
"Laura lebih memilih Jamaludin ketimbang aku," jawab Frank dengan lesu.
"Jadi jangan-jangan putranya yang autis itu ternyata anaknya Laura?" sahut Aska yang baru saja keluar dari kamar bersama Maria.
Mereka pun terkejut dengan pernyataan dari Aska. Jujur Frank baru sadar kalau Jono itu adalah putra dari Laura.
"Analisismu benar. Kenapa aku baru menyadari kalau Laura itu adalah ibu dari Jono. Sepertinya aku harus mencari informasinya lebih lanjut," jawab Frank.
"Paman nggak usah mencari informasinya lebih lanjut. Aku sudah ada sedikit informasi tentang Laura. Laura sudah meninggal dua puluh tahun silam. Kalau nggak salah penyebabnya adalah kecelakaan pada malam hari ketika menuju markas Black Crossover. Aku sudah mendapatkan informasi itu kemarin malam melalui situs ilegal," jelas Aska.
Betapa terkejutnya Frank mendapatkan informasi dari Aska. Wanita selama ini yang dicarinya sudah tidak ada. Lalu Frank menatap Aska sambil berkata, "Padahal saat ini aku ingin merebut Laura dari tangan Jamaludin."
Aska hanya menggelengkan kepalanya sambil membuang nafasnya dengan kasar. Bagaimana bisa pamannya ingin berubah menjadi seorang pebinor. Harusnya sang paman mencari seorang wanita yang mau merawat dirinya. Bukan bekas dari sang musuh.
"Jangan berpikiran macam-macam," ucap Frank sambil menatap wajah keponakannya itu.
"Aku tidak berpikiran macam-macam. Kenapa Paman jadi sewot seperti itu?" tanya Aska.
"Itulah Paman kamu. Jika mendengar nama Laura saja udah sewot seperti itu," sindir Adrian yang membuat Frank matanya membulat sempurna.
"Aku tidak sewot. Melainkan Aku ingin mengambil Laura dari tangan Jamaludin. Setelah itu aku memaksanya untuk mengatakan kelemahan dari organisasi hitamnya milik Jamaluddin," jawab Frank.
Aska pun mulai menganalisis dan tersenyum manis. Ia mengakui kalau sang Paman itu memiliki sifat cerdik. Tapi sayangnya Laura sudah lebih dulu meninggal. Mereka memutuskan untuk menuju ke taman belakang.
Di sana para pelayan sudah mempersiapkan sarapannya. Banyak sekali menu yang dihidangkan oleh mereka. Terutama masakan Indonesia yang berada di meja itu.
"Makanlah terlebih dahulu. Nanti kita bahas rencana selanjutnya," Frank menghempaskan bokongnya di kursi sambil menyuruh mereka makan.
"Tunggu!" teriak Romeo yang bersama Max datang.
"Kamu berada di sini juga?" tanya Aska.
"Romi, duduklah. Bergabunglah dengan kami," ajak Frank.
Romeo pun duduk di samping Aska dan Max. Sedangkan Maria duduk bersama Christina. Mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
__ADS_1
Tepat jam 09.00 pagi mereka langsung membuat rencana. Maria dan Christina tidak ikut dalam acara ini. Akan tetapi mereka akan diberitahu oleh pasangannya masing-masing.
"Jadi gimana?" tanya Adrian yang sengaja membiarkan Aska memutuskannya.
"Bisakah kalian memberikanku akomodasi untuk ke Paris?" tanya Aska.
"Jangan bilang kamu ingin pergi ke Paris hanya untuk bulan madu?" tanya Adrian balik.
"Tenanglah. Aku berbulan madu tidak pergi ke Paris. Melainkan aku pergi bulan madu ke Maldives. Ada seseorang yang memberikanku voucher untuk ke sana," jawab Aska.
"Sekarang aku tanya, Kenapa kamu ingin sekali pergi ke Paris? Apakah kamu ingin menyerang Jamaludin?" tanya Frank.
"Aku ingin mencari satu barang bukti yang disembunyikan oleh seseorang. Barang bukti itu berkaitan dengan Wicaksono Group dan juga orang itu. Jika aku menemukan barang bukti itu. Aku bisa merebut kembali Wicaksono Group," jawab Aska yang membuat Adrian bertanya-tanya.
"Siapa orang yang kamu maksud itu? Bolehkah ayah tahu?" tanya Adrian yang mengerutkan keningnya.
"Haruskah aku memberitahukannya?" tanya Aska yang meledek Adrian.
Frank menahan tawanya ketika Aska meledek Adrian. Dalam hati Frank, keponakannya itu sangat mirip sekali dengannya. Diam-diam Frank akan mencuci otaknya untuk membuat Adrian naik darah. Karena Frank sendiri telah berjanji akan membuat Aska menjadi pria tengil.
Ketika Adrian tidak sengaja melihat Frank menahan tawa, Adrian langsung menatap tajam ke arah Frank. Kemudian Adrian langsung menarik baju Aska dan membantingnya ke lantai.
Aska yang belum siap harus menerima tubuhnya membentur lantai. Namun Aska tidak boleh meringis apalagi kesakitan. Karena dirinya tahu kalau sang ayah adalah bekasnya polisi militer di negara Prancis sana.
