya Aska," jawab Christina jujur.
"Apakah itu benar Bu?"
"Ya itu benar. Kamu sengaja membuatnya memakai rumus cinta."
"Haruslah kamu pakai itu. Biar Aska semakin semangat untuk menjalani hidup. Kamu sekarang yang menjadi sandaran hidupnya."
"Apakah aku salah Jika mencintai suamiku terlalu dalam?"
"Tidak nak. Memang seharusnya suami istri itu harus mencintai sepenuh hati. Ibu tidak mau kalau pernikahanmu selesai begitu saja. Jangan jadikan resepsi pernikahan kamu sebagai mimpi burukmu. Niat Aska memang sangat baik sekali. Kamu harus menjalaninya dengan ikhlas."
"Terima kasih Bu atas nasehatnya. Oh iya... Bagaimana dengan asisten baru ibu?"
"Sepertinya Ibu tidak memakai Mala. Kamu tahu kan pekerjaan kita itu seperti apa? Saking banyaknya kita tidak pernah berhenti untuk mengecek banyak dokumen yang sedang menumpuk di meja. Aku takut nanti Mala tidak betah bekerja pada ibu."
__ADS_1
"Terus Mala sekarang ke mana ya Bu?"
"Pulang sama Pak Broto dan Bu Siti ke Jakarta. Aku melihat malah itu memiliki fisik yang lemah. Memang dia adalah tipe pekerja keras. Tapi kata Pak Broto dia sering tidak sehat."
"Kemungkinan besar dia masih kaget dengan kematian kedua orang tuanya. Soalnya yang aku pikirkan adalah meskipun peristiwa itu lama. Dia masih syok hingga detik ini. Aku berharap suatu hari nanti dia akan menemukan jodoh yang lebih baik lagi. Mau mengerti keadaannya dan juga menerima dan menyayanginya sebagai pengganti kedua orang tuanya."
"Amin," balas Aska yang datang sambil memasang wajah mengantuk.
"Apakah Abang sudah bangun?" tanya Maria.
"Abang sudah bangun semenjak kamu tinggalkan membuat kopi. Tapi saat itu Abang lagi malas kali untuk berdiri," jawab Aska. "Ibu lagi apa?"
"Lagi buat teh hijau hangat. Tumben-tumbenan kamu bangunnya pagi. Biasanya siang hari," ledek Christina.
"Kalau nggak ada pekerjaan aku bangun siang bu. Hari ini aku akan berdiskusi dengan ayah dan juga paman. Semoga saja aku mendapatkan ide untuk membuat perusahaan Wicaksana grup menjadi besar."
"Lakukanlah semaumu. Agar nanti kamu bisa membuat perusahaan itu menjadi besar. Ibu sengaja membebaskan kamu agar bisa membuat terobosan-terobosan baru untuk perusahaan," jelas Christina.
"Terima kasih Bu atas bimbingannya. Tapi aku nggak mau menjadi CEO terlebih dahulu," pinta Aska.
"Ibu tidak memaksamu untuk menjadikan kamu seorang CEO. Nanti kalau ada masanya kamu bisa menjadi seorang CEO," ujar Christina.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku di perusahaan Paman Frank?" tanya Aska.
"Tidak apa-apa. Teruskan saja.Sekalian kamu belajar bagaimana bisa menghindar perusahaan dengan baik dan benar. Oh ya ditambah lagi kamu bisa belajar bersama para senior. Bisa dikatakan para petinggi perusahaan tersebut sudah sangat senior sekali," jelas Christina yang membiarkan Aska bekerja di perusahaan Frank.
"Ayah ke mana Bu?" Tanya Aska lagi.
__ADS_1
"Semuanya berada di taman belakang. Mereka sedang menunggu teh hijau hangat dan beberapa camilan yang dibuat oleh para pelayan. Kalau begitu kamu menyusul ke sana ya? Kami sedang mengusulkan beberapa peraturan baru di perusahaan," jawab Christina.
"Apakah kamu mau mama Maria?" tanya Aska yang ingin mengajak Maria ke sana.