"Boy, tubuhmu cukup ringan sekali. Kalau musuh membantingmu, habislah Sudah. Kamu harus membentuk tubuhmu. Agar lebih berisi sedikit," saran Adrian sambil tersenyum penuh hangat.
"Namanya juga tubuh kurus begini. Gizi pun kurang. Makan seadanya. Tidur kurang. Sekalinya tidur ada drama panci terbang. Bagaimana aku bisa merawat tubuhku seperti ayah?" tanya Aska yang mencurahkan isi hatinya sambil berdiri tegak.
Dua pria paruh baya itu pun langsung tertawa terbahak-bahak mendengar curahan isi hati Aska. Memang benar apa yang dikatakan oleh Aska sudah dirangkum dalam laporan Romeo. Hal ini dikarenakan Minah tidak pernah merawat Aska dengan benar.
"Aku harus bagaimana? Bagaimana caranya aku merawat tubuhku? Aku sendiri tidak pernah nge-gym sama sekali," tanya Aska.
"Kapan kamu mau pergi ke Prancis?" tanya Adrian.
"Beberapa hari ke depan," jawab Aska.
__ADS_1
"Baiklah. Ayah tidak akan kembali ke sana terlebih dahulu. Kamu ke sana bersama Max," ucap Adrian.
"Kenapa aku tidak bersama abang Romeo?" tanya Aska.
"Jika kamu bersama Romeo di sana. Jamaludin bisa melacak keberadaanmu dengan cepat. Karena sampai saat ini Jamaludin sudah memegang Romeo. Dengan kata lain Jamaludin mengetahui kalau Romeo masih hidup. Jika itu sampai terjadi Jamaludin akan membunuhnya," jelas Adrian.
"Apakah itu benar?" tanya Frank sambil mengerutkan keningnya.
"Iya itu benar. Menurut mata-mata yang aku terjunkan. Jamaludin masih menjadi keberadaan Romeo," jelas Adrian.
"Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa juga Jamaludin mengincar Abang?" tanya Aska.
"Karena Romeo dulu aku tugaskan memburu Benjamin. Tapi Jamaludin orang yang pertama ingin menghabisi Romeo. Dengan kata lain mereka memiliki dendam kesumat. Yang di mana dendam itu menghancurkan hidup Romeo," jawab Frank.
"Maksudnya?" tanya Aska yang belum paham dengan maksud Frank.
"Ayahnya Romeo adalah kepala kepolisian dari negara Spanyol. Saat itu ayahnya sedang memburu Benjamin. Yang di mana Benjamin itu telah merampok di bank negara Spanyol. Benjamin lari ke Prancis demi mendapatkan perlindungan dari Jamaluddin. Saat perburuan itu Jamaludin memerintahkan snipernya untuk membunuh ayahnya Romeo. Kasus ini aku ambil alih sementara waktu. Setelah itu diambil alih oleh kepolisian negara Spanyol. Begitulah ceritanya," jelas Adrian yang mengetahui pembunuhan ayahnya Romeo.
"Kenapa kita tidak melepaskan Romeo saja? Kenapa kita harus menahannya di sini?" tanya Frank.
"Sudah aku bilang. Kalau nyawa Romeo sedang di ujung tanduk jika menginjakkan kakinya di Paris. Apalagi Jamaludin tidak akan membiarkan Romeo hidup. Hingga kekasihnya Romeo juga dihabisi. Pokoknya yang berhubungan dengan Romeo akan mati di tangan Jamaludin. Dan sampai sekarang Jamaludin masih memburu Romeo. Itulah kenapa aku tidak akan pernah melepaskan Romeo terlebih dahulu. Jika masalahnya ini semakin besar. Aku juga sedang mencari kelemahan organisasi hitam yang didirikan oleh Jamaluddin itu," jelas Adrian.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Adrian. Adrian tidak mau gegabah untuk memberikan partner untuk Aska ketika berangkat ke Paris. Adrian akan berusaha untuk menutup informasi, jika Aska menuju ke Paris. Dengan kata lain Adrian akan memalsukan identitas milik Aska.
Bagaimana dengan Max? Max tidak memiliki sangkut pautnya dengan Jamaludin. Itulah kenapa Adrian sengaja menunjuk Max untuk menjadi pendamping putranya itu.
"Aku akan menurunkan mata-mataku untuk masuk ke dalam sarang Black Crossover. Orang itu sangat pandai sekali berkamuflase. Cepat atau lambat kita akan memperoleh kelemahan dan kelebihan kelompok hitam yang didirikan oleh Jamaluddin," ucap Adrian.
"Berapa hari kamu menyelidikinya?" tanya Frank.
"Kurang lebih dua mingguan," jawab Adrian.
"Cepat sekali," ujar Frank.
"Nggak usah lama-lama. Orang yang sudah aku terjunkan adalah orang binaanku. Orang itu sudah sangat ahli di bidangnya," sahut Adrian.
__ADS_1
"Kenapa ayah tidak mengajariku menjadi mata-mata?" tanya Aska.
"Basic kamu itu paling cocok di dunia bisnis. Kalau untuk mata-mata... Kamu kurang cocok. Kamu kurang pandai meneliti sesuatu. Lebih baik kamu meneruskan jejak langkah ibumu. Kelak suatu hari nanti kalau kamu memiliki anak. Entah itu laki-laki atau perempuan dia akan menjadi penerusku," jawab Adrian." Apakah kamu paham soal itu?"